Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Keseimbangan ; Tawazun

Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta yang sangat besar ini dengan penuh keteraturan. Allah menakdirkan berbagai peristiwa terjadi sejak awal terjadinya alam raya ini sampai sekarang dari yang besar, hingga ke detil yang paling kecil. Allah menetapkan kehendaknya dari hal sekecil atom, bahkan proton, neutron dan elektron sampai ke hal yang super-besar seperti bintang, meteor dan galaksi. Semuanya diciptakan dan dikontrol oleh Allah – tanpa merasa susah sedikitpun – dalam keteraturan yang amat sangat, tidak menimbulkan chaos, kekacauan yang amat besar.

Sampai kehidupan kita sekarang, kita mengetahui bahwa planet-planet dalam tata surya kita tidak pernah melenceng dari orbit masing-masing – yang bisa saja menghasilkan tabrakan antar planet. Padahal kita sangat tahu bahwa masing-masing planet mempunyai gaya tarik-menarik. Kenapa planet-planet tersebut tidak melenceng dari orbitnya sehingga tidak saling menabrak?

Jawabannya adalah Keseimbangan.

Keseimbangan tersebut dihasilkan dari gaya tarik-menarik antar planet yang sesuai porsinya / pas. Fenomena tersebut merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah, mampukah kita menjadikannya sebagai hikmah?

Jika pada level setinggi / sebesar pengaturan tata surya saja kita temukan fenomena keseimbangan, apalagi dalam lingkup yang lebih kecil lagi, termasuk manusia, kita juga akan menemukan fenomena keseimbangan.

Pada manusia, seperti halnya ciptaan Allah yang lain, kita dapat temukan adanya fenomena keseimbangan, apalagi dalam tingkat mikromolekul. Darah kita dikatakan beroperasi dengan normal ketika berjalan sesuai rumus buffer yang berarti keseimbangan antara asam dan basa.

Dalam sudut pandang agama Islam kita yang lurus dan mulia, keseimbangan atau Tawazun mempunyai tiga dimensi, yaitu Ruhiyah (Jiwa), Jasadiyah (Fisik), Aqliyah (Akal Pikiran). Ketiganya telah terbukti saling melengkapi; jika ada salah satu saja aspek yang terlupakan, niscaya aspek yang lainnya ikut terganggu.

Berikut ini adalah penjelasan masing-masing dimensi :

  1. Ruhiyah

Jiwa atau Ruh merupakan potensi asasi manusia yang sepenuhnya ditentukan oleh Allah. Kita tidak mengetahui kejelasan/detil mengenai jiwa dengan jelas. Allah berfirman :

“……dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”

Lokasi dari jiwa manusia selalu diidentikkan dengan Qalbu / hati. Rasulullah SAW mengisyaratkan dalam sebuah haditsnya, bahwa hati adalah rajanya tubuh. Hati sangat berpengaruh terhadap tubuh. Setiap tindakan, gerakan sekecil apapun sangat dipengaruhi hati. Jika hati kita sebagian besar bagiannya tenggelam dalam kegelapan yang menyesakkan, aktivitas kita dapat dipastikan adalah aktivitas yang negatif, tidak bermanfaat, lebih banyak mudharat-nya dan destruktif/merusak. Namun jika setiap ruas hati kita selalu terisi oleh cahaya Allah yang terang benderang, maka aktivitas kita mestilah aktivitas yang positif, menimbulkan banyak manfaat bagi diri kita dan orang lain, membuahkan pahala dan menjanjikan surga.

* Kebutuhan Jiwa (al-Ghidzaa ar-Ruuhi)

Ruh atau jiwa kita mempunyai konsumsi yang tidak bisa diingkari, yaitu Dzikrullah (mengingat Allah). Secara fitrah, jiwa kita harus selalu terisi dengan aktivitas bernuansa mengingat Allah, agar dapat beroperasional dengan baik. Umpama motor yang selalu membutuhkan BBM untuk bergerak melaju, jiwa kita membutuhkan bahan bakar Dzikrullah. Allah sendiri menegaskan hal tersebut dalam firmannya :

“….Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.“

QS ar-Ra’ad : 28

Aktivitas mengingat Allah sangat banyak sekali dan dapat kita lakukan setiap momen, yaitu Shalat, membaca al-Qur’an, mempelajari dan mentadabburinya, berdoa, berdzikir baik lisan maupun di batin.

Sayangnya, banyak manusia yang tidak menyadari hakikat ini. Banyak manusia yang enggan mengisi ruhaninya dengan aktivitas yang dapat mengingatkan dirinya pada Allah, tapi malah mengisinya dengan hal-hal yang menjauhkannya dari Allah SWT. Akibatnya, ruhnya menjadi sakit karena tidak mendapat konsumsi yang sesungguhnya dan terjadilah ketidakseimbangan dalam dirinya. Maka stress, schizophrenia dan gangguan jiwa lainnya sangat mudah hinggap padanya.

Berapa banyak kita lihat orang yang mengalaminya? Kita dapat melihat contohnya pada artis-artis di Hollywood, Bollywood, bahkan di Indonesia sendiri. Atau kita dapat lihat pada ilmuwan-ilmuwan yang mengusung fanatisme buta dan tidak melandaskan aktivitas dan pemikirannya pada Dzikrullah. Walaupun mereka secara fisik tercukupi, hidup dalam kemewahan dan ketenaran, mereka tidak bisa tidak mengakui bahwa hati mereka gersang, hampa. Itulah pengakuan seorang Yusuf Islam sebelum ia memeluk Islam. Artis tenar yang sebelum memasuki Islam bernama Cat Stevens ini selalu merasa hampa dalam menjalani rutinitasnya sebagai seorang artis. Ia melampiaskannya pada konsumsi minuman keras, sampai suatu ketika ia mendapatkan hidayah Allah.

Itulah kenyataan yang harus kita terima. Bahwa secara fitrah, kebutuhan asasi jiwa kita adalah dzikrullah.

  1. Jasadiyah

Jasad atau tubuh merupakan potensi asasi manusia juga. Jasmani secara konkrit berupa badan kita yang tersusun atas organ-organ, jaringan-jaringan, atau dalam skala yang lebih kecil berupa sel, air dsb.

* Kebutuhan tubuh (al-Ghidzaa al-Jasadi)

Yang dibutuhkan tubuh kita untuk dapat berfungsi dengan baik adalah makanan yang halal dan thayyib

  1. Aqliyah

Akal pikiran adalah potensi asasi manusia yang membedakannya dengan hewan atau tumbuhan.

  1. Potensi Akal

Akal hanya dapat menerima hal – hal yang ditransfer dari penglihatan dan pendengaran. Namun akal mampu menganalisa segala sesuatu dengan perantara panca indra kita, contoh :

v Jika melihat makanan lezat, maka akan merangsang HCl dilambung untuk keluar, sehingga dia akan merasa lapar. Dan dengan ini dia akan merasa lapar.

v Jika hidung mencium bau sesuatu, ia akan berusaha mencari darimana sumber bau tersebut.

Untuk dapat menggunakan akal, manusia harus mengisi dan mengasahnya dengan belajar. Dengan memanfaatkan kelima inderanya untuk menyerap ilmu dan kemudian mengaplikasikannya dengan kekuatan jasadnya, disertai ruhiyah yang bagus.

  1. Potensi Jasmani

Potensi jasmani manusia sangat didukung oleh kuatnya jasmani. Dan kuatnya jasmani sangat didukung oleh masukan makanan bergizi yang mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh kita dan diikuti pula oleh istirahat yang cukup. Tak lupa olahraga akan membuat jasmani kita semakin bertambah kuat. So, kalu dirumah jangan lupa senam yaaa !.

Jadi, jika duhubungkan antara keseimbangan ( tawazun ) dengan potensi yang ada pada manusia adalah bahwa manusia yang sukses adalah manusia yang mampu mengoptimalkan ketiga potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin secara seimbang. Dan apabila ketiga potensi ini diberi makanan yang tepat, maka akan terbentuk sosok manusia yang kuat jasmani, kuat akalnya, dan memiliki kekuatan ruhani pula. Ketiga potensi itu harus diisi bersama – sama secara proporsional. Oke, udah tahu tho ! segitu dulu aja ya !

26 April 2008 - Posted by | Tarbiyah Islamiyah

2 Komentar »


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: