Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Tarbiyah ; Bagaimana untuk menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa watakayyafu bil Islam)

M.8. KAYFA YATAKAYYAFU BIL ISLAM

 

Sasaran :

·        Memahami bahwa berharakah Islamiyah hanya dapat dicapai dengan terwujudnya kondisi yang Islami.

·        Memahami barometer yang digunakan untuk mengukur kesiapan pribadi dan jamaah untuk berdakwah.

·        Memahami bahwa melaksanakan minhaj taqyim dapat mengantarkan pribadi dan jamaah meraih posisi dari Allah.

 

Ringkasan

            Bagaimana untuk menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa watakayyafu bil Islam) dilakukan dengan mempertimbangkan aqidah, ukhuwah, dan uddah (persiapan). Untuk memunculkan potensi dan kekuatan pribadi maka diperlukan komponen aqidah dan diikat dengan ukhuwah. Pribadi yang beraqidah dengan ittikad, perasaan, fikiran, dan tingkah laku akan membentuk kepribadian Islam yang akhirnya menghasilkan kekuatan pribadi. Kekuatan-kekuatan pribadi ini tidak akan berhasil atau tidak akan bermanfaat bila tidak diikat dengan ikatan dan persatuan diantara mereka yang beraqidah. Ukhuwah yang dimulai dengan ta’aruf dan diteruskan dengan tafahum yang akhirnya menghasilkan takaful akan mewujudkan amal jama’i sehingga muncul kekuatan jamaah. Kekuatan pribadi yang diikat dengan kekuatan jamaah akan menghasilkan kekuatan jiwa.

            Kekuatan jiwa saja tidaklah lengkap untuk individu yang ingin membiasakan dirinya dengan Islam apabila tidak diiringi dengan kekuatan harta (amwal). Persiapan dilakukan diantaranya adalah dengan mengeluarkan zakat, infaq, sadaqoh, dan sunduq. Harta yang diperoleh melalui saluran ini akan menghasilkan kekuatan persiapan yaitu kekuatan harta.

            Secara kuantitas diperoleh banyak pribadi dan didukung dengan berbagai persiapan (al udadu) seperti maal maka individu tersebut dapat digerakkan kepada bagaimana bergerak bersama Islam. Amalan dan ibadah kepada Allah saja merupakan usaha kita di dalam bergerak bersama Islam. Ibadah adalah bentuk realisasi iman kepada Allah sehingga muncul pribadi-pribadi yang sidiq.

            Sidiq akan muncul di dalam hati, lisan, dan amal. Dengan sidiq hati maka akan muncul kekuatan indifak, sidik  lisan akan menghasilkan kekuatan kesan, sidik amal akan mewujudkan kekuatan hasil. Akhirnya Allah SWT memberikan kepercayaan dengan memberikan kedudukan (makanah) atau pengikhtirafan.

 

Hasiyah

1.       Kayfa yatakayyafu bil Islam

Syarah

·        Materi bagaimana menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa watakayyafu bil Islam) ini diilhami dari kisah pemuda Kahfi yang dituliskan di dalam surat Al Kahfi : 9-26. Ulama menafsirkan bahwa pemuda Kahfi ini adalah pemuda-pemuda yang beriman dan sesama mereka melakukan ukhuwah Islamiyah sehingga mereka bersama senasib dan sepenanggungan memperjuangkan keimanan dari tantangan raja dzalim pada masa itu. Syakhshiyah Islamiyahdan amal jama’i akanmenghasilkan kekuatan jiwa. Di dalam kisah disebutkan juga persediaan uang perak yang ada pada mereka walaupun uang perak tersebut tidak lagi diterima. Persiapan keuangan dan persiapan jiwa akan mewujudkan bagaimana mereka bergerak. Di dalam ayat 18, juga diceritakan bagaimana mereka digerakkan ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri, mereka beribadah kepada Allah. Kemudian mereka ditangkap oleh raja setelah terbangun yang akhirnya raja meyakini apa yang dicakapkan atau diceritakan oleh pemuda Kahfi tersebut berkaitan dengan dirinya. Terakhir sekali, pemuda Kahfi mendapatkan penghormatan atau makanah dari raja.

 

1.       Al Aqidah

Syarah

·        Aqidah yang benar harus mencakup itikad yang baik, syu’ur yang Islam, fikrah yang bersih, dan suluk yang agung. Aqidah dengan wujud iman kepada Allah dan Rasul di dalam pernyataannya kepada syahadatain juga diiringi dengan keimanannya kepada malaikat, kitab, hari kiamat, dan taqdir. Aqidah yang mantap akan mewarnai bagaimana kepribadiannya. Kepribadian seorang individu terdiri dari ittikad, syu’ur, fikrah, dan suluk. Pribadi yang muslim memiliki ciri-ciri Islam di dalam setiap komponen dirinya.

·        Syakhshiyatul Islamiyah akan terwujud dengan aqidah yang benar dan bersih. Bersih dari kemusyrikan dan benar mengikuti Islam. Pribadi Islam mewarnai kehidupan diri seorang muslim apakah di rumah ataupun di luar rumah. Keadaan demikian merupakan suatu tuntunan aqidah yang dimiliki seseorang.

·        Aqidah yang tertanam di dalam hati dan dada muslim akan menghasilkan kekuatan pribadi (quwwatul fard). Pribadi tanpa aqidah akan lemah dan tidak mempunyai potensi, ia akan merusak dan menghancurkan dirinya sendiri. Aqidah akan menjadikan pribadi kuat karena landasan yang kuat dan tempat bergantung yang kuat yaitu hanya kepada Allah saja. Dengan demikian suatu kekuatan akan terwujud dengan pemahaman dan keyakinan yang bersih.

 

Dalil

·        9:40 ;

·        26:61-62 ;

·        6:161-162 ;

·        8:60 ;

 

1.       Al Ukhuwah

Syarah

·        Aqidah yang bersih dan menghasilkan kekuatan pribadi tidak akan berhasil atau berkesan apabila tidak diikat dengan persaudaraan Islam. Persaudaraan Islam adalah suatu nikmat dan hidayah yang Allah berikan kepada manusia. Dengan persaudaraan ini menambah nikmatnya iman dan Islam yang ada pada diri kita. Dengan ukhuwah maka hidup menjadi tenang dan bahagia. Segala permasalahan dan keadaan yang menyusahkan akan diatasi dengan suasana ukhuwah Islamiyah ini. Kepentingan ukhuwah Islamiyah di atas segala urusan telah dibuktikan oleh para sahabat Nabi SAW.

·        Hubungan Islam dengan persaudaraan Islam dengan saling berkenalan (ta’aruf), setelah itu akan menghasilkan saling memahami (tafahum). Mengenal jasad, pemikiran, dan kepribadian saudara kita yang meningkatkan pemahaman kita kepadanya sehingga pemahaman yang terbentuk dari ta’aruf ini akan menghasilkan suatu  hubungan saling tolong menolong (ta’awun). Keadaan ini yang kemudian yang memudahkan proses amal jama’i dan proses dakwah Islamiyah. Ta’awun dalam bentuk saling mendoakan dan saling membantu akan menghasilkan merasa senasib dan sepenanggungan (takaful).

·        Amal Jama’i terwujud setelah terbentuknya ukhuwah Islamiyah. Kerja sama dan sama-sama kerja merupakan suasana yang terwujud diantara pribadi yang mengamalkan ukhuwah Islamiyah di dalam arena dakwah.

·        Quwwatul jama’ah (kekuatan jamaah) sebagai hasil dari terjadinya amal jama’i di kalangan pribadi da’i akan membentuk jamaah yang handal, diperhitungkan dan tahan dari segala fitnah dan cobaan.

 

Dalil

·        49:10 ;

·        9:1 ;

·        49:13 ;

·        5:2 ;

·        90:17 ;

·        103:3 ;

·        37:99-100 ;

·        11:80 ;

·        11:91 ;

 

1.       Quwwatul anfus

Syarah

·        Pribadi yang tertanam aqidah di dalam dadanya kemudian berkumpul bersama-sama diikat dengan tali persaudaraan Islam sehingga akan mengembangkan potensi diri dan kepribadian. Kekuatan jiwa dan potensi bagi individu terwujud setelah mereka  bersama-sama melakukan ta’awun dan amal jama’i. Pribadi yang kuat sekalipun apabila tidak bersama-sama maka ia akan lemah dan tidak berpotensi. Keadaan pribadi demikian juga berlaku apabila pribadi yang kurang beriman diikat dengan tali ukhuwah Islamiyah maka tidak akan muncul kekuatan pribadi. Bagaikan sapu lidi yang tidak banyak manfaat apabila tidak diikat dengan tali yang kuat dan kokoh.

·        Keadaan kekuatan jiwa akan menjadikan kekuatan secara al a’dad (jumlah). Jumlah pribadi yang banyak dan mereka kuat akan menghasilkan kekuatan jiwa.

 

Dalil

·        49:15 ;

·        9:111 ;

·        8:60 ;

 

1.       Al ‘Uddah

Syarah

·        Bagaimana kita dapat berinteraksi dengan Islam tidaklah cukup hanya dengan aqidah dan ukhuwah. Banyak aktivis Islam dan keperluan untuk berinteraksinya memerlukan uang dan fasilitas. Uang fasilitas, kendaraan, dan materiil lainnya mempunyai peranan yang penting di dalam menyokong kelancaaran dakwah. Tanpa peranan maal ini maka tidak akan lancar perjalanan dakwah dan jamaah. Allah SWT menyebutkan di dalam banyak ayat berkaitan dengan perlunya berjihad dan berdakwah dengan mengorbankan harta dan jiwa. Kekuatan maal merupakan tuntutan dakwah dan gerakan. Bagaimana kita akan  berislam apabila kita mempunyai uang dan fasilitas. Oleh karena itu persiapan keuangan sangatlah dipentingkan didalam amal dakwah.

·        Beberapa usaha menyediakan maal ini didalam Islam melalui zakat, infak, shodaqoh, sunduq, dan maal.Zakat merupakan kewajiban seorang muslim yang telah mampu, sedangkan infak juga kewajiban seorang muslim tetapi tidak ditentukan berapa jumlahnya, sedangkan shodaqoh terserah kepada kita, manakala maal diperoleh secara usaha atau bisnis individu-individu yang bergerak di dalam perserikatan Islam. Apabila dikumpulkan semua kewajiban dan usaha pengumpulan uang ini maka tidak akan kekurangan dana sokongan bagi kepentingan dakwah Islam.

·        Quwwatul ‘iddah (kekuatan persiapan) merupakan akibat dari tersedianya harta dan materiil yang diperlukan olehdakwah melalui penyaluran uang berdasarkan kewajiban atau kerelaan.

·        Akhirnya kekuatan keuangan (quwwatul amwal) sebagai penyokong dakwah dapat memberikan sokongan yang kuat kepada dakwah.

 

Dalil

·        9:46 ;

·        8:3 ;

·        61:11 ;

·        9:111 ;

 

1.       Kaifa yataharraku ma’al Islam

Syarah

·        Bagaimana pula kita akan bergerak bersama Islam. Keperluan dan persyaratan seperti aqidah, ukhuwah, dan persiapan telah terpenuhi maka  diperlukan usaha untuk menggerakkan yang ada ini ke dalam bentuk amal dan ibadah Islam.

·        Al Ibadatullah wahdah (ibadah kepada Allah saja) adalah suatu tuntunan Islam dan Allah kepada kita yang meyakini dan mengimani Allah dan RosulNya. Iman perlu dibuktikan dengan ibadah. Segala potensi manusia baru bernilai apabila mereka beribadah kepada Allah. Tanpa ibadah maka potensi yang dimilikinya akan menghilang dan hancur. Kekuatan pun akan luntur sehingga mudah diinjak oleh musuh Islam sebagai akibat dari hilangnya ibadah karena memperturutkan hawa nafsu.

·        Ibadah itu sendiri sebagai wujud dan bukti realisasi iman (tahqiyqul iman). Iman perlu dibuktikan di dalam perbuatan, perbuatan itu sendiri adalah ibadah.

 

Dalil

·        9:119 ;

·        9:120 ;

 

1.       As Sidiq

Syarah

·        Iman yang terwujud di dalam ibadah akan menghasilkan sifat sidik bagi pemegang dan penganutnya. Pemegang iman akan bersifat sidik dari segi al qolb sehingga menghasilkan kekuatan pendobrak (quwwatul indifa’), kemudian sidik di dalam lisan akan menghasilkan kekuatan kesan/pengaruh (taktsir) dan juga sidik di dalam amal akan menghasilkan kekuatan hasil (quwwatul intaj).

 

Dalil

·        Lihat bahan sidik fi dakwah

·        49:15 ;

 

1.       Tasdiq (membenarkan)

Syarah

·        Apabila kita mempunyai sifat sidik maka Allah SWT pun akan membenarkan dan memberikan kepercayaan kepada kita. Bentuk kepercayaan yang Allah berikan adalah diangkatnya kita menjadi orang yang bertakwa, dibantunya dari kesusahan, diberi rizqi,  hidayah, berkah, dan rahmat. Selain itu bentuk kepercayaan yang Allah berikan adalah kita mendapatkan kepercayaan sebagai khalifah dan mendapatkan kedudukan yang mulia disisiNya.

 

Dalil

·        33:23 ;

·        22:39 ;

 

1.       Al Makanah

Syarah

·        Kepercayaan dan kedudukan yang Allah berikan sebagai khalifah adalah wujud Allah SWT memberikan makanah (kedudukan) yang mulia. Diantara kedudukan ini adalah diberinya kekuasaan untuk memerintah di bumi dan kemudian peranan khalifah berjalan.

 

Dalil

22:41 ;

29 Mei 2008 - Posted by | Tarbiyah Islamiyah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: