Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Diskusi dengan Presiden SBY Mengenai Ekonomi, Penelitian, Pendidikan dan Pangan Berkualitas

Presiden SBY Berkunjung Ke Kantorku 🙂

Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978. Setelah diresmikan, baru kali ini dikunjungi kembali oleh Presiden RI, yaitu Presiden SBY. Balai ini dibangun tahun 1975 dengan nama Proyek Penelitian dan Pengembangan Ternak yang merupakan hibah dari pemerintah Australia. Pada saat itu menjadi pusat penelitian ternak yang tercanggih di kawasan Asia Tenggara dan baru berganti nama menjadi Balai Penelitian Ternak pada tahun 1984.

Peningkatan Masyarakat Kelas Menengah dan Pangan Berkualitas

Fenomena mudik dapat menggerakkan perekonomian yang angkanya mencapai trilyunan rupiah. Jumlah pemudik terus bertambah dari tahun ke tahun. Beberapa tahun terakhir terjadi perubahan penggunaan moda angkutan yang mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat.

Presiden SBY memperkirakan pemudik tahun ini mengalami kenaikan sebesar satu juta dari tahun lalu. “Tahun lalu pemudik 12 juta, kali ini diperkirakan 13 juta sekian orang,” kata Presiden SBY. Berdasar laporan terakhir Menteri Perhubungan, peningkatan jumlah pemudik terutama pada pengguna kendaraan pribadi dan pesawat terbang. Sebaliknya kereta api yang pernah jadi moda angkutan mudik favorit, penumpangnya justru diperkirakan berkurang.

“Saya tanya ke Menhub, kenapa berkurang? Rupanya pemudik yang dahulu naik kereta api kini memilih pesawat terbang,” terangnya.

Fakta bahwa harga tiket pesawat terbang lebih mahal dibandingkan kereta api, namun laris terjual. Ini menunjukkan terjadi peningkatan jumlah dan daya beli masyarakat terutama kelas menengah.Kaitan fenemona ini dengan pengembangan bahan pangan, bertambahnya jumlah kelas menengah akan mendongkrak permintaan pangan berkualitas. Di titik ini merupakan peluang dan tantangan bagi peneliti pangan meningkatkan produktifitasnya.

Tugas, peran dan fungsi para peneliti sangat penting. Oleh karena itu negara mulai mengalokasikan anggaran untuk research and development yang makin tinggi. Demikian dijelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninjau Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin (22/8) sore.

Berfoto ria pake kamera HP, jadilah.... 🙂

Presiden SBY menekankan perlunya kolaborasi dengan pihak swasta untuk research and development ini. “Tolong dibangun sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, research development and inovation centre, dan pihak swasta. Hasil penelitian dan pengembangan itu dapat dialirkan pada mainstream bisnis kita. Dengan demikian akan terjadi self-development yang baik karena semua melihat urgensi dari pengembangan dan penelitian ini,” seru SBY.

Prospek sektor pangan di negeri ini, baik. Pendudukan bumi sekarang berjumlah 7 miliar, dan tahun 2045 akan menjadi 9 miliar yang memerlukan 60 sampai 70 persen tambahan pangan dan energi. Ini berarti bahwa kebutuhan pangan dan energi ke depan akan sangat besar, sekaligus tantangan global akan berkaitan dengan food and energy security.

“Kalau kita tidak mengimbangi dengan research and development, dan inovasi, kita tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pangan yang akan dikonsumsi rakyat kita,” Presiden SBY menjelaskan.

“Saya datang ke tempat ini untuk melihat secara langsung apa yang dilakukan para peneliti kita yang juga termasuk golongan pahlawan tanpa tanda jasa. Orang sering hanya bisa melihat hasil akhir dari sebuah proses panjang. Kurang peduli dari proses awal sebuah ekonomi dikembangkan dan sebuah produk dihasilkan. Dengan mukadimah ini, saya kira tidak berkelebihan kalau saya mengatakan bahwa peran dan fungsi research and development sangat penting,” SBY menegaskan.

Alat Penelitian yang Ketinggalan Zaman dan Kesejahteraan Peneliti

Sebagai negara dengan potensi sumber daya alam melimpah, Indonesia berpeluang menjadi lumbung pangan dunia. Peluang itu hanya bisa direbut melalui riset dan inovasi teknologi pangan. Sayangnya peralatan penelitian pangan yang Indonesia miliki tak lagi modern. Para peneliti menjadi kesulitan mengembangkan ilmu terbaru yang mereka peroleh dari pendidikan di luar negeri. Demikian uneg-uneg seorang profesor riset ternak kepada Presiden SBY. “Sudah 33 tahun saya di sini, dan selama itu peralatan belum pernah diperbaharui. Terkait food security tadi, mohon kiranya perlatan riset dimutakhirkan. Selain itu juga tunjangan fungsional peneliti harap diperhatikan. Hal tersebut terkait dengan kesejahteraan dan status peneliti sebagai pahlawan tanpa tanda jasa seperti yang telah diungkapkan Presiden tadi”…..Tak pelak ungkapan polos seorang peneliti utama di Balitnak tersebut disambut gelak tawa hadirin dan Presiden SBY.

Menanggapi uneg-uneg tersebut, Presiden SBY menyatakan siap memenuhinya. Permutahkhiran dilakukan secara bertahap hingga tiga tahun ke depan. “Sehingga sebelum saya nanti jatuh tempo pada 2014, Insya Allah peralatan riset di sini semua telah diperbaharui dan kesejahteraan peneliti semoga bisa direalisasikan pada tahun 2012” ujar SBY disambut tepuk tangan meriah staff dan peneliti yang hadir.

Sebelumnya oleh Presiden SBY dipaparkan ketahanan pangan merupakan salah satu agenda utama pembangunan. Dalam waktu 10-15 tahun ke depan, diperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan pangan dunia hingga 70 persen dari saat ini.

Sebagai negara dengan sumber daya alam relatif jauh lebih baik dibanding lainnya, Indonesia bisa menjadi pemain penting dunia. Yakni menjadi lumbung kawasan dan bahkan dunia untuk beberapa komuditas pangan. “Kita sudah ada satu, but we need more. Beras harus surplus. Gula dan kedelai harus ditingkatkan lagi, termasuk produktivitas ternak pangan,” urai SBY.

UMKM dan Sarana Pendidikan

Presiden SBY menceritakan sebelum ke Balitnak, sempat meninjau UMKM TAS di Tajur yang memiliki karyawan 75 orang dengan kualitas tas yang tak kalah dengan tas impor dan  SDN Babakan Madang 01, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Usai meninjau seluruh sarana dan prasarana belajar mengajar di sekolah, Presiden SBY menilai kondisi sekolahnya sudah tidak layak lagi. “Setelah kita lihat prasarana dan sarana sekolah ini, saya harus mengatakan ini tidak layak. Ruang kelasnya tidak baik, kalau hujan bocor, dan papan tulis tidak layak. Perpustakaan juga tidak layak. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi ini harus kita perbaiki dan bangun kembali menjadi gedung sekolah yang layak untuk anak-anak kita,” tegas SBY.

Kepala Negara menekankan bahwa diperlukan kebersamaan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten untuk membangun sekolah-sekolah yang layak. “Dulu, karena ekonomi kita sulit disebabkan oleh krisis, barangkali tidak cukup banyak yang kita bangun, tapi sekarang tidak ada alasan. Anggaran pendidikan sudah besar, anggaran pendidikan tahun 2012 sebanyak Rp 286,6 triliun. Prioritas utama penggunaan anggaran tersebut adalah untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan perbaikan sekolah rusak.” kata SBY dengan menekankan pada Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional yang saat itu turut hadir dalam rombongan.

Usai dialog selama 30 menit, SBY meninjau ternak hasil pengembangan Balitnak. Di antaranya anakan sapi perah kembar, ayam pedaging Sentul dan bebek potong persilangan varietas Mojosari dengan Peking. Selanjutnya SBY berbuka bersama di masjid biru Ciawi, dan rangkaian safari Ramadhan akan berakhir di Tegal, Jawa Tengah.

Iklan

23 Agustus 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media

1 Komentar »

  1. wah….selamat ya…dapat kunjungan orang nomer satu di indonesia, semoga dengan kunjungannya kerja temen2 jadi lebih semangat…amin…

    Komentar oleh peduli pendidikan | 24 Agustus 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: