Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Malam lailat al Qadar Ramadhan

Apakah yang disebut Lailat al Qadar itu? Informasinya disampaikan oleh Allah kepada kita lewat firmanNya berikut ini.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jbril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam Itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1 – 5)

Allah mengatakan dalam firmanNya bahwa malam al Qadar itu adalah malam yang memiliki nilai lebih baik dari 1000 bulan. Betapa hebatnya. Bagaimanakah hal itu bisa dijelaskan? Kapankah turunnya malam itu? Dan bagaimanakah keadaannya?

Banyak tafsir yang menggambarkan turunnya malam al Qadar. Namun secara mendasar, kita bisa bertumpu pada ayat-ayat tersebut di atas.

Waktu turunnya al Our’an.

Di permulaan surat itu, Allah menjelaskan bahwa malam kemuliaan sebenamya adalah malam diturunkannya al Qur’an. Hal itu telah lama terjadi, yaitu sekitar 14 abad yang lalu. Ada yang berpendapat bahwa itu adalah saat-saat pertama kali turunnya al Qur’an. Yaitu ketika Rasulullah saw memperoleh wahyu untuk pertama kalinya digua Hira’. Dan setelah itu Al Quran diwahyukan secara berangsur angsur.

Namun, ada juga yang memiliki persepsi bahwa itu adalah saat saat turunnya al Quran secara keseluruhan ke muka bumi, sebelum diturunkannya secara berangsur angsur selama, 23 tahun. Hanya saja, persepsi ini kurang memperoleh pijakan dalam sejarah, karena wahyu Qur’an memang diturunkan tidak sekaligus, melainkan secara bertahap.

Yang ketiga, ada yang mempersepsi bahwa saat turunnya al Qur’an itu bisa kapan saja, kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. Yang dimaksudkan disini bukanlah redaksi Al Qur’anNya, melainkan makna yang terkandung di dalamnya. Redaksi al Qur’an sudah turun sejak Rasulullah saw menerima wahyu, namun hikmah dan makna yang terkandung di dalamnya terus-menerus turun kepada orang-orang yang mengambil pelajaran dari Quran itu, sepanjang masa.

Dalam hal ini, Quraish Shihab memiliki penafsiran yang menarik bahwa ayat pertama surat al Qadr itu sebenarnya memiliki makna yang bersifat lampau alias masa lalu. Ini, katanya, terlihat dari tata bahasa yang digunakan:’Kami telah menurunkannya (anzalnaahu).

Kata ‘telah menurunkannya’berarti telah terjadi dan tidak akan terjadi lagi di masa depan. Karena itu, malam kemuliaan al Qadar itu sebenamya sudah terjadi di jaman Rasulullah saw, yaitu saat diturunkannya wahyu al Qur’an untuk pertama kalinya.

Namun demikian, ketika Allah menjelaskan tentang turunnya malaikat ke Bumi, Dia menggunakan struktur bahasa yang berlaku untuk masa lalu dan masa depan : tanazzalul malaaikatu (turun para malaikat…’). Hal ini, kata Quraish Shihab, menunjukkan bahwa para malaikat tetap turun di hari-hari terakhir setiap bulan Ramadhan, untuk menemui hamba-hamba Allah yang berpuasa secara baik. Kenapa dikaitkan dengan Ramadhan? Karena di ayat lain Allah mengatakan bahwa al Quran memang turun di bulan Ramadhan.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah la berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada harihari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dalam makna yang tersirat, penulis menangkap kesan bahwa makna (isi) Al Quran diturunkan oleh Allah lewat malaikat Jibril yang diiringi para malaikat lainnya kepada orang-orang yang berpuasa. Bukan yang sembarangan dalam berpuasanya, melainkan orang-orang yang meningkatkan terus kualitas berpuasanya secara bertahap di etape 1, etape 2 dan etape 3. Al Qur’an adalah petunjuk bagi manusia. Tapi, tidak semua orang bisa memperoleh pelajaran dan hikmah dari padanya, kecuali orang-orang yang beriman dan membersihkan hatinya. Disinilah konteksnya, bahwa orang yang berpuasa di 10 hari terakhir bisa bertemu dengan Lailatul Qodar saat-saat turunnya al Qur’an.

Coba lihat sejarah Rasulullah saw pada saat mau menerima wahyu pertama di Gua Hira’. Beliau banyak ‘berpuasa’ dan melakukan tafakur untuk membersihkan hatinya. Demikian pula, setelah menerima wahyu pertama itu (QS. Al’Alaq: 1-5), Rasulullah masih juga diperintahkan oleh Allah untuk bangun malam, banyak membaca al Quran untuk membersihkan hatinya. Kenapa demikian? Karena kata Allah, beliau bakal menerima wahyu-wahyu berikutnya berupa kalimat kalimat yang ‘berat’.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Muzzammil : 1-6)

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Ayat-ayat di atas adalah wahyu yang diturunkan Allah di urutan kedua sesudah QS Al’Alaq: 1-5. Dan menariknya, di situ Allah memerintahkan nabi agar memperbanyak bangun malam, agar lebih siap untuk menerima wahyu-wahyu berikutnya.

Dengan kata lain, agar bisa menerima wahyu secara lebih baik, beliau dianjurkan untuk membersihkan hati beliau dengan banyak membaca Qur’an pada malam hari di waktu sahur.

Saat-saat seperti itulah yang diisyaratkan oleh malam al Qadar. Orang-orang yang memperbanyak ibadahnya di waktu malam sampai menjelang fajar, bakal memiliki peluang sangat besar untuk bertemu dengan para malaikat yang ‘menaburkan’ makna al Quran ke hati mereka sebagai sebuah hikmah yang tiada ternilai tingginya.

Orang-orang yang menerima hikmah Qur’an pada saat Lailat al Qadar sungguh bagaikan memperoleh kebajikan yang lebih tinggi dari 1000 bulan … !

24 Agustus 2008 - Posted by | Mutiara Kata

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: