Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Karakteristik Peternakan Sapi Kambing Domba di Indonesia

Budidaya sapi perah

Peternakan Ruminansia Besar

Pada peternakan ruminansia besar, para peternak juga terbagi atas peternak komersial dalam berbagai skala usaha dan peternak tradisional.  Peternak komersial (yang memelihara > 1.000 ekor/peternak per tahun) terdiri atas peternak penggemukan  (feeder) dan peternak pembibitan  (breeder). Para peternak penggemukan umumnya mendapatkan ternak sapi bakalan melalui impor berupa sapi jantan/betina Brahman cross dan hanya sedikit peternak komersial tersebu tyang menggunakan sapi bakalan dalam negeri, terutama karena alasan nila iekonomis.

Dari pengalaman pada peternakan penggemukan inilah, akhir-akhir ini berkembang peternakan sumber bibit (sebenarnya sumber bakalan). Peternak breeder murni belum ada di sini, yang ada adalah peternak komersial yangmemanfaatkan sapi-sapi betina produktif ex-impor untuk menghasilkan keturunan (Badan  Litbang Pertanian, 2005c). Sapi-sapi betina tersebut diseleksi dengan seksama akan sifat-sifat reproduksinya, kemudian diinseminasi dan dijual sebagai ternak betina bunting. Sapi-sapi betina tersebut diminati oleh banyak Pemda untuk dikembangkan dan digunakan untuk menambah populasi sapi potong diwilayahnya masing-masing.

Pasar kedua produk tersebut, baik sapi penggemukan maupun sapi bunting adalah pasar yang sangat prospektif. Pertanyaannya adalahmungkinkah model usaha perbibitan seperti ini dapat dikembangkan pada sapi lokal ?Peternak tradisional juga mempunyai peran yang hampir sama, tetapi dalam skala usaha yang sangat berbeda. Peternak penggemukan lebih dikenal sebagaipeternak sapi kereman karena waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong cukup lama yaitu lebih dari 6 bulan. Sementara itu peternak penghasil sapi bakalan lebih tepat disebut sebagai peternak budidaya karena praktek seleksi untuk peningkatan produktivitas belum ada dan memang tidak tepat untuk dilaksanakan karena skala pemilikan yang kecil (1–5 ekor/peternak).

Sistem peternakan yang dikembangkan dalam berbagai model pengembangan, yangakhir-akhir ini lebih berkembang adalah sistem kandang komunal dalam suatu kawasan peternakan di mana para peternak yang berdekatan membangun kandang berkapasitas  > 50 ekor induk sapi dalam suatu areal dan semua peternak mengandangkan ternaknya di sana (Talib, 2007). Keuntungannya adalah pelayanan akan lebih mudah dan efisien termasuk servis perkawinan dan obatobatan.  Ada berbagai model yang dikembangkan tetapi semuanya dengan karakteristik masing-masing. Kelemahan mendasar tetap ada yaitu petani belum mampu meningkatkan jumlah pemilikan karena keterbatasan SDM dalamkeluarga, sehingga jika sapi mencapai jumlah yang melebihi kemampuan maka jumlahnya harus dikurangi. Disinilah sumber sapi bakalan potensial yang  dapat dijaring atau dikembangkan dengan pemberian tambahan sumber dayapermodalan melalui perbankan.

Para peternak mengenal sapi-sapi yang dianggap unggul berdasarkan pengalaman menurut tanda-tanda kualitatif. Untuk sapi dan kerbau yang ditujukan untuk kebutuhan  entertainment dan ritual maka pemahaman keunggulan adalahberdasarkan pada warisan pengetahuan tradisional yang kadangkala berlawanan dengan kebutuhan untuk produksi daging. Misalnya, untuk Tedong Bonga (kerbau di Tanah Toraja) yang penting adalah corak belang hitam putih yang memenuhisyarat, jika tidak memenuhi syarat walaupun bagus perdagingannya mempunya iharga jual yang lebih murah. Contoh lainnya adalah sapi Madura dimana yang dipentingkan adalah kemampuan menarik beban dan kecepatan berlari yaitu tulang besar dan kerampingan otot.

Praktek yang diterapkan para peternak tradisional pada sapi dan kerbau miliknya adalah untuk produksi daging, maka ternak jantan yang paling cepat tumbuh akan paling cepat juga masuk ke pasar konsumen untuk menjadi ternak konsumsi. Tentunya ternak tersebut adalah ternak jantan terbaik yang dimilikinya, sedangkan ternak betina yang dipelihara/dipertahankan adalah ternak-ternak yang diyakini akan dapat dengan mudah menjadi bunting dan melahirkan serta mempunyai kemampuan merawat anaknya dengan baik. Oleh karenanyamasuknya program IB menggunakan semen sapi impor membuat peternak memiliki jalan pintas untuk mempercepat pertumbuhan ternak yang dihasilkan dan merupakan jalan pintas yang disukai yaitu melalui persilangan dengan sapi Eropa (Bos taurus).

Berdasarkan pengalaman mereka maka sapi F1 yang terbaik adalah jika disilangkan dengan Simmental atau Limousin (Badan Litbang Pertanian,2005c). Keterbatasan pengembangan usaha dari peternak dengan skala usaha keciltradisional menuju kepada skala usaha yang lebih besar adalah pada akses mendapatkan saprodi dan pada keterbatasan SDM keluarga yang dimiliki. Dengan demikian jika jumlah sapi yang dimiliki petani tersebut meningkat maka harus ada ternak sapinya yang dikeluarkan. Umumnya pengeluaran ternak dimulai dari sapijantan yang paling cepat tumbuh mencapai bobot potong, kemudian sapi betinadengan jarak kelahiran yang paling panjang dan berikutnya (sapi-sapi betina inilah yang dikenal sebagai ”pemotongan ternak betina produktif”).

Dengan pemahaman seperti ini maka jelas aturan pelarangan pemotongan sapi betina produktif tidakcukup jika hanya berupa peraturan, tetapi harus menyediakan jalan keluar terbaik bagi peternak agar peraturan tersebut dapat berjalan efektif.Pada  peternakan sapi perah,  hampir semua peternak berorientasi padakeuntungan.

Pada perusahaan peternakan besar (> 200 ekor) biasanya mempunyai usaha dari hulu sampai hilir, sedangkan pada peternak kecil (3–10 ekor/peternak) umumnya bergabung dalam wadah Koperasi Peternak Susu (KPS).  KPS menyediakan saprodi (pakan konsentrat, pelayanan keswan dan pelayananreproduksi seperti IB dan pemeriksaan kebuntingan) dan menampung semua hasil susu yang diproduksi anggotanya. KPS kemudian menjual susu yang dikumpulkan dalam bentuk susu segar langsung ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Karen aketergantungan pasar sebagai satu-satunya pembeli yang bisa diharapkan, makadalam penentuan harga peran IPS sangat dominan. Umumnya harga susu yangdibeli IPS relatif rendah jika dibandingkan dengan biaya produksi susu.

Pasokan bibit sapi perah untuk peternak KPS berasal dari pasar, baik berupa sapi dara siap kawin maupun sapi dara bunting. Sapi-sapi ini diusahakan olehsekelompok peternak  ”rearing” yang lebih dikenal sebagai ”bengkel sapi”. Para peternak tersebut membesarkan pedet-pedet betina ataupun mengembalikankondisi pedet-pedet pasca-sapih sampai siap kawin ataupun bunting. Di sinipun sifat-sifat kualitatif dari sapi-sapi betina yang diyakini akan berproduksi tinggisangat berperan dalam menentukan harga jual. Para peternak ini juga melakukanrearing pada pedet jantan untuk mempercepat pencapaian bobot potong.

Pada peternakan besar, sapi bibit diperoleh melalui impor atau membeli padapeternakan besar lainnya, mereka hampir tidak pernah menjaring sapi bibit daripeternakan tradisional atau pasar lokal dengan alasan utamanya adalah kesehatan.

Peternakan sapi perah khusus pembibit (breeder) belum ada, sehingga untuk sementara pemerintah berkewajiban menyediakan bibit/benih untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas sapi-sapi perah yang ada. Dalam hal inipemerintah menyediakan BIB Singosari dan BIB Lembang yang bersifat nasional dan BIB-Daerah yang banyak tumbuh akhir-akhir ini.

Ternyata dalam perkembangannya balai-balai inseminasi tersebut mampu menyediakan bibit/benihsapi potong dan sapi perah dalam jumlah yang cukup sesuai dengan yangdibutuhkan masyarakat.

Peternakan Ruminansia Kecil

Pada peternakan ruminansia kecil, pola pemeliharaan hampir serupa dengan pemeliharaan pada sapi potong dan kerbau yaitu pada peternak tradisional. Peternak komersial seperti pada peternakan sapi belum ada, yang banyak berperan adalah para pedagang pengumpul ketika kebutuhan untuk pasokan Hari RayaIdhul Adha semakin mendesak. Para pedagang ini mencari kambing dan dombadari berbagai daerah sumber bibit/bakalan.

Pada peternak pembibit, seleksi yang dilakukan lebih ditujukan untuk tujuan hiburan seperti pada Domba Garut adalah untuk menghasilkan domba aduan yang unggul, dan para peternak juga membentuk asosiasi peternak domba garut. Seleksi untuk menghasilkan daging yang banyak belum ada di peternak, walaupun ketika menjual ternak yang tidak layak untuk aduan adalah melihat taksiran bobot badan.

Pada peternak ruminansia kecil belum ada koperasi yang  mewadahi, baikuntuk ternak potong maupun untuk ternak perah (kambing perah). Demikian pula pengembangan peternakan secara perorangan ke arah komersial masih kurangdidukung oleh pasar lokal yang ada. Keterbatasan pengembangan dari skala usaha kecil tradisional menuju kepada skala usaha yang lebih besar adalah akses padasaprodi, SDM keluarga yang dimiliki dan pasar.

Iklan

10 Maret 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media, Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: