Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Diskusi dengan Presiden SBY Mengenai Ekonomi, Penelitian, Pendidikan dan Pangan Berkualitas

Presiden SBY Berkunjung Ke Kantorku 🙂

Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978. Setelah diresmikan, baru kali ini dikunjungi kembali oleh Presiden RI, yaitu Presiden SBY. Balai ini dibangun tahun 1975 dengan nama Proyek Penelitian dan Pengembangan Ternak yang merupakan hibah dari pemerintah Australia. Pada saat itu menjadi pusat penelitian ternak yang tercanggih di kawasan Asia Tenggara dan baru berganti nama menjadi Balai Penelitian Ternak pada tahun 1984.

Peningkatan Masyarakat Kelas Menengah dan Pangan Berkualitas

Fenomena mudik dapat menggerakkan perekonomian yang angkanya mencapai trilyunan rupiah. Jumlah pemudik terus bertambah dari tahun ke tahun. Beberapa tahun terakhir terjadi perubahan penggunaan moda angkutan yang mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat.

Presiden SBY memperkirakan pemudik tahun ini mengalami kenaikan sebesar satu juta dari tahun lalu. “Tahun lalu pemudik 12 juta, kali ini diperkirakan 13 juta sekian orang,” kata Presiden SBY. Berdasar laporan terakhir Menteri Perhubungan, peningkatan jumlah pemudik terutama pada pengguna kendaraan pribadi dan pesawat terbang. Sebaliknya kereta api yang pernah jadi moda angkutan mudik favorit, penumpangnya justru diperkirakan berkurang.

“Saya tanya ke Menhub, kenapa berkurang? Rupanya pemudik yang dahulu naik kereta api kini memilih pesawat terbang,” terangnya.

Fakta bahwa harga tiket pesawat terbang lebih mahal dibandingkan kereta api, namun laris terjual. Ini menunjukkan terjadi peningkatan jumlah dan daya beli masyarakat terutama kelas menengah.Kaitan fenemona ini dengan pengembangan bahan pangan, bertambahnya jumlah kelas menengah akan mendongkrak permintaan pangan berkualitas. Di titik ini merupakan peluang dan tantangan bagi peneliti pangan meningkatkan produktifitasnya.

Tugas, peran dan fungsi para peneliti sangat penting. Oleh karena itu negara mulai mengalokasikan anggaran untuk research and development yang makin tinggi. Demikian dijelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninjau Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin (22/8) sore.

Berfoto ria pake kamera HP, jadilah.... 🙂

Presiden SBY menekankan perlunya kolaborasi dengan pihak swasta untuk research and development ini. “Tolong dibangun sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, research development and inovation centre, dan pihak swasta. Hasil penelitian dan pengembangan itu dapat dialirkan pada mainstream bisnis kita. Dengan demikian akan terjadi self-development yang baik karena semua melihat urgensi dari pengembangan dan penelitian ini,” seru SBY.

Prospek sektor pangan di negeri ini, baik. Pendudukan bumi sekarang berjumlah 7 miliar, dan tahun 2045 akan menjadi 9 miliar yang memerlukan 60 sampai 70 persen tambahan pangan dan energi. Ini berarti bahwa kebutuhan pangan dan energi ke depan akan sangat besar, sekaligus tantangan global akan berkaitan dengan food and energy security.

“Kalau kita tidak mengimbangi dengan research and development, dan inovasi, kita tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pangan yang akan dikonsumsi rakyat kita,” Presiden SBY menjelaskan.

“Saya datang ke tempat ini untuk melihat secara langsung apa yang dilakukan para peneliti kita yang juga termasuk golongan pahlawan tanpa tanda jasa. Orang sering hanya bisa melihat hasil akhir dari sebuah proses panjang. Kurang peduli dari proses awal sebuah ekonomi dikembangkan dan sebuah produk dihasilkan. Dengan mukadimah ini, saya kira tidak berkelebihan kalau saya mengatakan bahwa peran dan fungsi research and development sangat penting,” SBY menegaskan. Baca lebih lanjut

Iklan

23 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 1 Komentar

Serial Keluarga : Nama Bayi Laki – Laki , Belajar Pada Muhammad Al Fatih


Muhammad Najib Al Fatih

Pemberian nama terhadap anak-anak kita tentu memiliki makna tersendiri. Setiap Orang tua memiliki harapan terhadap nama yang diberikan kepada anak-anaknya, yup…nama adalah do’a 🙂 Begitu juga latar belakang dalam memberi nama anak sulung, yang saya beri nama Muhammad Najib Al FAtih. Awalnya saya ingin memberi nama Muhammad Al Fatih, tapi karena bundanya ingin nambahin nama Najib, Akhirnya saya gabungkan saja jadi Muhammad Najib Al Fatih (Insya Allah, Sang Pembuka Kemuliaan). Yaa itu bagian dari kompromi…hehehe 🙂 Baiklah kita akan lihat bagaimana latar belakang Sultan Muhammad Al Fatih ini yang begitu membuat saya terinspirasi untuk memberi nama anak laki-laki saya  mirip dengan beliau. Salah satunya adalah kiat suksesnya dalam memimpin negara, ya karena negara kita sekarang krisis pemimpin……

Kiat sukses itu banyak, namun sekarang kita akan belajar kiat sukses dari sebaik-baiknya raja menurut Rasulullah saw. Beliau adalah Sultan Muhammad Al Fatih, sang Penakluk Konstantinopel. Penaklukan Konstantinopel sebenarnya sudah disebutkan oleh Rasulullah saw melalui beberapa hadits. Kemudian, banyak raja yang mencoba untuk membuktikan ramalan itu. Semuanya gagal, kecuali Muhammad Al Fatih. Beliaulah sebaik-baiknya raja seperti yang disebutkan oleh Rasulullah saw.

“Suatu saat Kota Konstantinopel akan ditaklukan. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Namun, meski sudah diramalkan oleh Rasulullah saw, adalah tidak mudah untuk menaklukan kota Konstantinopel. Banyak raja-raja sebelumnya yang mencoba, tetapi baru Sultan Al Fatih yang mampu menaklukannya. Apa rahasianya? Inilah kiat sukses yang akan kita coba bahas kali ini.

Sultan Muhammad Al Fatih, Sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan 🙂

Kiat Sukses Pertama: Persiapan Matang

Persiapan Pribadi Adalah Kiat Sukses Yang Utama

Sejak kecil, Sultan Al Fatih sudah memiliki cita-cita untuk menjadi penakluk Konstantinopel. Apa yang beliau lakukan? Ya, mempersiapkan diri. Beliau mempelajari usaha-usaha yang pernah dilakukan oleh raja Islam sebelumnya. Percobaan dimulai pada zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan (tahun 44 H). Setidaknya ada 6 kerajaan besar yang sudah mencoba sebelumnya. Usaha-usaha itu dipelajarinya.

Apa hikmahnya? Meski sudah diramalkan oleh Rasulullah saw, namun persiapan matang untuk ihktiar yang optimal tetap perlu dilakukan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mempersiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk mencapai cita-cita kita?

Bukan hanya belajar dari sejarah. Al fatih, sejak kecil sudah digembleng dengan ilmu strategi perang dan tentu saja tidak lupa ilmu-ilmu agama dengan bimbingan seorang murabbi kharismatik saat itu. Tujuannya tiada lain, untuk kejayaan Islam. Ilmu agama dan ilmu militer keduanya dipelajari, tidak hanya salah satu. Islam memang tidak membeda-bedakan ilmu. Selama untuk mendekatkan diri dengan Allah, itulah ilmu yang bermanfaat. Baca lebih lanjut

21 Agustus 2011 Posted by | Kisah Inspirasiku, Kisah Nabi-Nabi, Mutiara Kata, Sirah Khilafah, Sirah Sahabat, Tarbiyah Islamiyah, Tulisanku, Uncategorized | 1 Komentar

Lebaran Hati – Hati Daging Impor Berpewarna

Ilustrasi Daging Sapi Impor Berpewarna, Agar tampak Fresh ......

Pasca diberhentikannya pasokan ekspor hewan sapi oleh Australia sejak 8 Juni lalu dan mulai berakhirnya ramadan, banyak diberitakan oleh media massa bahwa harga daging sapi di pasaran menjadi melonjak naik. Tidak hanya itu, dengan melonjaknya harga, di pasaran diberitakan pula tentang marak ditemukannya daging sapi beku berperwarna darah dan berpewarna sintentik agar terlihat segar. Tidak hanya ditingkat pasar tradisional tapi juga dipasar modern/swalayan.

Daging sapi beku berperwarna darah sengaja dijajakan oleh oknum pedagang daging sapi untuk mengelabui konsumen. Jenis daging ini dibuat dengan merendam daging sapi beku dengan darah sapi sehingga daging sapi beku tersebut “dikira” sebagai daging sapi segar. Hal ini dilakukan untuk memikat hati pembeli sehingga mau membelinya dengan harga yang tinggi seperti daging sapi segar sungguhan.

Tindakan nakal oknum pedagang ini tentu sangat merugikan konsumen, karena meruntuhkan harapan awal mereka untuk mendapatkan daging sapi yang segar, sehat, baik, lezat dan menyehatkan. Bahkan sebaliknya jenis daging ini dapat menjadi sumber penyakit bagi tubuh. Karena dalam darah terkandung mikroorganisme yang berpotensi menjadi pembawa penyakit bagi sang pengkonsumsi.

Mendapatkan daging yang baik dan sehat adalah hak konsumen, bahkan untuk menjamin hal itu, negara telah menjaminnya hal tersebut secara hukum. Seperti tercantum dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1996 tentang Pangan. Baca lebih lanjut

20 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

Serial Keluarga ; Jatuh Cinta Pada Bunga

Aku Jatuh Cinta Pada Bunga....

Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta. Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif, naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya.

Setidaknya beberapa tahun sebelum menikah, saya selalu meluangkan waktu untuk mempelajari apa cinta itu sebenarnya. Cinta yang mampu membawa bapak dan ibu begitu sabar mendidik anak yang bengal ini, cinta yang banyak membuat banyak orang tersenyum dan tertawa dengan renyahnya, cinta yang membuat banyak orang tegar dan tak kenal menyerah, cinta yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi jadi kenyataan dan cinta yang mampu menghidupkan harapan ditengah keputusasaan.

Oleh karenanya sebelum menikah, saya banyak melakukan dialektika dengan banyak orang, dari berbagai rentang usia pernikahan, mulai 0 tahun sampe ada yang sudah lebih 40-an tahun usia pernikahannya. Pada hakikatnya cinta itu muaranya adalah keikhlasan 🙂 sederhana tapi rumit dan tantangannya luar biasa ^^ seperti kata sapardi djoko damono dalam puisinya 🙂 Baca lebih lanjut

19 Agustus 2011 Posted by | Kisah Inspirasiku, Mutiara Kata, Tulisanku | 2 Komentar

Kebijakan Pakan Ternak Nasional

Lahan Hijauan Makanan Ternak, Faktor Penting Swasembada Sapi

Direktorat Pakan Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan lembaga baru yang dibentuk dalam lingkup Ditjen tersebut, setelah Direktorat Ruminansia dan Direktorat Non Ruminansia ditiadakan. Kehadiran Direktorat tersebut sangat penting sekali dalam upaya pembinaan peternakan baik ruminansia maupun non ruminansia. Betapa tidak. Dalam usaha peternakan kurang lebih 60% biaya yang dikeluarkan untuk sukses usaha tersebut.

Sesuai dengan Undang Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pakan adalah bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan berproduksi maupun berkembangbiak.

Pakan adalah hijauan dan campuran (loan). Bahan pakan adalah bahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan atau bahan lain yang layak dipergunakan sebagai pakan baik yang telah diolah maupun yang belum diolah. Sedangkan bahan pakan berasal dari tumbuhan (BB-AT) dan Asal Hewan (BB-AH).

Pakan Kosentrat

Pasal 6-UU No. 18/2009
Lahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan penggernbalaan umum harus dipertahankan Keberadaannya dan kemanfaatannya secara berkelanjutan; Kawasan penggembalaan berfungsi sebagai : penghasil tumbuhan pakan, tempat perkawinan alam, seleksi, kastrasi, pelayanan IB, pelayanan keswan, tempat penelitian dan pengembangan teknologi peternakan.

Pemda wajib menetapkan lahan sebagai kawasan penggembalaan umum à PERDA; Pemda bekerjasama dengan pengusahaan peternakan/tanaman pangan/horti/perikanan/ perkebunan/kehutanan untuk pemanfaatan lahan sebagai sumber pakan ternak.

Kebijakan pengembangan pakan, di antaranya mendukung PSDSK 2014 penyediaan pakan dan air untuk mendukung pencapaian program PSDSK 2014 dilaksanakan dengan 2 (dua) fokus pendekatan : 1) Penyediaan pakan (kuantitas/ketersediaan – feed security), 2) Pengembangan teknologi dan industri pakan untuk peningkatan mutu (kualitas/mutu – feed safety).

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

PERKEMBANGAN POPULASI SAPI ( POTONG – PERAH) DAN KERBAU 2003 – 2011

Perkembangan Populasi Ternak, Hasil Sensus Ternak 2003 dan 2011 🙂 Silahkan di Analisis lebih lanjut...

Perkembangan populasi sapi (sapi potong dan sapi perah) di Indonesia dalam delapan tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Berdasarkan data hasil Sensus Pertanian tahun 2003 (ST03) populasi sapi di Indonesia tercatat 10,2 juta ekor. Jika populasi tahun 2003 ini dibandingkan dengan hasil awal PSPK2011 dimana populasi sapi di Indonesia mencapai 15,4 juta ekor, maka rata-rata pertambahan per tahun populasi sapi selama 2003–2011 sekitar 653,1 ribu ekor dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 5,32 persen per tahun.

Secara regional/pulau rata-rata pertumbuhan per tahun populasi sapi yang tertinggi di pulau Sumatera sebesar 9,66 persen. Pulau Jawa yang memiliki populasi sapi terbanyak di Indonesia, mencatat pertumbuhan hanya 3,85 persen per tahun. Angka pertumbuhan sapi di Pulau Jawa ini terendah jika dibandingkan dengan regional/pulau lainnya di Indonesia. Namun demikian, meskipun pertumbuhannya rendah, secara absolut penambahan populasi sapi di Pulau Jawa masih yang terbanyak, yakni rata-rata 264,3 ribu ekor per tahun.

Perkembangan populasi kerbau di Indonesia selama periode 2003-2011 berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2003 (ST03) dan PSPK2011 menunjukkan adanya tren penurunan dengan tingkat penurunan rata-rata 0,58 persen per tahun. Dalam jumlah absolut, penurunan populasi kerbau ini mencapai 7,8 ribu ekor per tahunnya.

Dirinci wilayah regional/pulau, pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara mencatat populasi kerbau mengalami penurunan masing-masing 2,61 persen, dan 1,76 persen per tahun, sedangkan di regional/pulau lainnya masih mengalami peningkatan. Populasi kerbau di Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan populasi tertinggi, yakni 4,61 persen per tahun sedangkan daerah lainnya kurang dari 2 persen. Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 1 Komentar

Populasi Ternak Sapi ( Potong – Perah ) dan Kerbau Berdasarkan Jenis Kelamin 2011 / 2012

Data bertambah valid dengan adanya proporsi jumlah jantan dan betina 🙂

Proporsi Populasi Jantan – Betina Sapi Potong dan Sapi Perah

Berdasarkan hasil awal PSPK 2011 terlihat bahwa populasi sapi potong betina lebih banyak daripada sapi potong jantan. Populasi sapi potong betina secara nasional 68,15 persen sedangkan persentase sapi potong jantan hanya 31,85 persen (gambar 4). Menurut kategori umurnya, populasi sapi potong terbanyak adalah sapi potong betina dewasa (>2 tahun) yang mencapai 66,09 persen dari total populasi sapi potong betina di Indonesia. Sementara sapi potong betina anak (<1 tahun) dan Muda (1-2 tahun) masing masing 14,03 persen dan 19,88 persen dari total populasi.

 Jika ditinjau secara regional/pulau, ternyata kondisinya tidak banyak berbeda antara data regional/pulau dengan data nasional, di mana persentase ternak sapi potong betina dewasa pada umumnya dominan, yaitu lebih dari 65 persen terhadap total populasi sapi potong betina di masing-masing regional/pulau. Persentase tertinggi dijumpai di pulau Sulawesi, tercatat 68,58 persen merupakan sapi potong betina dewasa. Dengan memperhatikan persentase jumlah sapi potong betina yang dominan pada umur dewasa tersebut, maka dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bahwa kondisi pengembangan sektor peternakan di Indonesia sangat mendukung program pemerintah dalam rangka meningkatkan populasi ternak. Melalui penerapan program Inseminasi Buatan (IB) yang efektif terhadap sapi potong betina dewasa akan dapat meningkatkan populasi sesuai yang diharapkan.

Sementara itu untuk sapi potong jantan, tercatat persentase tertinggi adalah yang berumur muda (1-2 tahun), yaitu sekitar 38,52 persen dari total populasi sapi potong jantan. Menurut regional/pulau, persentase tertinggi dijumpai di pulau Jawa sebesar 41,72 persen dari total populasi sapi potong jantan di wilayah tersebut.

Kondisi populasi sapi perah di Indonesia apabila ditinjau dari komposisi jenis kelamin juga tidak berbeda jauh dengan sapi potong. Tercatat sebagian besar populasi sapi perah adalah betina yaitu sekitar 78,93 persen dan selebihnya jantan 21,07 persen dari total populasi. Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | Tinggalkan komentar

DATA POPULASI SAPI ( POTONG – PERAH ) DAN KERBAU DI INDONESIA 2011 / 2012

Pendataan Sapi dan Kerbau Sudah Selesai Dilaksanakan...Lanjutkan Gan... 🙂 tapi bukan demokrat loh...

Berdasarkan hasil PSPK 2011 populasi sapi potong di Indonesia pada tahun 2011 tercatat 14,8 juta ekor. Secara regional/pulau, populasi sapi potong sebagian besar terdapat di pulau Jawa sebanyak 7,5 juta ekor atau 50,74 persen dari total populasi sapi potong di Indonesia, kemudian pulau Sumatera sebanyak 2,7 juta ekor atau 18,40 persen; Bali dan Nusa Tenggara 2,1 juta ekor atau 14,19 persen; Sulawesi 1,8 juta ekor atau 11,97 persen, sedangkan sisanya berada di Kalimantan, serta Maluku dan Papua dengan jumlah populasi masing-masing kurang dari 0,5 juta ekor.

Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan populasi sapi potong terbesar di Indonesia sebanyak 4,7 juta ekor atau 31,93 persen dari populasi sapi potong di Indonesia disusul kemudian Jawa Tengah 1,9 juta ekor. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi potong cukup besar, yaitu lebih dari 0,5 juta ekor tercatat berturut turut adalah Sulawesi Selatan 984 ribu ekor atau 6,65 persen, Nusa Tenggara Timur (NTT) 778,2 ribu ekor atau 5,26 persen; Lampung 742,8 ribu ekor atau 5,02 persen; Nusa Tenggara Barat (NTB) 685,8 ribu ekor atau 4,63 persen; Bali 637,5 ribu ekor atau 4,31 persen; dan Sumatera Utara 541,7 ribu ekor atau 3,66 persen dari populasi sapi potong Indonesia. Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 1 Komentar

Hasil Sensus Ternak 2011 ; Menghasilkan Data Populasi Sapi yang Lebih Valid

Wujudkan Data Populasi Ternak yang berkualitas, Untuk Kesejahteraan Peternak yang Lebih Baik 🙂

Salah satu program pemerintah di subsektor peternakan adalah meningkatkan produksi daging dalam negeri agar tercapai swasembada daging sapi dan kerbau pada tahun 2014. Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 tercapai jika 90 persen kebutuhan konsumsi daging dapat dipasok dari produksi dalam negeri. Dalam rangka pencapaian program tersebut dibutuhkan langkah strategis yang tidak hanya berujung pada peningkatan populasi sapi dan kerbau tetapi juga menghindari adanya dampak negatif dalam proses pencapaian program tersebut.

Faktor yang sangat menentukan dalam mengambil langkah strategis pencapaian program adalah tersedianya data akurat khususnya data populasi sapi dan kerbau. Data populasi sapi dan kerbau yang digunakan selama ini bersumber dari laporan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian. Data tersebut diperoleh dari laporan dinas yang membidangi fungsi peternakan di seluruh wilayah Indonesia. Sumber data lainnya adalah hasil Survei Peternakan Nasional (SPN) yang dilaksanakan oleh BPS bekerjasama dengan Ditjen PKH, Kementerian Pertanian pada tahun 2006–2008. Metode pengumpulan data dari kedua sumber data tersebut tidak dilakukan secara menyeluruh (sensus), sehingga masih memungkinkan terjadinya kesalahan baik sampling error maupun non sampling error.

Untuk memenuhi tuntutan permintaan data populasi yang lebih akurat dan dilaksanakan dengan metode sensus, maka pada tahun 2011 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian melakukan kerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melaksanakan Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau 2011 (PSPK2011). Tujuan dari pelaksanaan PSPK2011 adalah untuk memperoleh data populasi dasar (P0) sapi potong, sapi perah dan kerbau, memperoleh komposisi populasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, mengetahui stok dalam negeri dan karakteristik peternakan lainnya serta membangun database peternak (by name by address). Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media | 4 Komentar

Rilis Data Populasi Sapi Potong – Sapi Perah – dan Kerbau di Indonesia 2011 / 2012

Hasil Sensus Ternak 2011 🙂 Semoga Bermanfaat

Berdasarkan hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30 Juni 2011, populasi sapi potong mencapai 14,8 juta ekor; sapi perah 597,1 ribu ekor dan kerbau 1,3 juta ekor. Dirinci menurut daerah, provinsi yang memiliki populasi sapi potong lebih dari 0,5 juta ekor berturut turut adalah Jawa Timur 4,7 juta ekor; Jawa Tengah 1,9 juta; Sulawesi Selatan 984 ribu ekor; NTT 778,2 ribu ekor; Lampung 742,8 ribu ekor; NTB 685,8 ribu ekor; Bali 637,5 ribu ekor; dan Sumatera Utara 541,7 ribu ekor. Sementara itu untuk sapi perah populasi terbanyak di Jawa Timur 296,3 ribu ekor sedangkan kerbau di NTT sebanyak 150 ribu ekor.

 Secara regional/pulau populasi sapi potong terbesar terdapat di Pulau Jawa 7,5 juta ekor atau 50,74 persen dari populasi sapi potong nasional. Regional/pulau Sumatera memiliki populasi terbesar kedua setelah Jawa dengan populasi 2,7 juta ekor (18,40 persen) disusul kemudian oleh Bali dan Nusra 2,1 juta ekor (14,19 persen); Sulawesi 1,8 juta ekor (11,97 persen); Kalimantan 437,3 ribu ekor (2,95 persen) serta Maluku dan Papua 258,1 ribu ekor (1,74 persen). Untuk sapi perah regional/pulau Jawa mencatat populasi 592,4 ribu ekor (99,21 persen) sedangkan kerbau terbanyak dijumpai di regional/pulau Sumatera 512,8 ribu ekor (39,30 persen). Baca lebih lanjut

18 Agustus 2011 Posted by | A-Pertanian-Peternakan | 1 Komentar