Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Impor Daging Sapi – Modus Klasik

Daging Impor

A.Praktik Lama Para Importir

Praktik lazim yang merupakan metode permainan impor daging ini sudah biasa dilakukan importir nakal. Mereka mengapalkan barang/daging terlebih dahulu, baru mengurus SPP-nya kemudian, setelah kapal merapat. Tidak seperti impor sapi bakalan, dimana importir harus mencantumkan nomor SPP ke pihak eksportir. Dalam kasus impor daging beku, Meski jelas-jelas SPP wajib dimiliki sebelum importir memasukkan daging, namun mereka tidak perlu mencantumkan nomor SPP kepada produsen asal daging impornya.  Kabarnya, importir juga bisa berkolusi dengan aparat dengan cara menyebutkan kode khusus untuk meyakinkan negara eksportir agar dapat daging.

Pola “penyelundupan” ini, yakni memasukan daging tanpa SPP, bukan barang baru dalam bisnis daging. Apalagi, Itu sebabnya, sering kali daging sudah di pelabuhan, SPP baru menyusul dibuat. Tidak heran pula jika dua tahun berturut-turut data impor daging antara Kementerian Pertanian dengan BPS berbeda jauh. Data Kementan menyatakan impor antara 60.000-70.000 ton/tahun, tapi realisasi impor versi BPS mencapai ratusan ribu ton.

Sayangnya penjelasan pihak Karantina Pertanian juga dianggap tak masuk akal oleh importir maupun publik. Menurut mereka, penahanan kontainer daging tersebut terjadi di lini 1, yaitu Bea dan Cukai. Padahal, setiap produk pertanian dari luar yang masuk ke Indonesia, terlebih dahulu diperiksa dokumennya oleh pihak karantina. Setelah dinyatakan lengkap, baru dilaporkan/dibawa ke Bea dan Cukai untuk diurus dokumen PIB-nya (Pemberitahuan Impor Barang).

Dalam hal ini seharusnya pihak karantina menjelaskan kepada publik, bahwa 77 kontainer daging tersebut statusnya adalah barang selundupan, sehingga saat ini dilimpahkan kepada aparat berwenang, baik itu kepolisian maupun aparat bea-cukai pelabuhan.   Ini hanya soal komunikasi sepertinya.

B. Pembagian Tak Adil

Ketua Umum Lembaga Kedaulatan Pangan Nasional, Drh. Nusirwan Adil menilai, keributan soal impor daging karena pembagian kuota yang tidak adil. Ada perusahaan yang diberi kuota sangat besar, meski kinerja perusahaan itu tidak terlalu baik.

Lembaga Kedaulatan Pangan Nasional mencatat, pada semester pertama 2010, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengeluarkan SPP dengan volume mencapai 29.500 ton. Dari jumlah ini, terdapat sekitar 5.000 ton dalam bentuk jeroan. Jumlah impotir yang mendapat kuota semester pertama sekitar 26 perusahaan.

Dari 26 perusahaan tersebut, importir yang mendapat SPP paling besar adalah PT Sumber Laut Perkasa dan PT Inveksindo — milik pengusaha daging Basuki Hariman — dengan jumlah total 9.000 ton. Besarnya volume yang diberikan pemerintah kepada dua perusahaan ini menimbulkan kecemburuan para impotir lain. Sementara impotir lainnya hanya diberikan SPP dengan volume relatif kecil. Misalnya PT Bayu Lestasi hanya dapat 20 ton, PT Causa Prima Ashar sekitar 350-390 ton, PT Sojizt mendapat 400 ton, PT Bina Mentari Tunggal 1.300 ton, PT Bumi Mestro sekitar 2.000 ton, PT Sukanda 2.000 ton dan Indo Guna 1.000 ton.

C. Fakta

Kementerian Pertanian bertindak sigap dengan memberlakukan kebijakan baru impor daging sapi mulai 1 April 2011. Dokumen sertifikat kesehatan yang menerangkan status daging yang akan dimasukkan ke Indonesia wajib menyertakan nomor Surat Persetujuan Pemasukan (SPP) atau yang dikenal dengan izin impor. kewajiban penyertaan nomor SPP pada sertifikat kesehatan bertujuan mencegah spekulasi yang dilakukan para importir.  Sementara itu, Kementan menyatakan “Pelanggaran hukum harus disikapi dengan sanksi hukum, tidak dengan membuat kebijakan baru,” Senin (7/3/2011) di Jakarta.

20 Maret 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: