Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Novel Ayat-Ayat Cinta; 200-250

kupu1.jpgAYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 201
19. Rencana-rencana
“Aisha, berapa hari kita akan tinggal di flat mewah ini, dan setelah itu kita akan tinggal di mana?” tanyaku pada Aisha setelah shalat Dhuha. Dia belum memberi tahu rumah yang disewa untuk hidup berdua.
“Menurutmu, flat di pinggir Nil seperti ini nyaman apa tidak?” Aisha malah balik bertanya.
“Nyaman.”
“Aman tidak?
“Aman.”
“Kondusif tidak untuk belajar, menulis atau menerjemah?”
“Sangat kondusif.”
“Kalau begitu aku ingin tinggal di flat ini selama ada di Cairo, Sayang.”
Mendengar jawaban Aisha itu aku bagaikan disambar geledek. Kaget bukan main. Dari mana aku akan mendapatkan biaya untuk menyewa flat yang sangat mewah ini. Meskipun aku baru melihat ruang tamu, kamar utama, balkon dapur dan kamar mandi dan belum melihat kamar-kamar yang lain tapi flat ini sangat mewah. Kamar utamanya saja yang kini jadi kamar pengantin tak kalah mewahnya dengan kamar Sheraton Hotel yang pernah kulihat saat menemui seorang anggota DPR yang sedang melakukan lawatan di Cairo. Ruang tamunya lebih mewah dari ruang tamu rumah Bapak Atdikbud. Berapa sewanya perbulan? Rumah Pak Atdikbud saja yang letaknya di Dokki harga sewanya katanya tak kurang dari enam ribu pound perbulan. Dan flat mewah ini yang terletak di pinggir sungai Nil bisa tiga kali lipat mahalnya. Delapan belas ribu pound atau sekitar lima ribu dollar perbulan. Bahkan bisa lebih. Itu adalah honor menerjemah mati-matian selama dua tahun full. Tiba-tiba aku merasa sangat malang. Aku tidak mungkin bisa memenuhi permintaan Aisha. Aku sangat sedih. Air mataku meleleh.
“Kenapa kau menangis Sayang?”
Aku menjelaskan semuanya pada Aisha yang bergolak dalam hatiku. Aku sangat mencintainya. Tapi aku tidak akan mampu menuruti keinginannya.
AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 202
Kujelaskan kembali siapa diriku dan sebatas mana kemampuanku. Aisha malah menangis.
“Suamiku, alangkah celakanya aku kalau sampai aku membuatmu sedih. Kalau sampai aku meminta sesuatu yang di luar kemampuanmu. Alangkah celakanya diriku. Suamiku, kita akan tinggal di sini tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun kecuali biaya listrik, gas, air, keamanan, dan kebersihan. Hanya itu yang akan kita keluarkan perbulan. Tidak lebih?”
“Maksudmu kita tinggal di sini gratis?”
Aisha menganggguk.
“Aku tak bisa kita tinggal atas belas kasih orang lain Aisha.”
“Apakah bagimu aku orang lain suamiku?”
“Jadi kau yang membayar sewanya Aisha. Tidak bisa Aisha, itu akan sangat menyiksa diriku?”
“Bukan aku yang membayarnya suamiku.”
“Lantas siapa?”
“Tak ada yang membayarnya.”
“Itu namanya gratis, dan aku tidak mau kita tinggal di rumah orang lain gratis.”
“Meskipun rumah itu rumah milik isterimu, dan isterimu adalah milikmu?”
“Apa maksudmu Aisha, aku jadi bingung.”
Aisha bangkit dari sajadah dan menarik lenganku. Dia membawaku memasuki kamar di samping kamar utama. Lihatlah isi kamar ini. Ini adalah perpustakaan dan ruang kerjamu. Aku melihat kamar dengan kitab-kitab dan buku-buku yang tersusun rapi. Kitab-kitab itu aku mengenalnya. Itu kitab-kitabku. Juga ada komputer di dekat jendela. Itu komputer bututku. Aku mendekati jendela, menyibak gordennya dan melongok. Panorama sungai Nil di waktu dhuha sangat indahnya.
“Di sinilah insya Allah kau akan menulis tesismu, menerjemah dan menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi umat. Dan aku akan menjadi pendampingmu siang malam. Suamiku, flat ini dibeli oleh ibuku dua tahun sebelum beliau meninggal. Ketika beliau diminta mengajar di Fakultas

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 203
Kedokteran Cairo University selama tiga semester. Waktu itu aku baru berumur sebelas tahun. Selama enam bulan kami tinggal di rumah ini. Dan kamar yang kita jadikan perpustakaan ini adalah kamar tidurku waktu itu. Setelah kami kembali ke Jerman, rumah ini disewakan kepada home staff Kedutaan Jerman. Yang terakhir menyewa adalah Mr. Edward Minnich, Atase Perdagangan. Apartemen ini memang dihuni oleh orang-orang penting. Tepat di bawah kita adalah pejabat kedutaan Argentina. Di atas kita sutradara terkemuka Mesir. Di samping kita, flat nomor 20, pemilik Wadi Nile Travel.”
Aku baru mengerti. Dan aku tidak tahu apa yang kurasakan dalam hati. Bagaimana gegernya teman-teman mahasiswa nanti mengetahui di mana aku tinggal.
“Berapa harga sewa flat ini, Sayang?”
“Mr. Minnich menyewa dengan harga sembilan ribu dollar perbulan.”
“Ha? Sembilan ribu dollar perbulan?” Aku kaget mendengar angka nominal itu.
“Ya. Sembilan ribu dollar perbulan. Dan itu termasuk murah. Sebab pasaran harganya semestinya sepuluh ribu dollar ke atas. Ini karena kami sama-sama dari Jerman jadi sedikit di bawah standar.”
“Aisha, isteriku yang kucintai, harga sewa flat ini begitu tinggi. Apa tidak sebaiknya kita sewakan saja. Lalu kita menyewa flat di Nasr City yang lebih murah. Dengan seribu dollar saja, kita sudah bisa menyewa flat yang tak kalah mewahnya di kawasan Abbas El-Akkad. Hanya saja di sana kita tidak bisa melihat panorama sungai Nil. Tapi kenyamanan dan ketenangannya tak jauh berbeda. Sisanya bisa kita gunakan untuk bermacam amal di jalan Allah,” ucapku sambil memandang ke arah sungai Nil. Kurasakan Aisha memelukku dari belakang. Dagunya ia letakkan di pundakku. Tingginya memang hampir sama denganku. Aku hanya lebih tinggi tiga senti darinya.
“Sudah kuduga. Kau akan mengatakan demikian. Suamiku, seandainya bukan ibuku yang membeli flat ini dan seandainya tidak ada kenangan yang indah dalam flat ini, tentu sebelum kau sarankan aku sudah melakukannya. Aku sangat mencintai ibu dan setelah rumah di Jerman itu, flat ini adalah tempat kedua yang paling indah dalam kenanganku bersama ibu. Aku ingin kita berdua tinggal di sini

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 204
selama di Cairo. Dan flat ini milik kita, kita lebih tenang daripada menyewa. Kau tahu sifat orang Mesir ‘kan? Tidak semuanya baik. Tidak semua tuan rumah baik. Aku tidak mau membuang energi dan ketenangan karena masalah sepele dengan tuan rumah yang tidak baik. Kau tahu teman paman Eqbal ada yang diusir tuan rumahnya tengah malam musim dingin, tanpa sebab yang jelas. Aku tak mau itu terjadi pada kita. Kalau kita menemukan tuan rumah yang baik alhamdulillah, kalau kebetulan menemukan tuan rumah yang suka rewel, tentu sangat tidak enak. Tapi kau adalah imamku, suamiku. Jika kau tetap memutuskan tidak tinggal di flat ini aku akan menurutimu. Kaulah yang harus memutuskan apa yang menurutmu terbaik untuk hidup kita berdua, dan untuk anak-anak kita seandainya kita punya anak. Sebagai isteri aku telah memberikan masukan. Aku yakin kau akan memutuskan yang terbaik.” Aisha lalu memelukku erat-erat.
“Nanti kita istikharah,” jawabku lirih.
Aisha lalu membawaku melihat-lihat seluruh sisi rumah. Sebuah rumah yang mewah dan sangat nyaman untuk tempat tinggal. Ruang tamu yang luas dengan shofa khusus didatangkan dari Perancis. Dua balkon. Ruang santai. Satu kamar utama dengan kamar mandi di dalamnya. Dua kamar mandi, di dekat ruang tamu dan dekat dapur. Dan tiga kamar ukuran sedang. Yang satu telah disulap Aisha menjadi ruang kerja dan perpustakaan. Kamar paling dekat dengan ruang tamu telah dipersiapkan oleh Aisha seandainya ada keluarga, atau teman yang ingin menginap. Aisha lalu kembali mengajakku ke perpustakaan dan mengajakku duduk di lantai yang dialasi karpet tebal. Ia duduk bersila di hadapanku.
“Suamiku, kita ini satu jiwa. Kau adalah aku. Dan aku adalah kau. Kita akan mengarungi kehidupan ini bersama. Dukamu dukaku. Dukaku dukamu. Sukamu sukaku. Sukaku sukamu. Cita-citamu cita-citaku. Cita-citaku cita-citamu. Senangmu senangku. Senangku senangmu. Bencimu benciku. Benciku bencimu. Kurangmu kurangku. Kurangku kurangmu. Kelebihanmu kelebihanku. Kelebihanku kelebihanmu. Milikmu milikku. Milikku milikmu. Hidupmu hidupku. Hidupku hidupmu.”
Hatiku sangat tersentuh dan terharu mendengar perkataannya itu.
“Suamiku, padaku ada dua ATM. Mohon Kau pilihlah satu!” Aisha meletakkan dua kartu ATM di depanku. Aku ragu.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 205
“Suamiku, kalau kau mencintaiku, benar-benar mencintaiku dan memandang diriku adalah milikmu maka ambillah jangan ragu!”
Aku tak bisa tahan menatap sorot matanya yang teduh. Dengan mengucapkan basmalah dalam hati aku mengambil yang paling dekat.
“Terima kasih Suamiku, kau tidak menganggap diriku orang lain. Aku akan menjelas semua hal berkaitan dengan ATM itu dan apa yang aku miliki saat ini. Aku ingin kau yang mengaturnya sepenuhnya. Sebab kau adalah imamku dan aku sangat percaya padamu. Suamiku, ATM yang kau pilih sekarang berisi dana 3 juta empat ratus tiga puluh ribu dollar!”
Aku tersentak mendengarnya.
“Itu adalah rizki yang diberikan Allah kepada kita melalui perusahaan keluarga di Turki. Ceritanya begini. Kakekku, Ali Faroughi, atas kemurahan Allah adalah bisnisman berhasil yang memiliki tiga perusahaan. Yaitu perusahaan tekstil, travel, dan susu. Sebelum meninggal beliau memanggil tiga anaknya yaitu ibuku, paman Akbar, dan bibi Sarah. Beliau membagi dan menyuruh masing-masing memilih perusahaan mana yang disukai. Beliau menyuruh yang paling muda yaitu bibi Sarah untuk memilih lebih dulu. Bibi Sarah memilih perusahaan susu karena dia paling suka minum susu. Lalu paman Akbar memilih travel karena dia orang yang hobinya melancong. Dan ibu dengan sendirinya mendapat jatah perusahaan tekstil.
Kakek orang yang bijaksana dan berpandangan jauh ke depan. Beliau tidak memberikan masing-masing perusahaan itu secara individual penuh. Beliau ingin ketiga anaknya dan keturunannya masih erat rasa persaudaraan dan saling memilikinya. Maka beliau memberikan dengan sistem kepemilikan saham. Pabrik Susu beliau berikan kepada bibi Sarah dengan kepemilikan saham sebesar 60 persen. Selebihnya paman Akbar diberi jatah kepemilikan saham 20 persen, juga ibu. Begitu juga travel, 60 persen milik paman Akbar, yang 40 persen milik ibu dan bibi. Juga perusahaan tekstil 60 persen milik ibu yang 40 persen milik paman dan bibi. Tujuan kakek mengatur seperti itu adalah agar semuanya tetap masih merasa saling memiliki. Juga biar rasa solidaritasnya tetap ada. Kakek berharap semua anaknya akan tetap hidup layak. Seandainya ada salah satu perusahaan

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 206
yang bangkrut atau gulung tikar maka pemiliknya masih memiliki masukan dari dua perusahaan lain.
Sekarang semua perusahaan dibawah kontrol paman Akbar. Beliau sosok yang berbakat dan profesional seperti kakek. Setiap bulan laba bersih perusahaan diaudit. Maksudnya bersih memang benar-benar bersih setelah dipotong zakat dan pajak. Sepuluh persennya diberikan kepada para pemilik saham. Dan sembilan puluh persennya dikembalikan ke perusahaan untuk diputar lagi. Sepuluh persen dari laba perusahaan itu dibagikan pada pemilik saham sesuai dengan besarnya saham yang dia miliki. Bulan lalu dari pabrik tekstil masuk nominal sebesar 60.000 dollar. Berarti laba bersih perusahaan bulan itu 1 juta dollar. Sepuluh persennya 100.000 dollar dibagi tiga. 60 persen untuk diriku sebagai pengganti ibu, 20 persen paman Akbar dan 20 persen bibi Sarah. Dari perusahaan travel bulan lalu masuk dana 57 ribu dollar, padahal jatah kita hanya dua puluh persen dari sepuluh persen laba perusahaan atau dua persen saja dari laba perusahaan. Dan dari perusahaan susu masuk 78 ribu dollar. Perusahaan travel dan susu memang sudah sangat maju. Perusahaan travel malah sudah merambah perhotelah dan perusahaan susu sudah merambah produksi bahan makanan. Rencananya tahun ini perusahaan tekstil akan mencoba melebarkan sayap dengan mendirikan anak perusahaan di Malaysia. Jadi bulan lalu masuk dana 195 ribu dollar dari Turki ke ATM itu. Dan kira-kira tiap bulan akan masuk dana sebesar itu. Bisa lebih bisa kurang. Bagi orang dunia ketiga, itu jumlah yang sangat besar. Tapi bagi pemilik perusahaan raksasa di negara-negara maju itu jumlah yang sangat kecil sekali.
Suamiku, terserah mau kau atur bagaimana ATM yang ada ditanganmu itu. ATM yang aku pegang ini berisi dana dari aset bisnis di Jerman. Sekarang telah terisi dana 7 juta dollar. Sistemnya aku buat seperti yang di Turki. Tiap bulan Cuma sepuluh persen dari laba bersih perusahaan yang masuk ke pemilik perusahaan. Dan yang ini tidak akan kita otak-atik dulu sampai nanti ketika kita tinggal di Indonesia. Kita akan menggunakannya sebaik mungkin bersama-sama. Jadi aku tidak akan mengutik-utik ATM yang ada di tanganku. Lapar kenyangku adalah atas kebijakanmu. Kaulah yang menjatah dana untuk diriku. Kaulah yang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 207
menentukan besarnya dana belanja tiap bulan. Kalau aku minta sesuatu maka aku akan minta padamu. Kaulah imamku.”
Mendengar apa yang dituturkan Aisha aku jadi sedih, pucat merinding dan bergetar. Aku memegang ATM senilai $ 3.430.000,- atau kira-kira sebesar 30 milyar rupiah. Aku merasa gunung Merapi hendak menimpaku.
“Kenapa mukamu jadi berubah warna suamiku? Apakah aku melakukan sesuatu yang menyinggungmu?” tanya Aisha.
“Tidak Aisha. Aku tiba-tiba memikul beban amanah sedemikian beratnya, yang tidak pernah aku bayangkan. Dirimu adalah amanah bagiku. Dan apa yang kau miliki yang kau letakkan di tanganku adalah amanah yang sangat berat bagiku. Aku tak tahu apakah bisa memikul amanah seberat ini?”
“Aku percaya padamu Suamiku.”
Bahwa aku suatu saat akan menjadi imam bagi isteriku dan kelak anak-anakku adalah hal yang sudah aku bayangkan. Aku akan jadi suami seorang muslimah Turki juga telah aku bayangkan setelah bertemu Aisha di rumah Syaikh Utsman dan aku sudah membayangkan bagaimana suasana rumah tangga nanti. Sederhana seperti teman-teman Indonesia. Namun aku akan menjadi imam dan penentu jalan hidup seorang jet set shalihah pemilik perusahaan di Turki dan Jerman yang mewakafkan diri dan hartanya di jalan Allah tidak pernah terbayangkan sama sekali.
Aku merasa ilmu, iman dan pengalamanku belum cukup untuk hidup mendampingi seorang Aisha yang kini aku tahu sebenarnya siapa dia. Aku harus meminta saran, nasihat dan pertimbangan pada orang-orang yang lebih kuat jiwanya dan lebih luas cakrawala pandang dan pengalamannya. Aku mengajak Aisha untuk shalat hajat agar Allah memberikan rahmat, taufik dan belas kasihnya sehingga semua amanat dapat ditunaikan dengan baik.
Hari itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad Taqiyuddin. Aku minta waktu bertemu beliau aku ingin konsultasi pada beliau secepatnya. Beliau melarang diriku pergi ke Hadayek Helwan. Beliau dan isterinya yang justru akan mendatangi kami.
Sore itu selepas ashar beliau datang. Aisha dan Ummu Aiman, isteri beliau, berbincang di ruang tamu. Sementara beliau kuajak ke perpustakaan, aku

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 208
ceritakan semua masalahku pada beliau terutama masalah amanat yang dibebankan Aisha.
“Syaikh, aku sangat takut dengan sindiran Allah dalam Al-Qur’an, Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba- Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki- Nya dengan ukuran.101 Aku takut kalau sampai melampaui batas Syaikh,” ucapku pada Syaikh Utsman.
“Akhi, yang melampaui batas adalah mereka yang tidak memiliki rasa takwa dan tidak merasa diawasi oleh Allah. Selama seseorang masih memiliki rasa takut dan diawasi Allah maka, insya Allah, dia tidak akan sampai melampaui batas. Masalah menginfakkan harta yang dalam tuntunan Al-Qur’an kau pasti sudah tahu,” jawab beliau.
Kemudian beliau banyak memberikan nasihat dan saran, terutama yang berkaitan dengan perjalanan hidup dengan seorang isteri. Bahwa dalam bersuami-isteri ada selalu ada dua kemauan, watak, sifat yang terkadang berbeda. Seni mengolah perbedaan menjadi sebuah keharmonisan ibadah itulah yang harus diperhatikan.
Menurut beliau aku tidak perlu pindah dari flat yang telah aku tempati. Karena tidak menyewa dan milik Aisha. Ini sekaligus untuk menyenangkan hati Aisha yang memiliki kenangan indah di flat ini bersama ibunya. Apalagi flat ini terletak di tempat yang sangat tenang dan kondusif untuk menulis tesis. Tak jauh dari flat ini ada perpustakaan IIIT. Hanya dengan berjalan kaki sepuluh menit sudah sampai ke sana. Juga dekat dengan salah satu kampus Universitas Helwan. Masjid juga dekat. Tinggal bersyukur kepada Allah. Beliau juga meminta kepadaku untuk terus menggali semua pengalaman hidup yang telah dijalani Aisha. Agar aku bisa bersikap arif pada Aisha. Beliau meminta kepadaku untuk mengetahui gaya hidupnya sejak kecil. Beliau meminta agar aku bijaksana tidak memaksakan Aisha mengikuti gaya dan standar hidupku yang memang sangat sejak kecil sederhana. Beliau meminta untuk hidup sewajarnya. Zuhud tidak berarti tidak mau menyentuh sama sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, tapi zuhud adalah mempergunakan nikmat itu untuk ibadah. Tidak
101 Asy Syura: 27.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 209
selamanya orang yang makan dengan hanya roti kering dan seteguk air lebih baik dari orang yang makan roti cokelat dan segelas susu. Jika dengan makan roti cokelat badan menjadi sehat dan segar, ibadah khusyu dan tenang, bisa bekerja dengan lebih baik dan bersemangat serta merasakan keagungan Allah yang telah memberikan nikmat tentu lebih baik dengan yang makan roti kering tapi lemas dan berkeluh kesah saja kerjanya. Tidak selamanya yang berjalan kaki lebih baik dari yang naik mobil. Jika dengan naik mobil lebih bisa mengefisienkan waktu, ibadah lebih tenang karena tidak capek dan lebih bisa banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat tentu sangat baik.
“Jangan terlalu pelit dan jangan terlalu boros. Dua kelakuan itu berakibat penyesalan dan sangat dicela Allah Swt, firman-Nya dalam Al-Qur’an, ‘Dan jangan kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.’102
Beliau lalu memberi tahu hal-hal yang sangat disukai oleh seorang isteri. Beliau menyuruh agar tidak segan-segan mengungkapkan perasaan cinta. Seorang isteri paling suka dipuja dan dicinta. Juga tidak segan mengajak isteri ke toko pakaian dan toko perhiasan. Sering-sering minta pendapat, suatu kehormatan bagi seorang isteri merasa dirinya sangat penting bagi pengambilan keputusan sang suami. Dari kunjungan Syaikh Ahmad aku banyak mendapatkan banyak sekali pelajaran kehidupan yang berarti. Aku merasa lebih siap dengan hidup yang sedang aku jalani. Ada kata-kata beliau yang sangat menyentuh diriku,
“Aku pernah mengalami hal yang sama dengan dirimu. Ummu Aiman adalah puteri tunggal konglomerat di Maadi. Ia menyerahkan kekayaannya sepenuhnya di tanganku. Aku dulu juga bingung, aku pergi ke tempat seorang ulama dan beliau memberikan nasihat seperti apa yang aku nasihatkan padamu. Ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Banyak lelaki yang menjadi kerdil setelah memiliki isteri yang cantik dan kaya raya. Semangat juang dan kerja kerasnya luntur. Tapi kita mempunyai teladan yang mulia yaitu Rasulullah Saw. Isteri beliau, Sayyeda Khadijah, adalah konglomerat Makkah pada zamannya, dan itu tidak membuat beliau kerdil tapi justeru sebaliknya dengan
102 Al-Israa: 29

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 210
kekayaan isterinya itu beliau menegakkan agama Allah. Maka kau tidak boleh kerdil. Kau harus terus bekerja, menerjemah dan berkarya lebih keras!”
Malamnya aku ajak Aisha berbincang-bincang di perpustakaan sambil mendengarkan dendangan nasyid Rasailul Asywaq103 yang indah dibawakan anak-anak Mesir. Kami duduk di lantai beralas karpet. Aku bentangkan dua kertas karton berisi rancangan peta hidup yang telah aku buat beberapa bulan yang lalu sebelum menikah. Peta hidup sepuluh tahun ke depan. Dan rancangan satu tahun. Tentunya peta hidup itu harus dirubah. Melihat apa yang aku gelar mata Aisha terbelalak.
“Subhanallah! Bagaimana mungkin kita memiliki kebiasaan yang sama. Ibuku sejak kecil telah mengajarkan hal seperti ini padaku. Dan aku juga memiliki peta dan rancangan seperti ini. Rancangan peta hidup sepuluh tahun ke depan. Rancangan kegiatan tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. Tunggu sebentar ya Sayang!” Aisha beranjak menuju kamar utama. Lalu kembali dengan membawa agenda biru.
“Ini telah peta hidupku sepuluh tahun ke depan. Memang kita harus membuat peta hidup bersama,” kata Aisha gembira.
Kami pun lalu merancang bersama. Dalam rancangan Aisha, awal April kembali ke Munchen untuk menyelesaikan S1. Lalu S2 di Sorbonne University dan S3 di Bonn University. Sementara aku masih harus menulis tesis, kalau lancar baru dua tahun lagi selesai dan langsung S3 di Al Azhar. Harus ada kompromi-kompromi. Jika Aisha transfer S1 ke Mesir, bukan tidak mungkin tapi sangat susah. Proses administrasi universitas- universitas Mesir sangat melelahkan. Jika aku ikut ke Jerman juga bukan tidak mungkin, tapi susah, target selesai master dua tahun lagi bisa molor. Di Jerman tidak ada bahan yang cukup untuk menulis tesis disiplin ilmu tafsir. Harus ada jalan keluar.
Akhirnya kami sepakat melakukan kompromi. Jalan tengahnya adalah Turki. Di Turki semua target bisa dikejar. Rencananya bulan April tahun depan berangkat ke sana. Aisha bisa transfer S1 ke Istanbul University. Prosesnya mudah. Aisha bahkan tidak perlu repot mengurus sendiri. Ia bisa minta tolong seorang temannya di Munchen untuk mengurus berkasnya yang mengirimnya ke
103 Risalah Kerinduan

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 211
alamat pamannya di Istanbul. Jadi Aisha bisa tetap selesai S1 tahun depan dan selama di Turki aku bisa mendapatkan bahan tentang Syaikh Said An-Nursi. Selama di Turki juga akan menambah eratnya persaudaraan dengan keluarga besar di Turki. Setelah selesai S1 Aisha mengalah untuk kembali ke Mesir menemani aku sampai selesai S2. Sebenarnya aku mempersilakan kalau dia mau langsung ke Sorbonne, tapi dia tidak mau berpisah denganku sama sekali. Tapi setelah master aku yang harus mengalah. Aku harus mengikuti Aisha ke Sorbonne. Setelah kupikir tidak masalah S3 di Sorbonne sementara Aisha S2. Toh, Almarhum Syaikh Abdullah Darraz, Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar mengambil S3 nya juga di Sorbonne. Setelah selesai S3 barulah pulang dan merencanakan hidup di Indonesia, Aisha mengalah untuk tidak langsung S3. Bahkan seandainya terpaksa S3 di Indonesia tidak apa-apa. Tapi dia membuat cadangan S3 di Australia yang dekat dengan Indonesia.
Kami lalu merancang agenda setengah tahun ini. Awal bulan depan Aisha minta ke Alexandria, satu minggu saja, masih dalam rangkaian bulan madu. Dia juga minta umrah dan selama bulan puasa sampai hari raya ada di tengah keluarga di Indonesia. Akhirnya sepakat awal Ramadhan pergi umrah, sepuluh hari di tanah suci dan langsung terbang ke Indonesia.
Lalu kami membuat rencana satu bulan ke depan. Lebih banyak di rumah. Aisha membuat jadwal kami bermain cinta. Naik perahu berdua di sungai Nil. Menyaksikan pagelaran musik rakyat Palestina di Opera House. Melihat pertunjukan drama komedi di Ballon Teater. Pergi ke El-Mo’men Restaurant. Ke Masjid Musthofa Mahmud mendengarkan ceramah Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi yang rencananya lima hari lagi akan datang dari Syiria. Aku menambah jadwal talaqqi qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman dan berkunjung ke rumah Syaikh Abdul Ghafur Ja’far. Aisha menekankan: Dan ke Alexandria!
Kami lalu membuat jadwal harian. Kapan baca Al-Qur’an dan tadabbur bersama. Shalat dhuha. Shalat malam. Waktu menerjemah dan waktu yang tepat untuk bercinta. Begitu selesai membuat rancangan peta hidup Aisha berkata,
“Sayang, aku punya puisi indah untukmu dengarkan:
agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 212
Aku langsung menyahut dengan suara lantang seperti Antonius merayu Cleopatra:
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpikupun berada dalam
benderang dan abadi
Di tepi sungai Nil, hari-hari yang indah kami lalui bersama. Semua serba indah. Dunia terasa milik kami berdua. Kenikmatan demi kenikmatan, kebahagiaan demi kebahagiaan kami reguk bersama. Seperti di surga. Muncul kebiasaan baru Aisha, ia tidak bisa tidur kecuali aku membelai-belai rambutnya dan mengelus-elus ubun kepalanya, seperti seorang ibu menidurkan bayinya. Aku juga semakin banyak tahu watak dan karakter Aisha, tingkahnya kalau merajuk, tidak suka, marah, caranya memuji, hal-hal yang ia sukai dan ia benci, juga pengalaman hidupnya sejak kecil. Suatu kali sebelum tidur Aisha bercerita, “Ibu sering mengajariku agar berdoa dalam sujud saat shalat malam: Ya Allah, letakkanlah dunia di tanganku, jangan di hatiku.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 213
20. Surat dari Nurul
Dua hari menjelang keberangkatan ke Alexandria kami belanja ke Attaba. Pasar rakyat paling besar di Mesir. Tak ada trasnportasi langsung dari ke sana. Kami naik bis mini dari mahattah Abul Fida yang tak begitu jauh dari apartemen kami menuju Tahrir. Sampai di Tahrir kami naik metro bawah tanah ke Attaba. Aisha iseng minta diajak melihat toko-toko buku loakan. Dua jam kami di sana. Aku menemukan beberapa buku yang bisa dijadikan referensi. Aisha hanya melihat-lihat dan membolak-balik buku. Akhirnya ia membeli empat bundel komik Donald Bebek.
“Kau aneh sekali, untuk apa Sayang?” heranku. Bagaimana tidak heran, orang secerdas dan sedewasa dia kok beli komik Donald Bebek.
“Untuk belajar bahasa Arab. Ini ‘kan komik bahasa Arab. Aku ingin tahu kalimat-kalimat yang lucu. Nanti kalau kita punya anak ini juga ada gunanya. Aku suka anakku nanti tertawa-tawa renyah. Karena tertawa adalah musiknya jiwa. Dan rumah kita nanti tidak sepi,” jawab Aisha santai. Cara berpikir Aisha yang mahasiswi psikologi terkadang menarik dan mengejutkan.
Sampai di rumah kulihat Aisha sangat kelelahan. Perjalanan dari Attaba sampai rumah memang sangat melelahkan. Padahal sebenarnya tidak terlalu jauh. Transportasinya yang memang melelahkan. Metro bawah tanah penuh sesak orang yang pulang kerja. Juga bis mininya. Kami berdua berdesakan. Aku sangat hati-hati menjaga Aisha. Aku tak ingin ada tangan jahil menyentuhnya. Setelah membuka cadar dan jilbabnya, Aisha langsung menyalakan AC dan membanting tubuhnya di sofa. Ia mengatur nafasnya. Mukanya yang putih memerah dan pucat. Kuambilkan air mineral dingin untuknya. Ia menerima dengan tersenyum.
“Danke, mein Mann,” 104 lirihnya.
“Bitte.”105
Selama ini kami memang berkomunikasi dengan tiga bahasa; Jerman, Arab, dan Inggris. Lebih banyak pakai bahasa Arab. Aisha yang memintanya
104 Terima kasih, suamiku.
105 Terima kasih kembali.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 214
untuk terus memperbaiki bahasa Arabnya. Jika dia kehabisan kosa kata ia akan mengatakannya dalam bahasa Inggris atau Jerman.
“Sayang, capek ya berdiri dan berdesakan,” tanyaku sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.
“Ya.”
“Di Jerman kalau berangkat kuliah gimana? Sering berdesakan seperti tadi nggak?”
“Transportasi di Jerman sangat baik tidak seperti di Mesir. Dan kebetulan aku jarang naik angkutan umum.”
“Terus? Jalan kaki? Apa kontrakanmu dekat dengan kampus?”
“Tidak juga. Aku menyewa rumah lima kilo dari kampus. Dan alhamdulillah aku punya mobil sendiri.”
Aku langsung tahu apa yang harus aku lakukan. Sangatlah zhalim diriku kalau aku membiarkan isteriku sedemikian tersiksa dan berdesakan sementara di tanganku ada tiga juta dollar lebih. Aku jadi teringat nasihat Syaikh Ahmad, “Jangan kau paksakan isterimu mengikuti standar hidupmu yang sangat sederhana. Jangan pelit dan jangan boros!”
“Mobilmu apa, Sayang?”
“Land Cruiser. Aku suka model Jeep.”
Aku menawarkan, bagaimana kalau membeli mobil. Ternyata sebenarnya itu juga ingin dia bicarakan padaku sejak tiga hari yang lalu. Cuma dia maju mundur akhirnya tidak berani bicara. Takut kalau aku tidak setuju. Aku tekankan padanya untuk tidak menyembunyikan keinginan apa pun dariku.
“Meskipun kusembunyikan toh kelihatannya kau bisa membaca keinginanku. Kau memang suami yang baik,” pujinya.
Aku harus mencari orang yang tahu seluk beluk mobil di Mesir. Biar tidak kena tipu. Biar urusan dengan kepolisian mudah dan lain sebagainya. Aku teringat Yousef, adiknya Maria. Bagaimana kabar mereka? Sudah pulang dari Hurgada apa belum ya? Sudah tahu aku menikah apa belum? Aku perlu menghubungi Yousef. Ia kelihatannya tahu seluk beluk mobil. Selama jadi tetangganya kulihat sudah tiga kali ganti mobil.
“Hallo. Yousef?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 215
“Ya. Ini siapa?”
“Fahri. Kapan pulang?”
“Baru tadi pagi. Selamat ya atas pernikahannya. Aku sudah diberi tahu sama Rudi. Sayang sekali. Kami menyesal. Seharusnya kami menelpon kalian begitu tiba di sana dan memberikan nomor telpon hotel kami menginap.”
“O tidak apa-apa. Mama dan papa juga sudah pulang juga?”
“Belum. Mereka masih akan di sana satu minggu lagi. Tapi Maria sudah pulang. Mau bicara sama dia?”
“Tidak. Lain kali saja. Salam buat dia. Oh ya, aku mau minta tolong padamu. Bagaimana kita secepatnya bisa bertemu?”
“Kau sekarang ada di mana?”
“Di Zamalik. Muhammad Mazhar Street.”
“Kedutaan Swedia?”
“Lurus ke utara ada Apartemen tertinggi di ujung pulau. Flat nomor 21.”
“Malam ini juga aku ke sana. Aku sudah rindu ingin ketemu padamu sekalian aku bawakan kado istimewa.”
“Terima kasih, kutunggu.”
* * *
Pukul delapan malam Yousef datang bersama Maria. Yousef masih seperti biasa, cerah dan ceria melihatku. Maria agak lain, dia sama sekali tidak cerah. Dingin. Tersenyum pun tidak. Mungkin belum hilang lelahnya dari Hurgada.
“Ini kado sederhana dari aku dan Maria. Maaf tidak bisa memberi yang mewah-mewah maklum kami belum punya penghasilan,” kata Yousef menyerahkan kado kecil yang dibungkus manis.
Maria lebih banyak menunduk. Sepertinya ia lesu sekali. Kami berbincang sambil menikmati karikade hangat. Aku jelaskan pada Yousef rencanaku membeli mobil. Dia sangat senang mendengarnya. Dia bertanya kriterianya. Kujawab model jeep, tangan kedua, masih bagus dan normal semua. Dia berjanji paling lambat besok sore dia akan menghubungi.
Hanya setengah jam mereka berada di rumah kami. Aku minta tolong pada Yousef menjelaskan pada Rudi dan teman-temannya route rumah kami. Sebab

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 216
sejak acara walimah itu aku belum berkomunikasi dengan mereka lagi. Dan itu atas permintaan mereka. “Sebelum satu minggu tidak boleh menghubungi Hadayek Helwan. Pengantin baru satu minggu penuh harus tenang,” kata mereka. Akhirnya malah kebablasan, dan mereka terlupakan.
Begitu Yousef dan Maria pulang aku langsung membuka kadonya.
“Kurang ajar, Yousef dan Maria itu!” umpatku.
“Apa sih isinya? Kenapa sampai mengumpat segala?” heran Aisha mendengar aku mengumpat. Ia melihat isi kado. Botol berisi serbuk.
“Serbuk apa ini, Fahri?” tanya Aisha. Aku ragu untuk menjelaskannya. Tapi Aisha terus mendesak.
“Serbuk Dhab Mashri,” jawabku.
“Apa itu Dhab Mashri?” kejarnya. Aduh bagaimana ini.
Terpaksa aku jelaskan juga. Dhab Masri adalah kadal Mesir, dan khasiatnya untuk obat kuat yang—kata orang-orang yang pernah mencobanya—lebih dahsyat dari Viagra, telah digunakan oleh para raja dan pangeran Mesir kuno. Mendengar penjelasanku Aisha salah tingkah, pipi merona merah, lalu tersenyum indah sekali.
* * *
Atas bantuan Yousef, kami berhasil membeli Nissan Terrano hitam metalik yang masih baru dengan harga sangat miring. Baru dipakai pemiliknya setengah tahun. Aisha senang sekali. Hari itu juga kami berdua berjalan-jalan mengelilingi kota Cairo. Tentu saja aku tidak bisa menyetir. Yang menyetir Aisha. Ia juga punya SIM Internasional. Aku jadi guidenya. Tujuh tahun di Kairo aku sudah hafal seluk beluk kota Cairo. Acara jalan-jalan pun lancar dan mengasyikkan.
Malam sebelum keberangkatan ke Alexandria, Mishbah datang bersama Mas Khalid. Mereka memberitahukan dua hari lagi Pelatihan Ekonomi Islam akan dilaksanakan selama satu minggu di Wisma Nusantara. Aku kira pelatihan itu sudah selesai ternyata diundur. Aku diminta menjadi salah satu moderator sekaligus pendamping dosen-dosen yang semuanya dari Mesir. Aku tidak bisa memutuskan sendiri. Aku harus bermusyawarah dengan Aisha. “Tidak apa-apa,

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 217
penuhi saja permintaan mereka. Kita tunda berangkatnya setelah pelatihan saja. Aku juga ingin tahu konsep ekonomi Islam itu seperti apa.” Jawab Aisha.
Selama satu minggu setiap hari kami ikut pelatihan. Dan sudah tentu, seperti yang aku prediksi, mahasiswa Indonesia geger melihat aku datang dan pergi dengan membawa mobil, disopiri oleh seorang isteri bercadar. Mana ada mahasiswa Indonesia memakai mobil? Kecuali beberapa gelintir dan bisa dihitung dengan jari.
Terobosan, bulletin mahasiswa Indonesia di Cairo paling vokal, kembali usil. Tanpa sepengetahuanku mereka berusaha mewawancarai Aisha mengenai proses pernikahan kami. Mereka sungguh kreatif. Untung saja Aisha isteri yang baik, ia tidak mau berkomentar sama sekali, dan menyuruh kru Terobosan langsung mewawancaraiku. Kepada mereka aku kisahkan prosesnya yang sungguh sangat sederhana.
Dua hari setelah itu Terobosan terbit. Segala keterangan yang aku berikan tertulis jelas. Yang membuatku geli adalah tanggapan-tanggapan dari beberapa kalangan aktifis yang pro dan kontra. Yang memandang positif dan negatif penikahan kami. Yang paling menggelitik hatiku dan justru paling kusukai adalah komentar seorang mahasiswi aktifis gender:
“Aku yakin si Aisha, isteri Fahri dari Turki itu pasti jelek. Kalau cantik mana mungkin dia mau. Apalagi katanya dia itu kaya, punya flat mewah di pinggir Nil segala. Yakin deh pasti wajahnya jelek. Dan kenapa Fahri tetap mau dengan gadis jelek? Karena Fahri mengejar kekayaannya. Jadi meskipun isterinya jelek dia mau saja, yang penting kaya. Dan untuk menutupi jeleknya makanya Fahri menyuruhnya memakai cadar dengan dalil agama.”
Aku suka sekali membaca komentar itu. Kalau mereka tahu kecantikan Aisha semakin geger suasananya. Biarlah aku seorang yang tahu kecantikan Aisha. Tapi ada komentar singkat yang membuat hatiku merasa tidak enak. Komentar dari Nurul sebagai Ketua Wihdah:
“Pernikahan Fahri (Indonesia) dengan Aisha (Turki berdarah Palestina) menunjukkan universalitas Islam. Aku tahu siapa Aisha. Sebelum dia menikah dengan Fahri dia pernah banyak bertanya padaku tentang budaya Indonesia,

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 218
khususnya masyarakat Jawa. Selamat buat Fahri yang berhasil menyunting muslimah Turki yang shalehah dan jelita.”
Nurul ternyata juga ikut pelatihan.
Dalam satu kesempatan, saat pulang, aku dan Aisha bertemu dengannya di gerbang Wisma. Aku tidak menyapanya dan dia juga tidak menyapaku. Namun Nurul bisa berbincang-bincang santai dengan Aisha seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hatiku lega. Semoga dia telah menemukan jalan keluar atas masalahnya. Sebelum berpisah Nurul memberikan selembar surat pada Aisha. Di mobil Aisha menyerahkan sepucuk surat itu padaku sambil bergumam, “Katanya ini pesan dari seseorang untukmu dan minta di baca jika sudah sampai di rumah.”
Sampai di rumah langsung aku baca surat itu.
Untuk Kak Fahri
Yang sedang berbahagia
Bersama isterinya
Assalamu’alaikum wr. wb.
Kutulis surat ini dengan lelehan air mataku yang tiada berhenti dari detik ke detik. Kutulis surat ini kala hati tiada lagi menahan nestapa yang mendera-dera perihnya luar biasa. Kak Fahri, aku ini perempuan paling bodoh dan paling malang di dunia. Bahwa mengandalkan orang lain sungguh tindakan paling bodoh. Dan aku harus menelan kepahitan dan kegetiran tiada tara atas kebodohanku itu. Kini aku didera penyesalan tiada habisnya. Semestinya aku katakan sendiri perasaanku padamu. Dan apakah yang kini bisa kulakukan kecuali menangisi kebodohanku sendiri. Aku berusaha membuang rasa cintaku padamu jauh-jauh. Tapi sudah terlambat. Semestinya sejak semula aku bersikap tegas, mencintaimu dan berterus terang lalu menikah atau tidak sama sekali. Aku mencintaimu diam-diam selama berbulan-bulan, memeramnya dalam diri hingga cinta itu mendarahdaging tanpa aku berani berterus terang. Dan ketika kau tahu apa yang kurasa semuanya telah terlambat.
Kak Fahri,

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 219
Kini perempuan bodoh ini sedang berada dalam jurang penderitaannya paling dalam. Dan jika ia tidak berterus terang maka ia akan menderita lebih berat lagi. Perempuan bodoh ini ternyata tiada bisa membuang rasa cinta itu. Membuangnya sama saja menarik seluruh jaringan sel dalam tubuhnya. Ia akan binasa. Saat ini, Kak Fahri mungkin sedang dalam saat-saat paling bahagia, namun perempuan bodoh ini berada dalam saat-saat paling menderita.
Kak Fahri,
Apakah tidak ada jalan bagi perempuan bodoh ini untuk mendapatkan cintanya? Untuk keluar dari keperihan dan kepiluan hatinya. Bukankah ajaran agama kita adalah ajaran penuh rahmah dan kasih sayang. Kak Fahri adalah orang shalih dan isteri Kak Fahri yaitu Aisha adalah juga orang yang shalihah. Bagi orang shalih semua yang tidak melanggar syariah adalah mudah.
Kak Fahri,
Sungguh maaf aku sampai hati menulis surat ini. Namun jika tidak maka aku akan semakin menyesal dan menyesal. Bagi seorang perempuan jika ia telah mencintai seorang pria. Maka pria itu adalah segalanya. Susah melupakan cinta pertama apalagi yang telah menyumsum dalam tulangnya. Dan cintaku padamu seperti itu adanya telah mendarah daging dan menyumsum dalam diriku. Jika masih ada kesempatan mohon bukakanlah untukku untuk sedikit menghirup manisnya hidup bersamamu. Aku tidak ingin yang melanggar syariat aku ingin yang seiring dengan syariat. Kalian berdua orang shalih dan paham agama tentu memahami masalah poligami. Apakah keadaan yang menimpaku tidak bisa dimasukkan dalam keadaan darurat yang membolehkan poligami? Memang tidak semua wanita bisa menerima poligami. Dan tenyata jika Aisha termasuk yang tidak menerima poligami maka aku tidak akan menyalahkannya. Dan biarlah aku mengikuti jejak puteri Zein dalam novel yang ditulis Syaikh Muhammad Ramadhan Al Buthi yang membawa cintanya ke jalan sunyi, jalan orang-orang sufi, setia pada yang dicintai sampai mati.
Wassalam,
Nurul Azkiya

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 220
Air mataku mengalir deras membaca surat Nurul. Aku tak tahu harus berbuat apa. Hatiku ikut pilu.
“Sayang, apa isinya sampai kau menangis?” tanya Aisha sambil mengusap air mata dipipiku dengan ujung jilbabnya. Kutatap wajah isteriku. Haruskah aku berterus terang padanya? Aku tak ingin membuat dirinya kacau dan cemburu. Aku harus melindungi ketenangan jiwanya. Yang jelas aku sama sekali tidak mau mengkhianatinya. Bisa jadi jika aku berterus terang, dia bisa menerima usulan Nurul, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memadu isteriku. Aisha adalah perempuanku yang pertama dan terakhir.
“Kenapa diam Sayang? Apa isinya?” tanya Aisha kembali.
“Bacalah sendiri!”
Aisha melihat surat itu. Ia mengerutkan keningnya.
“Kau bercanda. Ini bahasa Indonesia ‘kan? Mana aku tahu maksudnya. Apa yang ditulisnya sampai kau menangis?”
“Ah tidak apa-apa. Isinya nasihat. Agar aku menjagamu dengan baik. Berusaha memahamimu dan memaklumi perbedaan-perbedaan di antara kita yang memang berbeda latar belakang budaya dan pendidikan. Dia juga menasihati agar aku mengajarimu bahasa dan adat istiadat masyarakat Indonesia agar kelak jika pulang ke Indonesia kau bisa beradaptasi dan diterima dengan baik. Terakhir dia menasihatiku agar menyempatkan waktu untuk menengok kedua orang tua di Indonesia, jangan terlalu asyik di Mesir. Aku teringat ibuku.” Terpaksa aku berbohong, aku tak ingin ketenangan hatinya terusik. Aku harus melindungi keluargaku dari segala gangguan.
Aisha mengangguk-anggukka n kepala mendengar penjelasanku.
“Nasihat yang baik sekali. Dia memang muslimah yang baik. Sekali-kali kita harus undang dia dan teman-temannya kemari. Dia memuliakan diriku saat aku berkunjung ke rumahnya,” ujar Aisha.
* * *
Seketika itu juga aku menulis surat balasan untuk Nurul.
Kepada
Nurul Azkiya

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 221
Cahaya orang-orang yang bersih hatinya
Di bumi perjuangan mulia
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Saat menulis surat ini hatiku gerimis. Tiada henti kuberdoa semoga Allah menyejukkan hatimu, menerangkan pikiranmu, membersihkan jiwamu, dan mengangkat dirimu dari segala jenis penderitaan dan kepiluan.
Nurul,
Terima kasih atas suratnya. Aku sudah membacanya dengan seksama dan aku memahami semua kata-kata yang kau tulis. Kalau kau merasa harus setia pada cintamu. Maka aku merasa harus setia pada isteriku, pada belahan jiwaku. Kalau kau memiliki anggapan poligami bisa menjadi jalan keluar dalam masalah ini, bisa jadi ada benarnya. Poligami memang diperbolehkan oleh syariat, tapi aku tidak mungkin menempuhnya. Aku perlu menjelaskan, di antara syarat yang telah kami sepakati sebelum akad nikah adalah aku tidak akan memadu Aisha. Aku sudah menyepakati syarat itu. Kau tentu tahu hukumnya, aku harus menepatinya. Hukumnya wajib.
Nurul,
Dalam hidup ini, cinta bukan segalanya. Masih ada yang lebih penting dari cinta. Sebenarnya jikalau kita bercinta maka seharusnya itu menjadi salah satu pintu menjalankan ibadah. Janganlah terlalu kau turutkan perasaanmu. Gunakanlah akal sehatmu, karena akal sehat adalah termasuk bagian dari wahyu. Kau masih memiliki masa depan yang luar biasa cerahnya. Kau ditunggu oleh ribuan generasi di tanah air. Jadilah kau seorang Nurul seperti sebelum mengenalku. Nurul yang bersih dan bercahaya, seperti namanya Nurul Azkiya , Cahaya bagi orang-orang yang bersih hatinya.
Nurul,
Apakah kau sadar dengan apa yang kau lakukan saat ini? Dengan tetap menuruti perasaanmu untuk menyesal dan membodoh-bodohkan diri kau telah merusak dirimu sendiri. Ajaran agama kita yang hanif melarang manusia membinasakan dirinya sendiri dengan cara dan alasan apa pun. Memasung diri sampai menderita dengan alasan setia pada cinta adalah perbuatan yang tidak

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 222
seirama dengan sunnah nabi. Kau jangan salah tafsir pada novel yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi. Dengan novel itu beliau ingin menghibur dan menyejukkan orang-orang yang mereguk pahitnya cinta karena kelaliman orang-orang yang tidak mengerti cinta. Beliau membela orang yang semestinya dibela, dan mencela orang-orang lalim yang semestinya dicela. Adapun Puteri Zein yang membawa cintanya sampai ke liang lahat itu bukan atas kehendaknya. Berbeda dengan dirimu. Jika kau membawa cintamu sampai mati maka itu atas kehendakmu, dan itu sama saja dengan bunuh diri.
Nurul,
Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan. Nurul, dunia tidak selebar daun anggur. Masih ada jutaan orang shalih di dunia ini yang belum menikah. Pilihlah salah satu, menikahlah dengan dia dan kau akan mendapatkan cinta yang lebih indah dari yang pernah kau rasakan.
Terkadang, tanpa sengaja kita telah menyengsarakan orang lain. Itulah yang mungkin kulakukan padamu. Maafkanlah aku. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan hidayah dan rahmatnya, juga maghfirahnya kepada kita semua.
Wassalam,
Fahri Abdullah.
Surat itu kumasukkan dalam amplop dan kuberikan kepada Aisha untuk diberikan kepada Nurul besok paginya saat pelatihan.
Aisha bertanya, “Isinya apa?”
Kujawab, “Ucapan terima kasih. Aku gantian menasihatinya untuk segera menikah.”
“Benar. Dia sudah saatnya menikah, sebentar lagi selesai kuliah. Semoga dia dapat suami yang baik dan shalih,” ujar Aisha polos sambil tersenyum.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 223
21. Di San Stefano, Alexandria
Selesai pelatihan kami mempersiap segala sesuatu untuk pergi ke Alexandria. Dengan cermat Aisha mendata semua keperluan yang harus dibawa. Termasuk laktopnya. Selama satu minggu di sana ia berencana menulis biografi ibunya. Ia pernah ke Alexandria bersama ibunya. Jadwal di Alexandria telah tersusun baik. Di antaranya adalah pergi ke perpustakaan Universitas Alexandria untuk mencari tambahan referensi dan menemui Syaikh Zakaria Orabi, seorang imam masjid yang menurut keterangan Syaikh Utsman pernah berjumpa dengan Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.
Dengan Nissan Terrano kami sampai di kota Alexandria. Kota kebanggaan rakyat Mesir. Aku tidak hafal betul route kota budaya ini. Setelah bertanya beberapa kali akhirnya kami sampai di San Stefano Hotel. Sebenarnya aku ingin naik bis saja. Tapi Aisha memaksa menggunakan mobil pribadi. Ketika aku sedikit ragu akan keputusannya. Ia meyakinkan diriku dengan berkata:
“Di Jerman aku sering keluar kota dengan mobil pribadi. Aku bahkan pernah menempuh jarak Munchen-Hamburg dengan mobil sendiri. Kau jangan kuatir, insya Allah selamat. Apalagi Cairo-Alexandria cuma 177 km, jalannya pun lebar dan lurus, dengan kecepatan santai tiga-empat jam sampai!”
Karena dia merasa yakin sekali semuanya akan baik-baik saja. Dia juga ingin sekali berkeliling Alexandria dengan mobil sendiri maka aku pun menyetujuinya. Untuk menginap sebenarnya sudah aku tawarkan padanya menginap di rumah khusus tamu milik mahasiswi Malaysia, tapi Aisha tidak mau. Aisha Aisha ingin menginap di hotel San Stefano dan di kamar yang ia dan ibunya dulu pernah menginap. Sudah jauh-jauh hari ia pesan kamar itu. Ia ingin bernostalgia sambil menulis biografi ibunya. Itulah untuk pertama kalinya aku menginap di hotel berbintang. Sudah empat kali aku ke Alexandria dan tidak pernah menginap di hotel. Dua kali ikut mukhayyam 106 musim panas yang diadakan oleh Universitas Al Azhar. Dan yang dua kali bersama teman-teman Malaysia dan menginap di rumah khusus tamu milik organisasi mahasiswi Malaysia di Alexandria.
106 Perkemahan.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 224
Hotel San Stefano terletak tepat di garis pantai laut Mediterania. Balkon kami kami menghadap ke laut. Malam pertama di San Stefano Aisha berbisik,
“Sayang, Dhab Mashrinya dicoba yuk!”
Aku tersenyum. Aisha selalu berterus terang. Apakah karena dia bukan perempuan Jawa? Tapi keterusterangannya membuat aku senang. Aku teringat perkataan Sayyidina Muhammad Al Baqir, “Wanita yang terbaik di antara kamu adalah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi!” Dan Aisha adalah wanita seperti itu.
“Dhab Mashrinya tidak kubawa?”
“Kenapa?”
“Aku takut menjelma jadi kadal.”
Aisha tertawa geli.
Di Alexandria kami melewati hari-hari indah. Tidak terlalu kalah indahnya dengan hari-hari di tepi sungai Nil. Tapi tepi sungai Nil tetaplah lebih terkesan, karena kami menghabiskan malam paling indah sepanjang hayat di sana. Satu minggu telah berlalu, tapi Aisha ingin menambah satu minggu lagi untuk menuntaskan biografi ibunya. Ternyata dengan memandang laut yang indah Aisha merasa pikirannya lebih jernih. Banyak kenangan yang bersama ibunya yang terus berkelabat di kepalanya. Ia sudah menulis tiga ratus halaman dan biografi itu belum juga selesai. Aku merasa tidak ada masalah menambah hari lagi. Sementara dia sibuk dengan biografi ibunya, aku sibuk talaqqi kitab hadits Shahih Bukhari di Masjid Imam Abdul Halim Mahmud yang diajar oleh Syaikh Zainuddin El-Maula.
Suatu malam ada sms masuk ke handphone-ku. Dari Yousef . Kubuka:
“Maria sakit, mama minta agar memberi tahu kamu.”
Aku tersenyum. Madame Nahed masih menganggap aku bagian dari keluarganya. Puterinya sakit langsung memberi kabar. Aku tidak membalas apa-apa. Aku hanya berdoa dalam hati semoga Maria segera sembuh. Dan nanti jika sudah kembali ke Cairo, aku akan mengajak Aisha mengunjungi mereka, sekalian mengunjungi teman-teman seperjuangan di Hadayek Helwan.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 225
Setelah dua minggu di Alexandria, waktu pulang pun tiba. Dari mengaji pada Syaikh Zainuddin aku mendapatkan pengetahuan tentang fiqhul hadits yang sangat berharga. Dari Syaikh Zakaria Orabi aku mendapatkan kisah perjalanan hidup Said An-Nursi, juga beberapa lembar teks khutbah Jum’atnya yang ditulis tangan oleh Syaikh Zakaria. Dan Aisha berhasil menyelesaikan biografi ibunya. Tertulis dalam bahasa Jerman sebanyak 545 halaman satu spasi, Microsoft Word, Times New Roman, font 12. Sehari menjelang pulang ke Cairo kami jalan-jalan ke kawasan El-Manshiya yang merupakan pusat kota Alexandria dan disebut juga Alexandria lama. Di El-Manshiya itulah tepatnya kota Alexandria kuno berada. Puing-puing peninggalan Romawi masih ada di sana. Misalnya dapat di lihat bekasnya di Graeco-Roman Museum dan Achaeological and Roman Amphitheatre. Kami juga belanja di sana, tak lupa kami membeli dua jaket untuk Hosam dan Magdi, dua penjaga keamanan apartemen kami. Sekadar sebagai hadiah dan pengikat jiwa.
Terakhir kami berziarah ke makam Luqman Al Hakim yang namanya disebut dalam Al-Qur’an dan dijadikan nama surat ketiga puluh satu. Makam Luqman berdampingan dengan makam Nabi Daniyal. Berada di goa bawah tanah masjid Nabi Daniyal, tak jauh dari terminal utama Alexandria. Selama menatap makam Luqman air mataku meleleh teringat nasihat Luqman pada anaknya:
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya) . Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).107I
Luqman seperti masih hidup dan menasihati diriku dengan suaranya yang penuh wibawa dan mengetarkan jiwa. Jika aku punya anak kelak, aku ingin
107 Surat Luqman: 13,16, dan 17.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 226
mendidiknya seperti Luqman mendidik anaknya. Aku ingin menasihatinya seperti Luqman menasihati anaknya. Aku ingin bersikap bijaksana padanya seperti Luqman bersikap bijaksana pada anaknya. Ya Tuhan, kabulkan.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 227
22. Penangkapan
Dalam perjalanan pulang entah kenapa aku merasakan kecemasan yang menyusup begitu saja dalam jiwa. Selama melewati jalan lurus yang membelah lautan padang pasir aku terus berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan. Kupandang lekat-lekat wajah Aisha yang sedang konsentrasi mengemudikan kendaraan. Dalam hati aku berkata:
Aku cemas bila kehilangan kau
Aku cemas pada kecemasanku108
Aisha terus mengebut dengan tenang. 90 km/jam. Semua kendaraan berjalan cepat. Tak ada yang lambat. Bus West Delta menyalib dengan kecepatan gila. Memasuki Giza, awal masuk kota Kairo dari arah Alexandria, kami mampir di sebuah restoran untuk makan malam dan sedikit membeli oleh-oleh buat Si Hosam dan Magdi. Dua penjaga apartemen yang dalam waktu singkat sudah sangat akrab dengan kami. Tepat pukul sembilan malam kami tiba di gerbang apartemen. Dua malam sebelum Ramadhan tiba. Rencana berangkat umrah awal Ramadhan terpaksa diundur satu minggu. Baru masuk rumah sms dari Yousef datang, mengabarkan kondisi Maria semakin memburuk dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit Maadi. Kondisi kami sangat lelah. Tidak mungkin langsung meluncur ke Maadi. Aku membalas dengan mengabarkan baru tiba dari Alexandria dan insya Allah besok pagi akan datang menjenguk.
Selesai membersihkan badan dengan air hangat kami shalat berjamaah. Selesai shalat aku turun ke bawah membawa oleh-oleh untuk Hosam dan Magdi. Dua bungkus ayam panggang dan dua jaket baru. Mereka senang sekali menerimanya. Aku kembali naik dan mengajak Aisha istirahat. Ketika mata baru saja akan terlelap, Aisha terbangun dan berlari ke kamar mandi. Ia muntah-muntah. Kubuntuti dia. Kupijit-pijit tengkuknya. Mukanya pucat. Dalam pikiranku dia masuk angin dan kelelahan. Ia telah bekerja keras, memforsir tenaga dan pikirannya untuk menulis biografi ibunya selama di Alexandria. Ia juga harus konsentrasi selama tiga jam mengendarai mobil. Aku merasa sangat kasihan pada
108 Petikah puisi berjudul “Sajak” karya Penyair Amerika, John Cornford, diterjemahkan oleh Chairil Anwar.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 228
isteriku. Aku berniat aku harus bisa menyetir agar isteriku tidak kelelahan. Kugosok punggungnya dengan minyak kayu putih. Telapak tangan, kaki, perut dan lehernya kuolesi minyak kayu putih. Kubuatkan ramuan obat andalanku jika lelah dan meriang. Segelas madu hangat diberi habbah barakah. Rasulullah pernah memberi tahu bahwa habbah barakah bisa menjadi obat segala penyakit. Setelah meminum ramuan itu Aisya kuajak tidur.
Pagi hari ia tampak segar. Pukul sembilan saat aku bersiap mengajaknya ke rumah sakit Maadi. Tiba-tiba dia kembali muntah-muntah. Aku bingung. Aku takut ia terkena penyakit yang orang Jawa bilang masuk angin kasep, yaitu masuk angin yang bertumpuk-tumpuk dan parah. Aku urung ke Maadi, dengan taksi kubawa Aisha ke klinik terdekat. Seorang dokter berjilbab memeriksanya. Hampir setengah jam lamanya Aisha berada dalam kamar periksa dengan dokter berjilbab. Ketika keduanya keluar, dokter berjilbab itu tersenyum, “Selamat! Setelah kami periksa air seninya dan kami lanjutkan dengan USG, isteri anda positif hamil!”
Wajah Aisha cerah. Kepadaku ia mengerlingkan mata kanannya. Aku merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu sampai di flat Aisha berkata dengan wajah cerah,
“Melodi cinta yang kau mainkan sungguh ampuh suamiku. Dan memang saat malam pertama dan malam-malam indah setelah itu adalah saat aku sedang berada dalam masa subur. Allah telah mengatur sedemikian indahnya. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan anugerahNya yang agung ini pada kita berdua.”
Aku tersenyum dan langsung mencium pipinya yang bersih. Aisha menggeliat manja. Ia lalu mengangkat telpon memberi tahu bibinya, Sarah. Ia juga memberi tahu Akbar Ali, pamannya di Turki. Aku melihat kalender. Tak terasa kami telah hidup bersama sejak malam pertama itu selama satu bulan lebih. Hari-hari indah selalu berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya aku baru sehari bersama Aisha.
Untuk menghayati keagungan nikmat yang telah Tuhan berikan, kuajak Aisha sujud syukur dan shalat dhuha. Kepadanya aku berpesan untuk tidak banyak beraktifitas keluar rumah. Menjelang zhuhur aku bersiap untuk menjenguk Maria yang sakit. Aisha kuminta di rumah. Dia pesan dibelikan buah pir dan korma. Tiba-tiba ada orang membunyikan bel dengan kasar sekali. Aku bergegas

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 229
membuka pintu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang membunyikan bel seperti orang gila itu. Begitu pintu kubuka. Tiga orang polisi berbadan kekar menerobos masuk tanpa permisi dan menghardik,
“Kau yang bernama Fahri Abdullah?!”
“Ya benar, ada apa?”
“Kami mendapatkan perintah untuk menangkapmu dan menyeretmu ke penjara, ya Mugrim!”109 bentak polisi yang berkumis tebal.
“Kalian bawa surat penangkapan dan apa kesalahanku?”
“Ini suratnya, dan kesalahanmu lihat saja nanti di pengadilan!”
Aku membaca selembar kertas itu. Aku ditangkap atas tuduhan memperkosa. Bagaimana ini bisa terjadi.
“Ini tidak mungkin! Ini pasti ada kesalahan. Saya tidak mau ditangkap!” bantahku.
“Jangan macam-macam, atau kami gunakan kekerasan!” bentak polisi Mesir. Aku sangat geram pada sikapnya yang sangat jauh dari sopan dan kelihatan sangat angkut. Aisha cemas dan memegangi tanganku. Polisi Mesir itu berkata-kata dengan suara keras seperti anjing menyalak.
“Ayo ikut kami!” tegas polisi kurus hitam sambil memegang erat-erat tangan kananku. Aku menarik tanganku tapi polisi hitam mencengkeramnya kuat-kuat dan memasang borgol. Tangan kiriku dipegang Aisha, dia menangis.
“Ada apa ini Fahri, ada apa!?” tanya Aisha dengan muka pucat.
Polisi berkumis menarik tangan kiriku dari pegangan Aisha dan memaksa memborgolku.
“Sebentar Kapten biarkan aku sedikit bicara pada isteriku!?” ucapku dengan suara tegas.
“Boleh. Dua menit saja!” kata Si Kumis.
Aku lalu menjelaskan pada Aisha, hal seperti ini sering terjadi di Mesir. Polisi Mesir tidak memakai azas praduga tak bersalah. Tapi praduga bersalah. Jika dicurigai langsung ditangkap akan dibebaskan kalau terbukti tidak bersalah. Aku berpesan pada Aisha untuk bersabar dan langsung menghubungi Paman Eqbal, teman-teman PPMI, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Surat
109 Wahai penjahat.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 230
penangkapannya kuminta untuk aku berikan kepada Aisha. Tujuanku agar nanti mudah dilacak keberadaanku. Tapi polisi itu tidak memperbolehkannya. Aku pun pasrah digelandang tiga polisi itu. Kulihat Aisha terisak-isak. Aku dibawa turun melalui lift. Di halaman mobil kerangkeng besi menungguku. Sebelum masuk mobil kerangkeng aku sempat mendongakkan kepala ke arah jendela flat lantai 7. Di sana kulihat wajah Aisha yang basah air mata. Aku tidak tahu akan dibawa ke mana. Dalam beberapa jam saja kegembiraan yang aku rasakan berubah menjadi kesedihan dan kecemasan. Kota Cairo yang indah tiba-tiba terasa seperti sarang monster yang menakutkan.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 231
23. Dalam Penjara Bawah Tanah
Aku dibawa ke markas polisi Abbasea. Diseret seperti anjing kurap. Lalu diinterogasi habis-habisan, dibentak-bentak, dimaki-maki dan disumpahserapahi dengan kata-kata kotor. Dianggap tak ubahnya makhluk najis yang menjijikkan. Tuduhan yang dialamatkan kepadaku sangat menyakitkan: memperkosa seorang gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan.
“Orang Indonesia kau sungguh anak haram. Saat mengandung dirimu, ibumu makan apa heh? Makan bangkai anjing ya? Kau pura-pura menolong gadis malang itu ternyata kau menerkamnya. Kau berani menginjak-injak kehormatan perempuan kami. Kau ini mahasiswa Al Azhar, katanya belajar agama, ternyata manusia bejat berwatak serigala!” Seorang polisi hitam besar membentakku lalu menampar mukaku dengan seluruh kekuatan tangannya. Kurasakan darah mengalir dari hidungku.
“Akui saja, kau yang memperkosa gadis bernama Noura yang jadi tetanggamu di Hadayek Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8 Agustus yang lalu? Akui saja, atau kami paksa kau untuk mengaku! Jika kau mengakuinya maka urusannya akan cepat.”
Kata-kata polisi itu membuatku kaget bukan main. Noura hamil dan aku yang dituduh memperkosanya. Sungguh celaka!
Dengan tetap berusaha berkepala dingin aku mencoba menjelaskan kepada mereka itu adalah sebuah tuduhan keji. Lalu kujelaskan semua kronologis kejadian malam itu. Sejak mendengar jeritan Noura disiksa ayah dan kakaknya sampai paginya dititipkan ke rumah Nurul. Tapi penjelasanku dianggap seolah suara keledai. Mereka malah tertawa. Dan menjadikan aku bulan-bulanan oleh hinaan, makian dan tamparan yang membuat bibirku pecah.
“Kami memiliki bukti kuat kaulah pemerkosa gadis malang itu. Dia sangat menyesal mengikuti bujuk rayumu. Dia telah menceritakan semuanya. Dan dia juga punya saksi kau melakukan perbuatan terkutuk yang merusak masa depannya itu. Kau sudah tahu bahwa hukuman pemerkosa di negara ini adalah hukuman gantung. Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Mengakui perbuatanmu itu, dan kau mungkin akan mendapat keringanan atas kerja samamu. Sehingga kau

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 232
mungkin tidak akan dihukum gantung. Atau kau tetap bersikeras mengingkarinya dan terpaksa nanti pengadilan akan menggantungmu. Pilih mana?” Polisi hitam besar kembali menggertak. Hatiku sempat ciut. Aku teringat ulama-ulama yang mengalami nasib tragis di tangan para algojo negara ini. Apa pun jalannya, kematian itu satu yaitu mati. Allah sudah menentukan ajal seseorang. Tak akan dimajukan dan dimundurkan. Maka tak ada gunanya bersikap lemah dan takut menghadapi kematian. Dan aku tidak mau mati dalam keadaan mengakui perbuatan biadab yang memang tidak pernah aku lakukan.
“Kapten, aku memilih membuktikan di pengadilan bahwa aku tidak bersalah. Aku yakin negara ini punya undang-undang dan hukum. Aku minta disediakan pengacara!”
“Tindakan bodoh! Di pengadilan kau akan kalah! Kau akan dihukum gantung! Lebih dari itu kau akan masuk surat kabar! Kau akan diteriaki orang-orang sebagai pemerkosa! Kenapa kau tidak memilih mengakuinya dan kita tutup kasus ini diam-diam. Kita buat kesepakatan- kesepakatan dengan keluarga Noura sekarang. Kalau mereka memaafkan kau mungkin akan bernasib lebih baik.Kami masih sedikit berbelas kasihan padamu karena kau orang asing. Kalau kau orang Mesir sudah kami binasakan!” bentak polisi hitam dengan mata melotot.
“Aku bukan pelaku pemerkosaan itu Kapten! Aku akan buktikan bahwa aku tidak bersalah!” tegasku.
“Baiklah aku akan memberimu waktu berpikir dua hari. Jika kau tetap bersikeras tidak mau mengaku dan mengambil jalan kompromi maka terpaksa kau kami seret ke meja hijau dan jangan salahkan kami jika nasibmu berakhir di tiang gantungan dan namamu dilaknat semua orang!”
“Yang berhak melaknat hanya Allah. Dan hanya Allahlah yang tahu segalanya. Aku tidak akan takut dengan caci maki manusia selama aku merasa berada di jalan yang benar!”
“Hahaha…kau ini sok pintar! Jalan benar apa? Apa memperkosa itu jalan yang benar? Kau ini sudah selesai S.1. di Al Azhar. Gadis-gadis Indonesia saja banyak kenapa ketika itu kau tidak memilih menikah dengan salah satu dari mereka. Kenapa kau malah memilih memperkosa gadis malang itu dengan pura-pura mau menolong? Dan itu kau anggap jalan yang benar? Dasar anak anjing!

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 233
Dasar anak pelacur!” Polisi hitam itu mengumpat-umpat kasar. Entah kenapa mendengar kalimat umpatan terakhir darahku mendidih.
“Kau yang anak anjing! Wajahmu hitam penuh dosa! Kau yang anak pelacur! Yakhrab baitak!” balasku mengumpat dengan sama kasarnya. Wajah polisi itu semakin gosong. Giginya gemerutuk seperti monster mau menelanku. Ia pun melayangkan tangan kanannya ke mukaku.
“Bawa dia ke penjara dan cambuk sepuluh kali atas penghinaannya padaku!” Perintahnya pada tiga anak buahnya yang tadi menangkapku. Tiga polisi itu lalu menggelandangku ke penjara. Inilah untuk pertama kalinya aku masuk penjara. Kami melewati sel-sel yang berisi tahanan yang semuanya orang Mesir. Mereka semua terheran-heran melihat kehadiranku. Tiga polisi itu terus menggelandangku hingga sampai disebuah ruangan kosong. Ada sebuah kursi kayu kusam dan didindingnya tergantung beberapa alat penyiksa. Cambuk. Pentungan dari karet. Ganco. Tali. Dan lain sebagainya.
Polisi gendut melepas pakaianku. Lalu menyuruhku berdiri menghadap tembok. Setelah itu aku merasakan sabetan cambuk yang perih di punggungku. Tidak sepuluh kali tapi lima belas kali. Aku merasakan sakit luar biasa. Mereka lalu melepas borgolku dan menyeretku ke sebuah ruangan, melucuti semua pakaianku kecuali pakaian dalam. Juga sepatuku. Dalam keadaan hanya memakai celana dalam mereka menggunduliku. Lalu melempar seragam tahanan ke arahku. Cepat-cepat aku menutup aurat. Si Kumis menyuruh aku berdiri tegap dengan tangan diletakkan dibelakang punggung. Si Hitam memegang kedua tanganku yang kulipat dibelakang punggung kuat-kuat. Sementara Si Gendut mengikat kedua kakiku. Lalu dengan sangat kurang ajar Si Kumis mempermainkan kemaluanku. Aku menjerit-jerit dan meronta-ronta. Meludahi Si Kumis. Tapi mereka terus saja terbahak-bahak seperti setan. “Ini yang digunakan untuk memperkosa itu oh..oh..oh! Burung kakak tua..hehehe. .kecil sekali tak ada apa-apanya dengan milikku…hehehe. .tapi berani kurang ajar ya hehehe..hahaha!”
Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Aku merasakan penghinaan yang luar biasa. Aku belum pernah merasakan diriku dihina dan kehormatanku dinistakan senista itu. Aku lebih suka dirajam daripada dihina seperti itu. Jika aku sampai terlihat mengucurkan air mata, maka ketiga setan itu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 234
akan semakin gila tertawanya. Aku merintih dalam hati. Batinku menangis sejadi-jadinya memohon keadilan kepada Allah. Agar mereka diganjar atas kekurangajaran mereka. Aku terus menjadi bulan-bulanan mereka sampai aku tidak sadarkan diri.
* * *
Ketika sadar, aku berada di sebuah kamar gelap dan pengap.
“Alhamdulillah, kau sudah sadar.” Suara orang yang kurasa sangat tua. Di keremangan cahaya buram lampu di luar kamar yang masuk melalui jeruji pintu sel aku bisa menangkap wajah orang tua berjenggot putih duduk di dekatku.lalu empat orang lainnya. Dua setengah baya dan dua lainnya muda. Mereka semua memakai pakaian tahanan yang lusuh.
“Kelihatannya kau bukan orang Mesir?” tanya kakek tua ramah. Aku sedikit tenang mendengar suaranya yang lembut. Tapi aku kuatir dengan yang empat, kalau mereka orang-orang yang jahat aku bisa jadi bulan-bulanan di penjara ini. Aku pernah mendengar adanya hukum rimba di dalam penjara. Apalagi aku asing sendiri di sini.
“Dari Indonesia.”
“Siapa namamu?”
“Fahri Abdullah Shiddiq.”
“Nama yang bagus. Namaku Abdur Rauf.”
“Apa yang kau lakukan di Mesir?”
“Hanya belajar.”
“Di mana?”
“Di Al Azhar.”
“Masya Allah. Lantas bagaimana ceritanya kau bisa masuk penjara ini?”
“Musibah ini datang begitu saja. Aku dituduh memperkosa gadis Mesir, padahal aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Bagaimana mungkin aku akan melakukannya padahal aku memiliki seorang ibu, bibi, isteri dan nanti mungkin seorang anak perempuan. Aku terkadang tidak bisa memahami sistem yang berlaku di negara ini?”
“Di mana kau ditangkap?”
“Di rumah.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 235
“Nasibmu masih lebih bagus dariku Anak muda. Aku ditangkap disaat sedang menguji tesis magister di universitas. Di depan sekian banyak orang aku diperlakukan seperti tikus.”
“Jadi Anda seorang guru besar?”
Pemuda berwajah putih yang sejak tadi mematung di pojok ruangan menyahut sambil mendekat, “Beliau adalah Prof. Dr. Abdur Rauf Manshour, guru besar ekonomi pembangunan di Universitas El-Menya. Beliau kemungkinan ditangkap karena kritik-kritik tajamnya di koran! Oh ya perkenalkan namaku Ismail, mahasiswa kedokteran tahun ketiga Universitas Ains Syam, ditangkap karena memimpin demonstrasi di dalam kampus mengutuk tindakan Ariel Sharon menginjak-injak Masjidil Aqsha dan perlakuan kejam tentara Israel pada anak-anak Palestina terutama penembakan Muhammad Al Dorrah dua tahun lalu.”
“Jadi kau sudah dua tahun mendekam di sini?”
“Ya.”
“Dan hanya karena memimpin demonstrasi di dalam kampus?”
“Ya.”
“Aku lebih tragis lagi!” Pemuda yang satunya menyahut, “aku tidak melakukan apa-apa juga ditangkap. Kau tentu tahu demonstrasi di masjid Al Azhar usai shalat Jum’at satu tahun yang lalu yang menentang agresi Amerika ke Afganistan. Demonstrasi itu tidak besar. Bisa dikatakan bukan demonstrasi malah. Lebih tepat dikatakan protes. Ketika orang-orang bertakbir aku ikut bertakbir. Hanya itu. Keluar masjid aku ditangkap dan mendekam di sini sampai sekarang. Kenalkan namaku Ahmad biasa dipanggil Hamada. Aku tidak kuliah, lulus SLTA langsung bekerja di penerbit Muassasa Resala.”
“Muassasa Resala di dekat Abidin Attaba itu?” tanyaku.
“Benar.”
Kami lalu berbincang banyak dan saling mengenal satu sama lain. Dua lelaki setengah baya bernama Haj Rashed, dia kepala sekolah SD dan imam sebuah masjid kecil di Mathariyah. Ditangkap dua bulan lalu karena khutbah Jum’atnya yang pedas. Yang satunya bernama Marwan, mantan pegawai jawatan kereta api, dipenjara sejak setengah tahun lalu karena membunuh tetangganya yang menggoda isterinya.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 236
“Aku ini orang paling besar cemburunya di dunia. Sebenarnya aku sudah bersabar dan beberapa memberi peringatan pada pria kurang ajar itu. Tapi dia sungguh keterlaluan. Rumah kami dua tingkat di atasnya. Suatu ketika isteriku belanja, ketika pulang satu lift dengannya. Di dalam lift itulah dia menggerayangi isteriku. Isteriku lapor padaku. Seketika itu juga kudatangi dia dan kupancung dia. Dia keliru kalau menganggap diriku tidak bisa berbuat sesuatu. Seandainya dengan perbuatanku ini aku akan dihukum mati aku akan menerimanya dengan senang hati. Aku merasa puas karena aku telah membela kehormatan isteriku.”
Cerita Marwan langsung mengingatkan diriku pada Aisha. Oh Aisha, dia tentu sangat sedih sekarang. Dia sendirian di flat memikirkan nasibku dengan penuh kecemasan. Aku menitikkan air mata dan berdoa kepada Allah agar memberikan ketabahan pada Aisha dan agar melindunginya dari segala mara bahaya.
“Orang Indonesia, siapkanlah mentalmu! Kau akan menghadapi hari-hari yang mencekam. Hari-hari yang tidak kau ketahui apakah kau masih hidup atau telah mati. Kamar kita ini hanya berukuran tiga kali tiga. Kau lihat aku berdiri di atas genangan Air. Padahal sekarang sudah mulai masuk musim dingin. Setengah ruangan ini tergenang air. Kau kini duduk dibagian yang kering. Selama ini kita tidur bergantian. Terkadang tidur sambil berdiri. Kita diberi kesempatan ke WC dan kamar mandi sehari sekali menjelang shubuh. Itupun dalam antrean yang panjang dan terkadang kita sama sekali tidak punya kesempatan ke WC karena waktu yang diberikan telah habis. Siapkanlah mentalmu!” kata Professor Abdul Rauf.
“Gelap dan pengap. Apakah kita berada di bawah tanah?” tanyaku.
“Benar! Oh ya, tadi kau pingsan cukup lama. Kelihatannya kau belum shalat ashar,” jawab Professor Abdul Rauf.
“Astaghfirullah. Pukul berapa sekarang?” tanyaku.
“Pastinya tidak tahu, tapi sebentar lagi maghrib datang.”
“Tayammum?”
“Ya.”
Aku lalu tayammum dan shalat. Selesai shalat Professor Abdul Rauf memimpin kami membaca doa dan dzikir sore hari. Ditutup doa rabithah yang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 237
dibaca oleh Haj Rashed. Tak lama setelah itu azan maghrib berkumandang. Adil bergumam lirih,
“Ya Allah, inilah saat malam-Mu datang menjelang, dan siang-Mu telah berlalu, dan inilah suara dari para penyeru-Mu maka ampunilah kami.”
Karena tempat yang sempit kami tidak bisa berjamaah sekaligus. Terpaksa dibagi dua jamaah bergantian. Aku diminta menjadi imam jamaah kedua, dengan alasan aku satu-satunya yang dari Al Azhar. Aku membaca surat Yusuf, ayat-ayat yang menceritakan nabi mulia itu dipenjara di Mesir karena tuduhan Zulaikha. Sungguh nasibku tak jauh berbeda dengan Yusuf. Noura mengaku aku telah memperkosanya. Aku menangis dalam shalat.
“Bacaan Al-Qur’anmu indah dan tartil, di mana kau talaqqi?” tanya Haj Rashed
“Di Shubra. Pada Syaikh Ustman Abdul Fattah.”
“Yang di masjid Abu Bakar itu?”
“Benar.”
“Pantas. Besok malam sudah mulai tarawih. Kau saja imamnya ya?”
Pertanyaannya kembali mengigatkan aku pada Aisha. Dia akan menjalani Ramadhan sendirian dengan hati sedih. Rencana umrah ke tanah suci dan berhari raya di Indonesia tidak jadi. Oh begitu cepat perubahan terjadi. Kemarin malam aku masih tidur nyaman di hotel berbintang di Alexandria bercinta dengan Aisha begitu mesranya. Malam ini aku meringkuk kedinginan di penjara bawah tanah. Aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Seluruh tulang terasa ngilu, kulit kedinginan, punggung perih bukan main, dan kemaluan sakit luar biasa. Bayang-bayang kematian mengintai di semua sudut ruangan, tapi aku bersikeras untuk bertahan.
Keesokan harinya terdengar langkah sepatu bot. Lalu suara orang membentak sambil menggedor pintu sel, “Tahanan nomor 879!”
Tak ada yang menjawab. Semua diam. Ismail dan Haj Rashed berpandangan.
“Hai tahanan 879! Anjing! Dungu ya?” Sipir penjara itu marah sekali.
Ismail menepuk pundakku. “Coba lihat nomormu!” Pelannya. Ia lalu mendekatkan matanya ke dadaku. Dalam keremangan gelap tertulis di sana nomor

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 238
879. Berarti aku yang dimaksud. Aku lalu beranjak menuju pintu yang telah dibuka. Sipir itu langsung menarikku dengan kasar dan menendangku, “Dungu kau!”
Aku kembali dibawa ke ruang interogasi. Polisi hitam besar yang kemarin mengintrogasiku telah menunggu dengan segelas teh kental di tangan kanannya. Begitu aku masuk ia tersenyum sinis. Dua orang polisi yang kemarin menangkapku juga ada di situ. Si Hitam dan Si Gendut. Aku tidak melihat Si Kumis yang kurang ajar itu.
“Bagaimana orang Indonesia? Kau mau mengakui perbuatanmu? Aku berjanji akan mengusahakan keringanan hukumannya?” tanyanya.
“Aku tidak berubah pikiran. Aku tidak melakukan perbuatan dosa itu. Bagaimana mungkin aku akan mengakuinya. Aku akan buktikan bahwa aku tidak bersalah!” jawabku tegas.
“Semua penjahat selalu berkata begitu. Kau sungguh bodoh! Jika kau sampai ke meja hijau kau akan kalah. Bukti kau bersalah sangat kuat! Kau akan digantung! Kau masih punya kesempatan satu hari untuk berpikir. Sipir beri dia sedikit sarapan pagi biar pikirannya cerah!”
Dua anak buahnya itu lalu membawaku ke ruangan penyiksaan. Aku disuruh berdiri tegak. Si hitam mengangkat kursi kayu, dua kaki belakang kursi itu diletakkan diatas telapak kakiku. Dan Si Polisi Gendut lalu menduduki kursi itu. Terang saja aku menjerit kesakitan. Telapak kakiku terasa remuk tulang-tulangnya. Dan ketika aku menjerit Si Hitam menjejalkan roti keras ke mulutku hingga menyodok tenggorokanku. Aku mau muntah tapi raoti kering itu tetap dijejalkan ke mulutku. Ketika aku sudah tidak tahan dan nyaris pingsan ia menarik roti itu dan si gendut bangkit dari kursi itu. Aku dibiarkan istirahat sebentar, lalu disuruh menghadap ke dinding dan dicambuk lima kali. Belum juga puas, mereka lalu menyodok perutku yang masih kosong dengan popor bedil tiga kali sampai aku muntah. Rupanya itu yang dimaksud dengan sedikit sarapan pagi. Dengan tubuh lemas aku diseret dan dilempar kembali di sel bawah tanah. Dan aku jatuh tertelungkup di dalam sel tak sadarkan diri.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 239
24. Tangis Aisha
Yang kulihat pertama kali adalah wajah Ismail ketika aku bangun. Kepalaku ada di atas pahanya. Ia tersenyum padaku. Aku merasa haus sekali. Sejak kemarin tenggorokanku belum terkena setetes air sama sekali.
“Aku haus sekali,” lirihku sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhku.
“Hamada, ambilkan susu itu!” Kata Professor Abdul Rauf.
Hamada mengambil botol berisi susu dan meminumkan padaku. Aku menenggak tiga teguk. “Sudah,” kataku.
“Minumlah lagi, biar tubuhmu segar!” paksa Ismail.
Aku menenggak tiga teguk lagi. “Sudah!” kataku.
“Apa yang mereka perlakukan terhadapmu?”
Dengan suara terbata aku menceritakan semua bentuk penyiksaan yang aku terima sejak kemarin sampai tadi pagi. Juga perlakuan mereka yang keji atas kemaluanku.
“Mereka sungguh biadab!” geram Ismail mendengar ceritaku.
“Mereka memang sangat biadab. Lebih biadab dari Iblis! Dan apa kau terima masih belum seberapa dibandingkan para ulama yang disiksa habis-habisan tahun enam puluhan. Bahkan ada dua orang ulama yang ditelanjangi dan dipaksa melakukan perbuatan kaum nabi Luth. Tentu saja mereka tidak mau melakukan perbuatan terkutuk itu. Akhirnya mereka berdua mati syahid jadi santapan anjing ganas yang lapar.” Kisah Professor Abdul Rauf dengan suara bergetar.
Aku bergidik mendengarnya. Perlakuan mereka yang keji padaku terbayang kembali. Membuat hatiku perih dan sakit sekali. Aku tak bisa membayangkan sakitnya seorang perempuan diperkosa. Kehormatannya dinodai. Betapa sakitnya mereka. Gilanya aku dituduh melakukan perbuatan bejat yang menyakitkan perempuan itu. Perbuatan yang sangat kubenci dan kukutuk, tidak mungkin aku lakukan. Rasa gilu dan sakit bergumul dalam hati bercampur marah, bertumpuk-tumpuk, mendera-dera, menyesak-nyesak dalam dada.
“Sudahlah kita makan dulu. Alhamdulillah, ada sedikit rizki dari Allah Swt.!” kata Professor Abdul Rauf.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 240
Haj Rashed mengambil bungkusan dari pojok ruangan. Tiga roti isy yang empuk dan lebar, satu ayam panggang digelar dan satu plastik apel. Aku bangkit duduk perlahan.
“Apakah semewah ini jatah dari penjara?” tanyaku.
“Tak lama lagi kau akan tahu seperti apa jatah penjara,” sahut Hamada.
“Lebih layak untuk santapan binatang!” tukas Marwan.
Haj Rashed berkata:
“Yang kita makan ini adalah kiriman dari isteri Professor Abdul Rauf. Untuk bisa memasukkan makanan ini ke penjara dia harus membayar seratus pound kepada petugas. Kirimannya juga dirampas setengahnya. Aslinya adalah dua botol susu, enam lembar roti Isy, dua buah ayam bakar dan dua kilo apel. Tapi para sipir itu minta separo bagian. Tidak setiap saat keluarga kami boleh mengirim makanan. Satu bulan hanya diizinkan dua kali saja. Makanan ini sudah datang sejak tadi pagi. Beberapa menit setelah kamu dibawa keluar. Kami tidak mungkin makan tanpa menunggumu. Kami yakin kau pasti sudah lapar. Wajahmu sedemikian pucatnya. Rasulullah tidak mengizinkan perut kita kenyang sementara orang terdekat kita kelaparan.”
Penjelasan Haj Rashed membuat diriku terharu. Bahwa diriku berada di tengah-tengah orang baik. Mereka begitu perhatian padaku. Kami pun makan bersama penuh nikmat dengan diselimuti rasa persaudaraan yang kuat. Setelah makan dan minum beberapa teguk susu tubuhku terasa memiliki kekuatan kembali.
Tak lama setelah itu seorang sipir menggedor pintu dan dari jeruji atas ia melemparkan enam roti isy kering. Ia melempar roti itu seperti melempar makanan pada anjing. Isy itu melayang bertebaran. Ada yang mengenai muka Professor. Ada yang jatuh di kaki Ismail dan ada yang masuk air yang menggenang di sebagian lantai.
“Ini jubnahnya!”110 teriak sipir itu melempar bungkusan hitam.
Ismail memunguti isy itu dan mengumpulkannya. Yang jatuh ke genangan air ia pisahkan. Ia mengambil selembar Isya yang sudah kering itu serta bungkusan hitam dan menyerahkannya padaku.
110 Jubnah: keju putih seperti tahu.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 241
“Inilah jatahnya. Sehari sekali. Coba kau lihat!” ujarnya padaku.
Aku pegang isy itu. Kering dan kaku. Kubuka plastik hitam, baunya sudah tidak karuan.
“Tapi kita tetap harus menerimanya dengan sabar. Yang jatuh ke dalam genangan air kotor itu pun suatu ketika ada gunanya. Dahulu baginda nabi dan para sahabat pernah sampai makan rerumputan dan akar pepohonan,” lanjut Ismail.
Kembali aku teringat hari-hari indah bersama Aisha. Makan tidak pernah kurang. Selama di Alexandria selalu di restoran hotel. Semua enak dan penuh gizi. Dan tiba-tiba kini aku harus siap dengan makanan yang layaknya untuk tikus dan kecoa. Aku masih merasakan Allah Maha Pemurah, makan pertama di penjara adalah ayam panggang lengkap dengan sebutir apel merah yang segar.
Malam harinya kami tarawih. Kami mengatur sedemikian rupa agar kami tetap bisa shalat tarawih berjamaah bersama. Haj Rashed minta satu juz dalam delapan rakaat. Inilah untuk pertama kalinya aku jadi imam tarawih di Mesir. Dan di dalam penjara. Setengah tiga kami bangun, tahajjud sebentar lalu sahur. Apalagi yang kami makan kalau bukan jatah tadi siang. Aku hampir muntah tapi kutahan-tahan. Kulihat Professor dan teman-teman lainnya makan dengan santai. Di pojok ruangan ada ember plastik. Kami bergantian minum dari air yang ada di ember itu.
“Kita beruntung minum dari ember. Di kamar paling pojok sana tempat airnya adalah kaleng bekas yang sudah karatan,” kata Hamada.
Aku teringat Aisha, bagaimanakah dia sekarang. Apakah juga sedang sahur, ataukah sedang menangis sendirian. Aku sangat merindukannya.
* * *
Sampai hari ketiga ditahan, belum juga ada yang menjengukku. Meskipun diinterogasi dan dipaksa seperti apapun aku tetap bersikukuh tidak mau mengakui dakwaan itu. Aku tetap memilih membuktikan tidak bersalah di pengadilan. Pengadilan pertama akan digelar tiga hari lagi. Aku cemas. Aku perlu pengacara dan saksi yang membelaku bahwa aku tidak bersalah. Teman-teman satu rumah di Hadayek Helwan. Kelurga Tuan Boutros. Nurul dan teman-temannya. Dan Syaikh Ahmad. Mereka bisa menjadi saksi. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 242
mereka. Isteriku, Aisha yang sangat kurindukan belum juga datang menjenguk. KBRI atau PPMI belum juga tampak batang hidungnya. Aku sangat gelisah dan sedih. Aku kuatir mereka tidak mau mengerti karena termakan oleh fitnah keji itu. Aku takut Aisha tidak percaya padaku dan membenciku. Aku tak kuat memendam semua kegelisahan dan kekuatiran ini. Akhirnya kuutarakan semuanya pada Profesor Abdul Rauf dan teman-teman.
“Fahri, kau jangan kuatir. Aku yakin mereka semua sudah tahu dan sudah bergerak. Cuma memang pihak kepolisian yang sengaja mengulur waktu agar kau tidak segera bisa bertemu dengan mereka. Dulu, waktu aku ditangkap, satu bulan keluargaku mencariku ingin bertemu tapi tidak bisa. Baru bulan kedua mereka menemukanku. Isterimu mungkin sekarang sedang pontang-panting dipermainkan para polisi tidak bertanggung jawab itu. Mungkin sudah sampai di kantor penjara ini. Tapi pihak keamanan akan bilang sudah dipindah ke Tahrir. Nanti yang Tahrir akan bilang dipindah ke Nasr City. Dan seterusnya. Begini saja nanti ibuku mau menjengukku. Berikanlah nomor handphone isterimu, biar ibuku memberitahu dia bahwa kau ada dipenjara ini,” kata Ismail memberi saran. Untung aku ingat nomor handphone Aisha. Aku beritahu nomor itu pada Ismail sampai dia hafal betul. Dan nanti ibunya akan menghafal nomor itu. Jika satu angka saja salah maka nasibku akan semakin buruk.
* * *
Hari keempat.
Setelah menerima sarapan pagi dari sipir penjara berupa cambukan, pukulan dan tamparan aku mendapat panggilan. Seorang sipir menggelandangku dengan tergesa-gesa ke balai pengobatan penjara. Seorang dokter militer dan dua perawat membersihkan muka dan beberapa bagian tubuhku yang luka. Penampilanku mereka perbaiki sedemikian rupa. Lalu aku diajak ke sebuah ruangan. Di sana ada tiga sosok menungguku, Paman Eqbal, Magdi penjaga apartemen kami dan seorang perempuan bercadar yang aku yakin dia adalah Aisha. Begitu melihat sosokku perempuan bercadar itu berhambur ke arahku. Ia memelukku erat-erat sambil menangis. Aku pun menangis. Ia menatapku dalam-dalam dan meraba wajahku dengan kedua tangannya yang halus.
“Bagaimana keadaanmu, Fahri, Suamiku?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 243
“Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”
Aisha menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. “Apa dosa kita berdua Fahri sampai kita harus menanggung cobaan seberat ini. Aku nyaris kehilangan sesuatu yang paling berharga yang aku miliki kalau seandainya tidak diselamatkan oleh Magdi. Kau harus berterima kasih padanya. Dia telah menyelamatkan kesucian isterimu ini Fahri.” Aisha berkata sambil terisak-isak.
“Apa sebenarnya yang terjadi setelah hari itu?” tanyaku penasaran.
“Aku tak sanggup menceritakannya. Tanyakanlah pada Magdi?” jawab Aisha dengan tetap memeluk erat diriku.
Kami lalu duduk. Kutanyakan apa yang terjadi pada Aisha pada Magdi. Dengan tenang Magdi, polisi yang sering kujumpai shalat berjamaah di masjid dekat apartemen itu bercerita:
“Sebelumnya maafkan diriku, aku tidak bisa membantumu saat kau ditangkap. Karena mereka membawa surat penangkapan lengkap. Meskipun aku secara pribadi tidak yakin akan kebenaran tuduhan yang digunakan sebagai alasan penangkapanmu. Dan anggapanku ini agaknya benar. Satu hari setelah kau ditangkap, sekitar jam sepuluh pagi polisi berkumis yang ikut menangkapmu itu kembali datang. Ia minta izin mau bertanya sedikit pada Madame Aisha, isterimu. Aku menanyakan surat izinnya. Dia bilang tidak bawa tapi ini tugas penting yang harus dikerjakannya. Dia hanya akan bertanya beberapa hal pada Aisha, membutuhkan waktu tak lebih dari sepuluh menit saja. Akhirnya kuizinkan dia naik. Namun aku dan Hosam punya firasat tidak baik dan curiga dengan tindak-tanduknya. Diam-diam kami naik juga ke atas membuntutinya memakai lift satunya. Sampai di lantai 7 kami kaget oleh teriakan Madame Aisha. Kami berdua langsung mendobrak pintu sekuat tenaga. Dan kami melihat Si Kumis sedang mengejar Madame Aisha di ruang tamu hendak memperkosanya. Seketika itu juga dia kami bekuk!”
Darahku mendidih, aku nyaris tidak bisa menguasai amarahku mendengar cerita Magdi.
“Kurang ajar! Akan kucari dan kubunuh keparat itu!” teriakku dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Bagiku kehormatan isteriku adalah segala-galanya, jauh diatas kehormatan diriku sendiri. Kesucian isteriku sama dengan

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 244
kesucian kitab suci, tidak boleh ada seorang pun yang menodainya apalagi menginjak-injaknya. Kesucian isteriku adalah nyawaku. Ketika ada orang yang berusaha menjamah kesuciannya maka nyawaku akan kupertaruhkan untuk membelanya. Seandainya aku punya seribu nyawa akan aku korbankan semuanya untuk menjaga kesucian isteriku tercinta. Mati seribu kali lebih ringan bagiku daripada ada orang yang menjamah kesuciannya. Malaikat maut pun akan aku hajar jika dia mencoba-coba menodainya. Aku rela dijuluki apa saja untuk membela kesucian isteriku tercinta.
“Insya Allah, kau tidak akan lagi bertemu dengannya!” kata Magdi sambil tersenyum.
“Maksudmu?” tanyaku.
“Dia sedang diproses ke tiang gantungan. Dia terlalu bodoh. Dia salah perhitungan. Dia mengira isterimu adalah orang Indonesia. Dan kau tentu tahu banyak perempuan Indonesia diperkosa di mana-mana, di Saudi, di Singapura, di Malaysia, di Hongkong, di Taiwan, juga beberapa kali di Mesir dan para pemerkosanya tidak tersentuh hukum sama sekali. Diplomasi Indonesia sangat lemah. Si Kumis itu beranggapan begitu. Dia merasa perbuatannya akan aman-aman saja sebab yang akan ia perkosa adalah perempuan Indonesia. Dia menganggap kami berdua seperti penjaga apartemen biasa yang tidak akan berani mengusiknya. Tapi dia keliru. Kami tidak akan membiarkan siapa pun berbuat jahat di apartemen yang kami jaga. Dia langsung kami bekuk begitu tertangkap basah hendak melakukan perbuatan jahat itu. Madame Aisha langsung mengontak Mr. Minnich, Atase Politik Kedutaan Jerman. Kedutaan Jerman langsung mengontak kementerian luar negeri meminta agar penjahat yang mencoba menyakiti warganya ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku di Mesir yaitu hukuman gantung. Si Kumis itu dalam tahanan kami masih bisa tertawa karena ia yakin akan ada yang membebaskannya. Benar, lima jam setelah itu ada perintah untuk membebaskannya. Namun belum sempat kami bebaskan sudah ada perintah lagi untuk memprosesnya secara hukum. Yang kami tahu Jerman mengancam akan mengopinikan di negaranya dan di Eropa bahwa Mesir tidak aman jika polisi brengsek itu tidak ditindak tegas. Jerman juga mengancam akan membatalkan beberapa kerjasama perdagangan dan perindustrian dengan Mesir. Menurut Mr.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 245
Minnich keselamatan seorang warganya sama dengan keselamatan presidennya. Tak ada pilihan bagi pemerintah Mesir kecuali menindak tegas seorang oknum tidak bertanggung jawab itu. Tapi setelah kami selidiki agaknya memang ada skenario jahat yang ingin menghancurkan dirimu dan keluargamu, Fahri!” jawab Magdi.
“Maksudmu?”
“Aku sudah bertemu Syaikh Ahmad. Beliau meyakinkan padaku bahwa kau tidak mungkin melakukan hal itu. Selama tiga hari kemarin di samping menangani kasus Si Kumis, aku dan Eqbal berusaha mencari di mana kau berada. Si Kumis bilang di serahkan ke penjara Tahrir. Pihak Tahrir bilang sudah dibawa ke Nasr City. Nasr City bilang sudah diambil Abbasea. Pihak Abbasea bilang sudah dibawa lagi ke Tahrir. Ada orang yang cukup punya kuasa yang mendalangi semua ini, kemungkinan dia seorang oknum dari Keamanan Negara, sampai aku nyaris tidak berdaya dan para polisi itu juga takut memberikan keterangan jelas mengenai keberadaanmu. Pihak Kedutaan Indonesia juga alot di Tahrir. Untung tadi pagi Aisha mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengatakan anaknya satu sel denganmu. Dan kami langsung meluncur kemari. Kasus Aisha sudah beres, kau tinggal menunggu kabar penjahat itu digantung. Sekarang tinggal masalahmu. Masalah yang tidak mudah. Coba ceritakanlah padaku bagaimana sebenarnya yang terjadi sampai kau dituduh memperkosa gadis bernama Noura itu?”
Aku lalu menjelaskan semua yang terjadi malam itu, dimulai dari kabar kelulusanku, makan ayam panggang di Sutuh bersama teman-teman, jeritan Noura, minta tolong Maria, sampai menitipkan Noura pada Nurul di Masakin Utsman. Juga aku ceritakan sepucuk surat cinta dan ucapan terima kasih dari Noura.
“Di mana surat itu sekarang?”
“Aku berikan pada Syaikh Ahmad.”
Seorang polisi memberi tahu waktu berkunjung telah habis. Aisha memberikan bungkusan berisi makanan. Dia mengajakku ke pojok ruangan. Di sana dia membuka cadarnya sehingga aku bisa menatap wajahnya. Dia menangis dan tampak sedih. Aku mencium pipinya. “Jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 246
dan kandunganmu, teruslah berdoa dan mendekatkan diri pada Allah agar semua masalah ini dapat teratasi. Aku sangat mencintaimu, isteriku.”
Aisha terisak, “Aku juga sangat mencintaimu. Kau besarkanlah jiwamu suamiku, aku berada disampingmu. Aku tidak akan termakan tuduhan jahat itu. Aku yakin akan kesucianmu. Kalau seandainya kau mengizinkan aku ingin dipenjara bersamamu agar aku bisa menyediakan sahur dan buka untukmu.”
“Kau jangan berpikir seperti itu. Kau tenangkanlah pikiranmu. Yakinlah semuanya akan selesai dengan baik. Banyak orang baik yang akan membantu kita. Sekarang yang harus kau prioritaskan adalah perhatianmu pada kandunganmu. Sekarang kau tinggal di mana? Apa sendirian di Zamalek?”
“Tidak. Sejak kejadian itu aku tinggal bersama bibi Sarah dan paman Eqbal.”
“Bagus. Kau akan lebih tenang di sana.”
Aisha kembali memasang cadarnya. Paman Eqbal dan Magdi mendekati kami. Mereka pamitan. Aku merangkul paman Eqbal dan minta doanya. Juga merangkul Magdi dan mengucapkan banyak terima kasih padanya. Mereka lalu keluar. Aku beranjak mengambil bungkusan besar berisi makanan. Tiba-tiba Magdi kembali.
“Sst..Fahri ceritakan padaku kau diinterogasi bagaimana?”
Aku menceritakan semuanya. Paksaan untuk mengakui perbuatan itu dan aku bersikukuh tidak mau mengakuinya.
“Keputusan yang tepat sekali. Sebab jika kau mengaku dan menandatangani berkas pengakuan maka sangat sulit diselamatkan. Aku dan Eqbal akan mencari pengacara yang baik untukmu. Kapan sidangnya?”
“Tiga hari lagi.”
“Siksaan apa yang kau terima selama tiga hari ini?”
Aku menceritakan semuanya. Termasuk kekurangajaran Si Kumis mempermainkan kemaluanku. Juga siksaan setiap pagi.
“Tapi kumohon kau jangan ceritakan siksaan-siksaan ini pada Aisha atau paman Eqbal mereka akan sedih. Biarlah nanti kuceritakan sendiri setelah keluar dari penjara ini.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 247
“Yang kau terima itu masih termasuk ringan. Jangan kuatir. Sakit hatimu pada Si Kumis itu biar teman-temanku yang nanti membalasnya. Dia memang polisi kurang ajar. Aku akan mencoba berbicara pada kepala penjara ini. Dan makanan ini, jika dirampas sama sipir penjara nanti bilang. Terus ciri-ciri sipir itu bagaimana? Aku akan mengurusnya. Sudah ya satu hari sebelum sidang, insya Allah aku dan pengacara yang akan membelamu akan datang kemari. Aku pamit dulu. Selamat beribadah oh ya ada salam dari Syaikh Abdurrahim Hasuna, imam masjid kita. Beliau ikut berbela sungkawa atas musibah yang menimpamu dan beliau akan ikut serta mendoakanmu.”
“Terima kasih atas segalanya Magdi, salam balik untuk beliau.”
Magdi pergi. Aku kembali ke sel. Aku beritahu mereka apa yang terjadi. Mereka semua ikut senang dan berdoa semoga aku cepat bebas dari penjara ini. Bisa kembali belajar dan pulang ke Indonesia mengamalkan ilmu yang kudapat di bumi para nabi ini. Ismail membuka bungkusan besar yang kubawa. Ia heran bagaimana aku bisa membawa makanan sebanyak itu. Kujelaskan semuanya.
“Alhamdulillah, di dunia ini masih ada polisi baik seperti Magdi,” gumam Ismail.
“Dia SLTA di ma’had Al Azhar Damanhur,” sahutku.
“Pantas.”
“Tapi Si Noura, gadis itu juga ma’had Al Azhar, kenapa dia bisa berbuat sejahat itu?” heranku.
“Aku yakin itu bukan semata-mata kemauan Noura. Setidaknya ada sesuatu yang menekannya. Puteriku yang nomor tiga juga di Al Azhar, dan dia sangat jujur,” tukas Haj Rashed.
Belum puas kami berbincang terdengar langkah sepatu bot dan pintu kami digedor.
“Tahanan 879!” teriaknya seperti anjing menyalak.
“Ya!” jawabku dengan suara keras.
“Ayo ikut!”
Aku dibawa ke ruang penerimaan tamu. Di sana sudah ada Staf Konsuler KBRI dan Ketua PPMI. Keduanya memelukku erat-erat. Mereka berdua ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi denganku. Aku ceritakan kronologis

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 248
penangkapanku dan dakwaan yang dialamatkan kepadaku. Staf konsuler berjanji akan membantu sekuat tenaga membebaskan aku dengan upaya diplomatis, meskipun dengan nada yang agak pesimis,
“Tahun 1995 pernah ada mahasiswa kita yang mengalami nasib mirip denganmu. Dia naik lift. Di dalam lift ada anak kecil Mesir. Entah kenapa anak kecil itu menangis. Anak kecil itu melapor pada kedua orang tuanya takut pada mahasiswa kita itu. Orang tuanya melapor pada polisi menuduh mahasiswa kita mencoba mencabuli anaknya. Padahal mahasiswa kita tidak berbuat demikian, dia hanya menyapanya dan mengajaknya bicara seperti kalau bertemu dengan anak-anak di Indonesia. Polisi lebih percaya pada pengaduan orang tua anak itu. Orang Mesir jika sudah menyinggung kehormatan perempuan sangat sensitif. Menyiul perempuan berjalan saja bisa ditangkap polisi jika perempuan itu merasa terhina dan tidak terima. Akhirnya mahasiswa kita itu dipenjara beberapa bulan. Ia dikeluarkan dari Al Azhar dan dideportasi. Ia tidak dihukum gantung karena setelah divisum anak kecil itu memang tidak apa-apa. Bayangkan, hanya karena mengajak bicara anak kecil di dalam lift, mahasiswa kita dipenjara. Dan pihak KBRI tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mahasiswa kita itu harus keluar dari Mesir. Sekarang ia belajar di Turki. Bahkan ikut membantu staf KBRI di sana. Juga menjadi pemandu travel bagi orang Indonesia yang melancong ke Turki yang biasanya satu paket dengan umrah. Di sana dia malah kaya dan makmur sekarang. Untuk kasusmu ini, kita akan berusaha sekuat tenaga. Tapi kita tidak bisa menjamin keberhasilannya.”
Kata-kata staf konsuler KBRI itu membuat hatiku ciut. Aku tiba-tiba ingin jadi warga negara Amerika saja. Jika aku warga negara Amerika pasti polisi Mesir tidak berani berbuat macam-macam. Menyentuh kulitku saja mereka tidak akan berani apalagi mengancam hukuman gantung. Jika aku jadi warga negara Amerika, mungkin seandainya benar-benar memperkosa pun, tetap selamat. Sebab presiden Amerika akan ikut bicara membela warganya seperti ketika Clinton membela warganya yang dicambuk di Singapura. Lain Amerika lain Indonesia. Apa yang dibela oleh presiden Indonesia kalau bukan jabatan dan perutnya sendiri? Mana mungkin dia mendengar rintihan dan rasa sakitku dicambuk tiap pagi dan membeku kedinginan di bawah tanah dalam musim dingin

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 249
yang membuat tulang ngilu? Apalagi diriku yang jauh di Mesir. Sedangkan ribuan gadis Indonesia dijual, dirobek-robek kehormatannya dan diperlakukan seperti binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam sejarahnya ada Presiden Indonesia membela rakyatnya? Kecuali Soekarno di zaman mempertahankan kemerdekaan.
“Kalau kami, apa yang bisa kami bantu menurut Mas Fahri?” kata Ketua PPMI.
“Pertama, aku ingin dukungan seluruh teman-teman dari Indonesia. Demi Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi, aku tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadaku itu. Aku ingin dukungan moral dari teman-teman semua. Tolong disosialisasikan kisah yang sebenarnya. Orang satu rumah denganku dan Nurul tahu akan hal itu. Jika nanti ada wartawan Mesir mewawancarai tolong opinikan yang baik mengenai diriku, tolong! Juga teman-teman yang jadi koresponden media massa di tanah air tolong kisahkan yang sebenarnya jangan yang malah menimbulkan interpretasi yang macam-macam. Kedua, kepada PPMI dan KBRI mohon kerjasama dengan pengacaraku nanti. Sekarang isteriku dan seorang polisi Mesir yang baik sedang mencari pengacara untuk membelaku. Tolong bantu mereka. Ketiga, mohon doa teman-teman Indonesia semuanya, ketika sahur, ketika tarawih, ketika shalat malam. Doakan aku selamat dari ujian berat ini. Itu saja harapanku saat ini.” Jelasku dengan sedikit terisak, sebab masalah yang aku hadapi sangat serius. Nyawaku sedang terancam. Staf KBRI dan Ketua PPMI berjanji akan memenuhi keinginanku itu. Aku mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka. Mereka minta maaf terlambat tapi itu karena pihak kepolisian Mesir yang membuat urusan berbelit-belit.
Sesedih apapun, kunjungan KBRI dan PPMI menambah kekuatan dalam diri. Kedatangan mereka berdua seolah berisi dorongan moral dari seluruh saudara setanah air di Indonesia. Di negeri orang, orang satu tanah air yang berlainan pulaupun menjadi seperti saudara sendiri. Apalagi yang satu pulau. Satu propinsi. Satu kabupaten. Satu kecamatan. Aku merasa diperhatikan oleh dua ribu lima ratus lebih mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Rasa cintaku pada mereka semakin membulat, juga pada segenap saudara di KBRI.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 250
* * *
Satu hari menjelang sidang Aisha, paman Eqbal, dan Magdi datang membawa seorang pengacara bernama Amru. Dia menginginkan diriku menceritakan semua hal yang kira berkaitan dengan masalah yang sedang aku hadapi. Aku menceritakan semuanya dari kejadian ribut malam itu sampai berita terakhir dari Syaikh Ahmad bahwa Noura telah menemukan orang tuanya yang asli setelah melalui test DNA. Amru dan Magdi akan membantu sekuat tenaga untuk membebaskan aku dari segala tuduhan itu. Semua saksi dan bukti yang kira-kira bisa membela diriku akan dia gunakan. Amru juga mengingatkan diriku agar dalam sidang besok bersikap tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jaksa penuntut akan menggunakan teror kata-kata dan psikologis untuk melemahkan diriku dan menjebakku. Aku mungkin akan sangat dihina oleh kepandaiannya bersilat lidah dan berargumentasi tapi aku tidak boleh terbawa oleh irama permainannya. Kemungkinan besar besok adalah sidang untuk mendengarkan pengakuan Noura dan pengakuanku. Serta teror investigasi dengan perkataan dan pertanyaan di depan sidang. Aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya. Amru tersenyum.
“Meski berliku, aku yakin kebenaran akan menang. Apa pun yang terjadi pada akhirnya kebenaran akan menang. Jangan kuatir, Saudaraku. Nanti malam perbanyaklah shalat dan memohon pertolongan kepada Allah.” Kata Amru mengingatkan. Mereka pamitan. Seperti saat mengunjungi sebelumnya sebelum pergi, Aisha mengajakku ke pojok ruangan. Dia membuka cadarnya agar aku dapat melihat wajahnya. Kami berangkulan dalam tangis.
“Fahri, kuatkanlah dirimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayiku ini lahir tanpa dirimu disisiku.” Isak Aisha yang membuat hatiku bagai diremas-remas. Aku merasa langit-langit ruangan itu basah, dan dinding-dindingnya melelehkan air mata. Kuusap air matanya dengan ujung jilbabnya, pelan kubisikkan padanya sebuah harapan:
Sayang, tancapkan dalam hati
walau tak kini
esok insya Allah terjadi
kita akan bulan madu lagi

Iklan

21 Maret 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: