Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Novel Ayat-Ayat Cinta; 150-200

wallpaper2.jpgAYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 151
14. Badai Kegelisahan
Tiga hari berturut-turut aku shalat istikharah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.87
Maka kuputuskan untuk minta persetujuan ibu. Ibu adalah segalanya bagiku. Jika beliau meridhai maka aku akan melangkah maju. Jika tidak maka aku pun tidak.
Aku telpon ke Indonesia. Ayah dan ibu tinggal jauh di desa. Tak ada telpon di sana. Aku menelpon ke rumah Pak Zainuri, mertua paman yang penilik sekolah dan tinggal di kota kecamatan. Rumah paman tak jauh dari beliau. Selama ini, jika aku ingin menghubungi ayah dan ibu caranya memang lewat Pak Zainuri dulu. Pak Zainuri akan menghubungi paman dan paman akan menghubungi ayah ibu. Kalau aku mengirim surat pun aku lebih suka mengalamatkannya ke rumah Pak Zainuri lebih cepat sampainya. Sebab jika dialamatkan ke desa, suratku bisa bertapa dulu di balai desa, atau di rumah Pak RW dalam waktu tak tentu. Masalah transportasi dan komunikasi global memang agak susah jika hidup di desa.
Kepada paman aku jelaskan semuanya. Siapa Syaikh Utsman dan apa yang beliau tawarkan kepada diriku. Paman adalah orang yang wawasannya luas, ia guru SMP teladan se kabupaten. Paman banyak bertanya tentang seandainya benar-benar menikah dengan muslimah yang bukan dari Indonesia. Aku jelaskan, jika dia gadis yang shalihah semuanya akan mudah. Aku jelaskan pada paman, tidak semua orang mendapatkan tawaran sedemikian terhormatnya dari Syaikh Utsman. Di Indonesia, kalau mendapatkan tawaran untuk menikah dengan anak seorang kiai mushalla saja dianggap suatu keberuntungan yang luar biasa. Juga kujelaskan hasil istikharahku. Aku minta pada paman agar mengajak musyawarah ayah dan ibu. Disamping itu aku juga minta ayah ibu juga melakukan shalat istikharah. Apa pun hasilnya itulah keputusan yang akan aku ambil. Dua hari lagi
87 Dari penggambungan dua petikan sajak Fatin Hamama berjudul ‘Aku ingin ibu’ dan ‘Ibu (3)’ yang terdapat dalam kumpulan puisinya “Papyrus”.
AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 152
pada jam yang sama aku akan menelpon menanyakan hasilnya. Dan aku ingin langsung mendengar dari lisan ibu.
Dua hari kemudian. Pada waktu yang dijanjikan aku menelpon ke tanah air. Aku mendengar suara ibu,
“Jika isterimu nanti mau diajak hidup di Indonesia, tidak terlalu jauh dari ibu, maka menikahlah dan ibu merestui, ibu yakin akan penuh berkah. Tapi jika tidak bisa dibawa ke Indonesia tidak usah, cari saja gadis shalihah yang dari Indonesia!”
Air mataku meleleh mendengar keputusan ibu. Sebuah keputusan yang sangat bijaksana. Aku memang tidak mungkin hidup dan berjuang selain di tanah air tercinta. Hari itu juga aku menemui Syaikh Utsman dan memberitahukan keputusanku. Beliau berpesan agar hari berikutnya datang ke tempat beliau lagi, untuk mengetahui kabar selanjutnya. Hari berikutnya aku datang. Syaikh Utsman menyambutku dengan senyum dan pelukan penuh kehangatan. Aku seperti seorang cucu yang beliau sayangi.
“Semoga gadis shalihah ini menjadi rizkimu di dunia dan di akhirat. Dia siap kau bawa berjuang di mana saja dan walinya menyetujuinya. Ini ada dua album foto dia, kau bawalah pulang! Kau lihat-lihat. Kau istikharah lagi. Jika kau mantap kau akan aku pertemukan dengan gadis shalihah ini dan walinya.”
Aku pulang dengan membawa dua album foto yang kumasukkan dalam tas cangklongku. Aku merasa seperti memikul beban satu ton. Tas cangklong itu terasa berat sekali.
Sampai di kamar aku memegang album itu dengan tangan gemetar, dan hati bergetar. Aku akan melihat wajah calon bidadari yang menemani hidupku selamanya. Aku akan melihat wajah calon belahan jiwa. Tapi entah kenapa aku tidak berani membukanya sama sekali. Dua album itu cuma aku pegang dan tanpa kubuka sedikitpun. Aku tersentak, aku belum tahu namanya. Kenapa tidak aku tanyakan namanya pada Syaikh Utsman? Aku ingin membukanya, siapa tahu di dalam Album itu ada namanya. Tapi urung. Aku tidak berani. Entah kenapa. Aku shalat istikharah, yang datang adalah ibunda tercinta. Beliau berkata singkat, “Menikahlah ibu merestui.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 153
Hari berikutnya aku kembali menemui Syaikh Utsman dan kukatakan kemantapanku untuk menikahi gadis itu. Syaikh Utsman berkata,
“Aku sudah menduga dan aku sangat yakin kau akan mengatakan itu. Aku memang belum melihat gadis itu, tapi isteriku, Ummu Fathi, yang melihat foto-foto dalam album itu memuji-muji kecantikannya. Ummu Fathi malah bilang jika kau sampai tidak mau, maka ia memintaku agar menjodohkan dengan cucuku yang sedang kuliah di Perancis. Aku geli sekali mendengar perkataan Ummu Fathi. Dan kau nanti akan kaget karena tadi malam walinya bilang gadis itu sangat mengenalmu, dan kau mungkin telah mengenalnya. Kau sudah melihatnya, kau mengenalnya bukan?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sama sekali belum melihat album itu dan aku sama sekali tidak tahu namanya. Aku diam saja. Gadis itu jadi rasa penasaran dalam hati yang luar biasa. Aku telah menyatakan kemantapanku tapi aku belum tahu siapa dia. Aku menjadi orang yang paling penasaran di dunia. Syaikh Utsman minta kepadaku agar besok datang tepat setelah shalat Ashar, kalau bisa shalat Ashar di Shubra. Jadwal mengaji qiraah sab’ah diundur hari berikutnya. Besok aku akan dipertemukan dengan gadis itu bersama walinya. Untuk saling melihat dan saling mengenal sebelum kata sepakat untuk akad nikah diputuskan.
Malam itu, malam sepulang dari rumah Syaikh Utsman adalah malam paling menyiksa dalam hidupku. Namun ada kesejukan yang sedemikian lembut mengaliri relung-relung hatiku. Kesejukan itu apa aku tidak tahu namanya. Saiful rupanya sangat memperhatikan kesibukkanku selama ini. Dia bertanya ini itu tapi masalah diriku sedang proses ke gerbang pernikahan sama sekali tidak aku beritahukan padanya, juga pada siapa saja. Malam itu aku tidak bisa tidur, aku menutup kamar, dan berada di kamar seperti orang linglung. Siapa gadis itu? Dia mengenalku dan aku mengenalnya, siapa dia? Jangan-jangan gadis itu bukan gadis Mesir. Aku membodoh-bodohkan diriku kenapa tidak melihat dua album yang telah berada di tanganku. Jangan-jangan dia gadis Indonesia. Walinya tahu aku mengaji pada Syaikh Utsman dan minta agar menjodohkan keponakannya denganku. Tapi, siapa gadis Indonesia yang kecantikannya layak dipuji oleh isteri Syaikh Utsman dan dia memiliki wali di sini?

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 154
Seingatku mahasiswi Indonesia yang disertai kerabatnya hanya ada tiga orang. Raihana disertai kakak kandungnya. Fauzia disertai adiknya. Dan Nurul, ia disertai pamannya, tapi paman jauh. Tiba-tiba hatiku berdesir, jantungku mau copot. Yang paling cantik memang Nurul. Tapi aku merasa itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin. Dia adalah puteri seorang kiai besar, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Dan seorang kiai biasanya telah memilih besan sejak anaknya masih belum bisa berjalan. Tapi kenapa Ustadz Jalal memintaku datang? Aku semakin didera badai kegelisahan yang dahsyat. Aku mengumpat diriku sendiri. Seandainya aku melihat foto dalam album aku tidak akan dirajam penasaran yang menggila ini. Aku berusaha mengurangi rasa gelisah dan penasaran dengan bersujud dan menangis kepada Tuhan. Dalam sujud aku berdoa sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur’an,
“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun wal’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!”88
88 Surat Al-Furqaan: 74

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 155
15. Pertemuan
Aku sampai di masjid Abu Bakar Shiddiq tepat saat azan Ashar berkumandang. Seluruh tubuhku bergetar tidak seperti biasanya. Keringat dinginku keluar. Aku tidak tahu shalatku kali ini khusyuk apa tidak. Yang jelas mataku basah. Dalam sujud aku menangis memohon kepada Allah agar diberi umur yang penuh berkah, pertemuan dengan calon belahan jiwa yang penuh berkah, akad nikah yang penuh berkah, malam zafaf yang penuh berkah, dan masa depan yang penuh berkah. Selesai shalat aku masih duduk menitikkan air mata. Aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan dia. Dia yang aku belum tahu namanya dan belum tahu wajahnya seperti apa. Dia yang telah lama kurindu. Aku minta kekuatan kepada Allah.
Syaikh Utsman menyentuh pundakku beliau tersenyum. Beliau mengajakku ikut serta dalam mobil beliau. Dari masjid Abu Bakar sampai ke rumah beliau memang agak jauh. Syaikh Utsman memiliki seorang sopir bernama Faruq. Selama dalam perjalanan Syaikh Utsman bercerita masa mudanya dulu. Beliau dan Ummu Fathi asalnya juga tidak saling kenal. Bertemu dalam majlis khitbah. Dan cinta itu hadir begitu saja setelah akad nikah, begitu kuatnya.
“Anakku, kau pasti panas dingin sekarang. Iya ‘kan? Aku dulu juga merasakan hal yang sama. Dalam perjalanan bersama keluarga ke rumah Ummu Fathi, untuk bertemu pertama kalinya sekaligus khitbah hatiku berdesir, jantungku berdegup, keringat dingin keluar. Tapi itulah saat-saat yang tak terlupakan. Dan ketika kami bertemu. Ummu Fathi keluar mengeluarkan minuman dengan tangan bergetar. Mata kami sekilas bertemu dan hati diliputi rasa malu yang luar biasa. Itu adalah kenikmatan luar biasa. Kenikmatan istimewa yang jarang dirasakan anak muda sekarang, kecuali yang benar-benar menjaga diri dan menjaga hubungan lelaki perempuan dalam adab-adab syar’i. Kulihat mukamu pias, kau pasti sedang panas dingin. Anakku, tunggulah nanti sebentar lagi ketika kau sudah duduk di ruang tamu dan gadis itu masuk bersama walinya kau akan merasakan panas dingin yang luar biasa. Panas dingin yang belum pernah kau rasakan. Apalagi kala kau dan dia nanti sesekali mencuri pandang. Suasana hatimu tidak akan bisa kau lupakan seumur hidupmu. Inilah keindahan Islam. Dalam Islam

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 156
hubungan lelaki perempuan disucikan sesuci-sucinya namun tanpa mengurangi keindahan romantisnya.” Kata-kata Syaikh Utsman menambah tubuhku semakin dingin. Syaikh Utsman seperti masih muda. Beliau juga menasihatiku agar majelis pertemuan nanti benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengenalkan diri dan mengenal gadis itu. Syaikh Utsman dan wali gadis itu hanya akan menjadi pembawa acara.
* * *
Memasuki ruang tamu Syaikh Utsman kakiku seperti lumpuh. Aku hampir tidak bisa mengangkat kakiku. Tubuhku gemetar. Ruang tamu yang penuh dengan kitab-kitab klasik ini akan menjadi saksi penting dalam sejarah hidupku. Syaikh Utsman mempersilakan aku duduk di sofa busa yang menghadap ke barat. Di sebelah selatan ada sofa panjang menghadap utara untuk dua orang. Di sebelah barat ada sofa menghadap ke timur untuk satu orang. Di sebelah utara ada dua sofa menghadap ke selatan. Pintu ada dekat tempat aku duduk.
Ummu Fathi keluar membawa nampan berisi dua gelas air putih. Untuk kami berdua. “Anakku, ayo diminum dulu. Kau tampaknya kehausan,” ucap Syaikh Fathi. Aku meneguk sedikit. “Lima menit lagi, mereka insya Allah datang!” sambung beliau. Jantungku berdegup kencang. Panas dingin tubuhku semakin kuat terasa. Aku banyak beristighfar di dalam hati untuk menenangkan diri.
Bel berbunyi.
“Itu mereka datang. Kau tetaplah duduk di tempatmu!” kata Syaikh Fathi. Aku tidak bisa lagi menangkap nuansa yang menyergap hatiku. Berbagaimacam perasaan bercampur menjadi satu; penasaran, rindu, malu, gugup, takut, cemas, tidak percaya diri, optimis, senang, dan bahagia. Ummu Fathi mengambil dua gelas berisi air putih itu. Sementara Syaikh Fathi beranjang membukakan pintu.
Suara pintu di buka. Aku sama sekali tidak berani memandang ke arah pintu yang hanya dua meter di sampingku.
“Assalamu’aikum!” Hatiku berdesir keras. Suara lelaki. Bukan suara orang Indonesia, tapi suara itu memang sangat khas dan aku sangat mengenalnya. Aku masih menunduk.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 157
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah. Ahlan wa sahlan. Ayo masuk! Fahri, berdirilah sambutlah calon pamanmu!” Suara Syaikh Utsman membuatku tergagap. Aku berdiri. Dan….
Subhanallah!
Lelaki yang berdiri di hadapanku adalah Eqbal Hakan Erbakan. Dia tersenyum padaku. Hatiku terasa dingin sekali. Aku berusaha tersenyum. Aku tak tahu seperti apa raut mukaku. Aku sungguh-sungguh terkejut. Kami berangkulan erat sekali. “Kaif halak ya ‘aris!” Eqbal membisikkan kata sapaan padaku, yang dalam kata sapaan ada kata-kata yang menggoda. Dia sudah memanggilku ‘ya ‘aris’, wahai pengantin pria.
“Alhamdulillah,” lirihku.
Di belakang Eqbal ada dua perempuan bercadar dan dua anak kecil yang lucu. Aku kenal dengan dua anak kecil itu. Amena dan Hasan. Amena membawa boneka panda. Aku jadi teringat itu boneka yang kutitipkan lewat Aisha. Dan Hasan membawa pistol air mainan. Dua perempuan bercadar itu menatapku sekilas, lalu beranjak menyalami Ummu Fathi. Mereka berpelukan bergantian. Eqbal menarik tangan Amena dan Hasan agar bersalaman denganku. Aku berjongkok. Melihat Amena dan Hasan yang lucu rasa grogiku sedikit berkurang. Aku cium kening Amena yang baru berumur lima tahun itu juga kening Hasan yang baru tiga tahun. Eqbal minta pada Amena untuk berterima kasih padaku atas hadiahnya.
“Syuklon alal hadieh el jamileh, Am…amu Andonesy.”89 Lirih Amena terbata-bata dengan suara agak cedal. Kontan Syaikh Utsman tertawa. Aku tersenyum saja.
Ummu Fathi, isteri Syaikh Utsman mempersilakan yang bernama Aisha agar duduk di sofa yang menghadap ke timur. Dan mempersilakan isteri Eqbal duduk di dekat Aisha, sofa yang menghadap ke selatan. Beliau sendiri duduk tepat di depannya. Syaikh Utsman duduk di sampingnya, dekat denganku. Dan Eqbal duduk berhadapan dengan Syaikh Utsman, juga berdekatan denganku. Si kecil Amena duduk di pangkuan ibunya. Dan si kecil Hasan berdiri di depan ayahnya.
89 Terima kasih atas hadiahnya yang cantik, Paman dari Indonesia.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 158
Pembicaraan di mulai. Jantungku mulai berdegup kencang. Tubuhku panas dingin. Kini aku tahu gadis itu adalah Aisha. Keponakan Eqbal Hakan Erbakan. Syaikh Utsman benar, Aisha telah mengenalku dan aku telah mengenalnya. Perkenalan yang begitu singkat. Aisha mungkin tahu banyak tentang diriku. Ia mungkin telah mendapat banyak info dari Eqbal. Sebab selama bersahabat dengan Eqbal dan selama i’tikaf di masjid Helmeya Zaitun kami sudah seperti keluarga sendiri. Eqbal banyak cerita tentang dirinya dan keluarganya. Masa kecilnya. Bagaimana bisa ke Mesir. Bagaimana bisa menikah dengan Sarah yang kini jadi isterinya. Sarah yang dari keluarga konglomerat Turki namun sangat kuat penghayatannya atas Islam. Aku pun telah cerita banyak pada Eqbal. Tentang keluargaku yang miskin. Tentang bagaimana diriku datang ke Mesir dengan menjual sawah warisan kakek. Harta satu-satunya yang dimiliki keluarga. Tentang awal-awal di Mesir yang penuh derita. Tak ada beasiswa. Tak ada pemasukan. Kerja membantu Bang Aziz mendistribusikan tempe ke rumah-rumah mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia. Jualan beras dengan cara mengambil beras dari pelosok Mesir seperti Zaqaziq dan menjual ke teman-teman mahasiswa. Dan lain sebagainya. Aisha mungkin telah tahu banyak tentang diriku, tapi aku apa yang aku ketahui tentang dirinya. Melihat mukanya saja belum.
Sarah, isteri Eqbal berbicara dengan Ummu Fathi. Sesekali Syaikh Fathi dan Eqbal menimpali. Sarah menceritakan siapa Aisha ini.
Aku memandang ke arah Aisha, pada saat yang sama dua matanya yang bening di balik cadarnya juga sedang memandang ke arahku. Pandangan kami bertemu. Dan ces! Ada setetes embun dingin menetes di hatiku. Kurasakan tubuhku bergetar. Aku cepat-cepat menundukkan kepala. Dia kelihatannya melakukan hal yang sama. Kukira Aisha tidak setegang diriku, sebab dia merasa lebih santai. Wajahnya tersembunyi di balik cadarnya. Sementara diriku, aku tidak tahu seperti apa bentuk mukaku. Aku harus mencari cara untuk menghilangkan ketegangan ini. Si kecil Hasan memandangi aku. Aku tersenyum padanya. Kutarik dia ke pangkuanku. Dia menurut.
Dengan adanya Hasan di pangkuanku aku jadi merasa lebih nyaman. Aku bisa membelai-belai rambutnya. Hasan anak yang penurut. Kelihatannya ia benar-benar masih ingat padaku. Sesekali ia berceloteh dan aku menanggapi lirih sambil

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 159
mencium kepalanya gemas. Dan di balik cadar, mata bening Aisha memperhatikan apa yang aku lakukan.
“Ini adalah majelis ta’aruf90 untuk dua orang yang sedang berniat untuk melangsungkan pernikahan. Menurut ajaran nabi, seorang pemuda boleh melihat wajah perempuan yang hendak dinikahinya. Untuk melihat daya tarik dan untuk menyejukkan hati. Maka lebih baiknya Anakku Aisha membuka cadarnya. Meskipun Fahri sudah melihat wajahmu lewat album foto. Tetapi dia harus melihat yang asli sebelum melangsungkan akad nikah. Bukankah begitu Ummu Amena?” Kata-kata Ummu Fathi ini membuat jantungku berdesir. Sebentar lagi Aisha akan menanggalkan cadarnya, dan aku..masya Allah..aku akan melihat wajah calon isteriku.
Aku memandang Aisha. Dia memandangku lalu menunduk. Kelihatannya dia sangat malu dan salah tingkah.
“Aisha, bukalah cadarmu! Calon suamimu berhak melihat wajah aslimu,” desak Sarah, bibinya.
Sambil mendekap Hasan aku menyaksikan tangan kanan Aisha perlahan-lahan membuka cadarnya. Ada hawa sejuk mengalir dari atas. Masuk ke ubun-ubun kepalaku dan menyebar ke seluruh syaraf tubuhku. Wajah Aisha perlahan terbuka. Dan wajah putih bersih menunduk tepat di depanku. Subhanallah. Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat diseluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang Maha Kuasa. Aku benar-benar merasakan saat-saat yang istimewa. Saat-saat untuk pertama kali melihat wajah Aisha.
“Bagaimana apakah kalian sudah benar-benar siap membangun rumah tangga berdua?” Pertanyaan Syaikh Fathi membuat diriku mendongakkan kepala. Aisha juga melakukan hal yang sama. Pandangan kami bertemu. Dan ces! Hatiku seperti ditetesi embun dingin dari langit. Entah hati Aisha. Lalu kami kembali menundukkan kepala. Aku diam tidak menjawab.
90 Perkenalan

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 160
“Akh Fahri, bagaimana, kau siap menerima Aisha sebagai isterimu?” tanya Eqbal dengan suara tegas. Aku malah meneteskan air mata.
“Akh Eqbal, semestinya bukan aku yang kau tanya. Tanyalah Aisha, apakah dia siap memiliki seorang suami seperti aku? Kau tentu sudah tahu siapa aku. Aku ini mahasiswa yang miskin. Anak seorang petani miskin di kampung pelosok Indonesia,” jawabku terbata-bata sambil terisak. “Apakah aku kufu dengannya? Aku merasa tidak pantas bersanding dengan keponakanmu itu. Aku tidak ingin dia kecewa di belakang hari,” lanjutku.
“Baiklah, biar Aisha sendiri yang menjawabnya. Bicaralah Aisha, jangan malu,” ujar Eqbal.
Aku mencuri pandang melihat Aisha. Ia menundukkan kepalanya. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak.
“Baiklah, aku akan bicara dari hatiku yang terdalam. Fahri, dengan disaksikan semua yang hadir di sini, kukatakan aku siap menjadi pendamping hidupmu. Aku sudah mengetahui banyak hal tentang dirimu. Dari Paman Eqbal, dari Nurul dan orang-orang satu rumahnya. Dari Ustadzah Maemuna isteri Ustadz Jalal. Dari Ruqoyya, isteri Aziz. Aku akan sangat berbahagia menjadi isterimu. Dan memang akulah yang meminta Paman Eqbal untuk mengatur bagaimana aku bisa menikah denganmu. Akulah yang minta.” Aisha menjawab dengan bahasa Arab fusha yang terkadang masih ada sususan tata bahasa yang keliru namun tidak mengurangi pemahaman orang yang mendengarnya. Suaranya terasa lembut dan indah, lebih lembut dari suaranya saat berkenalan di Metro dan beberapa kali bertemu, di Tahrir dan di National Library. Aku tidak tahu kenapa. Apakah karena aku kini telah jatuh cinta padanya? Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan semoga juga yang terakhir kalinya.
“Bagaimana Fahri, Kau sudah mendengar sendiri dari Aisha, sekarang kau bagaimana?” ujar Eqbal sambil memandang ke arahku. Semua mata tertuju ke arahku, kecuali mata si kecil Amena dan Hasan. Aku memberanikan diri untuk menatap wajah Aisha, agak sedikit lama. Aisha memandangku, ia menanti jawabanku. Aku merasa tak mampu menahan air mata yang meleleh.
“Jika Aisha sedemikian mantapnya dan percaya padaku, maka, bismillah, aku pun mantap menerima Aisha untuk jadi isteriku, pendamping hidupku dan ibu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 161
dari anak-anakku, aku akan sepenuh hati percaya padanya,” kataku dengan suara parau bergetar, dengan mata tetap menatap Aisha. Aku melihat mata Aisha berkaca-kaca. Suasana hening dan haru menyelimuti ruangan itu.
“Aku jadi teringat lima puluh tahun yang lalu, saat mengkhitbah Ummu Fathi, suasananya tak jauh berbeda. Penuh dengan perasaan cinta dan nuansa indah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.” Suara Syaikh Utsman memecahkan keheningan dan keharuan. Syaikh Utsman lalu bercerita tentang hari-hari pertamanya membangun rumah tangga. Banyak hal lucu penuh hikmah yang beliau kisahkan. Terkadang Ummu Fathi yang juga sudah tua menyela. Suasana jadi lebih hidup.
Pembicaraan terus berlanjut ke masalah kami berdua, masalah diriku dan masalah Aisha. Syaikh Utsman mampu menggiring kami untuk membuka diri. Aku berterus terang tentang sakitku sebulan yang lalu. Aisha membuka dirinya pernah sakit Asma. Aku ungkapkan kembali persyaratan ibuku, bahwa isteriku mau tidak mau harus hidup dan berjuang di Indonesia.
“Diriku sudah aku wakafkan di jalan Allah. Aku siap hidup dan berjuang di mana saja mendampingi perjuangan suamiku tercinta.” Tegas Aisha tanpa ragu sedikitpun.
Kami lalu berbicara tentang harapan masing-masing. Cita-cita dan idealisme masing-masing. Aku merasa apa yang diharapkan dan dicita-citakan Aisha tidak ada yang berseberangan jauh dengan apa yang aku harapkan dan aku cita-citakan. Dia ingin suami yang sepenuh hati mencintainya, menjadikan dirinya satu-satunya isterinya, setia dalam suka dan duka, perhatian pada keluarga, dan tidak melalaikan tugas berjuang di jalan Allah. Itu adalah juga yang aku inginkan dari isteriku. Aku ingin isteri yang shalihah, setia dan tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.
Setelah pembicaraan berlangsung lama, rasa canggung tidak lagi penghalang untuk mengungkapkan segala yang ingin diungkapkan. Aku bahkan tanpa perlu malu, dan dengan penuh keterus-terangan membuka kemampuanku mencari nafkah saat ini. Andalanku adalah terjemahan. Dan karena sedang konsentrasi penulisan tesis, aku tidak bisa menerjemah sebanyak yang kemarin.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 162
Aku jelaskan nominal yang kira-kira masuk tiap bulan. Itu pun terkadang terlambat pembayarannya. Juga uang yang aku punya saat ini.
Aisha menjawab dengan tenang,
“Alhamdulillah aku sudah mempelajari sifat perempuan Jawa. Aku sangat kagum pada mereka. Mereka adalah perempuan yang sangat setia, dan peduli pada keluarga. Di Jawa seorang isteri terlibat sepenuhnya dalam masalah keluarga. Isteri ikut memikirkan bagaimana dapur mengepul. Perempuan Jawa bisa hidup sederhana. Seperti Fatimah Zahra puteri Rasulullah bisa hidup sangat sederhana, yang mengambil air dan membuat roti sendiri. Padahal dia puteri seorang nabi agung. Aku siap untuk hidup seperti Fatimah Zahra. Aku sudah meneliti mahasiswa Indonesia, khususnya dari Jawa yang berkeluarga di Cairo. Mereka hidup sangat sederhana. Mengatur uang yang ada sebaik-baiknya. Saling melengkapi. Aku siap hidup seperti mereka. Menurut Ruqoyya isteri seorang mahasiswa bernama Aziz yang berjualan tempe. Dengan uang 150 dollar ia sudah bisa hidup normal meskipun sangat sederhana dengan menyewa rumah yang sederhana. Aku bahkan siap untuk hidup lebih buruk dari itu. Aku siap dalam suka maupun duka.”
Aku mantap dengan apa dengar dari Aisha. Semoga apa yang ia katakan adalah apa yang keluar dari hatinya. Kata-kata adalah cermin jiwa.
Lalu aku mengutarakan masalah cadar yang dipakai Aisha. Bukan aku tidak setuju atau menentangnya. Tapi untuk fiqh dakwah di Indonesia lebih hikmah tidak pakai cadar. Aku jelaskan kondisi masyarakat di desaku dan sekitarnya. Perempuan bercadar akan dianggap sangat aneh dan mencurigakan.
“Jangan kuatir. Aisha dan Sarah isteriku adalah muslimah-muslimah moderat. Itu tidak akan menjadi masalah. Sarah sendiri kalau pulang ke Turki tidak memakai cadar. Menurut mayoritas Ulama, menutup wajah bagi perempuan tidak wajib. Yang wajib adalah menutup seluruh aurat kecuali telapak tangan dan wajah,” jelas Eqbal.
“Ya. Paman Eqbal benar,” sahut Aisha.
Setelah segala yang bersifat pribadi dirasa cukup, dan kami merasa benar-benar akan bisa menjadi pasangan hidup yang serasi, bisa saling mengisi dan melengkapi, pembicaraan berlanjut ke masalah akad nikah dan pesta walimatul

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 163
‘ursy. Aisha ingin akad dan pesta dilaksanakan secepatnya. Setelah dikalkulasi dan timbang paling cepat akad dilaksanakan satu minggu lagi dan pestanya dua hari setelahnya. Akhirnya ditetapkan akad nikah akan dilaksanakan Jum’at depan, tanggal 27 Sepetember, di masjid Abu Bakar Shiddiq setelah shalat Ashar. Karena nantinya Aisha akan tinggal di Indonesia, maka aku harus mengurusi segalanya yang berkaitan dengan dokumen pernikahan yang diakui di Indonesia. Aku jelaskan itu mudah. Eqbal akan melengkapi semua dokumen Aisha yang diperlukan untuk Kedutaan Besar Republik Indonesia. Aisha bilang ia juga akan mencatatkan pernikahannya ke kedutaan Jerman.
Aisha meminta agar uang yang aku miliki saat ini disiapkan untuk mahar dan pengurusan surat nikah KBRI. Adapun biaya yang lainnya biar paman Eqbal yang mengurusi. Tempat pesta walimatul ursy juga ditetapkan saat itu juga. Yaitu di Darul Munasabat91 masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Itu adalah tempat yang paling cocok. Letaknya strategis. Dekat dengan tempat tinggal umumnya mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Turki. Jumlah orang indonesia yang akan diundang sekalian di tentukan. Tentunya undangan terbatas. Karena di pihak Aisha juga mengundang orang Turki. Undangan disesuaikan dengan kapasitas tempat duduk. Jenis hidangan yang disajikan juga ditetapkan. Tidak terlalu mewah tapi juga tidak terlalu sederhana. Yang dicari adalah barakahnya.
Malam zafaf juga ditentukan. Tidak setelah akad, tapi setelah walimah. Tempatnya di mana, Aisha dan Sarah yang akan merancangnya. Aku diminta tinggal menerima jadi saja. Sebab suasana kamar pengantin akan dibuat suasana Turki. Sarah adalah seorang da’iyah di kalangan mahasiswi Turki, karenanya aku yakin meskipun di tata ala Turki tapi tidak akan menyimpang dari sunnah nabi.
Saat itu juga Eqbal mengukur tubuhku untuk mencari pakaian pengantin yang akan dipakai saat walimah nanti. Sesuai keinginan Aisha, rencananya kami berdua akan memakai busana pengantin muslim Turki. Hal-hal seperti itu bagiku tidak ada masalah. Semua panitia akan ditangani oleh teman-teman dari Turki. Eqbal hanya minta bantuan beberapa orang untuk penyambut tamu dan penyaji hidangan.
91 Auditorium, balai pertemuan.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 164
Perbincangan selesai tepat saat azan maghrib berkumandang. Sore itu sejarah baru hidupku telah dirancang dengan matang. Aisha sempat tersenyum padaku sebelum ia dan keluarganya meninggalkan ruang tamu Syaikh Utsman. Aku tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku yang membuncah memenuhi segenap ruang hatiku. Aku melangkahkan kaki dengan perasaan bahagia tiada terkira, meskipun aku tidak mengingkari ada sedikit rasa cemas. Cemas yang terlahir dari kekurangpercayaan pada apa yang aku alami. Yang aku alami tadi sungguhkah kejadian nyata ataukah sekadar mimpi belaka? Terkadang orang yang terlalu bahagia melihat apa yang dialaminya seperti mimpi. Terkadang waktu berjalan sedemikian cepatnya tanpa memberi kita kesempatan untuk berpikir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada diri kita sendiri.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 165
16. Cobaan
Teladan orang-orang yang bercinta adalah Baginda Nabi. Cinta sejati adalah cintanya sepasang pengantin yang telah diridhai Tuhan dan didoakan seratus ribu malaikat penghuni langit. Tak ada perpaduan kasih lebih indah dari pernikahan, demikian sabda baginda Nabi.
Setelah melihat Aisha yang tiada lain adalah calon bidadariku, belahan jiwa yang akan mendampingi hidupku, tak bisa kupungkiri aku didera rasa cinta yang membuncah-buncah. Inilah cintaku yang pertama, dan Aisha adalah gadis pertama yang menyentuh hatiku dan menjajahnya.
Waktu di Aliyah dulu, aku pernah naksir pada seorang gadis tapi tak pernah sampai menyentuh hati. Tak pernah sampai merindu dendam. Aku bahkan tak punya keberanian untuk sekadar menyapanya atau mengingat namanya. Diriku yang saat itu hanya berstatus sebagai khadim romo kiai, batur para santri, tak berani sekadar mendongakkan kepala kepada seorang santriwati.
Juga selama di Kairo, sampai Aisha membuka cadarnya di rumah Syaikh Utsman. Kuakui ada satu nama yang membuatku selalu bergetar bila mendengarnya, namun tak lebih dari itu. Aku merasa sebagai seekor punguk dan seluruh mahasiswi Indonesia di Kairo adalah bulan. Aku tidak pernah berusaha merindukannya. Dan tak akan pernah kuizinkan diriku merindukannya. Karena aku merasa itu sia-sia. Aku tak mau melakukan hal yang sia-sia dan membuang tenaga.
Aku lebih memilih mencurah seluruh rindu dendam, haru biru rindu dan deru cintaku untuk belajar dan menggandrungi Al-Qur’an. Telah kusumpahkan dalam diriku, aku tak akan mengulurkan tangan kepada seorang gadis kecuali gadis itu yang menarik tanganku. Aku juga tak akan membukakan hatiku untuk mencintai seorang gadis kecuali gadis itu yang membukanya. Bukan suatu keangkuhan tapi karena rasa rendah diriku yang selalu menggelayut di kepala. Aku selalu ingat aku ini siapa? Anak petani kere. Anak penjual tape. Aku ini siapa?
aku adalah lumpur hitam
yang mendebu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 166
menempel di sepatu dan sandal
hinggap di atas aspal
terguyur hujan
terpelanting
masuk comberan
siapa sudi memandang
atau mengulurkan tangan?
tanpa uluran tangan Tuhan
aku adalah lumpur hitam
yang malang
Tuhan telah mengucapkan kun! Lumpur hitam pun dijelma menjadi makhluk yang dianugerahi kenikmatan cinta yang membuncah-buncah dan rindu yang berdebam-debam. Seorang bidadari bermata bening telah disiapkan untuknya. Fa bi ayyi alaai Rabbikuma tukadziban! Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari
yang baik-baik lagi cantik-cantik.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.
Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.92
Belum juga masuk surga, Tuhan telah begitu pemurah memperlihatkan seorang bidadari yang baik dan cantik, bidadari yang putih bersih bernama Aisha. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakan yang kamu dustakan?
Maka tiada henti menangis kepada Tuhan, merasa terlalu agung anugerah yang dilimpahkan oleh-Nya kepadaku yang lumpur hitam. Mengiba-iba kepadaNya kiranya anugerah ini bukan bentuk istidraj, bukan bentuk nikmat yang sejatinya azab. Dalam sujud tangis di keheningan malam kuisakkan seribu doa dari ratapan jiwa. Doa Adam, doa Ibrahim, doa Ayyub, doa Ya’qub, doa Daud, doa Sulaiman, doa Zakariya, doa Muhammad, doa seribu nabi, doa seribu wali,
92 Surat Ar-Rahman: 70-73.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 167
dan doa seribu sufi yang telah mereguk cinta hakiki dan melahirkan sejuta generasi rabbani.
* * *
Dua hari menjelang hari H, barulah teman-teman satu rumah aku beritahu. Semua urusan di KBRI sudah selesai. Mahar telah aku beli; seuntai kalung, sebuah cincin dan mushaf mahar. Aku juga telah membeli satu stel jas yang pantas. Aku meminta kepada teman-teman untuk mengundang teman-teman terdekat. Tak lebih dari empat puluh orang. Mohon kesediaan datang di acara akad nikah Jum’at depan, di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Shubra El-Khaima.
Seperti biasa Rudi nyeletuk, “Nurul dkk. diundang nggak Mas?”
“Untuk akadnya tidak usah. Tapi walimahnya ya,” jawabku dengan tegas. Sebagai kabar gembira kuberitahukan pada teman-teman bahwa Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) secara khusus telah kuminta untuk menjadi saksi, dan beliau telah menyatakan kesediaannya. Aku juga minta pada teman-teman untuk mengundang dua ratus orang. Seratus lima puluh putera dan lima puluh puteri untuk datang di acara walimatul ‘ursy. Teman-teman satu rumah sepertinya masih tidak percaya pada apa yang aku kabarkan. Namun mereka mau tidak mau harus percaya sebab aku tidak pernah main-main untuk urusan serius.
Aku datangi rumah Tuan Boutros. Kosong.
Saiful bilang, saat aku dua hari tidak di rumah, Tuan Boutros sekeluarga pergi rekreasi ke Pantai Hurgada. Dua hari yang lalu aku memang sibuk di Nasr City membantu teman-teman Turki mempersiapkan segalanya. Aku merasa tidak lengkap jika sampai pesta walimatul ursy nanti keluarga Tuan Boutros tidak menyaksikan. Mereka adalah orang terdekat selama tiga tahun ini. Aku mencoba menghubungi nomor handphone Maria. Jawabannya, nomor yang anda hubungi sedang berada di luar area! Sedih! Aku minta pada Rudi agar terus mencoba menghubungi Maria, memberitahukan acara paling bersejarah dalam hidupku ini pada keluarganya. Mohon mereka bisa datang pada saat pesta walimah.
Yang aku belum bisa mengerti adalah di manakah nanti aku setelah menikah? Aku telah berusaha menyewa rumah di Hayyu Tsamin tapi Eqbal tidak mengizinkannya. Katanya rumahnya telah disiapkan oleh Aisha. Aku ingin tahu rumahnya di mana dan sewanya perbulan berapa, tapi dia juga tidak mau

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 168
memberitahukannya, katanya biar surprise sesuai permintaan Aisha. Yang jelas, kata dia, rumah itu memang sangat layak untuk tinggal memadu kasih bersama Aisha. Aku pasrah saja, aku tidak meragukan ketulusan mereka.
Satu hari menjelang akad nikah Eqbal dan dua orang Turki datang dengan membawa mobil pick up. Dia bilang akan mengangkut barang-barangku untuk di tata di rumah baru. Aisha yang memintanya. Komputer, beberapa stel pakaian, dan puluhan jilid buku dan kitab penting diangkut. Aku tidak boleh ikut.
“Insya Allah, semuanya akan beres dan aman. Saat ini kau adalah raja yang tidak boleh susah. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan jangan lupa selesai shalat Jum’at kau langsung ke rumahku di Maadi. Kita akan berangkat ke Shubra bersama,” kata Eqbal yang sebentar lagi harus kupanggil paman.
Ketika melihat kamarku yang berubah dan kehilangan banyak isinya aku menitikkan air mata. Waktu terus berjalan. Manusia tidak bisa menentang perubahan. Tak lama lagi aku akan meninggalkan kamar tercinta ini. Aku akan meninggalkan teman-teman dan membuka lembaran hidup baru bersama seorang isteri bernama Aisha.
berjalan di titian kodrat
(apa yang harus kita katakan)
jika berharap Dia menentukan93
* * *
Ketika fajar Jum’at merekah di ufuk timur, aku berkata dalam hati, “Inilah hariku.” Tiada sabar rasanya menunggu ashar tiba. Matahari seperti diganduli malaikat. Hari terasa berat. Waktu sepertinya berjalan begitu lambat.
Usai shalat shubuh teman-teman telah bersiap. Mereka kubagi tugas. Rudi shalat Jum’at di Masjid Indonesia menjadi petunjuk jalan bagi Pak Atdikbud. Mishbah ke Wisma Nusantara menjadi petunjuk jalan bagi bus yang disediakan untuk teman-teman undangan. Jarak Nasr City-Shubra tidak dekat. Sedangkan Hamdi dan Saiful nanti begitu selesai shalat Jum’at langsung ke Shubra. Aku sendiri usai shalat Jum’at langsung ke rumah Eqbal Hakan Erbakan.
93 Dipetik dari sajak berjudul ‘Tuhan dan Titahnya’ karya Fatin Hamama.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 169
Pukul delapan tepat telpon berdering, kukira dari Eqbal. Ternyata tidak. Dari Ustadz Jalal. Katanya beliau dan isterinya telah sampai di mahattah metro Hadayek Helwan. Beliau datang untuk membicarakan masalah yang dulu pernah beliau pesankan melalui Nurul. Kuminta Saiful untuk menjemput Ustadz Jalal. Aku jadi merasa tidak enak tidak mengundang beliau secara langsung untuk menghadiri akad nikah. Kutanyakan pada teman-teman apakah undangan walimah untuk beliau sudah sampai. Tidak tahu, mungkin belum, sebab undangan itu dititipkan pada Mas Khalid. Dan rencananya Mas Khalid akan menyampaikannya usai shalat Jum’at nanti. Meskipun terkesan sangat mepet dan mendadak terpaksa nanti Ustadz Jalal akan kumohon untuk datang ke acara akad nikah.
Ustadz Jalal dan ustadzah Maemuna, isterinya, sampai dengan wajah cerah. Mereka datang cuma berdua, tidak membawa ketiga anak mereka.
“Mana keponakan-keponakan ku Ustadz? Kenapa tidak dibawa serta?” tanyaku basa-basi.
Hamdi datang dengan nampan berisi tiga gelas teh Arousa panas dan satu piring roti bolu. Entah dapat bolu dari mana anak itu.
“Sekali-kali kami ingin bepergian berdua tanpa diganggu anak-anak. Biar bisa sedikit mesra. Pagi ini kami benar-benar menikmati perjalanan dengan metro. Dari Ramsis sampai Hadayek Helwan sepi, hawanya juga sejuk,” jawab Ustadz Jalal.
“Mereka ditinggal sendirian di rumah?” heranku.
“Tidak. Kebetulan Nurul dan teman-temannya usai shalat shubuh tadi datang ke rumah. Jadi mereka yang menjaga,” sahut Ustadzah Maemuna.
“O begitu, syukurlah. Ngomong-ngomong Ustadz dan Ustadzah menyempatkan untuk berkunjung kemari ada yang bisa saya bantu?” ucapku.
Ustadz Jalal memberi tahu ada masalah sangat penting dan rahasia yang ingin beliau bicarakan denganku. Beliau minta tempat yang aman. Kubawa beliau dan Ustadzah Maemuna ke dalam kamarku yang berantakan. Pintu kututup rapat.
“Kok berantakan begini. Komputermu dan kitab-kitabmu tidak ada. Mau pindahan nih, atau malah sedang pindahan?” komentar Ustadz Jalal.
“Nanti setelah masalah Ustadz selesai akan aku ceritakan, insya Allah. Silakan Ustadz bicara,” jawabku.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 170
“Kami berdua datang kemari memohon bantuanmu menyelesaikan suatu masalah serius. Tidak masalah kami sebenarnya, tapi masalah seseorang yang dekat dengan kami. Dan yang paling tepat untuk kami minta pertolongan adalah engkau, Fahri. Kami sangat berharap engkau bisa membantu,” kata Ustadz Jalal.
“Kau saya diberi kemampuan untuk itu. Insya Allah. Masalah apa itu Ustadz?”
“Ini masalah serius yang mengancam jiwa Nurul?”
Mendengar hal itu pikiranku langsung tertuju pada buntut peristiwa Noura bersembunyi di rumah Nurul. Jangan-jangan Si Muka Dingin Bahadur tahu itu dan memperkarakannya, tapi kalau itu masalahnya kenapa diriku tidak ikut diperkarakan? .
“Bagaimana jiwa Nurul bisa terancam Ustadz? Apa yang terjadi padanya, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”
“Kau tahu Nurul adalah puteri tunggal Bapak KH. Ja’far Abdur Razaq, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Selain cantik dia juga cerdas dan halus budi. Sejak masih kelas satu aliyah sudah banyak kiai besar yang melamar Nurul untuk puteranya. Nurul tidak mau. Ketika akhirnya Nurul belajar di Al Azhar pinangan itu justru semakin banyak. Kiai Ja’far ayah Nurul berkali-kali menelpon Nurul agar segera menentukan pilihan pendamping hidupnya. Beliau merasa sangat tidak enak menolak pinangan terus menerus. Apalagi jika pinangan itu datangnya jadi kiai yang lebih senior dari beliau atau dari guru beliau. Jika Nurul sudah tunangan atau menikah dengan seseorang yang dipilihnya tentu kedua orang tua Nurul akan lebih tenang. Dan jika berjumpa dengan para kiai-kiai di Jawa Timur tidak akan terbebani oleh sindiran-sindiran halus dari para kiai yang meminang puterinya. Dua bulan yang lalu ayahnya menelpon ada pinangan dari Kiai Rahmad untuk puteranya Gus Anwar. Kiai Rahmad ini adalah gurunya ayah Nurul waktu mondok di Bandar Kidul Kediri. Ayah Nurul tidak bisa menolaknya kecuali Nurul sudah memiliki seorang calon di Mesir. Jika tidak, maka Nurul terpaksa harus menerima pinangan itu. Inilah masalahnya.”
“Nurul sendiri bagaimana? Saya mendengar ada beberapa mahasiswa yang suka dengannya.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 171
“Memang ada beberapa mahasiswa yang mendekati dia secara baik-baik. Ada yang secara langsung. Ada juga yang lewat kami atau teman satu rumahnya. Tapi tak ada yang cocok di hatinya. Ternyata sejak dua tahun yang lalu diam-diam Nurul telah kagum dan jatuh hati pada seseorang. Tapi sayangnya Nurul tidak berani mengungkapkannya karena rasa malunya yang tinggi. Ia berharap orang yang dicintainya terbuka hatinya dengan dan meminangnya tapi sepertinya orang yang dicintainya tidak tahu kalau Nurul mencintainya. Rasa cinta Nurul padanya membuncah dan tak bisa dia sembunyikan sejak dua bulan yang lalu. Sejak ayahnya menelponnya untuk menerima Gus Anwar atau mencari calon sendiri di Mesir yang shalih. Saat itu dia menangis pada isteriku. Ia mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia minta kepada isteriku untuk membantunya. Isteriku memberi saran untuk berterus terang saja pada orang yang dicintainya itu. Tapi Nurul tidak mau, ia sangat malu. Nurul minta pada isteriku agar aku yang bicara dengan orang itu. Aku sangat sibuk sekali dan aku merasa tidak tepat untuk bicara pada orang yang dicintai Nurul itu. Akhirnya aku merasa aku perlu minta bantuanmu. Kau sangat dekat dengan orang itu. Sudah berkali-kali Nurul bertanya padaku bagaimana hasilnya. Aku tidak bisa menjawabnya. Sebab aku belum bertemu denganmu. Kau sibuk aku pun sibuk. Baru kali ini aku bisa bertemu denganmu. Aku sangat berharap kau bisa membantu.”
“Asal saya mampu, insya Allah Ustadz. Dia mahasiswi yang baik. Saya salut dan kagum padanya. Meskipun telah menjabat sebagai Ketua Wihdah tapi dia masih mau meluangkan waktu mengajar anak-anak baca Al-Qur’an di Masjid Indonsia. Dia juga orang yang mudah diminta tolong. Sangat kasihan memang kalau orang sebaik dia tidak mendapatkan apa yang dicintainya. Namanya orang kalau sudah cinta itu susah untuk tidak dipertemukan. Abu Bakar saja ketika ada seorang budak perempuan merana karena mencintai Muhammad bin Qasim bin Ja’far bin Abi Thalib hati beliau luluh. Beliau langsung menemui tuan pemilik budak itu dan membelinya, lalu mengirimnya ke Muhammad bin Qasim bin Ja’far bin Abi Thalib. Hal serupa juga dilakukan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Cinta memang tidak mudah. Orang Inggris bilang, Love is a sweet torment. Cinta adalah siksaan yang mengasyikkan. Tapi jika orang terus tersiksa

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 172
karena cinta, ia bisa binasa seperti Laila dan Majnun. Kebinasaan paling tragis adalah yang disebabkan oleh cinta,” jawabku.
Ustadzah Maemuna menyahut,
“Dan kami tak ingin melihat Nurul binasa karena cintanya pada pujaan hatinya.”
“Memangnya rasa cinta Nurul sampai seperti itu?” heranku.
“Sejak dua bulan yang lalu. Sejak ia menangis di pangkuanku, Nurul sering menangis sendiri. Berkali-kali dia cerita padaku akan hal itu. Ia ingin sekali orang itu tahu bahwa dia sangat mencintainya, lalu orang itu membalas cintanya dan langsung melaksanakan sunnah Rasulillah. Nurul anti pacaran. Tapi rasa cinta di dalam hati siapa bisa mencegahnya. Aku tahu benar Nurul siap berkorban apa saja untuk kebaikan orang yang dicintainya itu. Bantulah kami membuka hati orang itu?” kata Ustadzah Maemuna.
“Insya Allah. Saya paling tak tahan melihat seseorang tersiksa batinnya. Jadi siapakah orang yang sangat beruntung itu, orang yang dipuja dan dicintai gadis shalihah seperti Nurul?” tukasku tenang. Dalam hati aku merasa bersyukur bahwa aku mendapatkan seorang biadadari yang kucintai tanpa harus melalaui siksaan batin serumit Nurul. Tenyata menjadi seorang gadis tidak semudah menjadi seorang pemuda.
“Kau sangat mengenalnya kuharap kau tidak kaget mendengar namanya kusebut,” kata Ustadz Jalal.
“Santai saja Ustadz, insya Allah saya akan biasa saja,” jawabku santai.
“Orang yang dicintai Nurul, yang namanya selalu dia sebut dalam doa-doanya, yang membuat dirinya satu minggu ini tidak bisa tidur entah kenapa, adalah FAHRI BIN ABDULLAH SHIDDIQ!”
Mendengar namaku yang disebut aku bagaikan mendengar gelegar petir menyambar telingaku. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari lisan ustadz Jalal.
“Siapa Ustadz, mungkin ustadz salah ucap?” tanyaku meyakinkan apa yang aku dengar.
“Aku tidak salah ucap Fahri. Kaulah orangnya. Nurul sangat mencintaimu. Berkali-kali dia bicara denganmu langsung atau lewat telpon tapi dia tidak berani

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 173
mengatakan itu. Dan sudah berkali-kali dia minta kami menemuimu mengungkapkan isi hatinya padamu, tapi baru kali ini aku sempat. Bagaimana Fahri kau bisa membantu Nurul bukan?”
Aku meneteskan air mata. Tetesan itu makin lama makin deras. Akupun tergugu. Kenapa jalan takdirnya seperti ini? Kenapa berita yang sebenarnya sangat membahagiakan hatiku ini datang terlambat. Satu-satu nama seorang gadis yang bila kudengar hatiku bergetar adalah Nurul. Nurul Azkiya. Berita yang seharusnya membuat hatiku berbunga-bunga itu kini justru membuat hatiku terasa pilu. Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa. Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu Nurul mengucapkan tiga kata saja: maukah kamu menikahi aku? Tak akan ada kepedihan ini. Sejak bertemu muka dengan Aisha hatiku sepenuhnya dipenuhi rasa cinta kepadanya. Dan beberapa jam lagi ikatan suci yang menyatukan cinta kami akan terjadi, insya Allah.
Dengan terisak-isak kukatakan pada Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemunah, “Oh, andaikan waktu bisa diputar kembali. It is no use crying over spilt milk . Tak ada gunanya menangisi susu yang telah tumpah!”
Lalu kucoba menenangkan diri dan kujelaskan semuanya yang telah terjadi atas diriku. Aku tak bisa menyembunyikan tangisku saat menceritakan semuanya. Pertemuan dengan Aisha di Metro, diskusi dengan Alicia, tawaran Syaikh Utsman, pertemuan dengan Aisha dan keluarganya, sampai rencana akad nikah dan walimah yang tinggal menunggu jam D nya.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk Nurul Ustadz, apa. Seandainya Ustadz jadi diriku apa yang bisa Ustadz lakukan?” kataku sambil tergugu, hatiku merasa pilu. Seandainya Nurul dan Aisha datang bersamaan, aku tak perlu istikharah untuk memilih Nurul. Aku lebih mengenal Nurul daripada Aisha. Tapi siapa bisa menarik mundur waktu yang telah berjalan.
Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna menangis terisak-isak. Ustadz Jalal merasa sangat menyesal dan sangat bersalah pada Nurul. Sudah berkali-kali Nurul mendesaknya untuk menemui aku dan menjelaskan masalah itu tapi Ustadz Jalal selalu mengulur waktu karena konsentrasi memperbaiki disertasi doktoralnya. Yang ia sesalkan adalah kenapa beliau tidak menyempatkan sepuluh menit saja

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 174
untuk menilpunku memberikan sekadar isyarat ada seorang yang mencintaiku. Ustadzah Maemuna menangis tersedu-sedu, ia tak bisa membayangkan pilunya hati Nurul. Hanya karena sebuah keterlambatan sesuatu yang paling berharga bagi jiwanya tidak ia dapatkan.
Dalam tangisku aku merasa masalah Nurul ini adalah cobaan besar bagi komitmenku atas semua kata-kataku di rumah Syaikh Utsman. Cobaan atas cinta dan kesetiaanku pada Aisha. Bisa saja aku nekad membatalkan kesepakatan dan semua rencana yang telah ditetapkan seperti dalam film India. Akad Nikah toh belum terjadi. Mahar belum aku bayarkan. Aku juga sama sekali belum pernah menyentuh Aisha. Melihat wajahnya juga baru satu kali. Tapi jika aku melakukan hal itu, namaku akan ditulis dengan lumpur hitam berbau busuk oleh sejarah. Aku akan menjadi orang munafik paling menyakitkan hati orang-orang yang kucintai dan kuhormati seperti Syaikh Utsman, Ummu Fathi, Eqbal Hakan Erbakan dan isterinya, dan tentunya paling sakit dan terzalimi adalah Aisha. Kemudian seluruh mahasiswa Turki di Mesir akan melaknat perbuatanku. Dan kelak ketika aku berjumpa dengan Baginda Nabi beliau akan murka padaku karena aku telah menyakiti perasaan sekian banyak umatnya. Aku tak mau itu terjadi. Lebih dari itu aku tidak tahu seberapa panjang umurku ini. Jika aku membatalkan pernikahan yang telah dirancang matang, aku tidak tahu apakah Allah masih akan memberikan kesempatan padaku untuk mengikuti sunnah Rasul. Ataukah aku justru tidak akan punya kesempatan menyempurnakan separo agama sama sekali. Tidak selamanya perasaan harus dituruti. Akal sehat adalah juga wahyu Ilahi.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 175
17. Ikatan Suci
Apa yang terjadi antara diriku dan Nurul adalah tragedi yang sangat memilukan. Aku tak memungkiri, di dalam taksi selama perjalanan menuju rumah Eqbal Hakan Erbakan, hatiku menangis. Aku ini siapa? Nurul sungguh terlalu. Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang khadim kiai dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani mendongakkan kepala apalagi mengutarakan cinta pada seorang puteri kiai. Dia sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang harus mengulurkan tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun mengungkapkan perasaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit. Atau kalau malu hanya dengan beberapa baris tulisan tangannya tragedi ini tidak akan terjadi. Menyatakan cinta untuk menikah di jalan Allah bukanlah suatu perbuatan tercela. Dia sungguh terlalu. Tapi dia tidak keliru. Dia telah menempuh jalan yang benar. Dia benar-benar gadis shalihah yang pemalu. Yang terlalu sesungguhnya adalah Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna. Mereka berdua sungguh terlalu. Atau justru aku yang terlalu dan begitu dungu.
rinai tangis dalam hatiku
bagai rintik hujan di kota
apa gerangan makna lesu
yang menyusup masuk kalbuku?94
Sampai di halaman rumah Eqbal aku melihat tiga mobil mewah berjajar. Rumahnya ada di lantai tiga sebuah villa mewah tak jauh dari KFC Maadi. Sebelum masuk kuhapus air mata, kutata hati dan jiwa. Aku berusaha tersenyum. Aku disambut hangat oleh Eqbal dan tiga lelaki Turki. Rumahnya tidak terlalu ramai. Eqbal memperkenalkan tiga lelaki Turki yang berpakaian rapi itu.
“Ini Ismael Akhtar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Turki di Mesir, ini sekjennya Ali Naar, sedangkan ini yang baru tiba dari Turki tadi pagi adalah calon pamanmu Akbar Ali Faroughi, adik kandung ibunya Aisha.”
94 Dari penggalan puisi “Lagu Hujan” karya penyair Perancis Paul Verlaine (1844-1896) terdapat dalam Puisi Dunia, Balai Pustaka, 1952, hal. 88.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 176
Akbar Ali yang gagah itu memelukku erat dan berbisik, “Senang memiliki keponakan seperti dirimu. Aisha sudah banyak bercerita tentangmu padaku. Selamat datang di keluarga besar Ali Faroughi.”
Di ruang tamu itu kami berbincang-bincang sambil menunggu Aisha yang sedang berdandan. Akbar Ali menceritakan silsilah keluarga besarnya agar aku tahu jelasnya. Ali Faroughi ayahnya dan juga kakek Aisha adalah asli Turki. Beliau lahir di kota Izmir dari keluarga pedagang kain. Lulus sekolah menengah langsung diminta ayahnya merantau ke Istambul dan membuka toko kain di sana. Beliau menuruti anjuran ayahnya. Bakat bisnisnya luar biasa besar. Tokonya maju pesat sampai akhirnya bisa membuat pabrik tekstil kecil-kecilan. Akhir tahun 1948 beliau menikah di Yordan dengan seorang gadis pengungsi Palestina sebatang kara yang seluruh keluarganya telah tewas dibantai Israel dan harta kekayaannya juga dirampas. Gadis Palestina itu beliau bawa ke Istanbul. Enam tahun kemudian, yaitu tahun 1954, lahirlah anak mereka yang pertama diberi nama Alia Ali Faroughi. Alia itulah ibu kandung Aisha. Empat tahun kemudian lahirlah Akbar Ali Faroughi dan jauh setelah itu, lima belas tahun kemudian baru lahir Sarah Ali Faroughi yang sekarang menikah dengan Eqbal Hakan Erbakan. Ali Faroughi adalah pengikut setia Al-Imam Asy-Syaikh Al-Mujaddid Badiuz Zaman Sa’id An-Nursi. Ali Faroughi wafat pada tahun 1993 pada usia 73 tahun, meninggalkan tiga buah perusahaan besar. Di antara ketiga anaknya itu yang paling cerdas dan ulet adalah Alia. Dia selalu terbaik di sekolah menengah. Dia dokter terbaik lulusan Istanbul University tahun 1976 dan langsung mendapat beasiswa ke Jerman tahun itu juga. Di Jerman Alia mengambil spesialis jantung. Setelah tiga tahun di Jerman ia menikah dengan seorang muallaf Jerman namanya Rudolf Greimas, seorang pemilik swalayan. Tahun 1981 Aisha lahir. Dan tahun 1982 Alia memperoleh gelar doktornya dengan predikat summa cumlaude dan mengambil keputusan untuk tinggal dan bekerja di Jerman. Yang menyedihkan tujuh tahun yang lalu, Alia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di sebuah jalur cepat yang berada pinggir kota Munchen, meninggalkan Aisha yang masih belia. Aku baru tahu sebenarnya Aisha telah lama kehilangan seorang ibu.
Kira-kira setengah jam sebelum azan ashar berkumandang, Sarah Ali Faroughi, memberi tahu semuanya telah siap. Aku minta tolong pada Eqbal agar

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 177
bisa melihat wajah Aisha sebelum berangkat. Aku ingin mengisi kembali energi cintaku. Aku ingin menghilangkan segala galau dan melenyapkan segala pilu yang masih terasa menyelimuti hatiku. Aku tak mau tragedi Nurul menorehkan noda dalam hatiku. Aku harus melihat wajah Aisha yang sinarnya akan menerangi semua kisi dan relung hatiku. Kesejukannya akan menyiram jiwaku.
Eqbal tersenyum padaku dan menarik lenganku. Dia membawaku masuk ke sebuah kamar di sana hanya ada tiga perempuan Turki semuanya telah memaki cadar. Eqbal minta agar Aisha membuka cadarnya. Seorang perempuan yang memakai abaya paling indah perlahan membuka cadar kuning keemasannya. Perlahan wajah yang bercahaya itu tampak dan tersenyum padaku. Aku memandangnya lekat-lekat. Aku tersihir oleh pesonanya. Tanpa sadar hatiku bertasbih dan berpuisi:
alangkah manis gadis ini
bukan main elok dan ayu
calon isteriku
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya
Setelah kurasa cukup, aku meminta Aisha memakai kembali cadarnya. Kami pun berangkat dengan menggunakan tiga sedan Mercy. Aku bersama Eqbal dan isterinya. Aisha bersama pamannya Akbar dan isterinya. Ketua Persatuan Mahasiswa Turki bersama sekjennya. Selama dalam perjalanan aku lebih banyak mengucapkan istighfar. Aku berharap saat ini keluarga di Indonesia mengirimkan selaksa doa untukku. Mereka sudah aku beri tahu detik-detik ini aku akan membuka lembaran hidup baru. Dalam perjalanan sempat aku keluarkan pertanyaan yang mengganjal pada Eqbal, “Ayah Aisha, Tuan Rudolf Greimas, bukankah masih hidup. Apakah beliau akan datang?”
“Beliau memang masih hidup tapi tidak akan datang dan Aisha juga tidak terlalu menginginkan dia datang. Yang jelas dia sudah tahu puterinya akan menikah dengan mahasiswa Indonesia. Tentang Rudolf Greimas nanti tanyakanlah sendiri pada Aisha, kenapa sampai dia tidak mengharapkan kedatangannya,” jawab Eqbal Hakan.
* * *

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 178
Tepat saat adzan ashar berkumandang kami sampai di masjid tempat akad nikah akan dilangsungkan. Sudah banyak teman-teman mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Turki yang sampai di sana. Aisha dan dua bibinya langsung menuju lantai dua tempat jamaah wanita. Aku menyalami teman-teman. Mereka semua tersenyum dan mengucapkan selamat padaku. Usai shalat ashar acara akad nikah dimulai.
Acara dilangsungkan di depan mihrab masjid. Syaikh Ustman, Syaikh Prof.Dr. Abdul Ghafur Ja’far, Bapak Atdikbud, Eqbal Hakan Erbakan, Akbar Ali dan beberapa syaikh Mesir yang diundang Syaikh Ustman duduk dengan khidmat tepat di depan mihrab menghadap ke arah jamaah dan hadirin yang memenuhi masjid. Rupanya saat shalat Jum’at tadi telah diumumkan akan ada acara akad nikah antara mahasiswa Indonesia dan muslimah Turki, sehingga orang Mesir yang ada di sekitar masjid penasaran dan masjidpun penuh. Aku duduk di sebelah kanan Akbar Ali. Di barisan depan hadirin tampak ketua PPMI dan pengurusnya, teman-teman satu rumah, Syaikh Ahmad Taqiyyuddin, teman-teman Mesir di program pasca dan Bapak M. Saeful Anam dari bagian Konsuler KBRI yang akan mencatat kejadian penting ini untuk mengeluarkan surat nikah resmi. Rudi yang paling suka pegang tustel sibuk membidikkan kameranya. Dua orang mahasiswa Turki juga sibuk mengabdikan peristiwa bersejarah ini dengan handycam dan kamera.
Yang menjadi pembawa acara adalah Ismael Akhtar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Turki di Mesir. Bahasa Arab fushanya indah. Acara dibuka dengan basmalah dan pembacaan kalam Ilahi. Lalu sambutan singkat dari keluarga mempelai perempuan yang disampaikan Eqbal. Sambutan singkat dari keluarga mempelai pria oleh Syaikh Utsman. Barulah akad nikah. Pihak wali perempuan mewakilkan Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far untuk menikahkan Aisha.
Syaikh Abdul Ghafur Ja’far, yang tak lain adalah pembimbingku menulis tesis itu maju dan duduk di tengah lingkaran. Akbar Ali dan Eqbal Hakan menuntunku maju dan duduk di hadapan Syaikh. Mereka berdua mendampingku. Pak Atdikbud juga maju, duduk di samping Syaikh sebagai saksi. Ismael Akhtar juga maju sebagai saksi. Saiful ikut maju membawakan mahar. Aku sempat

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 179
melirik ke lantai dua. Aisha dan kedua bibinya serta ratusan muslimah di sana memandang ke bawah. Ke arah prosesi sakral ini dilangsungkan.
Sebelum memulai mengakad Syaikh Abdul Ghafur meminta kepada semua hadirin untuk beristighfar, mensucikan hati dan jiwa. Lalu meminta kepada semuanya untuk bersama-sama membaca dua kalimat syahadat. Aku meneteskan air mata, hatiku basah. Aku belum pernah merasakan suasana sedemikian sakralnya. Syaikh Abdul Ghafur menjabat tanganku erat, lalu mewakili wali menikahkan diriku dengan Aisha. Dan dengan suara terbata-bata namun jelas aku menjawab dengan penuh kemantapan hati:
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bi mahril madzkur, ala manhaji kitabillah wa sunnati Rasulillah! Aku terima nikah dan kawin dia (Aisha binti Rudolf Kremas) dengan mahar yang telah disebut, di atas manhaj kitab Allah dan sunnah Rasulullah!”
Spontan dari lantai dua terdengar wanita-wanita Mesir melantunkan zaghrudah95 yang melengking indah. Dan Syaikh Abdul Ghafur membimbing seluruh hadirin untuk mengucapkan doa yeng telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.:
“Baralallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair!”96
Masjid pun berdengung-dengung oleh doa seluruh hadirin. Hatiku terasa sejuk sekali. Air mataku terus meleleh tiada henti. Aku tiada henti mengucapkan hamdalah dalam hati. Setelah itu disambung khutbah nikah yang dibawakan Syaikh Ahmad. Khutbah yang singkat, padat, namun membuat hatiku bergetar hebat. Diakhiri dengan doa yang dipimpin Syaikh Utsman, doa yang membuat diriku lebur dalam keagungan tanda-tanda kekuasaan Tuhan.
Selesai doa, Syaikh Utsman membimbing hadirin untuk melantunkan thalaal badru, lagu kebahagiaan yang dinyanyikan kaum Anshar saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di madinah setelah menempuh perjalanan hijrah yang panjang dan melelahkan. Para hadirin berdiri, menyalami dan merangkulku satu persatu sambil membisikkan doa
95 Siulan khas wanita Arab sebagai ungkapan kegembiraan.
96 Semoga berkah Allah tetap untukmu, dan semoga berkah Allah tetap ke atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad)

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 180
barakah diiringi lantunan thalaal badru. Gerimis di hatiku tidak mau berhenti. Air mata terus saja meleleh. Aku kini telah memiliki seorang isteri. Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, Allahu akbar!
* * *
Seperti kesepakatan setelah akad nikah kami tidak langsung zafaf. Malam zafaf adalah setelah walimah. Dua hari lagi. Sampai rumah teman-teman menggodaku habis-habisan. Aku tanyakan pada mereka apa sudah bisa menghubungi keluarga Tuan Boutros. Belum bisa. Tidak enak rasanya jika mereka tidak menghadiri walimah nanti. Meskipun berbeda agama mereka sudah seperti keluarga sendiri.
Pukul dua belas malam teman-teman sudah tidur. Tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku ingat banyak hal. Aku menelusuri kembali perjalanan hidupku. Sejak masih SD, jualan tape. Lalu masuk pesantren menjadi khadim Romo Kiai sambil melanjutkan sekolah di Tsanawiyah dan Aliyah milik pesantren. Dan akhirnya dengan susah payah bisa sampai Mesir. Aku menangis sendiri ditemani sepi.
Tiba-tiba handphone-ku berdering. Kulihat ada yang memanggil. Aisha! Hatiku berdegup kencang. Aku menyeka air mata dan menata perasaan. Kuangkat:
“Fahri?”
“Ya.”
“Kasihku, aku yakin kau belum tidur. Kau tidak bisa tidur. Kau pasti sedang memikirkan aku. Ya ‘kan?” Dan klik. Diputus. Aku belum sempat menjawab.
Aku gemes sekali padanya. Pada Aisha. Ia menggodaku. Kukirim sms padanya. Sebab jika kutelpon takut tidak dia angkat. Percuma.
“Aisha, aku sangat merindukanmu.” Tulisku.
“Aku sudah tahu. Bersabarlah. Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” Jawab Aisha. Aku menghela nafas panjang. Aku ingin shalat malam.
* * *
Pagi hari, usai shalat shubuh, di masjid Al Fath Al Islami, seluruh jamaah yang mengenalku mengucapkan selamat. Rupanya Syaikh Ahmad telah memberi

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 181
tahu mereka. Dan Syaikh Ahmad mengajakku ke kamarnya di belakang mihrab. Beliau memberikan kabar bahagia mengenai Noura.
Alhamdulillah kebenaran itu terkuat juga. Dari tes DNA, gen Noura tidak sama dengan gen Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya yaitu Madame Syaima. Gen Noura justru sama dengan milik suami isteri bernama Tuan Adel dan Madame Yasmin yang kini jadi dosen di Ains Syam University yang saat itu melahirkan bayinya bersamaan harinya dengan Madame Syaima. Dan Nadia gadis yang selama ini mereka besarkan dengan penuh kasih sayang sama gennya dengan Si Muka Dingin Bahadur dan Madame Syaima. Dua bayi itu tertukar. Noura memang mirip sekali dengan Madame Yasmin dan Si Nadia mirip dengan Madame Syaima. Mereka telah menemukan orang tua masih-masing. Noura bahagia dan Nadia nelangsa. Untungnya Tuan Adel dan Madame Yasmin tetap meminta Nadia tinggal bersama mereka. Sebab Nadia telah dianggap sebagai anaknya sendiri. Si Muka Dingin Bahadur sedang diproses atas segala kejahatannya. Mendengar kabar bahagia itu aku merasa sangat bahagia. Gadis innocent yang lembut itu akhirnya benar-benar menemukan taman kebahagiaan yang selama ini hilang.
Usai dari masjid aku mengajak musyawarah teman-teman satu rumah. Tak lama lagi aku akan meninggalkan mereka. Iuran sewa rumah bulan depan aku bayar sekalian. Jadi mereka tidak bertambah beban meskipun aku tidak lagi satu rumah dengan mereka. Namun aku minta tolong kepada mereka agar bulan berikutnya sudah ada yang menggantikan aku. Teman-teman rela melepaskan aku dan mendoakan semoga hidup bahagia. Mereka minta agar aku tidak segan dan masih sering main ke Hadayek Helwan. Mereka bertanya aku akan tinggal di mana. Aku menjawab, “Belum tahu. Semua yang mengurus isteri tercinta!” Kontan mereka menyahut bareng, “Enaknya punya isteri gadis Turki yang shalehah seperti Aisha!” Aku tersenyum mendengarnya.
Pukul sembilan Paman Eqbal—setelah akad nikah aku harus memanggilnya paman—dan tiga mahasiswa Turki datang kembali dengan pick up. Hendak mengangkut semua barangku yang tersisa. Dia belum juga mau mengatakan rumah yang akan kami tempati itu di mana. “Nanti kau akan tahu juga!” jawabnya enteng.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 182
Hari berikutnya adalah pesta walimatul ursy di Darul Munasabat Masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Sejak ashar aku telah berada di rumah mahasiswa Turki yang telah berkeluarga di Hadidar Toni Street. Namanya Subhan Tibi. Isterinya bernama Laila Belardi. Mereka teman baik Paman Eqbal dan Bibi Sarah. Di rumah mereka yang letaknya kira-kira satu kilometer dari lokasi walimah, aku dan Aisha dirias ala pengantin Turki. Aisha benar-benar seperti bidadari. Tapi elok wajahnya tersembunyi di balik cadar tipis keemasan. Dan inilah untuk pertama kali kami duduk bersanding di dalam mobil mewah. Selama dalam perjalanan menuju tempat walimah aku tak berani menyentuhnya. Kelihatannya Aisha gemes melihat ketidakberanianku. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tanganku. Dengan ragu-ragu aku memegang tangannya. Dan hatiku berdesir hebat. Itulah untuk pertama kalinya aku memegang tangan halus seorang gadis.
Pesta walimah sangat meriah. Di mulai tepat setelah ashar. Ada panggung di depan. Tempat lelaki dan wanita di pisah dengan satir. Pengantin lelaki berbaur dengan undangan lelaki dan pengantin wanita berbaur bersama pengantin wanita. Panggung yang indah itu rupanya untuk hiburan. Tim Shalawat Turki menunjukkan kebolehannya. Juga tim nasyid Indonesia. Ada juga pantomim, sumbangan dari teman-teman KSW. Tadzkirah di sampaikan oleh Dr. Akram Ridha, pakar psikologi yang juga seorang dai terkemuka di Kairo. Semua berjalan dengan sangat mengesan bagi siapa saja yang hadir malam itu.
Setelah acara berakhir, dan tamu undangan telah banyak yang pulang, Paman Eqbal membawaku ke tempat pengantin wanita. Di sana ternyata ada pelaminan yang telah dihias indah. Aisha sudah duduk manis duduk di sana. Aku diminta untuk duduk di sampingnya untuk diabadikan dalam foto dan video.
Aisha minta dipangku dan disuapi kue. Lalu minta dibopong dan digendong. Ia juga minta difoto dalam gaya-gaya dansa. Ada-ada saja. Ia sangat mesra dan manja. Tapi ia sangat tahu menjaga diri, ia tidak minta dicium saat itu. Kemesraan kami yang tak lama itu tidak ada yang melihat kecuali beberapa muslimah, Paman Eqbal dan Paman Akbar Ali. Saat adzan maghrib berkumandang dari menara masjid. Aku dan Aisha telah berada di dalam Limousin meluncur menuju tempat untuk malam zafaf. Menjadi sopir kami adalah Paman Eqbal Hakan Erbakan, isterinya Sarah duduk disampingnya dengan si

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 183
kecil Hasan di pangkuannya. Di belakang kami mobil Paman Akbar Ali membuntuti. Ia bersama isterinya dan si kecil Amena. Selama dalam perjalanan kami diam tanpa bicara apa-apa namun tangan kami erat berpegangan.
Mobil kami terus melaju. Lampu-lampu telah menyala seperti bintang-bintang. Langit merah bersemburat indah. Mobil melaju diatas jalan layang yang membelah Ramsis. Terus ke Barat. Apakah Paman Eqbal akan membawa kami ke hotel? Aku tidak tahu. Semua mahasiswa Indonesia yang menikah di Cairo tidak ada yang menghabiskan malam pertama di hotel. Semuanya menghabiskan malam pertama di rumah kontrakan yang sederhana. Di depan sudah tampak sungai Nile. Kami melewati Ramses Hilton. Mobil terus melaju. Aisha menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku merasakan suasana yang sangat indah. Kami berada di atas Jembatan 6th Oktober yang menyeberangi sungai Nil. Restauran dan night club terapung telah menyalakan lampunya. Di depan sana agak ke selatan di tengah daratan seperti pulau di tengah sungai Nil tampak Cairo Tower menjulang tinggi. Daratan yang dikelilingi sungai Nile itu disebut daerah El-Zamalik. Kawasan yang sangat elite dan indah. Eqbal membelokkan mobil dan turun dari jembatan ke El-Gezira Street. Kami berada di daerah El-Zamalik. Mobil terus berjalan ke utara menyusuri pinggir sungai Nil. Melewati Cairo Marriot Hotel. Melewati Kedutaan Swedia. Akhirnya sampai di Muhamad Mazhar Street. Di sebuah gedung bertingkat dua belas yang berada tepat di pinggir sungai Nile kami berhenti.
Paman Eqbal membawa kami masuk. Di dalam gedung dekat tangga naik dan lift ada dua penjaga berdasi dan membawa senapan otomatis. Paman Eqbal berbincang dengan mereka sebentar lalu menarik lenganku.
“Ini saudara saya, Fahri Abdullah dari Indonesia, dia nanti yang akan menempati flat nomor 21 bersama isterinya. Mereka berdua akan menggantikan Mr. Edward Minnich yang telah pindah bulan yang lalu.”Kata Paman Eqbal memperkenalkan diriku. Dua penjaga itu tersenyum dan menjabat tanganku sambil berkata, “Selamat datang di apartemen ini pengantin baru!” Penampilanku dan Aisha memang mudah sekali ditebak.
Kami lalu masuk lift dan naik ke lantai tujuh. Tiap lantai ada tiga flat. Flat nomor, 19, 20 dan 21 berada dalam satu lantai. Paman Eqbal membuka pintu flat

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 184
nomor 21. Kami masuk. Paman Eqbal menyalakan lampu. Dan tampaklah sebuah ruangan tamu yang mewah. Lebih mewah dari rumah Bapak Atase Pendidikan di Dokki. Kami duduk di sofa yang empuk. Tak lama kemudian Paman Akbar Ali dan isterinya masuk. Mereka langsung duduk.
“Gimana pengantin baru, kalian sudah siap?” tanya Paman Eqbal sambil tersenyum.
Aku diam tidak menjawab kecuali dengan senyum.
“Baiklah Fahri, kau berbahagialah malam ini bersama isterimu. Kami tidak akan lama-lama di sini. Ini kuncinya peganglah. Dua penjaga itu yang hitam namanya Hosam dan yang kuning namanya Magdi. Kau sudah lama di Mesir jadi kau tidak akan asing berada di sini. Jika ada apa-apa telpon aku. Kami pamit dulu. Semoga umur kalian penuh berkah.” Pamit Paman Eqbal sambil berdiri dari duduknya.
“Aisha dan kau Fahri, kami juga pamit. Malam ini juga kami akan terbang ke Istanbul. Sudah tiga hari kami di sini. Nanti kalau ada waktu kami akan mengunjungi kalian,” kata Akbar Ali Faraughi, paman Aisha. Aisha memeluk pamannya dengan mata berkaca-kaca. Lalu gantian aku memeluknya, dan dia berbisik, “Jaga dia baik-baik Fahri, aku percaya padamu!”
“Insya Allah, paman. Doanya. Salam buat seluruh keluarga di Turki.” jawabku. Kulihat Aisha lalu berpelukan dengan Elena Hashim, isteri Akbar Ali. Setelah itu ia memeluk bibinya, Sarah Ali Faraughi dengan tangis pecah.
“Aisha kau sudah hidup di dunia baru. Kuatkanlah dirimu dengan takwa. Minta tolonglah kepada Allah dengan shalat dan kesabaran. Dan layanilah suamimu dengan sebaik-baiknya. Ridha suamimu adalah surgamu,” suara Bibi Sarah terdengar parau.
Mereka lalu beranjak keluar. Satu persatu meninggalkan pintu. Kami mengantar sampai di pintu. Terakhir Paman Eqbal memeluk diriku sambil berkata, “Fahri, kau tentu ingat pelajaran hadits di kuliah, Rasulullah bersabda, ‘Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling berbuat baik kepada perempuan (isteri)nya.’ Kumohon, muliakanlah isterimu. Bawalah dia hidup di jalan yang diridhai Allah!’
“Insya Allah, doakanlah kami,” jawabku.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 185
Tak lama kemudian mereka hilang di telan pintu lift. Kami masuk kembali ke dalam flat dan menutup pintu.
* * *
Mereka telah pergi meninggalkan kami berdua. Kami salah tingkah. Wajah Aisha merona. Tubuhku panas dingin. Kami merasa sama-sama canggung mau berbuat apa. Tapi kami merasa itulah indahnya.
“Kita belum shalat maghrib,” lirih Aisha. Ia masih berdiri tak jauh di depanku dengan wajah menunduk. Aku tersadar, waktu sudah mepet, aku harus segera memberanikan diri melakukan sesuatu. Ada sunnah Rasulullah yang harus aku amalkan ketika untuk pertama kalinya berada dalam satu kamar atau satu rumah dengan pengantinku. Aku bergerak mendekati Aisha dan menggamit tangannya.
“Kamar kita di mana, Sayang?” tanyaku pelan.
“Sini,” jawab Aisha sambil melangkah ke sebuah kamar.
Pintu kubuka. Gelap. Lampu kunyalakan, tampaklah kamar pengantin yang berhias indah, wangi dan sangat romantis. Kuajak Aisha duduk di ranjang. Aku membaca basmalah dengan segenap penghayatan akan ke-MahaRahman- an dan ke-Maharahim- an Allah. Lalu kupegang ubun-ubun kepala Aisha dengan penuh kasih sayang sambil berdoa seperti yang diajarkan baginda Nabi,
“Allaahumma, inni asaluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha! Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan- Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. Amin.”97
Kulihat Aisha memejamkan kedua matanya dan dari mulutnya terdengar amin..amin.. amin, berkali-kali. Ia sudah mengerti bagaimana memasuki malam zafaf agar pernikahan penuh berkah. Setelah itu kulanjutkan dengan doa yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkaar,
“Baarakallaahu likulli waahidin minna fi shaahibihi. Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.”
97 Sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Sinni.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 186
Lalu kukecup ubun-ubunnya sambil menangis dan mengulang doa itu berkali-kali. Aisha terus mengucapkan amin..amin.. amin, dengan air mata meleleh di pipinya.
Barulah kuajak Aisha untuk mengambil air wudhu dan shalat maghrib berjamaah. Setelah shalat maghrib membaca dzikir, shalat sunnah ba’diyah, membaca wirid dan doa rabithah. Menjelang Isya kuajak Aisha untuk shalat sunnah bersama sebagaimana dilakukan salafush shalih, agar pernikahan kami ini penuh barakah. Selesai shalat aku membaca doa sebagaimana diajarkan baginda nabi dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud,
“Allaahumma baarik li fi ahli, wa baarik lahum fiyya. Allaahumma ijma’ bainana ma jama’ta bikhair, wa farriq bainana idza farraqta ila khair. Ya Allah, barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka kepadaku. Ya Allah, kumpulkan antara kami apa yang engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara kami jika engkau memisahkan menuju kebaikan. Amin.”
Di belakangku Aisha khusyu mengucapkan amin..amin.. amin, kabulkan ya Allah, kabulkan ya Allah, kabulkan ya Allah, dengan rahmat dan kasih-Mu.
Usai shalat dan berdoa aku berbalik menghadap Aisha, aku hendak mengelus kepalanya. Aisha malah mencium tanganku sambil terisak-isak. Adzan Isya berkumandang. Kupegang kepala Aisha dengan kedua tanganku. Kupandangi lekat-lekat wajahnya yang jelita. Kuseka air mata yang melelah di pipinya.
“Fahri, aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dengan penuh kesungguhan.
“Aku juga mencintaimu, Aisha,” jawabku sambil mengecup keningnya penuh cinta.
“Kecupan pertama yang tak akan pernah kulupa,” lirih Aisha.
“Aisha, cinta Tuhan memanggil-manggil kita. Saatnya shalat Isya. Aku ke masjid dulu untuk shalat berjamaah. Kau shalat di rumah saja ya. Dalam suasana seperti apapun shalat fardhu adalah utama.”
Dia mengangguk.
“Tapi selesai shalat langsung pulang. Jangan lama-lama di masjid. Shalat sunnahnya di rumah saja.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 187
18. Saat-saat Indah di Tepi Sungai Nil
Di masjid aku bertemu Magdi penjaga apartemen. Aku sangat senang ada polisi yang rajin berjamaah seperti dia. Aku berbincang dengannya sebentar. Dia ternyata sekolah menengahnya dulu di Ma’had Al Azhar, Damanhur. Dan dia bukan satpam biasa, tapi polisi khusus yang ditugaskan untuk menjaga keamanan beberapa diplomat yang tinggal di apartemen itu. Ketika kukenalkan diriku dia sangat senang sekali. Lalu aku dikenalkan pada imam masjid yang bernama Syaikh Abdurrahim Hasuna. Beliau senang sekali berkenalan denganku. Beliau bahkan mempersilakan diriku untuk melihat perpustakaan pribadinya jika aku memerlukannya. Aku senang dengan tawarannya.
Selesai shalat berjamaah dan berdzikir secukupnya aku langsung pulang. Shalat sunnah di rumah saja. Aku tak ingin Aisha menunggu lama. Usai shalat sunnah Aisha telah siap dengan penampilan yang membuat seorang suami senang. Penuh pesona. Parfumnya segar. Ia benar-benar mengerti hukum memakai parfum. Selama memakai gaun pengantin di acara walimah, ia sama sekali tidak memakai parfum. Justru ketika di rumah berduaan denganku ia memakainya.
Aisha mengajakku ke balkon. Ia telah mempersiapkan segalanya. Isteri yang baik. Lampu balkon ia matikan. Kaca riben menutup balkon rapat.
“Ini kaca khusus, aman dari pandangan luar tapi tidak mengurangi jernihnya kita memandang keluar, bahkan menambah kejernihan pandangan di malam hari. Kalau mau kita juga bisa membuka kaca ini.” Kata Aisha sambil seluruh menyibak sebagian gorden yang masih menutupi balkon. Dan tampaklah panorama sungai Nil malam hari.
Posisi balkon rumah kami sangat strategis. Tepat menghadap ke sungai Nil Dari ketinggian lantai tujuh kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu gedung-gedung nun jauh di sana. Kami bisa melihat indahnya riak sungai Nil tertimpa cahaya lampu kota. Gemerlap lampu-lampu hias dari perahu-perahu kecil yang bergerak pelan. Mobil-mobil yang seperti semut di sepanjang kornes Nil sana. Pesona Cairo Plaza Tower yang menjulang megah. Juga Imbaba Brige, salah satu jembatan terpenting yang melintas di atas sungai Nil.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 188
Apartemen di mana kami berada memang terletak di ujung utara pulau di tengah sungai Nil. Inilah salah satu keindahan kota Cairo. Kota Cairo dibelah oleh sungai Nil yang mengalir dari selatan ke utara. Dan di tengah kota Cairo sungai Nil ini terbelah menjadi dua, di mulai dari selatan di dekat Tahrir dan kembali menyatu di dekat Imbaba. Daratan mirip pulau Samosir berbentuk pisang yang berada ditengah belahan sungai Nil ini terbagi dua kawasan, yang selatan disebut El-Gezira dan yang utara di sebut El-Zamalik. Di daratan—yang aku lebih suka menyebut pulau di tengah sungai Nil—ini berdiri bangunan-bangunan penting. Di ujung selatan berdiri hotel mewah Gezira Sheraton dan El-Burg. Juga Cairo Opera House, Cairo Tower, Egyptian Civilization Musium, National Sporting Club dan Nile Aquarium and Grotto ada di pulau ini. Sekali lagi aku lebih senang menyebutnya pulau. Di dekat 26 July Bridge yang melintas di atas pulau ini berdiri Cairo Marriott Hotel yang mewah. Beberapa kedutaan negara asing seperti Jerman, Belanda, Swedia, Albania, Argentina, Pakistan dan lain sebagainya ada di pulau ini. Di ujung utara, tak terlalu jauh dari aparteman kami berdiri President Hotel. Memang sangat nyaman menghabiskan malam di tempat yang nyaman dan romantis seperti ini.
Di balkon, ada kursi malas khas Mesir yang sangat nyaman untuk bermesraan berdua. Orang-orang menyebutnya kursi Cleopatra. Ada dua bantal di atasnya. Di sampingnya ada meja kayu kecil di mana Aisha meletakkan dua gelas susu. Mula-mula kami berdua duduk biasa. Kami masih canggung. Kami salah tingkah. Kami tak tahu dari mana kami mulai. Tak sepatah kata pun keluar menjadi perantara. Tak terasa keringat dingin malah mulai keluar. Ada rasa gelisah yang entah menyusup dari mana. Mungkin Aisha mengalami hal yang sama. Tak mungkin dia yang memulai.
Aku mencoba menghilangkan kegelisahan dan kecanggunganku dengan mengambil minuman yang dibuat Aisha. Kucicipi sedikit.
“Kenapa susunya rasanya asin seperti diberi garam ya?” Pelanku pada Aisha.
“Be..benarkah?” Aisha sedikit kaget.
“Iya. Coba kau rasakan!”
Aisha mengambil gelas dari tanganku dan merasakannya.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 189
“Ah, manis. Tidak asin,” katanya.
Gelas itu kembali kuminta dan kurasakan.
“Sayang, asin begini kok dibilang manis. Mungkin bukan gula yang kau masukkan tapi garam. Coba kau rasakan lagi!” Aisha kembali mencicipi. Dia memandangku dengan sedikit heran.
“Ini manis Fahri, tidak asin!”
“Aishaku sayang ini asin! Cobalah julurkan lidahmu dan masukkan ke dalam minuman itu. Lalu rasakanlah dengan seksama. Pasti kau akan merasakan asinnya. Kau terlalu sedikit mencicipinya. Lidahmu mungkin kurang peka.”
Aisha menuruti kata-kataku. Ia menjulurkan lidahnya ke dalam gelas. Sesaat lidahnya seperti mengaduk-aduk air susu di dalam gelas itu.
“Tidak Fahri, tidak asin! Lidahmu yang mati rasa, bukan lidahku!” Suaranya terdengar lebih tegas.
“Benarkah? Coba!”
“Nih.”
Aku lalu meminumnya sampai tiga teguk.
“Hmm..setelah lidahmu menyentuhnya dan mengaduk-aduknya, minuman ini jadi manis sekali. Belum pernah aku meminum minuman semanis ini. Memang benar sabda nabi jika seorang bidadari di surga meludah ke samudera maka airnya akan jadi tawar rasanya. Dan lidahmu mampu merubah susu yang asin ini jadi manis, Bidadariku.”
“Sialan kau Fahri, kau mengerjaiku ya!” seru Aisha sambil mencubit pahaku manja.
Suasana jadi cair dan romantis. Rasa canggung pun hilang.
Aisha menyandarkan kepalanya ke dadaku. Aku beringsut merubah posisi duduk. Kupasang bantal di kepala dan kurebahkan tubuhku ke sandaran kursi yang dilapisi busa empuk . Kutarik tubuh Aisya rebahan di dadaku. Aku bebas membelai-belai rambutnya atau memeluknya. Di langit sana bintang-bintang kedap-kedip seperti mata para bidadari yang mengerling cemburu kepada kami. Hati terasa sejuk dan bahagia. Inilah yang membedakan yang halal dan yang haram. Bermesraan dengan perempuan yang halal, istri yang sah, adalah ibadah

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 190
yang dipuji Tuhan. Sedangkan bermesraan dengan perempuan yang tidak halal adalah dosa yang dilaknat Tuhan.
Tuhan telah membukakan pintu-pintu kenikmatan yang mendatangkan pahala, maka alangkah bodohnya manusia yang menyia-nyiakannya. Lebih bodoh lagi yang memilih pintu dosa dan neraka.
Sambil memandang keindahan panorama sungai Nil malam hari, tanpa kuminta Aisha mulai bercerita tentang dirinya, ibunya dan ayahnya,
“Kurasa ibuku adalah wanita paling mulia di dunia. Ia muslimah sejati yang menempatkan ibadah dan dakwah di atas segalanya. Dan aku sangat beruntung terlahir dari rahimnya. Ketika berumur 22 tahun ibuku menjadi lulusan terbaik fakultas kedokteran Universitas Istanbul. Saat itu beliau dilamar anak pejabat yang menjanjikannya akan membuatkan rumah sakit terbesar di Turki. Tapi beliau tolak, sebab anak pejabat itu sangat sekuler dan sama sekali tidak menghargai ajaran agama. Dalam padangan beliau, seandainya menikah dengannya sangat sedikit sekali peluang untuk menariknya ke jalan yang lurus hanya akan membuang tenaga. Beliau memilih mengambil beasiswa ke Jerman. Dalam keyakinan ibu, menekuni bidang ilmu dengan serius adalah dakwah. Dalam waktu dua tahun beliau mampu meraih gelar master untuk spesialis jantung. Padahal master di Jerman rata-rata empat tahun. Saat itu juga beliau diterima bekerja di sebuah rumah sakit di Munchen sambil meneruskan program doktor. Di Turki, pinangan untuk ibu silih berganti berdatangan dari kolega dan kenalan bisnis kakek. Tapi ibu ingin pernikahannya ada nilai dakwahnya. Ibu ingin mendapatkan kehormatan yang lebih baik dari terbitnya matahari, yaitu menjadi sebab datangnya hidayah bagi seseorang.
Ibu pernah berkunjung ke Swiss dan berkenalan dengan Wafa Al Banna, puteri Hasan Al Banna yang saat itu tinggal di sana bersama suaminya Dr. Said Ramadhan. Sebuah perkenalan yang berarti bagi ibu untuk semakin mantap menapak di jalan dakwah. Berislam, menurut ibu tidak berarti harus memusuhi Barat. Tetapi justru memperjuangkan Islam lewat Barat. Ibu seringkali bertanya pada orang-orang muslim di Eropa, di Jerman khususnya, ‘Apa kontribusi yang telah diberikan seorang muslim di Barat untuk dunia?’

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 191
Akhirnya pada tahun 1979 ada seorang konglomerat pemilik swalayan di beberapa kota besar di Jerman mendatangi Islamic Centre dan menyatakan ketertarikannya kepada Islam. Ia tertarik kepada Islam karena hukum keluarga dalam syariat Islam yang indah. Yang mengatur sedemikian detil hak dan kewajiban suami isteri. Dalam syariat Islam peselingkuhan adalah dosa besar. Dan syariat telah memberikan pagar yang kuat yang jika pagar itu tidak dilanggar maka tidak akan ada perselingkuhan yang merusak tatanan keluarga dan masyarakat. Konglomerat itu sangat tertarik dengan itu semua. Dia secara materi memang cukup tapi batinnya kering. Dia telah menikah dengan tiga orang wanita Eropa tapi semuanya berselingkuh dan perkawinannya dengan mereka selalu gagal. Dia ingin seorang isteri yang setia. Dia ingin membuktikan apakah benar wanita muslimah adalah wanita yang setia. Dia siap masuk Islam jika ada seorang muslimah yang bersedia jadi isterinya yang setia. Mendengar hal itu ibu langsung menyatakan kesediaannya menikah dengan lelaki setengah baya itu. Umur ibu saat itu 25 tahun dan umur lelaki itu 45 tahun. Terpaut 20 tahun. Jadi konglomerat itu lebih pantas menjadi ayah ibu. Banyak orang menyayangkan keputusan ibu. Aku sendiri, seandainya jadi ibu tidak akan sekuat itu. Keluarga di Turki hampir semua tidak setuju kecuali nenek. Wanita asli Palestina itu satu-satunya yang justru setuju. Demi dakwah, nyawa pun dipertaruhkan, kata nenek saat itu. Akhirnya kakek merestui juga. Jadilah ibu menikah dengan konglomerat itu. Fahri, apakah kau tahu siapa konglomerat itu?”
Aku membelai rambut Aisha. Sesekali mengecup kepalanya. Bau rambutnya yang hitam sangat khas dan wangi. Aku belum pernah mencium bau seperti rambut Aisha.
“Fahri, kenapa kau diam saja? Kau mendengarkan ceritaku apa tidak?” Aisha merajuk manja.
“Mendengarkan dengan seksama.Konglomerat itu, kukira adalah ayahmu, Tuan Rudolf Greimas?”
“Benar.”
“Nama ayahmu mengingatkan aku pada seorang tokoh?”
“Siapa dia?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 192
“AJ. Greimas, filsuf strukturalis Perancis. Ada hubungan darah dengannya?”
“Tidak. Ayah bahkan aslinya berdarah Tunis. Kakek ayah lahir di Tunisia. Namanya Omar. Jadi nama ayah lengkapnya Rudolf Greimas Omar.”
“Jadi semestinya sebutan untuk ayahmu adalah Rudolf Omar. Omar dijadikan nama keluarga. Bukan Greimas.”
“Semestinya begitu, tapi entahlah ayah tidak mau. Ibu pernah menggugat masalah itu. Tapi ayah tak menanggapinya.”
“Terus bagaimana kisah ibumu dengan ayahmu setelah menikah. Apakah tujuan ibumu untuk berdakwah berhasil?”
“Dalam penilaianku ibu berhasil. Setelah menikah dengan ayah, beliau memberikan semua yang dimilikinya pada ayah. Dalam diri ibu, ayah mendapatkan segala yang diinginkan seorang suami pada isterinya, seorang kekasih pada pacarnya, seorang lelaki pada wanita, dan seorang yang haus pada penawar dahaganya. Ayah mengakui ibu adalah wanita terbaik, isteri terbaik dan teman terbaik yang beliau miliki. Akhirnya ayah tekun beribadah dan tidak malu menampakkan identitas kemuslimanannya. Banyak pekerja swalayannya yang tertarik kepada Islam dan masuk Islam. Dengan itu semua ibu mampu menyalurkan dana untuk lembaga dakwah di Jerman. Tahun 1981, dua tahun setelah menikah, ibu melahirkan aku. Ayah sangat gembira sekali. Tiga isterinya terdahulu tidak memberinya apa-apa selain pengkhianatan. Sebagai hadiah ayah membuatkan klinik kesehatan di sebuah kawasan elite kota Munchen untuk ibu. Ibu tentu saja senang. Dan beliau meminta agar kepemilikan klinik bersalin itu atas namaku. Ayah setuju. Tahun berikutnya ibu meraih gelar doktor untuk spesialis jantung dengan predikat tertinggi. Beliau langsung diminta mengajar di Universitas Munchen.
Sejak itu, menurut cerita ayah, sejak itu ibu sangat sibuk. Tapi ibu mampu mengatur waktu dengan baik. Mengasuh aku, mengurus suami, mengurus klinik, menjadi wakil direktur rumah sakit, dan mengajar di universitas. Tidak hanya itu ibu masih bisa menyempatkan waktu untuk mengadakan penelitian di laboratorium. Hasilnya adalah, beliau menemukan tiga jenis obat yang sangat

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 193
berguna bagi dunia kedokteran. Tiga jenis obat itu telah dipatenkan atas nama ibu dan kini digunakan di seluruh dunia.
Dalam keadaan sesibuk itu, ibu masih sangat perhatian pada ayah. Bagi ibu ayah adalah segalanya. Ayah adalah cintanya yang pertama dan terakhir. Ini tentu membuat ayah merasa tersanjung bukan main. Jika suatu ketika ayah mengadakan pertemuan dengan koleganya, banyak koleganya yang iri pada ayah yang memiliki seorang isteri yang cantik, masih muda, berpendidikan tinggi, dan sangat setia. Ayah sendiri yang menuturkan hal ini padaku. Ibu tidak pernah menuntut atau meminta sesuatu pada ayah. Dan semua keinginan ayah jika ibu mampu, dan selama tidak melanggar syariat ibu pasti akan memenuhinya. Bagi ibu memuliakan suami adalah dakwah paling utama bagi seorang isteri.
Hasilnya, ayah seringkali menjadi pembela kepentingan kaum muslim di Jerman. Ayah juga memberikan beasiswa untuk mahasiswa muslim yang belajar di Jerman. Banyak mahasiswa muslim yang meraih doktornya di Jerman dengan tunjangan beasiswa dari ayah. Dan mereka saat ini memiliki peran-peran signifikan di negaranya. Kalau boleh aku mengatakan, secara tidak langsung itu semua adalah atas keikhlasan hati ibu mewakafkan dirinya di jalan dakwah. Kalau seandainya ibu mau menikah dengan ayah karena materi, maka ibu sendiri tidak kekurangan materi. Ketika ibu menikah dengan ayah, perusahaan kakek di Turki telah maju pesat. Perusahaan garmennya telah mengisi pasar di seluruh penjuru Timur Tengah dan Asia Selatan. Dan ibu mampu untuk mencari suami yang lebih muda dan lebih kaya dari ayah di Turki. Tapi pertimbangan ibu pada waktu itu adalah konstribusinya di jalan dakwah. Itu yang aku kagumi dari ibu dan aku tidak akan mampu menirunya. Aku tidak mungkin mau menikah dengan seorang lelaki yang telah tiga kali kawin cerai dan umurnya 20 tahun lebih tua dariku. Ayah sangat beruntung sekali memperistri ibu.”
“Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang ibumu, tentang pikirannya dan lain sebagainya padahal kau masih belia saat ibumu meninggal?”
“Sebagian aku tahu dari apa yang kulihat dan kudengar dari ibu. Sebagian dari paman Akbar, dari nenek, dari bibi Sarah, dari ayah, dan dari beberapa muslimah di Jerman yang menjadi teman baik ibu serta dari belasan diary ibu. Ibu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 194
orang yang paling suka mencurahkan isi hatinya, dan hari-hari yang dialaminya ke dalam diarynya.”
“Aku jadi sangat kagum pada ibumu.”
“Seandainya dia masih hidup kau akan sangat bahagia bertemu dengannya. Dia tumbuh di Turki, memperoleh pendidikan tinggi dan berkiprah di Jerman, tapi dia tetap titisan perempuan Palestina. Jiwanya jiwa pejuang sejati.”
“Kalau ayahmu, masih ada?”
“Masih.”
“Kenapa dia tidak datang?”
“Inilah yang ingin aku ceritakan. Ayahku sekarang tidak seperti ayah waktu ibu masih hidup.”
“Maksudmu?”
“Aku sedih setiap kali mengingatnya. Ayah telah rusak kembali seperti sebelum menikah dengan ibu. Ia telah meninggalkan Islam dan suka bergonta-ganti pasangan hidup.”
“Bagaimana hal ini bisa terjadi?”
“Mulanya adalah kecelakaan yang menewaskan ibu pada tahun 1995. Saat itu hujan lebat, ibu pulang dari mengisi seminar keislaman di pinggir kota Munchen. Dia mengendarai mobil sendiri. Ada mobil melaju kencang di belakang ibu. Mobil itu selip dan menambrak mobil ibu. Mobil ibu terbalik dan terlempar lima meter dari ruas jalan. Ibu meninggal seketika. Saat itu umurku baru empat belas tahun. Mendengar kabar itu ayah sangat terpukul. Ayah merasa kehilangan cahaya hidupnya dan kehilangan segalanya. Berbulan-bulan lamanya ayah linglung. Untung paman Akbar Ali mengetahui kondisi yang tidak baik bagiku ini. Beliau akhirnya mengambilku dan menitipkan pada sahabat karib ibu waktu di Istanbul yang tinggal di Zurich, Swiss. Juga seorang dokter. Namanya Khaleda. Aku memanggilnya Madame Khaleda. Kebetulan beliau tidak memiliki anak. Beliau mencurahkan segala kasih sayangnya padaku. Munchen-Zurich tidak jauh. Ayah sering menengok aku. Dan Madame Khaleda juga sering mengajakku menengok ayah. Aku melanjutkan pendidikan di Zurich. Sementara ayah masih belum bisa menerima kenyataan yang dialaminya sampai dua tahun setelah itu.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 195
Lalu ada sebuah peristiwa kecil yang menggoncang iman ayah. Pada tahun 1997 ayah mengunjungi keluarga di Turki. Saat itu bibi Sarah kebetulan sedang pulang berlibur dari Mesir. Bibi Sarah memang sangat mirip dengan ibu. Ayah melihat bibi Sarah seperti melihat ibu. Saat itu umur bibi Sarah tepat 24 tahun. Dan saat ibu menikah dengan ayah tahun 1979 umurnya 25 tahun. Jadi ayah seolah melihat ibu ketika baru menjadi isterinya dulu. Seketika itu juga ayah melamar bibi Sarah untuk dijadikan isteri menggantikan ibu. Sebelumnya ayah memang tidak pernah melihat bibi Sarah. Waktu ayah sering berkunjung berkunjung ke Turki awal-awal delapan puluhan bibi Sarah masih ingusan. Dan ketika berjumpa dengan bibi tahun 1997, bibi telah menjelma menjadi gadis dewasa yang matang dan telah menyelesaikan Licencenya di Al Azhar. Wajahnya, suaranya dan lemah lembutnya sangat mirip dengan ibu. Ayah benar-benar tergila-gila pada bibi Sarah. Ayah menganggap bibi Sarah adalah reinkarnasi ibu. Saat itu ayah sudah 63 tahun, sama dengan umur baginda Nabi saat meninggal dunia.
Dengan tegas bibi menjawab tidak bisa menerima lamaran ayah. Dan itu sangat masuk akal. Bagaimana mungkin bibi mau menikah dengan seorang kakek-kakek. Jawaban bibi ternyata tidak bisa dimaklumi ayah. Ayah merasa direndahkan dan tidak dihargai. Ayah merasa orang yang terhormat di Jerman. Belum pernah ditolak wanita. Menurut ayah seharusnya bibi Sarah yang telah belajar di Al Azhar seperti ibu. Bersedia menjadi isteri ayah dan mencari suami tidak memandang umur. Tapi memandang prospek dakwah dan pengabdian seperti ibu. Bibi membantah anggapan ayah itu, pintu dakwah terbuka lebar-lebar di mana saja. Prospek dakwah tidak hanya dengan menikah dengan ayah yang telah renta. Ayah sangat terpukul dengan jawaban bibi.
Sebagai pelariannya, tanpa pikir panjang, ayah menikah dengan siapa saja yang mau menikah dengannya. Keislaman ayah ternyata belum kuat meskipun telah hidup 16 tahun bersama ibu. Lama-lama karena hidup sering berganti pasangan hidup keislamanannya luntur. Dan tahun 1999 beliau menikah dengan seorang gadis di sebuah gereja di Yunani. Itu terjadi tepatnya dua bulan setelah aku kembali ke Jerman. Madame Khalida kembali ke Turki saat aku selesai sekolah menengahku. Beliau menyarankan agar aku melanjutkan kuliah di Jerman

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 196
sambil menjaga ayah yang sudah tua. Aku sangat sedih mendapati ayah yang sangat lain dengan yang kukenal dulu. Beliau tidak lagi menyayangiku seperti dulu. Beliau lebih bersikap acuh tak acuh. Aku berusaha mengembalikan ayahku yang hilang. Tapi usaha kerasku kelihatannya tidak akan membuahkan hasil. Pernikahan itu tidak berumur panjang.
Akhirnya ayah menikahi seorang janda setengah baya berambut pirang bernama Jeany. Janda ini pandai sekali mengambil hati ayah. Sekuat tenaga dia mempertahankan perkawinannya dengan ayah. Ia menginginkan harta ayah. Di luar sepengetahuan ayah Jeany memiliki teman kumpul kebo di Stuttgart. Setiap kali aku mengingatkan baik-baik hal ini ayah marah besar. Ia menuduhku hendak merusak hubungannya dengan Jeany. Ayah sudah melupakan ibu sama sekali sejak ditolak oleh bibi Sarah. Semua permintaan Jeany dituruti oleh ayah. Ayah bahkan sudah membuat wasiat di notaris jika ia mati semua aset kekayaan yang tertulis atas namanya akan menjadi hak Jeany. Ayah memang tergila-gila pada Jeany. Untungnya klinik, empat swalayan di Munchen dan Hamburg, pabrik farmasi, dan rumah mewah yang saat ini ditempati ayah telah diatasnamakan diriku oleh mendiang ibu. Jeany terus berusaha agar semua harta yang telah teratasnamakan diriku bisa jadi miliknya. Dia menggunakan cara yang tidak sehat dan sangat memusuhiku. Dalam kondisi yang sedemikian tidak nyamannya aku tetap berusaha bertahan, demi bakti seorang anak pada ayahnya. Meskipun ayah tidak lagi satu iman denganku. Aku ingin menjadi anak ibu yang shalihah yang berbakti pada ayahnya.
Dari perkawinannya dengan suami pertama, Jeany memiliki seorang anak lelaki bernama Robin. Dia mengajak Robin tinggal di rumah mewah itu. Dan ayah menyetujuinya meskipun aku tidak setuju. Sejak Robin tinggal satu rumah denganku aku merasa seperti di neraka. Diam-diam Jeany merancang agar aku menikah dengan Robin, yang dituju adalah segala aset kekayaan yang kini atas nama diriku. Aku jelas tidak mau. Tapi Robin terus mengejarku. Terkadang dia agak keterlaluan. Misalnya tiba-tiba masuk kamarku saat aku sedang belajar. Tentu saja aku tidak sedang memakai jilbab. Aku sangat marah padanya. Kelakuannya kuadukan pada ayah. Tapi ayah sama sekali tidak membelaku. Ayah bukan ayah yang kukenal dulu. Aku tetap bertahan. Di hari tua ayah, aku ingin

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 197
tetap berada di samping ayah.. Sejak itu aku selalu mengunci kamarku untuk berhati-hati.
Tapi Robin sungguh keterlaluan. Entah bagaimana caranya dia bisa memasang kamera di kamar mandiku. Suatu malam dia menghadiahkan kaset itu padaku. Langsung aku putar kaset itu. Betapa terperanjatnya aku melihat apa yang dilayar kaca. Yang kulihat adalah diriku sedang gosok gigi dan mandi. Aku sangat marah pada Robin, aku merasa harga diriku diinjak-injak.
Untungnya, Allah Swt masih menyelamatkan kehormatanku. Dalam rekaman itu, aurat paling aurat yang kumiliki sama sekali tidak terbuka. Tertutup rapat. Untuk itu aku sangat berterima kasih kepada ibu dan nenek. Sejak kecil ibu mengajariku agar memiliki rasa malu kepada Allah melebihi rasa malu pada manusia. Ibu menanamkan sejak kecil untuk tidak telanjang bulat di manapun juga. Meskipun sedang sendirian di kamar tidur atau kamar mandi. Jika mandi ibu mengajarkan untuk tetap memakai basahan. Orang-orang pilihan, kata ibu, jika mandi tetap memakai basahan, tidak telanjang bulat. Ibu berkata, ‘Jika kita malu aurat kita dilihat orang, maka pada Allah kita harus lebih merasa malu.’
Menurut cerita ibu, dan ibu dari dari nenek, di zaman nabi dulu, ketika nabi tahu ada orang mandi tidak memakai sarung, beliau langsung naik mimbar dan menyuruh umatnya untuk menutup aurat ketika mandi.
Alhamdulillah sejak sebelum akil baligh aku telah terbiasa untuk mandi dengan tetap memakai basahan yang menutup aurat atas dan aurat bawah. Dan memang inilah tradisi perempuan di keluarga kami, keluarga Palestina. Nenek mendapatkan ajaran seperti itu dari ibunya. Lalu nenek mengajarkan pada anaknya. Dan anaknya mengajarkan pada anaknya. Nenek, ibu, bibi Sarah dan aku, tidak akan bisa mandi tanpa basahan. Malu rasanya.
Yang terekam oleh kamera Robin adalah aku menggosok gigi dan mulai mandi. Durasinya hanya sepuluh menit setelah itu putus. Mungkin kaset perekamnya habis. Aku bersyukur kepada Allah atas perlindungannya. Sebab satu jam setelah mandi itu aku buang air kecil. Jika kegiatan sangat pribadi seperti itu terekam, aku akan merasa menjadi wanita paling malang di dunia. Kejahatan Robin aku laporkan ke polisi. Polisi langsung mengusut dan menahannya. Tindakannya termasuk kriminal serius. Dia dijebloskan ke dalam penjara. Namun

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 198
satu minggu kemudian dia keluar. Ternyata justru ayah yang membebaskannya dengan tebusan dan jaminan atas permintaan Jeany.
Sejak itu aku sangat marah pada ayah. Jika ayah mencintai mendiang ibu, semestinya dia melindungi anak gadisnya. Bukan malah membebaskan seorang bajingan yang mencoba membuka aurat anak gadisnya. Aku merasa sudah tidak perlu lagi tinggal bersama mereka. Diriku bisa binasa. Aku hengkang dari rumah dan menyewa flat di dekat kampus dan sejak itu tidak pernah lagi menginjak rumah itu. Tapi rumah itu tidak mungkin kubiarkan jatuh ke tangan Jeany. Sebetulnya aku bisa saja mengusir mereka semua. Tapi itu sama saja aku mengusir ayah. Aku tidak mau itu. Nanti, jika tiba saatnya rumah itu akan kembali jadi rumah yang enak disinggahi. Aku menghabiskan masa kecil bersama ibu di sana. Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga Allah kembali memberikan hidayah-Nya kepada ayah.”
Aku mengelus pipi Aisha yang basah.
“Maafkan aku Fahri, suasananya jadi sedih.”
“Sekarang aku ini adalah dirimu Aisha, bukan orang lain. Tapi aku merasa sangat cemburu sekali.”
“Kenapa?”
“Robin itu. Ingin sekali aku menghajarnya.”
“Terima kasih Fahri, love is never without jealousy. Cinta selalu disertai rasa cemburu. Tanpa rasa cemburu cinta itu tiada. Kau memang suami yang kuidamkan!”
* * *
Malam merambat begitu cepat.
“Jam berapa sekarang, Sayang?” tanyaku pada Aisha.
“Mungkin jam setengah sebelas,” jawabnya sambil menggeliat dan bangkit.
“Sudah malam sudah waktunya kita masuk ke dalam, yuk!” sambungnya sambil menarik tanganku. Aku bangkit menuruti ajakan Aisha. Sekilas kulayangkan pandangan keluar. Kornes Nil masih ramai. Mobil-mobil masih banyak yang lalu lalang dengan sorot lampu seperti cahaya meteor.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 199
Aisha mengajakku masuk kamar pengantin yang semerbak wangi. Kami di tepi ranjang. Aku puas-puaskan menikmati keelokan wajahnya. Kedua matanya sangat indah. Kami berpandangan saling menyelami. Terngiang dalam diri sabda Nabi,
Sebaik-baik isteri adalah jika kamu memandangnya membuat hatimu senang, jika kamu perintah dia mentaatimu, dan jika kamu tinggal maka dia akan menjaga untukmu harta dan dirinya.98I
“Aisha, kau cantik sekali, memandang wajahmu sangat menyenangkan!” lirihku.
Aisha tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leherku.
“Fahri, kau pria terbaik yang pernah kutemui, kaulah cinta pertama dan terakhirku. Aku punya sebuah puisi untukmu. Maukah kau mendengarnya?”
Aku menganggukkan kepala. Kuperhatikan dengan seksama gerak bibirnya. Apa yang akan diucapkannya. Dia malah diam lama sekali lalu tersenyum. Aku gemes dibuatnya.
“Dengarlah baik-baik Kekasihku, jangan sampai ada satu huruf yang terlewatkan. Puisi ini lebih berharga dari dunia ini seisinya. Kehilangan satu huruf saja kau akan sangat menyesalinya:
agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpikupun berada dalam
benderang dan abadi99
Aisha luar biasa romantisnya. Kupandangi lekat-lekat wajahnya sambil terus memuji keagungan Tuhan. Hasrat yang terlukis diwajahnya dapat kubaca dengan jelas. Dengan suara pelan kubalas puisinya:
alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
98 Hadits riwayat Ibnu Jarir.
99 Dipetik dari puisi berjudul “Kekasih” karya Paul Eluard, Penyair Perancis abad ke-19 paling terkemuka dari golongan surealis.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 200
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya
bibirnya,
mawar merekah di taman surga
Kami lalu memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia, dengan mengharap pahala jihad fi sabilillah, dan mengharap lahirnya generasi pilihan yang bertasbih dan mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla di mana saja kelak mereka berada.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Seakan-akan bidadari itu seperti permata Yajut dan marjan.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.100
100 Ar-Rahmaan: 57-60.

Iklan

21 Maret 2008 - Posted by | Uncategorized

1 Komentar »

  1. Hello, all is going well here and ofcourse every one is
    sharing information, that’s genuinely excellent, keep up writing.

    Komentar oleh Presidential Towers | 3 November 2014


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: