Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

MUSAK VIII HIMMPAS ; Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM

himpunan mahasiswa muslim pascasarjana ugmTerm of References Seminar Nasional

Memutus Masa Transisi: Saatnya Intelektual Muda Muslim Memimpin Bangsa!”

Dalam rangkaian acara Musyawarah Akbar

Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta, 3 Mei 2008

 

Sebagian kita mungkin pernah mendengar sebuah lelucon yang mengatakan, “orang Indonesia itu hebatnya hanya bila ada lawan”. Namun semakin hari lelucon itu semakin menemukan bukti-bukti empiriknya. Tahun 2006, sebuah artikel yang ditulis oleh Wisnu Nugroho di harian Kompas menyitir hal ini dengan judulnya yang agak sarkastik, “Musuh Bersama Tumbang, Reformasi Mblandang”. Pasca tumbangnya kekuasaan almarhum Presiden Soeharto dan Orde Baru, reformasi seperti kehilangan lawan sehigga arahnya tidak lagi fokus. Padahal, gerakan besar reformasi Mei 1998 telah memasuki usia satu dasawarsa. Masa yang cukup lama untuk dilekatkan pada sebuah kata: Transisi. Sebab sejatinya transisi hanyalah sedikit ruang dan waktu untuk transit, guna kemudian meneruskan perjalanan yang panjang. Namun bangsa Indonesia nampaknya terjebak di ruang transit tersebut, berputar-putar tanpa pernah keluar, seperti kaum Nabi Musa yang tersesat di Padang Tih.

Sepuluh tahun reformasi, kehidupan politik kita semakin menmprihatinkan dengan berbagai rupa money politics. Budaya suap merata ke seluruh lapisan masyarakat. Memang banyak kasus yang diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi, namun semua orang mafhum bahwa yang terungkap hanyalah bagian yang amat kecil dari keseluruhan fenomena tersebut. Kehidupan politik diperparah lagi dengan merebaknya konflik yang menyertai hampir seluruh Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Elit bertarung dengan berbagai rupa dan ragam media, sementara rakyat terjebak kebingungan. Hanya bisa menikmati jamuan dari satu pemilihan ke pemilihan lainnya sepanjang tahun, mulai dari pemilihan presiden hingga pemilihan kepala desa. Akhirnya demokrasi berjalan dengan prosedural namun tanpa esensi. Partisipasi berubah menjadi mobilisasi. Materi kampanye tak dibutuhkan lagi. Jualan basis massa dan lagu dangdut menjadi pilihan yang lebih menguntungkan bagi hitung-hitungan politik praktis.

Sepuluh tahun reformasi juga belum memberi kesegaran di bidang ekonomi. Persentase kemiskinan mungkin menurun, namun jumlah rakyat yang terkategori dalam extreme poverty bisa jadi meningkat. Tidak perlu survei untuk menangkap fenomena ini. Ia adalah sebuah common sense, begitu dekat, begitu nyata. Busung lapar, gizi buruk, kelangkaan Sembako, kenaikan harga BBM begitu meresahkan dan memukul sendi-sendi kehidupan bangsa ini.

Sepuluh tahun reformasi juga tak banyak berarti bagi perbaikan struktur sosial. Kohesi masyarakat terus memburuk. Bahkan belum lama, seorang Daeng Basse di Sulawesi Selatan harus mati kelaparan bersama anaknya karena ikatan ketetanggaan yang semakin tak bermutu. Jumlah gated communities semakin meningkat, menunjukkan sikap mental taka mau diganggu. Solidaritas bangsa ini merosot ke titik nadir dari sebuah zenit di masa lalu yang bernama gotong royong. Belum lagi bicara soal kemerosotan moral, peningkatan pecandu narkoba, mahalnya pendidikan dan kesehatan, ketidakpastian hukum, dan sebagainya.

Lantas kapan ini akan berakhir? Pada situasi krisis dan kecemasan tak berujung ini, memang semua mata akan menyorot satu titik, yakni kepemimpinan nasional. Semua harapan dan kecemasan itu dikalungkan pada pemimpin bangsa. Memang agak naif karena u sur bangsa ini begitu banyak, bukan cuma pimpinannya. Namun Rasulullah SAW bersabda, “Annaasu ‘ala diini ra’sihi”, manusia itu akan mengikuti agama (perilaku sikap dan mental) pemimpinnya. Meskipun ada juga mekanisme bottom up, “Kaifa takuunu yuwalla ‘alaikum”, seperti apa keadaan suatu kaum,  seperti itu pula kualitas pemimpin yang akan dipercayakan untuk mereka. Jadi ada reciprocity di sini.

Wacana kepemimpinan Islam telah merebak kembali sejak beberapa tahun terakhir. Wajar saja karena penduduk Indonesia lebih dari 80% nya Muslim. Akhir 2007 lalu, ada pula deklarasi kepemimpinan kaum muda di Jakarta, merespon kemungkinan kompetisi Capres 2009 –lagi-lagi- didominasi nama-nama politisi sepuh. Terakhir, salah satu fraksi di DPR Ri di awal 2008 mengusung syarat pendidikan Starata 1 bagi calon presiden Indonesia mendatang. Ketiga usulan ini jika dipadu akan mengerucut pada satu kriteria: intelektual muda Muslim.

Seminar yang digagas Himpunan Mahasiswa Muslim Pasca sarjana (HIMMPAS) Universitas Gadjah Mada, yang diberi tajuk “Memutus Masa Transisi: Saatnya Intelektual Muda Muslim Memimpin Bangsa!” ini diharapkan akan melahirkan diskusi dan outcome yang berharga bagi pengembangan wacana kepemimpinan bangsa yang akan segera bertemu dengan momennya di Pemilu 2009 mendatang.

Pertanyaan-pertanyaan awal yang mendasar dalam seminar ini terbagi dalam tiga kategori :

1.      Seputar profil intelektual muda Muslim, mengandung beberapa pertanyaan pokok : Bagaimana profil intelektual muda Muslim yang sanggup mengemban amanah kepemimpinan bangsa? Apa tanggung jawab dan kontribusi riil kampus sebagai elemen peradaban dalam mewujudkan profil manusia dengan kualifikasi tersebut terhadap persoalan ini?

2.      Seputar satu dasawarsa reformasi, mengandung beberapa pertanyaan pokok : Bagaimana hasil evaluasi 10 tahun reformasi? Apa faktor yang menghambat terlaksananya agenda reformasi? Bagaimana strategi mengakhiri masa transisi? Seberapa urgen profil pemimpin dalam menuntaskan agenda reformasi?

3.      Seputar wacana kepemimpinan intelektual muda Muslim, mengandung beberapa pertanyaan pokok : Apa saja reasoning yang melandasi pemikiran perlunya kepemimpinan bangsa dipegang oleh kaum muda Muslim yang tedidik? Sudahkah ada mekanisme yang tepat untuk menghantarkan kaum intelektual ke kancah kepemimpinan ? Bagaimana strategi mewujudkan kepemimpinan kaum intelektual muda Muslim? apa saja peluang dan hambatannya?

Diharapkan ulasan dari para experts dalam sajian makalah atau ceramahnya dapat menghantarkan seminar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, untuk kemudian bisa melahirkan dialog, pertukaran ide dan wacana, serta sumbang saran yang berguna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di kemudian hari.

Iklan

1 Mei 2008 - Posted by | Uncategorized

6 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum wr wb.
    mohon maaf, pak. HIMMPAS UGM belum punya website-kah?
    maturnuwun

    Komentar oleh safira | 1 Juni 2008

  2. Belum punya mbak…kepengurusan kemaren sudah saya buatkan blog tapi..ndak ada yang sempat tuk mengurusnya….dan kebetulan saya sudah tidak di lembaga lagi

    Komentar oleh yuari | 3 Juni 2008

  3. assalamu’alaikum
    klo mo gabung jd anggota HIMMPAS contact personnya kemana?!
    maturnuwun

    Komentar oleh hari wahyudi | 27 Desember 2008

  4. setiap kamis sore ada kajian pascasarjana dimushola pascasarjana gedung lengkung. jam 16.15….

    085729685446..ari

    Komentar oleh yuari | 28 Desember 2008

  5. situs himmpas jarang di kunjungi

    Komentar oleh hasdar | 14 Januari 2010

  6. Assalammu’alaikum wr.wb
    when I was opening the file about UGM. Allah given to me something interesting… it was this file.
    kemaren aq baru ja ikut test masuk pps UGM. semoga Allah merestui n memberkahiqu untuk belajar di UGM sehingga aq bisa memperluas ilmu qu tentang Dunia n akhirat certain. n jika Allah mengizinkan aqu ingin mengenali n memperjuangkan dakwah ini bersama HIMMPAS UGM… May God bless me… keep spirit for my friend….

    Komentar oleh nurhayati | 4 Juli 2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: