Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Karakteristik Peternakan Unggas di Indonesia

Ayam Broiler

Peternakan unggas secara garis besar terbagi atas dua macam yaitu peternakan komersial dalam berbagai skala usaha dan peternak tradisional (non komersial). Hampir semua peternak komersial memelihara ayam ras (broiler dan petelur) dan sebaliknya hampir semua peternak tradisional memelihara ayam kampung.

Peternak komersial secara fungsional terbagi atas peternak pembibitan (breeder) sebagai penghasil bibit/benih dan peternak budidaya sebagai penghasil ayam siap potong dan telur konsumsi. Walaupun dalam prakteknya sebagian besar breeder juga berfungsi sebagai peternak budidaya untuk menciptakan pasar oligopoli. Di samping itu hampir semua peternak komersial dari skala kecil (1.000 ekor) sampai sedang (20.000 ekor) sangat bergantung pada bibit/benih dan saprodi dari perusahaan besar baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pasarnya adalah berhubungan langsung dengan para penampung di pasar-pasar tradisional (pasar becek). Untuk peternak yang menjadi plasma perusahaan besar dalam sistem inti-plasma mempunyai kewajiban untuk menjual pada perusahaan besar (inti) dengan harga pasar, yang sebenarnya harga tersebut sudah terikat dalam sistem oligopoli.

Perkembangan ayam ras yang mampu membangun Indonesia untuk mencapai swasembada daging ayam dan telur ayam dengan konsumen yang mencapai hampir seluruh Wilayah Indonesia perlu dicermati dengan baik. Kelembagaan dan jejaring yang terbentuk, telah membangun suatu sistem tersendiri yang disetujui oleh para peternak karena mampu memberikan nilai tambah langsung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka merupakan salah satu nilai lebih dari industri unggas di dalam negeri. Hal-hal yang menunjang perkembangan peternakan unggas adalah (i) tersedia akses untuk mendapatkanbibit/benih dan pakan berkualitas, (ii) obat-obatan, (iii) informasi standar manajemen pemeliharaan, (iv) pasar yang siap tampung setiap produk yang dihasilkan serta (v) besaran usaha yang cukup memberikan keuntungan yang dianggap baik bagi peternak yang melakoninya. Sayangnya pakan untuk unggas masih menjadi problema yang serius karena sebagian besar bahan pakan diperoleh melalui impor dan tercatat pada tahun 2004 besaran impor untuk jagung (988 ribu  ton), bungkil kedelai (1,8 juta ton) dantepung hewani (360 ribu ton) (Ditjenak, 2006). Bahan-bahan tersebut merupakanbahan utama untuk formulasi pakan unggas. Sehingga untuk menembus pasarimpor dan persaingan dengan produk impor dalam pasar global maka  harus ada tindak lanjut untuk memenuhi kebutuhan pakan tersebut yang diharapkan dapatlebih murah dari produk impor.Keterbatasan pengembangan dari skala usaha komersial kecil menujukepada skala usaha komersial yang lebih besar adalah pada faktor modal usaha, akses pada saprodi dan ketersediaan pasar dan bukan pada SDM.

Perkembangan ayam kampung mengambil arah yang berbeda dengan ayam ras, peternak pembibit menseleksi ternaknya bukan ditujukan untuk produksi daging dan telur secara optimal sebagaimana pada ayam ras, tetapi lebih ditujukan untuk menghasilkan bibit yang spesifik yang lebih banyak berfungsi sebaga ihiburan atau hobi seperti ayam pelung untuk suara merdu, ayam bangkok untu kayam aduan dan ayam hias karena warna dan keunikannya. Sangat sedikit yang mengarahkan seleksi untuk produksi telur seperti ayam Arab, sehingga sulit bagiayam kampung untuk bersaing dengan ayam ras dalam menghasilkan jumlah telur dan daging yang banyak. Peternak budidaya pada ayam kampung lebih memfungsikan ayamnya sebagai tabungan yang siap diuangkan setiap saat ketika membutuhkan dana kontan. Para peternak pembibit ayam kampung lebihberfungsi sebagai penjaga plasma nutfah yang andal. Mereka membangun asosiasi pencinta ternak seperti HIPAPI (Himpunan Peternak Ayam Pelung) yang seringmengadakan even-even kejuaraan dan kontes untuk kemerduan suara ternaknya(HIPAPI, 2006).

9 Maret 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media, Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: