Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Kembali kefitrah Ramadhan

Mereka yang berpuasa dengan baik selama bulan Ramadhan, bakal menemukan fitrahnya kembali. Apakah fitrah kita? Adalah makhluk berakal yang berdimensi individual, sosial, dan spiritual sekaligus.

Hal ini tergambarkan dalam hari raya ‘Idul Fitri’ sebagai manifestasi ‘kemenangan’ kita menundukkan hawa nafsu. Harapannya, akal kita berhasil menundukkan hawa nafsu. Maka yang muncul adalah kejernihan hati. Bersih dari berbagai macam penyakit lahiriah maupun batiniah. Semestinya, orang yang berhasil puasanya tampil mempesona sebagai manusia yang ‘fitri’ di hari yang Fitri.

Dan bukan hanya pada hari itu saja mereka bakal tampil mempesona, tetapi sepanjang tahun ke depan. Karena bulan Ramadhan adalah ‘sekadar’ pijakan untuk melangkah ke depan. la bukan tujuan, melainkan sebuah cara untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dan lebih mulia.

Ramadhan adalah training centre bagi orang yang ingin memiliki kemampuan mengendalikan diri (bertakwa). Jika lulus, maka kita telah memiliki modal yang besar untuk ‘bertempur’ sepanjang tahun melawan hawa nafsu yang terus-menerus mengintai kita.

Mesti kita ingat bahwa tujuan terakhir proses beragama kita bukanlah bertakwa, melainkan berserah diri.

(QS. Ali Imran :102). Bertakwa adalah tingkatan kedua setelah beriman. Bertakwa adalah kemampuan alias skill yang bisa menghantarkan kita kepada kondisi berserah diri kepada Allah. Skill itu telah kita dapatkan di dalam training centre, selama bulan Ramadhan.

Karena itu yang lebih penting, adalah waktu-waktu sepanjang tahun sesudah Ramadhan. Di situlah pertempuran yang sesungguhnya bakal terjadi. Bukan pada saat Ramadhan. Kenapa demikian? Sebab, selama Ramadhan itu sebenamya kita terlalu banyak memperoleh fasilitas dari Allah dan orang-orang di sekitar kita. Sehingga, pantas saja kalau kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita.

Setidak tidaknya ada 3 macam bantuan yang kita terima selama Ramadhan, sehingga bisa menundukkan hawa nafsu. Yang pertama adalah bantuan dari Allah, berupa tatacara puasa. Dengan cara berpuasa itu, Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk melawan hawa nafsu. Coba bandingkan dengan saat-saat tidak berpuasa, pasti lebih sulit untuk mengendalikan diri sendiri.

Jadi, memang puasa kita itu adalah sebuah cara berlatih untuk mengendalikan diri sendiri. Lapar dan haus itu selalu megingatkan kita, bahwa kita sedang berpuasa. Apalagi, Allah juga mengajarkan kepada kita agar memperbanyak ibadah lainnya seperti shalat, baca Quran, dzikir, dan lain sebagainya.

Maka, sungguh semua itu memberikan kekuatan yang besar kepada kita untuk selalu berusaha mengendalikan diri. Bisakah kita melakukan semua itu di luar bulan Ramadhan?

Fasilitas kedua kita dapatkan dari pemerintah. Biasanya, selama bulan Ramadhan, pemerintah melarang berbagai kegiatan yang berbau maksiat. Bahkan sampai, rumah makan dan tempat-tempat hiburan pun dilarang buka secara menyolok. Tentu saja ini memberikan suasana yang lebih ‘kondusif’ buat orang-orang yang berpuasa.

Padahal semestinya tidaklah demikian. Kalau selama bulan Ramadhan kita ‘diisolasi’ seperti itu, berarti kita tidak sedang berlatih dalam suasana yang sesungguhnya. Terlalu banyak proteksi. Hasilnya akan menjadi kurang baik.

Fasilitas yang ketiga, dari media massa. Baik media cetak maupun media elektronik. Selama bulan Ramadhan itu mereka menayangkan acara-acara yang berbau islami dan menghindari hal-hal yang seronok. Jadi kita bisa membayangkan betapa seluruh situasi dan kondisi telah ‘dibuat sedemikian rupa’ sehingga mengenakkan orang orang yang sedang berpuasa. Maka pantas saja kalau kita menang melawan hawa nafsu kita.

Tapi apakah kita bisa menang melawan hawa nafsu kita di luar bulan Ramadhan? Belum tentu. Kenapa? Karena situasi dan kondisi di atas tidak ada lagi. warung, restoran, tempat hiburan dan berbagai kegiatan maksiat telah ‘hidup’ kembali. Setan-setan yang tadinya dibelenggu kini berkeliaran lagi, bahkan jauh lebih liar. Maka, sungguh tidak mudah untuk mempertahankan ketakwaan kita di luar bulan suci Ramadhan. Padahal itulah ‘arena’ yang sesungguhnya.

Karena itu kadang-kadang saya merasa ironis ketika mendengar ucapan bernada ‘bangga’ bahwa pada 1 syawal itu kita telah menang melawan setan dan hawa nafsu. Ya, banyak di antara kita mempersepsi hari raya Idul Fitri adalah sebagai ‘Hari Kemenangan’ setelah sebulan penuh mengendalikan hawa nafsu. Benarkah kita telah menang?

Jangan-jangan kemenangan itu hanya semu belaka. Jangan jangan kita mengatakan menang di tanggal 1 syawal, namun sudah kalah di tanggal 3 syawal, karena telah melakukan kembali hal-hal yang dilarang agama. Kita mulai berbohong kembali. Kita mulai mengumbar rasa iri dan dengki. Mulai menebar ketidak adilan kepada sesama, serta menyakiti orang-orang di sekitar kita. Ah, betapa ironisnya kita. Dan betapa ‘lucunya’…!

Maka, sungguh Idul Fitri bukanlah hari kemenangan. Tapi itulah saat-saat dimulainya kembali perjuangan tiada henti. Berjuang untuk meningkatkan kualitas kita, dari ‘takwa’ menjadi ‘berserah diri’ kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman di QS. 3: 102, bahwa jangan sampai kita kedahuluan mati, sebelum bisa berserah diri kepada Allah. sepenuh penuhnya…

PERTAHANKAN HASIL PUASA

Setelah Ramadhan berlalu, bagaimanakah kita mesti menjaga ‘hasil’ puasa kita. Cara yang paling ‘dekat’ adalah dengan tetap berpuasa. Akan tetapi, bukankah Rasulullah saw melarang kita untuk berpuasa terus menerus yang tiada terputus, sepanjang tahun?

Karena itu, puasa sunnah adalah jalan keluar yang paling baik. Ini dimaksudkan untuk memenuhi ‘anjuran, Allah agar kita ‘sering’ berpuasa: “Dan berpuasa adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” Sebagaimana difirmankan dalam QS. Al Baqarah (2):184.

Maka, seusai puasa Ramadhan kita dianjurkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kita dengan puasa Syawal. Ini adalah salah satu upaya agar ‘kemenangan’ kita mengendalikan hawa nafsu tidak segera sirna, justru ketika kita baru saja meninggalkan bulan Ramadhan.

Kalau dilihat dari efektivitasnya, maka ada beberapa jenis puasa yang bisa dilakukan, mulai dari puasa Daud, puasa Senin Kamis, puasa tengah bulan, dan beberapa puasa, sunah lainnya di bulan Dzulhijjah, Muharram, dan lain sebagainya. Intinya, berpuasa adalah lebih baik bagi kita, karena di dalamnya terkandung banyak manfaat.

Orang yang sering berpuasa akan selalu dalam kondisi terbaiknya. Sebab puasa adalah proses penyeimbangan kembali terhadap kondisi badan. Katakanlah seseorang yang berpuasa Daud. Bisa kita bayangkan kondisinya akan sangat terjaga, karena ia sehari puasa, dan sehari berikutnya tidak.

Jadi, kalau digambarkan, seseorang yang berpuasa Daud, ibaratnya sehari membebani badannya, dan sehari kemudian diseimbangkan kembali.

Telah kita bahas di depan bahwa orang yang tidak berpuasa ternyata justru sedang memberikan beban kepada tubuhnya. Apalagi kalau pola makan dan pola hidupnya jelek. Katakanlah, ketika sarapan ia makan berat, siangnya makan besar, dan malamnya makan banyak.

Maka, badannya bakal mengalami tekanan alias stress diakibatkan oleh pekerjaan mencema yang berlebihan. Sehingga, proses pembakaran (metabolisme) dan pembuangan sampah-sampahnya tidak bisa berjalan maksimal. Yang terjadi, justru, adalah penumpukan racun di dalam tubuhnya. Apalagi jika jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuhnya berlebihan serta tidak dalam komposisi yang baik.

Pada ‘case’ orang yang berpuasa Daud, maka ‘beban’ yang terjadi sehari sebelumnya itu akan dinetralkan pada sehari sesudahnya. Pada saat berpuasa, itulah ia akan menggelontorkan kembali racun-racun yang menumpuk di dalam badannya pada saat tidak berpuasa.

Jadi sungguh efektif sekali penyeimbangan yang terjadi pada orang yang melakukan puasa Daud. Dan itu bukan hanya pada problem lahiriyahnya saja, melainkan juga pada penyeimbangan kejiwaannya. Stress yang dia alami secara kejiwaan juga bakal mengalami ‘pengendoran’ saat ia berpuasa.

Kenapa demikian? Karena berpuasa bukanlah sekedar aktivitas badan, melainkan juga aktivitas batin. Seluruh sikap, batin kita mulai dari niat motivasi, semangat, kesabaran, keikhlasan, dan ketawakalan, sepenuhnya kita orientasikan kepada Allah semata. Ini adalah proses penyeimbangan jiwa yang sangat efektif.

Orang yang bisa berlaku demikian terus-menerus, bakal tidak pernah mengalami stress dalam skala yang serius. Paling banter cuma cemas. Dan cemas itu adalah kondisi yang justru dibutuhkan untuk membangun motivasi agar maju. Karena kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang berkait dengan harapan untuk maju.

Efek Puasa Daud lebih baik lagi dari yang saya jelaskan di atas, karena sesungguhnya suasana puasa itu bakal mempengaruhi hari-hari kita secara berkelanjutan. Meskipun pada hari yang kita tidak sedang berpuasa, kita seakan-akan masih dalam suasana puasa seperti hari sebelumnya. Biasanya, pola makan dan pola hidup kita terbawa oleh suasana puasa. Yaitu, tidak terlalu berlebihan dan selalu terkontrol. Ini sungguh sangat baik dampaknya.

Namun, jika karena sesuatu hal kita tidak bisa berpuasa Daud, maka puasa Senin Kamis adalah pilihan yang baik. Jika pada puasa, Daud, kondisi badan kita selalu diseimbangkan secara kontinu dua hari sekali, maka pada puasa Senin Kamis, penyeimbangan itu teladi 3-4 hari sekali.

Selasa dan Rabu tidak puasa badan mengalami pembebanan, lantas dinetralkan kembali pada hari Kamis. Setelah itu, Jum’at, Sabtu, Minggu dibebani lagi, kemudian diseimbangkan pada hari Senin. Begitu seterusnya. Badan akan selalu diberi tenggang waktu untuk melakukan rehabilitasi secara alamiah terhadap, kondisi kesehatannya, lahir dan batin.

Ada juga yang menggabungkan puasa Senin Kamis ini dengan puasa tengah bulan yaitu tanggal 13,14 dan 15 setiap bulannya. Sehingga, jumlah hari puasa, di dalam satu bulan itu lebih banyak dibandingkan hanya dengan puasa Senin Kamis saja. Itu akan lebih baik dampaknya.

Jika karena sesuatu hal, Senin Kamis juga sulit untuk dilakukan, maka pilihan terhadap puasa 3 hari setiap bulan di tanggal 13, 14 dan 15 juga cukup baik. Setidak-tidaknya terjadi penyeimbangan rutin alias berkala dalam 1 bulan, selama 3 hari itu. Puasa 3 hari dalam sebulan itu pun sudah cukup efektif untuk memberikan jeda bagi aktivitas badan yang kadang terlalu berlebihan selama sebulan.

Dan yang lebih jarang lagi, adalah puasa pada hari-hari tertentu saja, misalnya pada bulan Muharram, dalam rangka menyambut tahun baru Islam. Atau menyambut datangnya hari raya haji pada bulan Dzulhijjah. Ataupun pada saat bulan Rajab dan Sya’ban untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan kemudian di bulan Syawal, seusai puasa Ramadhan. Semua itu baik, karena pada prinsipnya memenuhi anjuran Allah bahwa ‘berpuasaEitu sebenarnya lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”

MAKAN KALAU LAPAR, BERHENTI SEBELUM KENYANG

Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya dalam hal makan tentang sebuah prinsip keseimbangan yang sangat indah. Beliau katakan : “makanlah kelau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang”

Di dalam sabda beliau itu kita menangkap pelajaran yang sangat mendasar tentang pola makan dan pola hidup. Jika karena sesuatu hal, kita tidak sempat berpuasa, maka lakukanlah apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw di atas.

Pelajaran pertama yang terkandung dalam kalimat itu sebenamya adalah pemahaman tentang fungsi makan dalam kehidupan. Bahwa makan itu sebenamya adalah kebutuhan untuk hidup, bukannya hobi atau gaya hidup. Dengan kata lain, kita sering mendengar jargon ini Makanlah untuk hidup. Bukannya hidup untuk makan.

Ini perlu kita kemukakan, terutama di era modern ini karena fungsi makan telah bergeser dari fungsi sesungguhnya. Tadinya, makan dan minum itu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk mencukupi gizi dalam tubuh kita sehingga bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih produktif. Begitulah konsep Islam menempatkan fungsi makan dalam keseharian kehidupan kita.

Namun, kebanyakan kita justru menempatkan aktivitas makan itu sebagai kegiatan konsumtif. Bukannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat melainkan justru ‘membuang’ manfaat.

Coba kita perhatikan berapa banyaknya waktu dan energi terbuang untuk mengurusi makanan. Ketika seseorang menempatkan makan, sebagai aktivitas konsumtif, maka dia telah terjebak dalam pusaran aktivitas yang menyita banyak waktu dan energinya, sekadar untuk makan.

Dia memulainya dengan berpikir untuk makan enak hari ini. Sehari tiga kali. Setelah itu dia akan mencari tempat untuk makan yang dia anggap enak itu. Atau jika tidak mencari di rumah makan, dia harus menyiapkan beli bahan-bahan untuk memasak sendiri. Setelah itu, dia habiskan waktu untuk makan, karena ia tidak ingin melewatkan suasana makan yang memang telah dia idamkan kenikmatannya. Dan seterusnya, biasanya mereka tidak menyadari bahwa makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh nya telah melewati takaran wajar.

Kalau hal demikian ini kemudian menjadi kebiasaan dan gaya hidupnya, maka ia telah terjebak pada pola makan yang tidak baik. Jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu berlebihan, komposisinya tidak bagus, ritme pencemaan terlalu berat membebani fungsi tubuh. Yang terjadi selanjutnya adalah ketidakseimbangan yang berujung pada kondisi sakit setelah sekian tahun kemudian.

Disini sekali lagi kita mengeluarkan energi tambahan untuk mengeluarkan biaya pengobatan dan waktu yang tidak sedikit untuk mengurusi efek makan yang tidak baik polanya. Apalagi, jika sakit itu menjadi kronis. Kita mesti bolak balik masuk rumah sakit atau ke dokter keluarga. Betapa banyak energi dan waku terbuang hanya untuk megurusi makan dan akibat daripada pola makan yang tidak baik itu.

Rasulullah saw mengajari agar kita tidak terjebak pada pola makan yang konsumtif, melainkan pola makan yang produktif. Makan bukan untuk hobi atau pun gaya hidup, melainkan untuk mendukung aktifitas kerja dan produktifitas tinggi.

Pola makan produktif itu hanya bisa terjadi jika sejak dari niat atau motivasiya sudah benar. Yaitu, bahwa makan bukan diposisikan sebagai tujuan melainkan sekadar fasilitas atau bahkan cara mencapai tujuan. Namun demikian, bukan berarti kita tidak menikmati makanan dan suasana makan itu sendiri. Yang perlu ditekankan di sini adalah persepsi yang ‘proporsional dan jernih’ dalam menyikapi ‘kenikmatan’ yang seringkali menjebak kita masuk ke dalam penderitaan itu … !

Ingat, 61 persen penduduk AS mengalami berbagai macam penyakit yang terkait dengan kelebihan makanan. Dan sekitar 300 ribu orang meninggal setiap tahunnya dikarenakan komplikasi penyakit penyakit yang berkait dengan kelebihan makanan tersebut..!

Pelajaran kedua, hadits tersebut mengajarkan kepada kita agar memahami dan menyadari kondisi tubuh kita sendiri. Bahwa tubuh kita ini sudah memiliki alarm yang sangat canggih, sebagaimana telah kita bahas di depan. Jika kondisi tubuh mengalami penurunan tertentu, maka ia akan ‘membunyikan alarmnya’. Termasuk ketika kita kekurangan gizi dalam tubuh, maka badan akan membunyikan ‘alarm’ lapar.

Di sini Rasulullah saw mengajari kita bahwa makan yang baik adalah ketika badan telah membutuhkan. Jadi ukurannya adalah ‘kebutuhan’ bukan keinginan. Sebab kalau sekedar keinginan kita bakal terjebak pada hawa nafsu yang tidak pernah ada batasnya. Hawa nafsu mendorong kita menuju pada kehancuran dan penderitaan. Sedangkan pemenuhan ‘kebutuhan’ bakal membawa kita pada keseimbangan yang bersifat alamiah.

Pelajaran ketiga, Rasulullah menganjurkan agar kita berhenti makan sebelum kenyang. Disini sekali lagi beliau mengajari kita untuk memperhatikan ‘alarm’ tubuh.

Meskipun masih ingin makan, kalau perut sudah terasa kenyang, hentikanlah. Sebab jika ‘alarm kenyang’ ini tidak kita gubris akibatnya bisa membahayakan kesehatan kita sendiri.

Efeknya sama dengan yang telah kita bahas di depan, mulai dari tidak efisien dan tidak efektifnya pencemaan, lantas diikuti dengan metabolisme yang tidak sempuma, sampai akhimya terjadi penumpukan zat-zat racun di seluruh jaringan dalam tubuh.

Kekenyangan juga berakibat pada tidak efisiennya proses berpikir. Kecenderunganya adalah ngantuk dan tidak produktif. Islam, sekali lagi, mengajak kita untuk berperilaku produktif.

Dalam konteks itulah, ngobrol ngalor ngidul dilarang oleh Allah. Ngerasani alias membicarakan kejelekan orang juga tidak boleh. Bermalas-malasan, apalagi! Kita mesti kerja keras untuk menuju progresivitas yang tinggi menuju kepada Allah. Sebab Allah adalah Dzat yang Maha Tinggi.

Kita harus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya karena Allah adalah Dzat yang Maha Berilmu. Kita juga harus menjadi orang-orang yang semakin bijak, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Kita mesti menjadi orang yang semakin mencintai dan Mengasihi, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi.

Dan seterusnya, Allah menghendaki kualitas kita sebagai manusia terus meningkat menuju pada kesempurnaan hidup. Karena kita memang bakal kembali kepada Allah Yang Maha Sempuma.

Dalam konteks inilah Rasulullah saw menghendaki agar umatnya bisa merasakan gerak alamiah yang terjadi di dalam tubuhnya maupun di lingkungan sekitarnya. Karena di dalam mekanisme alamiah itu terdapat kunci keseimbangan, kesehatan, dan keberhasilan hidup.

“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang,” (QS Al Infithar (82) : 7)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis kamu sekali kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak saimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk (67) : 3)

UNTUK APA BERPUASA

Nah, maka untuk apakah kita berpuasa? Saya kira para pembaca sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri dalam diskusi kita kali ini.

Secara umum, saya ingin menggarisbawahi bahwa kehidupan manusia modem termasuk di Indonesia tenyata telah menyeret manusia pada suatu situasi dan kondisi yang runyam. Aktivitas kita dalam segala bentuknya menjurus pada ketidakseimbangan yang semakin rumit. Baik secara individual, sosial maupun spiritual.

Begitu banyak penyakit individu yang bersifat fisik maupun kejiwaan dan moral yang diderita oleh manusia modern. Di Indonesia sendiri jumlahnya semakin tahun semakin besar. Meningkatnya peredaran berbagai jenis obat obatan yang dijual umum, mulai dari obat sakit fisik sampai kepada obat penenang yang disalahgunakan, menunjukkan gejala yang semakin meluas.

Demikian pula, penyakit penyakit sosial telah merusak dimana mana sebagai dampak dari kehidupan yang semakin individual dan liberal. Krisis bangsa ini, penyebab utamanya adalah penyakit moral yang sudah sangat akut dan kronis! Maka korbannya begitu besar. Bukan hanya mereka yang melakukan, tetapi juga mengenai orang orang yang tidak ikut melakukan. Bahkan generasi mendatang.

Maka, kini semakin banyak orang mencari ‘pelarian’ untuk menenangkan batin atas segala problematika hidupnya. Itu terlihat dari menjamurnya tempat-tempat hiburan sampai pada kegiatan-kegiatan meditasi. Manusia modern berada dalam situasi kritis, terjebak oleh konsep-konsep artifisial yang mereka buat sendiri. Mereka ingin hidup serba instan, yang kemudian justru membawanya kepada problem yang rumit dan sulit dipecahkan.

Lantas apakah solusinya? Jawabnya cuma satu Puasa /lbadah ini telah didesain oleh Sang Maha Berilmu dan Maha Bijaksana untuk mengantisipasi problem masyarakat modern. Menyelesaikan secara individual, sosial, dan spiritual sekaligus. Jadi, jangan tunda lagi untuk segera mengambil solusi ini. Insya Allah DIA meridhai.

Selamat menjalankan lbadah Puasa … !

 

daarut-tauhiid@yahoogroups.com

Iklan

24 Agustus 2008 - Posted by | Mutiara Kata

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: