Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Koridor Dalam Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia ( MP3EI )

Enam Wilayah Koridor Ekonomi Indonesia

Setelah selesai rapat saya coba untuk melihat 6 koridor Ekonomi Indonesia, kuncinya adalah percepatan dan perluasan tanpa meninggalkan basis ekonomi yang sudah ada, serta mencoba menumbuhkan pusat ekonomi baru diluar Jawa sesuai dengan potensi wilayahnya masing-masing…saya coba membaginya disini… ^^ selamat menikmati 🙂

Koridor  Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai negara yang terdiri atas ribuan pulau dan terletak di antara dua benua dan dua samudera, wilayah kepulauan Indonesia memiliki sebuah konstelasi yang unik, dan tiap kepulauan besarnya memiliki peran strategis masing-masing yang ke depannya akan menjadi pilar utama untuk mencapai visi Indonesia tahun 2025. Dengan memperhitungkan berbagai potensi dan peran strategis masing-masing pulau besar (sesuai dengan letak dan kedudukan geografis masing-masing pulau), telah ditetapkan 6 (enam) koridor ekonomi.

Tema pembangunan masing-masing koridor ekonomi dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut:

1. Koridor Ekonomi Sumatera memiliki tema pembangunan sebagai “Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional”;

2. Koridor Ekonomi Jawa memiliki tema pembangunan sebagai “Pendorong Industri dan Jasa Nasional”;

3. Koridor Ekonomi Kalimantan memiliki tema pembangunan sebagai “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung Energi Nasional”;

4. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki tema pembangunan sebagai ‟ Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan Nasional”;

5. Koridor Ekonomi Bali – Nusa Tenggara memiliki tema pembangunan sebagai ‟Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional”;

6. Koridor Ekonomi Papua-Kepulauan Maluku memiliki tema pembangunan sebagai “Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan Nasional”.

Tujuan awal dilakukannya MP3EI adalah mencapai aspirasi Indonesia 2025, yaitu menjadi negara maju dan sejahtera dengan PDB sekitar USD 4,3 Triliun dan menjadi negara dengan PDB terbesar ke-9 di dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut, sekitar 82% atau USD 3,5 Triliun akan ditargetkan sebagai kontribusi PDB dari koridor ekonomi sebagai bagian dari transformasi ekonomi. Baca lebih lanjut

Iklan

12 September 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan | 1 Komentar

Rencana Aksi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia ( MP3EI )

Rencana Aksi MP3EI

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan rencana besar berjangka waktu panjang bagi pembangunan bangsaIndonesia. Oleh karenanya, implementasi yang bertahap namun berkesinambungan adalah kunci keberhasilan MP3EI. Implementasi MP3EI ini direncanakan untuk dilaksanakan di dalam tiga fase hingga tahun 2025, sebagai berikut:

Fase Pertama (tahun 2011 – 2015), kegiatan difokuskan untuk pembentukan dan operasionalisasi institusi pelaksana MP3EI. Institusi pelaksana MP3EI ini kemudian akan melakukan penyusunan rencana aksi untuk debottlenecking regulasi, perizinan, insentif, dan pembangunan dukungan infrastruktur yang diperlukan, serta realisasi komitmen investasi (quick-wins). Pada fase ini juga dilakukan penguatan konektivitas nasional terutama penetapan global hub untuk pelabuhan laut dan bandar udara di Kawasan Barat dan TimurIndonesia.

Penyiapan SDM difokuskan pada kompetensi yang dapat mendukung kegiatan ekonomi utama koridor serta pendirian sarana litbang dan riset (center of excellence) yang terkait dengan kegiatan ekonomi utama di masing-masing koridor sebagai langkah awal menuju pengembangan kapasitas IPTEK.

Secara khusus, di dalam jangka pendek, MP3EI difokuskan pada pelaksanaan berbagai rencana aksi yang harus diselesaikan hingga 2014. Rencana aksi yang dipersiapkan dalam jangka pendek ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa inisiatif strategik dapat terlaksana serta menjadi dasar pada percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi pada fase-fase berikutnya. Untuk itu, pembentukan dan operasionalisasi Tim Pelaksana MP3EI perlu segera diselesaikan disamping penyelesaian debottlenecking regulasi dan pelaksanaan investasi di berbagai kegiatan ekonomi utama oleh seluruh pihak terkait. Baca lebih lanjut

10 September 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia ( MP3EI ) Bidang Pertanian

Rencana Aksi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi (MP3EI) Sektor Pertanian

“Visi Indonesia 2025. Yakni mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan”

Hari Senin 12 September 2011, kebetulan penulis diminta oleh Pimpinan untuk hadir dalam rapat Rencana Aksi dari salah satu program unggulan pemerintah yaitu Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sector pertanian. Segera setelah itu saya mencoba menghubungi beberapa jaringan di Bappenas dan Menko Perekonomian untuk mendapat informasi penting lainnya sebagai bahan amunisi untuk rapat tersebut. Baiklah, secara umum saya akan membaginya kepada pembaca sekilas tentang MP3EI ^^ dan semoga informasi ini bermanfaat  🙂

Presiden SBY telah meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi (MP3EI) dan menyampaikan ada lima penyakit yang membuat ekonomi Indonesia gagal dan  meminta kepada jajarannya agar kelima penyakit ini diberantas.

  1. Birokrasi yang menghambat dan tidak sejalan.
  2. Sikap Pemda yang mempunyai kepentingan sendiri dan cenderung menghambat jalannya perekonomian khususnya nanti MP3EI ini.
  3. Pengusaha atau investor yang ingkar janji terhadap komitmen investasinya,” kata SBY.
  4. Adanya regulasi yang menghambat jalannya perekonomian dan tidak segera diperbaiki.
  5. Adanya kepentingan dan proses politik yang tidak sehat.

 MP3EI mempunyai 3 (tiga) strategi utama yang dioperasionalisasikan dalam inisiatif strategic. 

Strategi pertama adalah pengembangan potensi melalui 6 koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi BUMN, Swasta Nasional dan FDI dalam skala besar di 22 kegiatan ekonomi utama. Penyelesaian berbagai hambatan akan diarahkan pada kegiatan ekonomi utama sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan realisasi investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi di 6 koridor ekonomi. Berdasarkan potensi yang ada, maka sebaran sektor fokus dan kegiatan utama di setiap koridor ekonomi, diantaranya sebagai berikut:

1. Sumatera (Kelapa Sawit, Karet, Batubara, Besi-Baja dan JSS)

2. Jawa (Industri Makanan Minuman, Tekstil, Permesinan, Transportasi, Perkapalan, Alutsista, Telematika dan Metropolitan Jadebotabek)

3. Kalimantan (Kelapa Sawit, Batubara, Alumina/Bauksit, Migas, Perkayuan dan Besi-Baja)

4. Sulawesi (Pertanian Pangan, Kakao, Perikanan, Nikel, Migas)

5. Bali-Nusa Tenggara (Pariwisata, Peternakan dan Perikanan)

6. Papua- Maluku (Food Estate, Tembaga, Peternakan, Perikanan, Migas dan Nikel)

Strategi kedua, memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional untuk merevitalisasi kinerja sektor riil. Untuk itu akan ditetapkan jadwal penyelesaian masalah peraturan nasional dan infrastruktur utama nasional. Menurut laporan Menko Perekonomian, berdasarkan hasil diskusi dengan para pemangku kepentingan, khususnya dunia usaha, teridentifikasi sejumlah regulasi dan perijinan yang memerlukan debottlenecking yang meliputi: Baca lebih lanjut

10 September 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan | Tinggalkan komentar

Diskusi dengan Presiden SBY Mengenai Ekonomi, Penelitian, Pendidikan dan Pangan Berkualitas

Presiden SBY Berkunjung Ke Kantorku 🙂

Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978. Setelah diresmikan, baru kali ini dikunjungi kembali oleh Presiden RI, yaitu Presiden SBY. Balai ini dibangun tahun 1975 dengan nama Proyek Penelitian dan Pengembangan Ternak yang merupakan hibah dari pemerintah Australia. Pada saat itu menjadi pusat penelitian ternak yang tercanggih di kawasan Asia Tenggara dan baru berganti nama menjadi Balai Penelitian Ternak pada tahun 1984.

Peningkatan Masyarakat Kelas Menengah dan Pangan Berkualitas

Fenomena mudik dapat menggerakkan perekonomian yang angkanya mencapai trilyunan rupiah. Jumlah pemudik terus bertambah dari tahun ke tahun. Beberapa tahun terakhir terjadi perubahan penggunaan moda angkutan yang mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat.

Presiden SBY memperkirakan pemudik tahun ini mengalami kenaikan sebesar satu juta dari tahun lalu. “Tahun lalu pemudik 12 juta, kali ini diperkirakan 13 juta sekian orang,” kata Presiden SBY. Berdasar laporan terakhir Menteri Perhubungan, peningkatan jumlah pemudik terutama pada pengguna kendaraan pribadi dan pesawat terbang. Sebaliknya kereta api yang pernah jadi moda angkutan mudik favorit, penumpangnya justru diperkirakan berkurang.

“Saya tanya ke Menhub, kenapa berkurang? Rupanya pemudik yang dahulu naik kereta api kini memilih pesawat terbang,” terangnya.

Fakta bahwa harga tiket pesawat terbang lebih mahal dibandingkan kereta api, namun laris terjual. Ini menunjukkan terjadi peningkatan jumlah dan daya beli masyarakat terutama kelas menengah.Kaitan fenemona ini dengan pengembangan bahan pangan, bertambahnya jumlah kelas menengah akan mendongkrak permintaan pangan berkualitas. Di titik ini merupakan peluang dan tantangan bagi peneliti pangan meningkatkan produktifitasnya.

Tugas, peran dan fungsi para peneliti sangat penting. Oleh karena itu negara mulai mengalokasikan anggaran untuk research and development yang makin tinggi. Demikian dijelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninjau Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin (22/8) sore.

Berfoto ria pake kamera HP, jadilah.... 🙂

Presiden SBY menekankan perlunya kolaborasi dengan pihak swasta untuk research and development ini. “Tolong dibangun sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, research development and inovation centre, dan pihak swasta. Hasil penelitian dan pengembangan itu dapat dialirkan pada mainstream bisnis kita. Dengan demikian akan terjadi self-development yang baik karena semua melihat urgensi dari pengembangan dan penelitian ini,” seru SBY.

Prospek sektor pangan di negeri ini, baik. Pendudukan bumi sekarang berjumlah 7 miliar, dan tahun 2045 akan menjadi 9 miliar yang memerlukan 60 sampai 70 persen tambahan pangan dan energi. Ini berarti bahwa kebutuhan pangan dan energi ke depan akan sangat besar, sekaligus tantangan global akan berkaitan dengan food and energy security.

“Kalau kita tidak mengimbangi dengan research and development, dan inovasi, kita tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pangan yang akan dikonsumsi rakyat kita,” Presiden SBY menjelaskan.

“Saya datang ke tempat ini untuk melihat secara langsung apa yang dilakukan para peneliti kita yang juga termasuk golongan pahlawan tanpa tanda jasa. Orang sering hanya bisa melihat hasil akhir dari sebuah proses panjang. Kurang peduli dari proses awal sebuah ekonomi dikembangkan dan sebuah produk dihasilkan. Dengan mukadimah ini, saya kira tidak berkelebihan kalau saya mengatakan bahwa peran dan fungsi research and development sangat penting,” SBY menegaskan. Baca lebih lanjut

23 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 1 Komentar

Lebaran Hati – Hati Daging Impor Berpewarna

Ilustrasi Daging Sapi Impor Berpewarna, Agar tampak Fresh ......

Pasca diberhentikannya pasokan ekspor hewan sapi oleh Australia sejak 8 Juni lalu dan mulai berakhirnya ramadan, banyak diberitakan oleh media massa bahwa harga daging sapi di pasaran menjadi melonjak naik. Tidak hanya itu, dengan melonjaknya harga, di pasaran diberitakan pula tentang marak ditemukannya daging sapi beku berperwarna darah dan berpewarna sintentik agar terlihat segar. Tidak hanya ditingkat pasar tradisional tapi juga dipasar modern/swalayan.

Daging sapi beku berperwarna darah sengaja dijajakan oleh oknum pedagang daging sapi untuk mengelabui konsumen. Jenis daging ini dibuat dengan merendam daging sapi beku dengan darah sapi sehingga daging sapi beku tersebut “dikira” sebagai daging sapi segar. Hal ini dilakukan untuk memikat hati pembeli sehingga mau membelinya dengan harga yang tinggi seperti daging sapi segar sungguhan.

Tindakan nakal oknum pedagang ini tentu sangat merugikan konsumen, karena meruntuhkan harapan awal mereka untuk mendapatkan daging sapi yang segar, sehat, baik, lezat dan menyehatkan. Bahkan sebaliknya jenis daging ini dapat menjadi sumber penyakit bagi tubuh. Karena dalam darah terkandung mikroorganisme yang berpotensi menjadi pembawa penyakit bagi sang pengkonsumsi.

Mendapatkan daging yang baik dan sehat adalah hak konsumen, bahkan untuk menjamin hal itu, negara telah menjaminnya hal tersebut secara hukum. Seperti tercantum dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1996 tentang Pangan. Baca lebih lanjut

20 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

Kebijakan Pakan Ternak Nasional

Lahan Hijauan Makanan Ternak, Faktor Penting Swasembada Sapi

Direktorat Pakan Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan lembaga baru yang dibentuk dalam lingkup Ditjen tersebut, setelah Direktorat Ruminansia dan Direktorat Non Ruminansia ditiadakan. Kehadiran Direktorat tersebut sangat penting sekali dalam upaya pembinaan peternakan baik ruminansia maupun non ruminansia. Betapa tidak. Dalam usaha peternakan kurang lebih 60% biaya yang dikeluarkan untuk sukses usaha tersebut.

Sesuai dengan Undang Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pakan adalah bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan berproduksi maupun berkembangbiak.

Pakan adalah hijauan dan campuran (loan). Bahan pakan adalah bahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan atau bahan lain yang layak dipergunakan sebagai pakan baik yang telah diolah maupun yang belum diolah. Sedangkan bahan pakan berasal dari tumbuhan (BB-AT) dan Asal Hewan (BB-AH).

Pakan Kosentrat

Pasal 6-UU No. 18/2009
Lahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan penggernbalaan umum harus dipertahankan Keberadaannya dan kemanfaatannya secara berkelanjutan; Kawasan penggembalaan berfungsi sebagai : penghasil tumbuhan pakan, tempat perkawinan alam, seleksi, kastrasi, pelayanan IB, pelayanan keswan, tempat penelitian dan pengembangan teknologi peternakan.

Pemda wajib menetapkan lahan sebagai kawasan penggembalaan umum à PERDA; Pemda bekerjasama dengan pengusahaan peternakan/tanaman pangan/horti/perikanan/ perkebunan/kehutanan untuk pemanfaatan lahan sebagai sumber pakan ternak.

Kebijakan pengembangan pakan, di antaranya mendukung PSDSK 2014 penyediaan pakan dan air untuk mendukung pencapaian program PSDSK 2014 dilaksanakan dengan 2 (dua) fokus pendekatan : 1) Penyediaan pakan (kuantitas/ketersediaan – feed security), 2) Pengembangan teknologi dan industri pakan untuk peningkatan mutu (kualitas/mutu – feed safety).

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

PERKEMBANGAN POPULASI SAPI ( POTONG – PERAH) DAN KERBAU 2003 – 2011

Perkembangan Populasi Ternak, Hasil Sensus Ternak 2003 dan 2011 🙂 Silahkan di Analisis lebih lanjut...

Perkembangan populasi sapi (sapi potong dan sapi perah) di Indonesia dalam delapan tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Berdasarkan data hasil Sensus Pertanian tahun 2003 (ST03) populasi sapi di Indonesia tercatat 10,2 juta ekor. Jika populasi tahun 2003 ini dibandingkan dengan hasil awal PSPK2011 dimana populasi sapi di Indonesia mencapai 15,4 juta ekor, maka rata-rata pertambahan per tahun populasi sapi selama 2003–2011 sekitar 653,1 ribu ekor dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 5,32 persen per tahun.

Secara regional/pulau rata-rata pertumbuhan per tahun populasi sapi yang tertinggi di pulau Sumatera sebesar 9,66 persen. Pulau Jawa yang memiliki populasi sapi terbanyak di Indonesia, mencatat pertumbuhan hanya 3,85 persen per tahun. Angka pertumbuhan sapi di Pulau Jawa ini terendah jika dibandingkan dengan regional/pulau lainnya di Indonesia. Namun demikian, meskipun pertumbuhannya rendah, secara absolut penambahan populasi sapi di Pulau Jawa masih yang terbanyak, yakni rata-rata 264,3 ribu ekor per tahun.

Perkembangan populasi kerbau di Indonesia selama periode 2003-2011 berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2003 (ST03) dan PSPK2011 menunjukkan adanya tren penurunan dengan tingkat penurunan rata-rata 0,58 persen per tahun. Dalam jumlah absolut, penurunan populasi kerbau ini mencapai 7,8 ribu ekor per tahunnya.

Dirinci wilayah regional/pulau, pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara mencatat populasi kerbau mengalami penurunan masing-masing 2,61 persen, dan 1,76 persen per tahun, sedangkan di regional/pulau lainnya masih mengalami peningkatan. Populasi kerbau di Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan populasi tertinggi, yakni 4,61 persen per tahun sedangkan daerah lainnya kurang dari 2 persen. Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 1 Komentar

Populasi Ternak Sapi ( Potong – Perah ) dan Kerbau Berdasarkan Jenis Kelamin 2011 / 2012

Data bertambah valid dengan adanya proporsi jumlah jantan dan betina 🙂

Proporsi Populasi Jantan – Betina Sapi Potong dan Sapi Perah

Berdasarkan hasil awal PSPK 2011 terlihat bahwa populasi sapi potong betina lebih banyak daripada sapi potong jantan. Populasi sapi potong betina secara nasional 68,15 persen sedangkan persentase sapi potong jantan hanya 31,85 persen (gambar 4). Menurut kategori umurnya, populasi sapi potong terbanyak adalah sapi potong betina dewasa (>2 tahun) yang mencapai 66,09 persen dari total populasi sapi potong betina di Indonesia. Sementara sapi potong betina anak (<1 tahun) dan Muda (1-2 tahun) masing masing 14,03 persen dan 19,88 persen dari total populasi.

 Jika ditinjau secara regional/pulau, ternyata kondisinya tidak banyak berbeda antara data regional/pulau dengan data nasional, di mana persentase ternak sapi potong betina dewasa pada umumnya dominan, yaitu lebih dari 65 persen terhadap total populasi sapi potong betina di masing-masing regional/pulau. Persentase tertinggi dijumpai di pulau Sulawesi, tercatat 68,58 persen merupakan sapi potong betina dewasa. Dengan memperhatikan persentase jumlah sapi potong betina yang dominan pada umur dewasa tersebut, maka dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bahwa kondisi pengembangan sektor peternakan di Indonesia sangat mendukung program pemerintah dalam rangka meningkatkan populasi ternak. Melalui penerapan program Inseminasi Buatan (IB) yang efektif terhadap sapi potong betina dewasa akan dapat meningkatkan populasi sesuai yang diharapkan.

Sementara itu untuk sapi potong jantan, tercatat persentase tertinggi adalah yang berumur muda (1-2 tahun), yaitu sekitar 38,52 persen dari total populasi sapi potong jantan. Menurut regional/pulau, persentase tertinggi dijumpai di pulau Jawa sebesar 41,72 persen dari total populasi sapi potong jantan di wilayah tersebut.

Kondisi populasi sapi perah di Indonesia apabila ditinjau dari komposisi jenis kelamin juga tidak berbeda jauh dengan sapi potong. Tercatat sebagian besar populasi sapi perah adalah betina yaitu sekitar 78,93 persen dan selebihnya jantan 21,07 persen dari total populasi. Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

DATA POPULASI SAPI ( POTONG – PERAH ) DAN KERBAU DI INDONESIA 2011 / 2012

Pendataan Sapi dan Kerbau Sudah Selesai Dilaksanakan...Lanjutkan Gan... 🙂 tapi bukan demokrat loh...

Berdasarkan hasil PSPK 2011 populasi sapi potong di Indonesia pada tahun 2011 tercatat 14,8 juta ekor. Secara regional/pulau, populasi sapi potong sebagian besar terdapat di pulau Jawa sebanyak 7,5 juta ekor atau 50,74 persen dari total populasi sapi potong di Indonesia, kemudian pulau Sumatera sebanyak 2,7 juta ekor atau 18,40 persen; Bali dan Nusa Tenggara 2,1 juta ekor atau 14,19 persen; Sulawesi 1,8 juta ekor atau 11,97 persen, sedangkan sisanya berada di Kalimantan, serta Maluku dan Papua dengan jumlah populasi masing-masing kurang dari 0,5 juta ekor.

Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan populasi sapi potong terbesar di Indonesia sebanyak 4,7 juta ekor atau 31,93 persen dari populasi sapi potong di Indonesia disusul kemudian Jawa Tengah 1,9 juta ekor. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi potong cukup besar, yaitu lebih dari 0,5 juta ekor tercatat berturut turut adalah Sulawesi Selatan 984 ribu ekor atau 6,65 persen, Nusa Tenggara Timur (NTT) 778,2 ribu ekor atau 5,26 persen; Lampung 742,8 ribu ekor atau 5,02 persen; Nusa Tenggara Barat (NTB) 685,8 ribu ekor atau 4,63 persen; Bali 637,5 ribu ekor atau 4,31 persen; dan Sumatera Utara 541,7 ribu ekor atau 3,66 persen dari populasi sapi potong Indonesia. Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 1 Komentar

Hasil Sensus Ternak 2011 ; Menghasilkan Data Populasi Sapi yang Lebih Valid

Wujudkan Data Populasi Ternak yang berkualitas, Untuk Kesejahteraan Peternak yang Lebih Baik 🙂

Salah satu program pemerintah di subsektor peternakan adalah meningkatkan produksi daging dalam negeri agar tercapai swasembada daging sapi dan kerbau pada tahun 2014. Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 tercapai jika 90 persen kebutuhan konsumsi daging dapat dipasok dari produksi dalam negeri. Dalam rangka pencapaian program tersebut dibutuhkan langkah strategis yang tidak hanya berujung pada peningkatan populasi sapi dan kerbau tetapi juga menghindari adanya dampak negatif dalam proses pencapaian program tersebut.

Faktor yang sangat menentukan dalam mengambil langkah strategis pencapaian program adalah tersedianya data akurat khususnya data populasi sapi dan kerbau. Data populasi sapi dan kerbau yang digunakan selama ini bersumber dari laporan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian. Data tersebut diperoleh dari laporan dinas yang membidangi fungsi peternakan di seluruh wilayah Indonesia. Sumber data lainnya adalah hasil Survei Peternakan Nasional (SPN) yang dilaksanakan oleh BPS bekerjasama dengan Ditjen PKH, Kementerian Pertanian pada tahun 2006–2008. Metode pengumpulan data dari kedua sumber data tersebut tidak dilakukan secara menyeluruh (sensus), sehingga masih memungkinkan terjadinya kesalahan baik sampling error maupun non sampling error.

Untuk memenuhi tuntutan permintaan data populasi yang lebih akurat dan dilaksanakan dengan metode sensus, maka pada tahun 2011 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian melakukan kerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melaksanakan Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau 2011 (PSPK2011). Tujuan dari pelaksanaan PSPK2011 adalah untuk memperoleh data populasi dasar (P0) sapi potong, sapi perah dan kerbau, memperoleh komposisi populasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, mengetahui stok dalam negeri dan karakteristik peternakan lainnya serta membangun database peternak (by name by address). Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 4 Komentar