Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Produk Pangan Asal Ternak , Selera Konsumen dan Peluang Pasar

Ayo konsumsi Daging, Susu dan Telur

Daging, susu dan telur adalah produk pangan asal ternak yang sangat penting dalam memenuhi gizi dan mencerdaskan masyarakat, di samping itu juga adalah komoditas ekonomi yang strategis.

Daging asal ternak diperoleh dari berbagai sumber yaitu (i) unggas, (ii) ruminansia besar, (iii) ruminansia kecil dan (iv) ternak lain. Sementara itu susu diperoleh dari ruminansia besar dan ruminansia kecil, dan telur diperoleh dari unggas.

Daging asal unggas disumbangkan paling banyak oleh ayam broiler dan ayam kampung dan hanya sedikit dari itik dan ayam petelur (ayam jantan danbetina afkir). Total sumbangan daging asal unggas mencapai 60,8 persen dari total daging yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia (Ditjenak, 2006).

Daging ayam merupakan daging termurah, harga terjangkau oleh masyarakat luas, kualitasnya cukup baik dan tersedia dalam jumlah yang cukup sertapenyebarannya yang hampir menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Dalam hal pemenuhan kebutuhan daging unggas maka Indonesia telah mencapai swasembada sejak tahun 1995 lalu. Perlu diingat bahwa permintaan akan daging unggas akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan peningkatan yang cukup signifikan  (Tangenjaya dan Djajanegara, 2002).

Bagaimana peluang ekspor setelah swasembada dicapai? Saat ini peluang ekspor cukup sulit untuk dilaksanakan karena banyak negara telah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, maka perlu dicari nilai lebih dari produk Indonesia agar mempunyai daya saingyang cukup untuk menembus pasar ekspor (Badan Litbang Pertanian, 2005b; dan Kementerian Negara Ristek-RI, 2006).  Hal yang tidak kalah penting juga adalah lebih mengefisienkan proses produksi agar daya saing produk dapat lebih ditingkatkan.

Daging asal ruminansia besar paling banyak disumbangkan oleh sapi potong, diikuti oleh kerbau dan sapi perah (sapi jantan dan betina afkir). Total sumbangannya mencapai 24 persen dari total konsumsi daging nasional (Ditjenak, 2006). Secara  umum daging tersebut, walaupun berasal dari ketiga jenis ternak yang berbeda, di pasar hanya dikenal sebagai daging sapi. Hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mengakui adanya daging kerbau, walaupun kerbau dipotong hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sayangnya untuk daging sapi Indonesia belum berswasembada, bahkan harus mengeluarkan devisa yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun akibat kesadaran gizi dan peningkatan pendapatan(Talib, 2006).

Daging asal ruminansia kecil mempunyai pasar yang sangat spesifik tetapi juga membutuhkan jumlah ternak yang tidak sedikit. Kontribusi daging ruminansia kecil pada konsumsi daging nasional sebesar  6 persen (Ditjenak,2006). Pasar potensial adalah berupa sate, gulai dan sop kambing (walaupun dagingnya berasal dari kambing dan domba) dan pasar ternak hidup terbesar adalah untuk Ritual Hari Raya Idul Adha. Dalam memenuhi kebutuhan pasar maka Indonesia telah berswasembada.

Bagaimana peluang ekspor setelah swasembada dicapai? Untuk daging ruminansia kecil sebenarnya pasar eksportersedia yaitu di Timur Tengah dimana daging tersebut merupakan konsumsiharian masyarakat di sana dan untuk kebutuhan Ritual Idul Adha. Mengapa ekspor belum bisa terlaksana dengan baik? Standar ekspor yang diinginkan sulit diperoleh dalam jumlah yang cukup (Badan Litbang Pertanian, 2005a) karena sistem pemeliharaan masih dalam skala kecil dan sangat beragam sedangkan kebutuhanekspor dalam jumlah yang cukup besar untuk setiap pengiriman maka pengumpulan ternak menjadi kurang ekonomis.

Pasar dalam negeri masih kurang kondusif bagi daging kambing/domba karena akan semakin tergeser oleh daging ayam dan sapi, maka pengembangan ternak kambing dan domba sebaiknyaberorientasi ekspor melalui perbaikan bibit dan manajemen pemeliharaan.Daging asal ternak lain didominasi oleh Babi (9%) (Ditjenak, 2006), dimana konsumennya hanya berkembang pada masyarakat nonmuslim saja.

Sedangkan kontribusi daging dari ternak lainnya seperti kuda, kelinci dan rusa masih sangat terbatas. Indonesia telah berswasembada daging babi bahkan padadaerah-daerah perbatasan merupakan komoditas ekspor yang cukup potensial.

Produk susu hampir seluruhnya berasal dari sapi perah, dan hanya sedikit kontribusi yang berasal dari kerbau yaitu hanya terdapat di lokasi tertentu sajayang budaya konsumsi susu kerbau. Biasanya juga berlangsung hanya pada even tertentu. Sedangkan konsumsi susu kambing lebih terbatas lagi hanya pada masyarakat yang mempercayai bahwa susu kambing adalah obat berbagai penyakit terutama yang berhubungan dengan penyakit pernapasan dan lambung.

Kebutuhan susu sapi dalam negeri baru terpenuhi 24 persen dari kebutuhan total, sehingga masih sangat bergantung pada impor sebesar 76 persen. Walaupundemikian peluang ekspor masih cukup terbuka, hal ini dapat dilihat darikeberhasilan beberapa perusahaan mengekspor produk tersebut dengan jumlahyang cukup menjanjikan yaitu sebesar 32 persen (Ditjenak, 2006). Kebutuhan susu sapi dalam negeri akan terus meningkat dari tahun ke tahun akibat adanyakesadaran gizi dan peningkatan pendapatan.

Telur, paling banyak dipasok oleh ayam ras petelur dan merupakan sumber  protein hewani asal ternak termurah dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Telur dalam jumlah terbatas juga disumbangkan oleh ayam kampung dan itik petelur. Telur ayam kampung lebih banyak berfungsi sebagaiobat (campuran jamu) dibandingkan dikonsumsi secara langsung sebagaimanatelur yang dihasilkan oleh ayam petelur. Demikian pula telur itik lebih banyak digunakan untuk produk olahan pangan siap saji seperti martabak dan telur asin, sedangkan konsumsi dengan hanya digoreng atau direbus masih  kurang disukai karena agak berbau anyir.

Perlu diingat bahwa permintaan akan telur ayam akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan peningkatan yang cukup signifikan dan akan menggeser telur-telur lainnya sebagaimana trend yang ada sekarang (Tangenjaya danDjayanegara, 2002; Badan Litbang Pertanian, 2005b). Peluang ekspor telur unggas cukup sulit karena banyak negara yang telah mencapai swasembada telur.

Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 1-14

Iklan

9 Maret 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media, Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: