Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Novel Ayat-Ayat Cinta; 100-150

4541731731.jpgAYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 101
ubun-ubun kepala seperti kering tanpa ada darah mengalir di sana, telah menguap sepanjang siang. Aku benar-benar capek. Satu hari ini melakukan perjalanan hampir sejauh seratur kilo meter. Pagi bolak-balik Hadayek Helwan-Nasr City. Habis zhuhur bolak-balik Hadayek Helwan-Shubra.
Ba’da shalat maghrib aku merasa kepalaku tak bisa diangkat. Terasa berat dan sakit. Aku panggil Saiful, aku minta padanya untuk mengompres kepalaku. Saifu menempelkan telapak tangannya ke keningku, “Panas sekali Mas.”
Ia lantas bergegas memenuhi permintaanku. Saiful duduk disampingku sambil memijat kedua kakiku. Dia tahu persis apa yang kulakukan seharian ini. Hamdi ikut serta memijat-mijat. Teman-teman memang sangat baik dan perhatian. Kami sudah seperti saudara kandung. Seandainya Mishbah dan Rudi datang keduanya pasti juga ikut menunggui atau membelikan buah yang kusuka. Mishbah kembali ke Wisma untuk urusan pelatihannya. Dan Rudi pergi ke sekretariat Kelompok Studi Walisongo atau KSW dia mewakili Himpunan Mahasiswa Medan atau HMM untuk membicarakan kerjasama mengadakan tour ke tempat-tempat bersejarah di Mesir.
Bel berbunyi. Yousef mencari aku. Hamdi membawanya masuk ke kamarku. Yousef menyentuh tanganku. Ia ragu mengatakan sesuatu. Ia tersenyum dan mendoakan semoga tidak apa-apa dan segera pulih lalu kembali ke rumahnya. Tak lama kemudian bel kembali berbunyi. Hamdi beranjak membukanya. Hamdi melongok di pintu kamar dan bilang, “Tuan Boutros sekeluarga Mas. Bagaimana? Apa mereka boleh masuk kemari?”
Kalau kepalaku tidak seberat ini aku pasti keluar menemui mereka. Aku mengisyaratkan pada Hamdi agar mempersilakan mereka masuk. Pak Boutros masuk membawa satu botol madu. Madame Nahed membawa peralatan dokternya. Dan Maria membawa nampan entah apa isinya. Tuan Boutros menyentuh pipiku.
“Panas. Nahed, coba kau periksa!” katanya pada isterinya.
Madame Nahed meminta izin padaku untuk memeriksanya. Sambil memasang tekanan darah di lengan kananku, dia menanyakan apa yang kurasakan. Kujelaskan semua dengan pelan. Saiful memberitahukan diriku melakukan perjalanan panjang di tengah terik siang, dari pagi sampai sore.
AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 102
“Agaknya kau terlalu memforsir dirimu. Banyak-banyaklah istirahat. Ada gejala heat stroke. Kau harus minum yang banyak dan makan buah-buahan yang segar. Istirahatlah dulu, jangan bepergian menantang matahari!” kata Madame Nahed lembut.
“Heat stroke itu apa, Madame?” tanya Saiful.
“Heat stroke adalah sengatan panas, yaitu penyakit yang terjadi akibat penumpukan panas yang berlebihan di dalam badan yang ditimbulkan oleh keadaan cuaca panas. Tapi tidak usah kuatir baru gejala,” jawab Madame Nadia. Dia lalu menulis resep dan minta puteranya Yousef untuk keluar membelinya. “Cepat ya. Sama ashir mangga!”
“Yousef, sebentar!” ujarku. Kepalaku semakin berat. “Tolong Saif ambilkan uang di dompetku. Ada di lemari. Saiful mengambil uang seratus pound dan menyerahkan pada Yousef. Tapi Tuan Boutros mencegahnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yousef keluar. Maria mendekat.
“Fathi, ini aku buatkan ruz billaban untukmu,” lirih Maria.
“Lha untuk kami mana? Masak untuk Akh Fahri saja,” sahut Hamid.
“Maksudku juga untuk kalian,” ucap Maria agak tersipu. Maria meletakkan nampan berisi ruz billaban di atas meja belajarku. Saat itu kulihat dia memandang dua lembar kertas karton besar yang menempel di depan meja belajar.
“Oi Farhi, apa ini? Rancangan hidupmu? Sepuluh tahun ke depan. Dan planning tahun ini,” katanya setengah kaget.
“Maria, jangan kau baca! Aib!” Madame Nahed mengingatkan.
“Biarkan. Nggak apa-apa!” kataku.
Yang kutempel memang arah hidup sepuluh tahun ke depan. Target-target yang harus kudapat dan apa yang harus kulakukan. Lalu peta hidup satu tahun ini. Ku tempel di depan tempat belajar untuk penyemangat. Dan memang kutulis dengan bahasa Arab.
“Wow. Targetmu dua tahun lagi selesai master. Empat tahun berikutnya selesai doktor dan telah menerjemah lima puluh buku serta memiliki karya minimal lima belas karya. Dan empat tahun berikutnya atau sepuluh tahun dari sekarang targetmu adalah guru besar. Fantastik. Hai Fahri kapan rencanamu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 103
kawin. Kenapa tidak kau tulis dalam peta hidupmu?” celoteh Maria. Madame Nahed geleng-geleng kepala.
“Baca yang teliti!” lirihku.
Maria membaca dengan teliti, tak lama kemudian ia berkata, “Okey aku setuju. Ketika kau menulis tesis magister. Ya, untuk menemani perjuanganmu yang melelahkan!”
“Berarti sudah dekat. Mungkin tahun ini mungkin tahun depan. Karena dia sudah lulus ujian dan sudah diminta universitas membuat proposal tesis.” sahut Saiful. Serta merta Tuan Boutros, Madame Nahed, dan Maria mengucapkan selamat. Mereka senang mendengar aku mulai menulis tesis. Madame Nahed menanyakan apa aku sudah ada calon. Kepalaku nyut-nyut. Kupaksakan untuk tersenyum. Lalu aku bergurau, “Kebetulan tidak ada gadis yang mau dekat denganku. Tak ada yang mau mengenalku dan baik denganku. Yang baik padaku malah Maria. Bagaimana Madame, kalau calonnya Maria?”
Madame Nahed tersenyum, “Boleh saja. Tapi kusarankan tidak sama dia, dia gadis yang kaku. Beda dengan dirimu yang kulihat bisa romantis, bisa membuat kejutan-kejutan yang menyenangkan. Kemarin dalam perjalanan pulang kami mendapat cerita yang banyak tentang dirimu dari Rudi. Dia bercerita tentang kesan-kesannya padamu. Dia juga menjelaskan sesungguhnya yang merancang dan membelikan hadiah ulang tahun untukku dan untuk Yousef itu kamu. Aku takut kau kecewa dapat Maria. Dia gadis manja dan kaku. Saya tak tahu dia bisa romantis apa tidak. Dia itu gadis yang tidak pernah jatuh cinta. Tak suka dikunjungi teman lelaki. Tak suka diajak pergi kencan. Kau harus mendapatkan gadis yang bisa mengimbangi kelembutan hatimu dan kekuatan visimu mengarungi hidup. Kulihat kau pemuda yang sangat berkarakter dan kuat memegang prinsip namun penuh toleransi. Kau jangan sembarangan memilih pasangan hidup, itu saran dari Madame.”
“Terima kasih Madame atas sarannya, doakan saja.” jawabku. Kulirik Maria. Sesaat mukanya merona tapi ia segera dapat menguasai dirinya.
“Fahri, kenapa sih kau buat peta hidup ke depan segala, bukankah hidup ini enaknya mengalir bagaikan air?” tanya Maria.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 104
Kepalaku sebenarnya semakin nyut-nyut tapi aku selalu tidak bisa membiarkan kecewa orang yang bertanya padaku.
“Maaf, setiap orang berbeda dalam memandang hidup ini dan berbeda caranya dalam menempuh hidup ini. Peta masa depan itu saya buat terus terang saja berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al-Qur’an yang saya yakini. Dalam surat Ar Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses dan gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengaristeki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.”
Belum selesai aku bicara Maria menyela, “Kalau begitu di mana takdir Tuhan?”
“Takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Mahaadil, Dia akan memberikan sesuatu kepada umat-Nya sesuai dengan kadar usaha dan ikhtiarnya. Dan agar saya tidak tersesat atau melangkah tidak tentu arah dalam berikhtiar dan berusaha maka saya membuat peta masa depan saya. Saya suka dengan kata-kata bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!’ Peta hidup ini saya buat untuk mempertegas arah tujuan hidupku sepuluh tahun ke depan. Ini bagian dari usaha dan ikhtiar dan setelah itu semuanya saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.”
Maria mengangguk-anggukka n kepala.
“Apa kubilang, Fahri seorang visioner yang tegas. Tidak seperti dirimu Maria, hidup manja tanpa visi. Kau ini sudah berada di jalan yang mulus. Dikaruniai otak yang cerdas, hidup berkecukupan, disayang keluarga. Tapi kau tidak akan membuat kemajuan tanpa visi yang jelas.” sahut Madame Nahed.
Aku tidak enak mendengarnya. Aku tidak tahu seperti apa wajah Maria, mungkin memerah karena malu mendapat teguran dari ibunya yang ceplas-ceplos seperti itu. Aku memejamkan kepala merasakan rasa nyeri di dalam tempurung kepalaku.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 105
Tuan Boutros menanyakan kemana Rudi dan Mishbah, keduanya tidak kelihatan. Hamdi menjelaskan dengan rinci. Pembicaraan lalu beralih kepada Hamdi dan Saiful. Aku mendengarkan dengan mata terpejam. Tangan Saiful masih memijit kakiku. Tak lama kemudian Yousef datang membawa obat dan satu botol ashir mangga. Madame Nahed memberikan petunjuk cara meminum obatnya. Berapa hari sekali. Dia berpesan agar aku istirahat dulu sampai pulih kembali. Mereka lalu pamitan. Saat mau pergi Maria berkata,
“Syukran Fahri, aku mendapatkan ilmu yang mahal sekali. Benar kata pepatah dekat dengan penjual minyak akan mendapatkan wanginya.”
Setelah mereka kembali ke flatnya, aku makan ruz billaban pemberian Maria. Enak. Lalu minum obat dan bersiap tidur. Aku telah meminta Hamdi menyetel beker jam tiga. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan tetangga yang baik. Saiful memijat-mijat diriku sampai aku terlelap. Dalam tidur aku mendengar Maria menangis. Air matanya membasahi kakiku. Jam tiga aku terbangun. Heran dengan mimpiku. Sebelum tidur aku sudah baca shalawat dan doa. Aku tak tahu mimpi itu tafsirnya apa. Kalau Ibnu Sirin masih hidup tentu aku tanyakan padanya. Aku beristighfar berkali-kali memohon ampunan kepada Allah jika guyonanku pada Madame Nahed tadi tidak semestinya aku lakukan. Jangan-jangan menyakiti hati Maria. Aku bangkit. Kepalaku terasa lebih ringan. Aku tadi memang kepanasan dan kelelahan. Ya Allah, kulihat Saiful tidur di karpet. Ia begitu setia menunggui aku. Ana uhibbuka fillah ya Akhi!76 Aku harus shalat Isya. Malam terasa sunyi. Aku teringat ayah bunda di kampung sana, di tanah air tercinta. Terbayang mata bening bunda.
selalu saja kurindu
abad-abad terus berlalu
berjuta kali berganti baju
nun jauh di sana mata bening menatapku haru
penuh rindu
mata bundaku
yang selalu kurindu
76 Aku mencintaimu karena Allah, Saudaraku!

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 106
Dalam sujud kumenangis kepada Tuhan, memohonkan rahmat kesejahteraan tiada berpenghabisan untuk bunda, bunda, bunda dan ayahanda tercinta. Usai shalat Isya dan Witir aku tidur lagi. Aku bermimpi lagi. Bertemu ayah ibu, berpelukan dan menangis haru.
* * *
Pagi hari aku merasa segar kembali. Aku melihat jadwal. Ada janji di National Library. Kalau tak ada janji sebenarnya aku ingin istirahat saja. Kasihan tubuh ini, kepanasan setiap hari. Tapi janji harus ditepati. Meskipun harus merangkak akan aku jalani. Janjinya jam sebelas. Aku harus berangkat jam sepuluh masih ada tiga jam. Lumayan untuk mengejar terjemahan.
Pukul sepuluh aku berangkat. Matahari sudah mulai menyengat. Sampai di halaman Maria memanggil namaku dari jendelanya. Ia mengingatkan agar aku tidak pergi. Kukatakan padanya aku ada janji. Aku harus menepatinya meskipun untuk itu aku harus mati. Untung aku dapat tempat duduk. Lebih baik daripada berdiri. Di tengah perjalanan seorang pemuda Mesir memakai jubah lusuh naik. Ia membawa karung. Entah apa isinya. Sampai di dalam metro membuka karungnya. Mengeluarkan boneka panda. Ia menawarkan pada penumpang barang dagangannya. Boneka dan mainan anak-anak. Ia menawarkan dari ujung ke ujung. Ia bilang harga promosi jauh lebih murah dari yang di toko resmi. Tak ada yang beli. Ia mendekatiku dan menawatkan boneka panda itu padaku. Kukatakan padanya aku belum punya anak. Penjual mainan itu menjawab,
“Belilah, kudoakan kau mendapatkan isteri yang shalihah dan cantik seperti bidadari dan memiliki anak yang shalih shalihah, juga kudoakan umurmu berkah rizkimu melimpah sehingga kau dan anak cucumu tidak akan perlu berjualan di jalan seperti diriku. Belilah untuk penyemangat hidupku!”
Siapa yang tidak terenyuh mendengar kata-kata penuh muatan doa seperti itu. Hatiku luluh. Aku akhirnya membeli boneka panda dan pistol air. Cuma sepuluh pound. Boneka enam pound dan pistol airnya empat pound. Pemuda itu tampak berbinar matanya, ia mengucapkan terima kasih. Setelah aku membeli ada seorang ibu setengah baya tertarik dan membeli.
Aku memandangi boneka panda warna coklat dan putih di tanganku. Boneka yang cantik. Kepada siapa akan kuberikan? Aku tersenyum sendiri. Biar

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 107
nanti kugantung di atas tempat tidur. Pemuda itu masih di dalam metro ia belum turun. Mungkin turun di mahatah depan. Keringatnya bercucuran. Aku teringat masa kecilku ketika aku masih SD. Kami keluarga susah. Kakek hanya mewariskan sepetak sawah, kira-kira luasnya setengah bahu. Dibagi dua dengan adil untuk ayah dan paman. Ayah tidak sekolah, dia hanya sampai kelas tiga sekolah SR. Hanya bisa baca dan menulis saja. Demikian juga dengan ibu. Lain dengan paman. Dia disekolahkan oleh kakek dengan bantuan ayah sampai SPG. Dia jadi guru. Karena paman sudah disekolahkan maka rumah kakek diberikan kepada ayah. Selama paman sekolah ayahlah yang menggarap sawah untuk membiayai paman. Dan paman sangat pengertian, sebenarnya dia tidak minta apa-apa. Apa yang dia punya sudah cukup. Dia kebetulan mendapatkan isteri teman sekolahnya, anak penilik sekolah jadi lebih tercukupi. Tapi ayah tetap meminta kepada paman agar sawah sepetak itu dibagi dua. Paman tidak boleh menolaknya. Akhirnya yang kami punya adalah rumah peninggalan kakek yang sangat sederhana dan sawah seperempat bahu. Apa yang bisa diharapkan dari sawah setengah bahu. Ayah tetap menggarap sawah itu dengan menanam padi. Hasilnya di makan sendiri. Untuk keperluan lain ibu jualan gorengan di pasar dan ayah jualan tape77 dengan berkeliling dari kampung ke kampung. Jika hari minggu aku diajak ayah ikut serta. Berjalan berkilo-kilo. Jika telah dekat dengan rumah penduduk ayah akan berteriak, ‘Pe tape! Pe tape! Pe tape!’
Jika ayah lelah maka akulah yang bergantian berteriak menawarkan tape. Jika ada yang beli hati senangnya bukan main. Rasa lelah seperti hilang begitu saja. Apalagi jika ada yang memborong sampai belasan bungkus, kami akan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Mataku basah mengingat itu semua.
Pukul sebelas kurang lima menit aku sampai di National Library. Aku langsung menuju kafetaria. Alicia dan Aisha sudah ada di sana. Alicia tersenyum padaku entah Aisha aku tidak tahu sebab ia bercadar. Mereka telah memesan minuman. Aku pesan segelas karikade dingin. Alicia menyerahkan dua lembar kertas berisi pertanyaannya. Kubaca sekilas. Pertanyaan yang sangat serius. Aku menjanjikan akan menyerahkan jawabannya hari Sabtu, di tempat dan waktu yang
77 Makanan dibuat dari singkong rebus yang telah di beri ragi. Sangat mirip dengan payem Bandung.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 108
sama. Alicia setuju. Kami lalu berbincang-bincang. Alicia banyak bertanya tentang studiku. Aisha bercerita tentang pamannya yang senang sekali mendapatkan salam dariku, dan mengirim salam balik, juga dua keponakannya yang masih ingat padaku. Katanya si Amena menyebutku “Ammu Fahri Al Andonesy!”78 Aisha juga bertanya apakah aku telah berkeluarga? Setelah selesai master apa yang akan aku kerjakan di Indonesia? Apakah aku akan melanjutkan S3? Aku menjawab apa yang bisa kujawab. Sebelum berpisah aku teringat boneka dan pistol air yang aku beli di dalam metro. Kutitipkan pada Aisha untuk keponakannya, Si Amena dan Hasan yang lucu dan menggemaskan. Melihat boneka panda yang cantik mata Aisha membesar dan berkata, “Wow cantik sekali, Amena pasti senang menerimanya dan dia akan terus mengingat pamannya dari Indonesia.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Sudah setengah tahun aku tidak bertemu dua jundi kecil itu. Amena mungkin sudah hafal juz dua puluh sembilan. Dan Si Hasan sudah bisa membaca tulisan. Aku tidak tahu sama sekali bahwa boneka panda yang aku beli tanpa sengaja itu suatu saat nanti akan membawaku ke kaki langit cinta yang tiada tara indahnya. Kaki langit cinta orang-orang yang bercinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
78 Paman Fahri dari Indonesia.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 109
9. Merancang Peta Hidup
Dari National Library aku langsung pulang. Di dalam metro aku memaksakan diri membaca dengan seksama pertanyaan-pertanya an yang diajukan nona Alicia dari Amerika itu. Rasa penasaran mengalahkan perut lapar belum sarapan dan badan yang terasa meriang. Lembar pertama berisi pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan wanita. Tentang beberapa hadits yang dianggap merendahkan wanita. Tentang poligami, warisan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanya an yang tidak asing namun terus menerus ditanyakan. Pertanyaan yang seringkali memang dipakai oleh mereka yang tidak bertanggung jawab untuk mendiskreditkan Islam. Di Barat masalah poligami dalam Islam dipertanyakan. Mereka menganggap poligami merendahkan wanita. Mereka lebih memilih anak puterinya berhubungan di luar nikah dan kumpul kebo dengan ratusan lelaki bahkan yang telah beristeri sekalipun daripada hidup berkeluarga secara resmi secara poligami. Menurut mereka pelacur yang memuaskan nafsu biologisnya secara bebas dengan siapa saja yang ia suka lebih baik dan lebih terhormat daripada perempuan yang hidup berkeluarga baik-baik dengan cara poligami.
Untuk semua pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan perempuan aku sudah membayangkan semua jawaban yang aku akan tulis, lengkap dengan sejarah perlakuan manusia terhadap perempuan. Sejak zaman Yunani kuno sampai zaman postmo. Aku ingat bahwa para pendeta di Roma sebelum Islam datang, pernah sepakat untuk menganggap perempuan adalah makhluk yang najis dan boneka perangkap setan. Mereka bahkan mempertanyakan, perempuan sebetulnya manusia apa bukan? Punya ruh apa tidak? Sementara Baginda Nabi sangat memuliakan makhluk yang bernama perempuan, beliau pernah bersabda bahwa siapa memiliki anak perempuan dan mendidiknya dengan baik maka dia masuk surga.
Aku tinggal meringkas jawaban yang telah banyak ditulis para sejarawan, cendekiawan dan ulama Mesir. Pertanyaan yang berkaitan dengan perempuan aku anggap selesai. Nanti malam akan aku jawab lengkap dengan data dan dalil-dalil utama dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hadits yang ditanyakan Alicia yang mengatakan katanya Nabi pernah bersabda perempuan adalah perangkap setan

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 110
adalah bukan hadits. Itu adalah perkataan seorang Sufi namanya Basyir Al Hafi. Sebagaimana dijelaskan dengan seksama dalam kitab Kasyful Khafa. Itu adalah pendapat pribadi Basyir Al Hafi yang kemungkinan besar terpengaruh oleh perkataan para pendeta Roma. Itu bukan hadits tapi disiarkan oleh orang-orang yang tidak memahami hadits sebagai hadits. Bagaimana mungkin Islam akan menghinakan perempuan sebagai perangkap setan padahal dalam Al-Qur’an jelas sekali penegasan yang berulang-ulang bahwa penciptaan perempuan sebagai pasangan hidup kaum lelaki adalah termasuk tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dalam surat Ar Ruum ayat dua puluh satu Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Jika perempuan adalah perangkap setan atau panah setan bagaimana mungkin baginda nabi menyuruh memperlakukan perempuan dengan baik. Bahkan beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling berbuat baik kepada perempuan (isteri)nya.” 79 Baginda nabi juga menyuruh umatnya untuk mengutamakan ibunya daripada ayahnya. Ibu disebut nabi tiga kali. Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu!.
Pada lembaran kedua, Alicia bertanya bagaimana Islam memperlakukan nonmuslim? Bagaimana Islam memandang Nasrani dan Yahudi? Apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, sebab media massa Amerika memandang umat Islam berlaku tidak adil? Bagaimana pandangan Islam terhadap perbudakan? Dan lain sebagainya.
Aku teringat sebuah buku yang menjawab semua pertanyaan Alicia ini. Buku apa, dan siapa penulisnya? Aku terus mengingat-ingat. Otakku terus berputar, dan akhirnya ketemu juga. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi yang pernah menjadi sekretaris Grand Syaikh Al Azhar, Syaikh Abdul Halim Mahmud. Aku merasa sebaiknya menerjemahkan buku berjudul Limadza
79 Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, beliau berkata: Hadits hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Imam Baihaqi dan Thabrani.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 111
yakhaafunal Islam80 itu ke dalam bahasa Inggris untuk menjawab pertanyaan Alicia. Supaya Alicia dan orang-orang Barat tahu jawabannya dengan jelas dan gamblang. Supaya mereka lebih tahu begaimana sebenarnya Islam memuliakan manusia.
Untuk pertanyaan, apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, yang paling tepat sebenarnya, biarlah umat koptik Mesir sendiri yang menjawabnya. Dan Pope Shenouda pemimpin tertinggi umat kristen koptik Mesir sudah membantah semua tuduhan yang bertujuan tidak baik itu. Pope Shenouda tidak akan bisa melupakan masa kecilnya. Dia adalah anak yatim di sebuah pelosok desa Mesir yang disusui oleh seorang wanita muslimah. Dan wanita muslimah itu sama sekali tidak memaksa Shenouda untuk mengikuti keyakinannya. Wanita muslimah itu mengalirkan air susunya ke tubuh si kecil Snouda murni karena panggilan Ilahi untuk menolong bayi tetangganya yang membutuhkan air susunya. Adakah toleransi melebihi apa yang dilakukan ibu susu Pope Shenouda yang muslimah itu?
Dalam sejarah pemerintahan Mesir, pada tanggal 10 Mei 1911 ada laporan kolonial Inggris ke London yang menjelaskan hasil sensus di Mesir. Dari sensus penduduk waktu itu jumlah umat Islam 92 persen, umat kristen koptik hanya 2 persen, selebihnya Yahudi dan lain sebagainya. Pada waktu itu jumlah pegawai yang bekerja di kementerian seluruhnya 17.569 orang. Dengan komposisi 9.514 orang dari kaum muslimin yang berarti 54,69 persen, dan selebihnya dari kaum koptik, yaitu 8.055 orang dan berarti, 45,31 persen. Bagaimana mungkin jumlah umat koptik yang cuma 2 persen itu mendapatkan jatah 45,31 persen di departemen-departem en kementerian. Dan umat Islam mesir tidak pernah mempesoalkan komposisi yang sangat menganakemaskan umat kristen koptik ini. Apakah tidak wajar jika para pendeta koptik ebih dahulu bersuara lantang menolak tuduhan Amerika sebelum Al Azhar bersuara?
Ulama-ulama besar dan terkemuka Mesir tidak pernah menyapa umat kristen koptik sebagai orang lain. Mereka dianggap dan disapa sebagai ‘ikhwan’ sebagai saudara. Saudara setanah air, sekampung halaman, sepermainan waktu kecil, bukan saudara dalam keyakinan dan keimanan. Syaikh Yusuf Qaradhawi
80 Kenapa mereka takut kepada Islam?

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 112
menyapa umat koptik dengan ‘ikhwanuna al Aqbath’, saudara-saudara kita umat koptik. Sebuah sapaan yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui adanya persaudaraan di luar keimanan dan keyakinan. Dalam sejarah nabi-nabi, kaum nabi Nuh adalah kaum yang mendustakan para rasul. Mereka tidak mau seiman dengan nabi Nuh. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebut Nuh adalah saudara mereka. Tertera dalam surat Asy Syuara ayat 105 dan 106: ‘Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata pada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Apakah ajaran yang indah dan sangat humanis seperti ini masih juga dianggap tidak adil? Kalau tidak adil juga maka seperti apakah keadilan itu? Apakah seperti ajaran Yahudi yang menganggap orang yang bukan Yahudi adalah budak mereka. Atau ajaran yang diyakini ratu Isabela yang memancung jutaan umat Islam di Spayol karena tidak mau mengikuti keyakinannya?
Aku merasa isi buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi harus dibaca masyarakat Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya yang masih sering tidak bisa memahami ruh ajaran Islam. Termasuk juga masyarakat Indonesia. Tapi aku bimbang, apakah aku punya waktu yang cukup untuk menerjemahkan buku itu. Kontrak terjemahan harus segera aku tuntaskan. Jakarta sedang menunggu naskah yang aku kerjakan. Proposal tesis juga harus segera kuajukan ke universitas. Dan kondisi kesehatan yang sedikit terganggu.
* * *
Metro yang kutumpangi sampai di Hadayek Helwan pukul dua. Panas sengatan matahari semakin kurang ajar dan kurang ajar. Aku keluar mahattah dengan memakai langkah cepat. Di perempatan jalan dekat rental dan toko peralatan komputer Pyramid Com, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Suara yang tidak terlalu asing. Aku menengok ke kanan, ke arah Pyramid Com. Seorang gadis Mesir sambil memegang payung berjalan cepat ke arahku. Aku terus saja berjalan tak begitu mempedulikan dirinya. Sebab udara panas menyengat muka.
“Hai Fahri, tunggu, baru pulang ya? Kepanasan? Ini pakai saja payungku nanti kau sakit lagi?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 113
Gadis Mesir berpipi lesung kalau tersenyum itu telah berhasil mengejar langkahku. Ia berjalan sejajar denganku dan menawarkan payungnya padaku.
“Sudahlah Maria, kau jangan berlaku begitu!” sahutku sambil mempercepat langkah. Maria terus berusaha mengimbangi kecepatan langkahku. Ia berusaha memayungi diriku dari sengatan matahari. Beberapa orang Mesir yang berpapasan dengan kami melihat kami dengan pandangan heran. Maria melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan gadis Mesir. Juga tidak akan pernah ada lelaki di Mesir memakai payung untuk melindungi dari sengatan matahari.
“Maria, please, hormatilah aku. Jangan bersikap seperti itu!”
Maria menarik payungnya dan menggunakan untuk melindungi dirinya. Aku heran sendiri dengan perlakuan puteri Tuan Boutros ini padaku. Mamanya bilang Maria tidak suka didatangi teman-teman lelakinya. Juga tidak suka pergi atau kencan dengan mereka. Tidak suka menerima telpon dari mereka. Tidak bisa mesra katanya, tapi kenapa dia bersikap sedemikian perhatian padaku. Aku merasa ia seolah-olah menunggu kepulanganku di jalan yang pasti kulewati.
“Janji sama siapa Fahri, kalau aku boleh tahu?” tanyanya. Aku mempercepat langkah. Jarak apartemen dan mahattah metro sekitar seratus dua puluh lima meter.
“Sama teman. Kau panas-panas begini ke Pyramid Com ada apa? Kau ‘kan paling malas keluar di tengah panas yang menggila seperti ini?” tanyaku tanpa memandang kepadanya. Itu tidak mungkin kulakukan kecuali terpaksa misalnya ketika berjumpa begitu saja. Atau reflek menengok karena dia memanggil namaku.
“Terpaksa. Tinta printku habis. Padahal aku harus ngeprint banyak saat ini. Sialnya stok Pyramid Com juga habis. Aku mau ke Helwan malas sekali?” jawabnya dengan nada kecewa.
“Kebetulan tintaku masih penuh. Baru beli. Pakai saja milikku.”
“Terima kasih Fahri. Kebetulan sekali kalau begitu. Aku perlu sekali. Kalau aku tahu itu aku tidak akan capek-capek begini.”
“Kelihatannya kau sangat sibuk minggu dan banyak tugas minggu ini, Maria?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 114
“Iya, sejak empat hari kemarin aku sibuk mengedit kumpulan tulisanku yang tersebar di beberapa media selama satu tahun ini. Hari ini juga harus aku print. Sebab habis maghrib nanti akan diambil Wafa untuk dimintakan kata pengantar pada Anis Mansour, lalu diterbitkan. Setelah itu sampai kuliah aktif kembali aku kosong. Ada apa kau tanya seperti itu. Ada yang bisa aku bantu?”
“Ya. Kalau kau berkenan. Aku perlu bantuanmu.”
“Apa itu? Kalau aku mampu, dengan senang hati.”
Aku lalu menjelaskan pertemuanku dengan Alicia dan segala pertanyaannya. Aku menjelaskan keinginanku menyampaikan isi buku yang ditulis Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi. Tapi kelihatannya aku tidak punya waktu yang cukup. Buku itu setebal 143 halaman. Dan Maria bahasa Inggrisnya sangat bagus. Selama di sekolah menengah ia kursus di British Council, dan pernah terpilih pertukaran pelajar ke Skotlandia selama setengah tahun.
“Kapan dead linenya?”
“Jawaban harus aku sampaikan pada Alicia hari Sabtu depan. Kalau bisa malam Jum’at sudah selesai diterjemahkan sehingga aku juga ada kesempatan membacanya?”
“Baiklah. Nanti berikan buku itu padaku. Aku berjanji Kamis pagi selesai.”
“Thank’s, Maria.”
“Forget it.”
Tak terasa kami telah sampai di halaman apartemen. Aku mempercepat langkah. Aku tidak mau naik tangga di belakang Maria. Aku harus di depan, aku teringat kisah nabi Musa dan dua gadis muda pencari air. Nabi Musa tidak mau berjalan di belakang keduanya demi menjaga pandangan dan menjaga kebersihan jiwa.
Sampai di dalam flat, Saiful menyambutku dengan segelas ashir mangga. Aku langsung meminumnya. Rasa segar menjalar ke seluruh tubuh. Aku langsung masuk kamar dan menyalakan kipas angin. Maria mengirim sms agar tinta dan buku yang hendak diterjemah segera kusiapkan. Lima menit lagi ia akan menurunkan keranjang. Aku langsung mencari buku itu di rak. Ketemu. Jendela kubuka. Angin panas masuk serta merta. Maria telah menunggu dengan keranjang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 115
kecilnya. Tinta dan buku kumasukkan ke dalamnya. Dan ia mengangkatnya. Aku langsung shalat dan istirahat sampai ashar tiba.
* * *
Mishbah pulang dari Nasr City jam enam sore. Ketika aku sedang asyik membaca beberapa buku untuk menjawab pertanyaan Alicia. Ia membawa pesan dari Nurul yang secara tidak sengaja bertemu di depan Wisma agar aku menelpon dia sebelum maghrib tiba. Kembali Rudi menggodaku, “Tidak salah lagi. Pasti ada sesuatu. She is the true coise!” Aku beristighfar dalam hati. Semoga Allah melindungi dari godaan setan yang terkutuk yang menyesatkan manusia dengan berbagai macam cara. Dalam hati aku menegaskan, aku tidak akan menelponnya.
Setengah tujuh telpon berdering. Dari Nurul. Ia minta padaku agar ke rumah Ustadz Jalal, katanya Ustadz Jalal ingin minta tolong dan membicarakan sesuatu yang penting padaku. Kukatakan minggu ini aku tidak bisa. Ia bilang tidak apa-apa, tapi minta diusahakan kalau ada kesempatan langsung ke sana. Ustadz Jalal masih ada hubungan kerabat dengan Nurul, meskipun agak jauh. Mereka bertemu di ayah kakek alias buyut. Sudah lama aku tidak bertemu Ustadz Jalal. Beliau dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga yang mengambil S3 di Sudan, dan selama menulis disertasi doktoralnya beliau tinggal di Kairo bersama isteri dan ketiga anaknya. Aku akrab dengan beliau dimulai sejak kami umrah bersama dua tahun yang lalu. Kami mengarungi laut merah untuk mencapai Jeddah dengan kapal Wadi Nile. Saat itu beliau baru setengah tahun di Cairo. Anak beliau baru dua. Anaknya yang bungsu lahir di Cairo tujuh bulan yang lalu. Apa yang beliau inginkan dariku? Apakah beliau akan meminta tolong untuk ikut mentakhrij hadits lagi? Aku tak tahu pasti. Jawabnya adalah ketika aku bertemu dengannya. Sebenarnya yang membuatku sedikit heran, kenapa Ustadz Jalal tidak langsung menelponku, kenapa berputar lewat Nurul. Benar, rumahnya tidak ada telponnya, tapi dia tentunya bisa menelpon lewat Minatel yang tersebar di setiap sudut kota Cairo. Keadaan dan jalan berpikir seseorang terkadang memang susah dimengerti.
Usai mengangkat telpon aku tidak meneruskan pekerjaanku sebelumnya, yaitu membaca. Tapi aku merasa perlu meninjau kembali planning bulan ini. Utamanya adalah minggu yang sedang aku jalani ini. Aku melihat jadwal keluar

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 116
rumah. Ada lima kegiatan. Kurasa harus aku pangkas semua. Aku harus istirahat dan mengejar terjemahan. Pengajian ibu-ibu KBRI hari Selasa. Pembanding dalam diskusi yang diadakan FORDIAN, Forum Studi Ilmu Al-Qur’an, di Buuts, hari Rabu pagi. Pergi ke warnet. Dan rapat Dewan Asaatidz Pesantren Virtual, di mahattah Shurthah, Nasr City, Kamis malam Jum’at. Semuanya harus aku batalkan. Yang perlu pengganti harus aku carikan ganti. Bahkan untuk talaqqi pada Syaikh Utsman hari Rabu aku ingin izin, sekali ini. Aku benar-benar ingin di rumah minggu ini, menghindari perjalanan panjang yang membuat ubun-ubun terasa mendidih.
Sore itu juga aku telpon takmir masjid Indonesia yang mengurusi pengajian ibu-ibu KBRI agar mengganti jadwalku dan memundurkan satu bulan ke belakang. Pada koordinator FORDIAN aku minta diganti, kutawarkan sebuah nama. Pada Gus Ochie El-Anwari sang penggagas rapat Dewan Asaatidz aku minta izin, aku sampaikan beberapa ide dan pokok pikiran yang mengganjal di kepala. Setelah semua beres aku merasa lega. Langsung kusambung dengan menulis jawaban atas pertanyaan Alicia seputar Islam dan Perempuan. Aku hanya istirahat untuk shalat, makan malam, dan minum air putih. Tekadku bulat harus tuntas malam ini. Tak ada bedanya dengan membuat karya ilmiah. Jawaban dengan bahasa Inggris itu selesai juga. Tepat pukul tiga malam. Dengan bahasa Inggris. Setebal empat puluh satu halaman spasi satu Microsoft Word, Times New Roman, Font 12. Seandainya tidak memakai bahasa Inggris kurasa pukul satu malam sudah selesai. Beberapa kali aku harus membuka kamus Al Maurid untuk sebuah kosa kata yang aku kurang yakin ketepatannya.
Sejak itu aku tidak keluar rumah kecuali untuk shalat berjamaah. Waktuku habis di dalam kamar, di depan komputer. Aktifitasku adalah menerjemah, menyelesaikan proposal, sesekali makan, ke kamar mandi dan tidur. Hari Selasa sore Maria memberi tahu buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi telah selesai ia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hanya saja ia tidak berani menerjemahkan hadits dan ayat suci Al-Qur’an takut salah. Maria memberikan disket berisi terjemahannya. Kekurangannya kutambal. Jawabanku dan hasil terjemahan Maria langsung aku print dan ketika shalat shubuh aku berikan kepada Syaikh Ahmad untuk diperiksa. Kebetulan bahasa Inggris beliau bagus tidak seperti Imam masjid

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 117
lainnya. Beliau bahkan pernah diutus oleh Al Azhar ke Australia untuk menjadi Imam di masjid Malik Faishal yang terletak di Common Wealth Street, Surry Hills, Sidney selama satu tahun. Aku jelaskan pada beliau pertemuanku dengan Miss. Alicia dari Amerika dan kapan jawaban itu harus aku serahkan. Aku ingin beliau mengoreksi dengan seksama. Beliau sangat senang dengan apa yang aku lakukan. Beliau menjanjikan malam Jum’at ba’da shalat Isya bisa aku ambil sehingga bisa diedit lagi dan diprint ulang.
Kekejaman pada diri sendiri untuk bekerja keras menampakkan hasilnya. Hari Jum’at terjemahan selesai. Tinggal menunggu diedit saja. Proposal tesis juga selesai, siap untuk diajukan ke tim penilai. Jika layak nanti pihak fakultas akan mencarikan promotor yang sesuai. Dan jawaban untuk semua pertanyaan Alicia yang telah dikoreksi dan diberi tambahan Syaikh Ahmad sudah aku print, aku fotocopy dan aku jilid jadi empat. Untuk Alicia, untuk Aisha, untuk Maria, dan untuk arsip pribadiku. Aku menatap peta hidup bulan ini. Aku tersenyum penuh rasa syukur. Kukatakan pada diriku sendiri, “Man jadda wajad!”81
Aku merasa bersyukur kepada Allah yang mengilhamkan untuk merubah strategi perangku minggu ini. Memang terkadang kita harus kejam pada diri sendiri. Dan sedikit tegas pada orang lain. Aktifitas yang penting tetapi tidak terlalu penting bisa dibuang atau di-pending.
* * *
Ketika aku mengambil naskah yang dikoreksi Syaikh Ahmad, beliau bercerita sedikit tentang Noura. Gadis innocent itu senang di Tafahna. Kebetulan satu hari sebelumnya, Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menjenguk ke sana. Syaikh Ahmad sedang melacak sebenarnya siapa Si Muka Dingin Bahadur itu. Apakah benar ayahnya atau bukan? Syaikh Ahmad mendapatkan informasi Noura dilahirkan di klinik bersalin Heliopolis. Bagaimana sejarahnya Noura bisa terlahir di klinik elite di kawasan elite itu? Syaikh Ahmad sedang menyelidikinya dengan bantuan Ridha Shahata, sepupunya yang menjadi staf intelijen Dewan Keamanan Negara atau yang disebut “Mabahits Amn Daulah”. Aku yakin tak lama lagi Noura kembali hidupnya yang penuh ketenteraman. Sebelum aku pulang beliau
81 Pepatah Arab terkenal, artinya: “Siapa bersungguh-sungguh dia mendapat!”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 118
menyerahkan sepucuk surat kepadaku, beliau bilang, “Surat ini yang membawa Ummu Aiman, dari Noura, katanya ucapan terima kasih padamu!”
Inilah untuk pertama kalinya aku mendapatkan surat dari orang Mesir. Asli. Dari gadis Mesir lagi. Meskipun cuma ucapan terima kasih. Aku penasaran ingin tahu kata-kata apa yang ditulis oleh gadis innocent itu. Seperti apa tulisannya. Ingin rasanya kubuka seketika itu, tapi pada Syaikh Ahmad aku merasa malu. Kumasukkan surat itu begitu saja ke dalam saku.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 119
10. Sepucuk Surat Cinta
Ini malam Sabtu. Besok pagi aku harus pergi. Memasukkan proposal tesis ke kampus. Menemui Alicia dan Aisha di National Library. Dan mengirimkan naskah terjemahan ke redaksi sebuah penerbit di Jakarta melalui email. Perjalanan yang agak melelahkan kelihatannya. Semua telah siap, kecuali naskah terjemahan. Belum selesai di edit. Aku ingin besok pagi semuanya berjalan seperti rencana. Sekali melakukan perjalanan banyak yang diselesaikan. Malam ini mau tidak mau aku harus sedikit keras pada diriku sendiri. Aku harus kerja lembut mengedit hasil terjemahanku sampai benar-benar matang.
Untuk persiapan lembur ini, aku telah menyiapkan dopping andalan. Madu murni, susu kambing murni yang dibelikan oleh Hamdi dari para penggembala kambing yang biasa lewat di Wadi Hof, dan telur ayam kampung. Agar suasana segar aku membuka jendela dan pintu kamar terbuka lebar-lebar. Pelan-pelan kusetel nasyid Athfal Filistin. Semangat bocah-bocah cilik Palestina yang membara dengan celoteh mereka yang menggemaskan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan intifadhah membuat diriku bersemangat dan tidak mengantuk. Aku sudah minta izin teman-teman untuk membunyikan nasyid ini sampai tengah malam. Aku minta mereka menutup pintu kamar masing-masing agar tidak terganggu tidurnya.
Ternyata mereka malah asyik meminjam film Ashabul Kahfi dari seorang teman di Nasr City. Dan menontonnya di kamar Rudi. Mereka memerlukan waktu 16 jam untuk menonton film yang dibuat Iran dan Lebanon itu. Sebab film Ashabul Kahfi adalah film yang diputar bersambung oleh stasiun TV Lebanon selama bulan Ramadhan tahun kemarin. Hanya yang memiliki parabola yang bisa menontonnya. Malam ini mereka menyediakan waktu khusus untuk menontonnya. Aku belum pernah menontonnya, sebetulnya sangat ingin. Tapi apakah semua keinginan harus dipenuhi? Komentar teman-teman yang sudah menontonnya, film Ashabul Kahfi luar biasa indahnya, mampu menambah keimanan dan memperhalus jiwa. Lain kali semoga ada kesempatan menontonnya. Malam ini adalah malam kerja.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 120
Malam ini, sementara teman-teman terbang ke zaman Ashabul Kahfi, mereka berdialog dengan pemuda-pemuda pilihan itu, aku malah berlayar di lautan kata-kata yang disusun Ibnu Qayyim. Aku harus membaca dengan teliti dan mengedit tulisan sebanyak 357 halaman. Tengah malam aku kelelahan. Aku istirahat dengan melakukan shalat. Ketika sujud kepala terasa enak. Darah mengalir ke kepala. Syaraf-syarafnya menjadi lebih segar. Kudengar teman-teman bertasbih atas apa yang mereka lihat di film itu. Aku melemaskan otot-otot dengan menelentangkan badan di atas kasur. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. Aku bangkit hendak meneruskan pekerjaan. Tak sengaja aku melihat sepucuk surat permintaan mengisi pelatihan terjemah dari sebuah kelompok studi. Aku jadi teringat dengan sepucuk surat dari Noura yang masih berada di saku baju koko yang tergantung di dalam almari. Aku belum membacanya. Segera kuambil surat itu dan kubaca.
Kepada
Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa
dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia
Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.
Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.
Wahai orang yang lembut hatinya,

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 121
Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam relung jiwa.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?
Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada Maria: ‘Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 122
jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau.” Dia menjawab: “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa.” Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan, “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak sendirian di muka bumi ini.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu. Aku

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 123
merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.
Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.
Wassalamu’alaikum,
Yang dirundung nestapa,
Noura
Tak terasa mataku basah. Bukan karena inilah untuk pertama kalinya aku menerima surat cinta yang menyala dari seorang gadis. Bukan karena kata-kata Noura yang mengutarakan apa dirasakannya terhadapku. Aku menangis karena betapa selama ini Noura menderita tekanan batin yang luar biasa. Ia sangat ketakutan, merasa tidak memiliki tempat yang aman. Ia merasa berada dalam kegelapan yang berkepanjangan. Tanpa cahaya cinta dan kasih dari keluarganya. Ia merasa tidak ada yang peduli padanya. Ia telah kehilangan kepercayaan dirinya sebagai manusia merdeka tanpa belenggu nestapa. Sesungguhnya tekanan psikis

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 124
yang menderanya selama ini lebih berat dari siksaan fisik yang ia terima. Maka ketika ada sedikit saja cahaya yang masuk ke dalam hatinya, ada rasa simpati yang diberikan orang lain kepadanya, ia merasa cahaya dan rasa simpati itu adalah segalanya baginya. Ia langsung memegangnya erat-erat dan tidak mau kehilangan cahaya itu, tidak mau kehilangan simpati itu dan ia sangat percaya dan menemukan hidupnya pada diri orang yang ia rasa telah memberikan cahaya dan rasa simpati.
Aku menyeka air mata kulipat kertas surat itu dan kumasukkan ke dalam amplopnya. Setelah shalat shubuh aku harus menyampaikan hal ini pada Syaikh Ahmad. Gadis itu perlu terus diberi semangat hidup dan dikokohkan ruhaninya. Gadis itu perlu diyakinkan bahwa dia akan mendapatkan rasa aman dan kasih sayang selama berada di tengah-tengah orang yang beriman. Aku mengambil air wudhu untuk menenangkan hati dan pikiran. Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaan. Ketika azan shubuh berkumandang seluruh terjemahan telah selesai aku edit. Langsung kupecah menjadi empat file. Kumasukkan ke dalam disket. Mataku terasa berat dan perih. Seperti ada kerikil mengganjal di sana. Aku belum memicingkan mata sama sekali. Aku bangkit kuajak teman-teman untuk turun ke masjid.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 125
11. Dijenguk Sahabat Nabi
Kepada Syaikh Ahmad aku berikan surat Noura untuk beliau baca. Jamaah shalat shubuh sudah banyak yang pulang. Kecuali beberapa kakek-kakek yang beri’tikaf dan membaca Al-Qur’an menunggu sampai waktu dhuha tiba. Aku diajak Syaikh Ahmad masuk ke dalam kamar imam. Aku memohon kepada beliau untuk memperlakukan gadis itu dengan lebih baik dan bijak. Aku memohon kepada beliau agar gadis itu jangan dicela atas apa yang ditulis dan dilakukannya. Gadis itu memang sedikit berbohong ketika mengatakan surat itu ucapan terima kasih semata. Gadis itu perlu dikokohkan semangat hidupnya dan diyakinkan dia tidak akan mendapatkan perlakuan buruk lagi. Dia akan aman di Mesir. Syaikh Ahmad membaca surat itu dan menitikkan air mata. “Akan aku minta kepada Ummu Aiman untuk mencurahkan perhatian yang lebih padanya. Dia memang memerlukan rasa aman dan kasih sayang yang selama ini hilang. Dan dia sepertinya belum merasa yakin dia akan mendapatkan rasa aman dan kasih sayang di sini.” Syaikh Ahmad berjanji akan menyelesaikan masalah Noura sebaik-baiknya dan meminta diriku agar tidak terganggu dan konsentrasi pada tesis. Dan surat Noura itu aku berikan pada Syaikh. Aku tidak mau menyimpannya. Baru aku pulang.
Sampai di rumah aku baca Al-Qur’an satu halaman. Aku ingin memejamkan mata setengah jam saja. Aku pesan pada Saiful agar membangunkan aku sampai aku benar-benar bangun pada pukul setengah tujuh.
Pukul setengah tujuh aku dibangunkan. Kerikil di mata belum sepenuhnya hilang. Aku mandi. Sarapan belum jadi. Aku mempersiapkan segalanya untuk pergi. Jawaban untuk Alicia. Proposal tesis. Dan disket berisi naskah terjemahan. Karena perjalanan panjang aku harus berangkat pagi. Di metro aku tidak dapat tempat duduk. Metro penuh oleh orang-orang yang berangkat kerja. Turun di Tahrir aku langsung mencari Eltramco menuju Hayyu Sabe. Tujuanku adalah @lfenia. Warnet yang dikelola teman-teman mahasiswa dari Indonesia. Pukul delapan aku sampai di sana. Bertemu Furqon, penjaga warnet yang sudah seperti saudara sendiri. Furqon memelukku dan berkata, “Pucat sekali sampean Mas. Begadang ya?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 126
Aku menganggukkan kepala. Furqon mempersilakan aku memilih sendiri tempat yang kuinginkan. Hanya ada tiga orang yang sedang berlayar di dunia maya. Aku memilih yang paling dekat dari tempatku berdiri. Membuka Yahoomail. Mengirim naskah terjemahan dengan attachment. Membuka beberapa message di mailist Mutarjim, Qahwaji, dan Indonesia Cinta Damai. Melihat Ahram, Time, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka dan Islam-online. Satu jam aku di @lfenia. Furqan menyuguhkan segelas teh Arousa. Teh paling merakyat di Mesir. Jika dibuat kental dan minum masih dalam keadaan agak panas pelan-pelan. Sruput demi sruput. Teh Arousa mampu meringankan kepala yang berat dan menyegarkan pikiran. Dari @lfenia aku langsung naik bis 926 menuju kampus Al Azhar di Maydan Husein. Kuserahkan proposal tesiskepada Syuun Thullab Dirasat Ulya Fakultas Ushuluddin. Aku merasa aku akan terlambat sampai di National Library. Aku kontak Aisha memberitahukan posisi keberadaanku dan meminta mereka menunggu jika aku terlambat.
Benar aku terlambat sepuluh menit. Aku minta maaf. Kukeluarkan jawaban atas pertanyaan Alicia yang telah kujilid.
“Semua pertanyaan tentang perempuan dalam Islam saya jawab dalam empat puluh halaman. Pertanyaan lainnya saya jawab dengan menerjemahkan buku yang ditulis oleh Prof.Dr. Abdul Wadud Shalabi.”
Alicia dan Aisha berdecak kaget dan gembira atas keseriusanku. Aku jelaskan siapa sebenarnya yang menerjemahkan buku Prof. Shalabi ke dalam bahasa Inggris. Sahamku dalam terjemahan itu hanyalah membaca ulang dan mengoreksinya serta menerjemahkan hadits dan melengkapi terjemahan Al-Qur’an yang ditinggalkan Maria. Korektor akhir atas semuanya adalah Syaikh Ahmad Taqiyyuddin. Lalu kami berdiskusi selama dua jam setengah. Saat berdiskusi aku merasa badanku terasa meriang sekali. Kepalaku berat tapi aku tahan dan aku kuat-kuatkan. Alicia minta data diriku dan alamat lengkapku. Dua hari lagi rencananya ia akan kembali ke Amerika. Aisha berkata suatu saat nanti akan mengajak diriku untuk berdiskusi lagi. Kami berpisah. Di luar gedung terik panas benar-benar menggila. Aku naik metro. Sampai di Maadi setengah tiga.Aku belum shalat. Terpaksa aku turun untuk shalat di masjid yang ada di luar mahattah.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 127
Aku meneruskan perjalanan. Ubun-ubun kepalaku terasa sangat nyeri. Di Tura El-Esmen badai panas bergulung menebar debu ke dalam metro. Sangat tidak nyaman. Turun di Hadayek Helwan aku merasa tidak kuat untuk berjalan ke apartemen. Aku panggil taksi. Kepalaku nyeri sekali. Tubuh seperti remuk. Aku lupa belum sarapan sejak pagi. Sampai di halaman apartemen aku sempat melihat jam tangan. Pukul tiga seperempat. Kepalaku seperti ditusuk tombak berkarat. Sangat sakit. Begitu membuka pintu rumah aku merasa tidak kuat melangkahkan kaki. Kepala terasa seperti digencet palu godam. Lalu aku tidak tahu apa yang terjadi. Mataku menangkap kilatan cahaya putih lalu gelap.
* * *
Dalam keremangan gelap aku melihat ada cahaya. Perlahan aku membuka mata. Aku melihat langit-langit berwarna putih. Bukan langit-langit kamarku. Langit-langit kamarku biru muda. Kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah. Kau sudah tersadar Mas,” suara Saiful serak. Aku memandang wajahnya.
“A..aku di…di mana?” lidahku terasa kelu sekali.
“Di rumah sakit Mas,” lirih Saiful.
“Kenapa?”
“Sudah lah Mas istirahat dulu. Jangan memikirkan apa-apa dulu.”
Kepalaku terasa nyeri kembali. Aku berusaha berpikir, mengingat-ingat apa yang terjadi padaku sehingga ada di rumah sakit ini. Perjalanan melelahkan, kepanasan dengan perut kosong. Membuka pintu dengan kepala sakit luar biasa seperti dihantam palu godam. Lalu gelap. Saiful menatapku dengan mata berkaca.
“Jam be..berapa?” tanyaku padanya.
“Setengah tiga malam Mas.”
Aku teringat belum shalat Ashar, Maghrib dan Isya. Aku ingin bangkit tapi seluruh tubuhku terasa lumpuh. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit sekali.
“Aduuh! Astaghfirullah!” aku menahan sakit tiada terkira.
“Kenapa Mas?”
Semuanya kembali terasa gelap. Aku berlayar dalam gelap dan keheningan. Mengarungi dunia yang tiada aku tahu namanya. Aku mendengar suara magic Syaikh Utsman Abdul Fattah. Fahri, baca surat Al Anbiya! Kubaca

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 128
surat Al Anbiya. Teruskan Surat Al Hajj, pakai qiraah Imam Warasy.82 Aku membaca dengan qiraah Warasy sampai selesai. Semuanya gelap kembali. Aku tidak mendengar apa tidak melihat apa-apa. Aku kembali mendengar suara Syaikh Utsman, beliau membaca surat Al Furqan dengan qiraah Imam Hamzah aku mendengar dengan seksama kefasihan tajwidnya. Sampai ayat enam puluh lima beliau membaca dengan menangis tersedu-sedu. Aku ikut menangis. Beliau tiada kuasa untuk melanjutkannya. Aku membacanya dan melanjutkannya dengan qiraah yang sama. Selesai. Syaikh Utsman meminta aku meneruskan satu surat lagi. Aku memenuhi titah beliau, kubaca surat Asy Syuara. Sampai pada ayat seratus delapan puluh empat daun telingaku menangkap suara isak tangis sayup-sayup. Aku merasa ada sentuhan halus di pipiku. Aku mengerjapkan mataku.
“Fahri, kau sudah sadar Fahri. Kau bangun Fahri. Ini aku,” suara halus perempuan. Aku coba membuka mata lebih lebar. Semakin terang. Aku melihat wajah putih bersih. Dia duduk di kursi dekat dengan dadaku
“Ma..Maria?!” aku memanggil namanya, tapi cuma bibirku yang kurasa bergerak tanpa suara.
“Ya aku Maria,” ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
.“Astaghfirullah!” lirihku.
“Ada apa Fahri?”
“Ma..mana Saiful?”
“Sedang keluar, dia kusuruh sarapan.”
“Jam berapa?”
“Jam delapan pagi.”
Maria tiada berkedip memandangi diriku yang terbujur tiada berdaya seperti bayi. Matanya berkaca-kaca, hidungnya memerah dan pipinya basah.
“Kenapa kau kemari, Maria?”
“Aku ingin tahu keadaanmu. Aku mencemaskanmu.”
“Kau menangis Maria?”
82 Imam Warasy, seorang Imam Qiraah yang terkenal, mengambil qiraahnya dari Imam Nafi bin Abdurrahman Al-Madani yang mengambil qiraah dari Imam Abu Ja’far Al-Qari dan tujuh puluh tabiin. Dan mereka semua mengambil qiraah dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah dari Ubay bin Kaab dari Rasulullah Saw.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 129
“Kau membuatku menangis Fahri. Kau mengigau terus dengan bibir bergetar membaca ayat-ayat suci. Wajahmu pucat. Air matamu meleleh tiada henti. Melihat keadaanmu itu apa aku tidak menangis,” serak Maria sambil tangan kanannya bergerak hendak menyentuh pipiku yang kurasa basah.
“Jangan Maria tolong, ja..jangan sentuh!”
“Maaf, aku lupa. Keadaan haru sering membuat orang lupa.”
Aku melihat di samping kiriku ada tiang besi putih, ada tabung infus tergantung di sana. Di bawah tabung ada selang kecil mengalirkan air infus ke dalam nadi tangan kiriku. Air infus terus menetes seperti embun di musim penghujan. Aku kembali merasakan nyeri dalam tempurung kepalaku. Seperti ada ratusan paku menancap. Aku berusaha menahan dengan memejamkan mata dan otot rahang menegang. Tak kuat juga aku mengaduh, meskipun lirih.
“Ada apa Fahri, apa yang kau rasakan?” suara Maria serak.
“Kepalaku nyeri sekali.”
“Biar kupanggilkan petugas,” telingaku menangkap suara langkah kaki Maria. Tak lama kemudian ia datang dengan seorang dokter lelaki. Dokter itu memasang menempelkan tangannya di keningku. Memeriksa tekanan darahku. Memasang termometer sebesar pena di ketiakku. Dan dengan suara yang lembut menanyai apa yang kurasakan serta membesarkan hatiku. Ia mengambil termometer dan melihatnya. Lalu menuliskan sesuatu di dalam berkas yang di bawanya. Kemudian menyuntikkan sesuatu lewat jarum selang infus yang menancap di tangan kiriku.
“Suntikan untuk meredakan rasa sakit. Kau akan cepat sembuh,” kata dokter itu. Maria mengamati dengan seksama apa yang dilakukan dokter itu padaku. Ia berdiri di samping ranjang. Rambutnya yang hitam terkucir rapi. Setelah mendapat suntikan itu rasa sakit di kepalaku terasa mulai berkurang. Saiful datang tepat saat dokter setengah baya yang mengenalkan dirinya bernama Ramzi Shakir itu hendak pergi. Saiful menyalami dokter Ramzi dan berbincang sebentar dengannya. Maria duduk di kursi di samping ranjang. Saiful mendekat. Ia mengucapkan salam dan tersenyum.
“Maria, boleh aku bicara empat mata dengan Saiful?” lirihku pada Maria.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 130
Maria mengangguk dan melangkah keluar. Ia tidak membawa serta tas kecilnya.
“Saif, kenapa kau tinggalkan aku sendirian dengan Maria? Kenapa dia yang menunggui aku? Dia bukan mahramku.” Aku memaksakan diri untuk bersuara agak keras. Saiful sepertinya tahu kalau aku marah dan tidak berkenan.
“Maafkan saya Mas. Keadaannya darurat. Aku belum tidur sama sekali semalam dan perutku perih sekali. Kebetulan Maria datang,” jawabnya.
“Teman-teman yang lain mana?”
Saiful lalu menceritakan kejadian itu.
“Saat Mas pulang dan terjatuh tak sadarkan diri di pintu, yang ada di rumah cuma saya seorang. Saya langsung mengontak Mishbah yang saat itu ada di Wisma agar pulang. Sedangkan Hamdi dan Rudi, hari itu sedang dalam perjalanan ikut rihlah83 ke Luxor yang diadakan Majlis A’la. Mereka tidak mungkin dihubungi. Saya bingung, saya naik ke atas. Untung saat itu Yousef dan Maria ada. Maria langsung menelpon mamanya, Madame Nahed, yang sedang kerja di Rumah Sakit Maadi. Madame Nahed meminta pada Maria agar seketika itu juga membawa Mas Fahri ke rumah sakit. Madame Nahed mengurusi semuanya dan memilihkan kamar kelas satu. Dia juga yang memilihkan dokter. Madame Nahed tidak bisa langsung menanganimu sebab dia dokter spesialis anak. Mas tak sadarkan diri dalam waktu yang lama sekali. Mas baru sadar jam setengah tiga malam. Setelah itu tak sadarkan diri lagi. Mishbah sampai di rumah sakit jam lima sore ikut menunggui sampai jam satu malam. Saya dan Mishbah sepakat membuat jadwal. Malam itu saya minta Mishbah istirahat di rumah, karena dia terlihat sangat kelelahan. Dan saya minta dia datang pukul sembilan pagi untuk gantian jaga. Pukul setengah delapan tadi Maria datang tepat ketika saya merasakan perut ini sedemikian perih karena sejak sore kemarin belum kemasukan apa-apa. Melihat wajah saya pucat Maria minta saya keluar keluar untuk makan dan membersihkan badan. Jadilah Maria menjaga Mas sendirian.”
Mendengar cerita itu aku maklum adanya. Saiful berjanji akan menjaga diriku sebaik-baiknya bergantian dengan Mishbah. Dan tidak akan membiarkan diriku dijaga oleh orang lain.
83 rekreasi.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 131
Maria mengetuk pintu minta izin masuk. Aku minta Saiful untuk mempersilakan dia masuk. Maria datang dengan menenteng kantong plastik putih. Ia duduk dan mengeluarkan isinya; satu botol air mineral, satu kotak susu Juhayna isi satu kilo, satu kotak ashir mangga, sebungkus roti tawar, satu kaleng vitrac rasa strawberry, satu kaleng cokelat, sekotak keju president, dan satu kotak tissue meja. Ia menatanya di atas meja yang masih kosong tidak ada apa-apa. Maria menawariku makan atau minum. Aku sama sekali tidak berselera. Ia mengambil selembar roti tawar, mengoleskan keju dan cokelat dan menutupnya dengan selembar roti tawar di atasnya dan menyerahkan pada Saiful. Saiful tidak bisa menolaknya. Maria kembali mengambil roti tawar. Kali ini untuk dirinya. Lalu ia mengambil dua gelas dan bertanya pada Saiful mau minum apa. Saiful menjawab, air putih saja. Maria menuangkan air mineral ke dalam gelas dan menyerahkan pada Saiful. Ia sendiri menuangkan ashir mangga.
Kudengar mereka berdua berbincang sambil makan roti. Saiful mengucapkan rasa terima kasih atas kebaikan Maria. Dengan sangat hati-hati ia menjelaskan masalah mahram kepada Maria. Dengan bahasa halus ia meminta agar jika bisa Maria datang bersama ayah atau adiknya. Jadi seandainya berbincang atau berada dalam satu ruangan seperti itu ada mahram yang menemaninya. Bukan karena tidak percaya pada Maria tapi demi kedamaian jiwa. Aku diam saja. Sebab perlahan aku kembali merasakan kepalaku mulai bersenut-senut. Aku masih bisa mendengar Saiful menyitir beberapa sabda Rasul yang memberikan tuntunan cara berinteraksi pria dengan wanita. Batasan boleh dan tidaknya.
Aku juga mendengar pertanyaan Maria tentang boleh tidaknya perempuan menjenguk pria yang dikenalnya yang sakit. Aku mendengar Saiful menjawab boleh, mendasarkan jawabannya bahwa Imam Bukhari dalam kitab shahihnya secara khusus menulis “Bab Perempuan Membesuk Lelaki”. Beliau mengatakan, “Ummu Darda’ menjenguk seorang lelaki ahli masjid dari kalangan Anshar.” Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa ketika Ka’ab bin Malik Al Anshari sakit keras dan dekat dengan kematiannya, Ummu Mubasyir binti Al Barra bin Ma’rur Al Anshariyyah menjenguknya. Maka tidak ada masalah seorang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 132
perempuan menjenguk saudaranya yang lelaki selama masih menjaga adab kesopanan yang diajarkan Rasulullah.
Setelah itu aku tidak mendengar lagi apa yang mereka bicarakan. Aku kembali merasakan nyeri yang luar biasa dalam tempurung kepalaku. Aku mengaduh. Lalu semuanya terasa gelap.
* * *
Ketika aku sadar, aku tidak menemukan Saiful dan Maria. Yang ada di sisiku adalah Mishbah dan beberapa teman dari Nasr City yang kukenal baik. Ada Mas Khalid, Kang Kaji, Mas Junaedi, Sofwan, Iswan, Khalil, Bimo dan Chakim. Mereka semua tersenyum padaku meskipun aku menangkap guratan sedih dalam wajah mereka. Mereka mendekat satu persatu dan memelukku pelan sambil berbisik, “Syafakallah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman.”84
Kutanyakan pada Mishbah jam berapa sekarang. Mishbah menjawab jam satu siang. Apakah ini hari Ahad? Mishbah menjawab iya. Aku minta pada Mishbah untuk menghubungi Syaikh Utsman. Rabu lalu aku sudah tidak datang. Aku minta Mishbah menjelaskan kondisiku pada beliau dan memohon agar beliau memberikan doanya. Mishbah keluar. Aku mencoba mengangkat tanganku. Tidak bisa juga. Rasanya seperti lumpuh. Aku meneteskan air mata. Aku belum berani bertanya sakit apa aku sebenarnya.
Aku minta pada Mishbah dan teman-teman agar tidak mengabarkan sakitku ini ke Indonesia. Aku merasa ingin buang air kecil. Aku katakan itu pada Mas Khalid. Mas Khalid mengambilkan pispot. Teman-teman yang lain keluar. Mas Khalid memasukkan pispot ke balik selimutku. Tangannya meraba tanpa membuka auratku dan berusaha aku bisa buang air kecil di dalam pispot. Aku tidak bisa membayangkan kalau dalam keadaan seperti ini yang ada di sampingku hanyalah Maria seperti tadi pagi. Apakah aku harus buang air kecil begitu saja di atas kasur seperti waktu aku masih bayi dulu, ataukah aku akan meminta tolong padanya untuk memasangkan pispot. Selesai buang air kecil, aku minta pada Mas Khalid mentayamumi aku.85 Tanganku sama sekali tidak bisa digerakkan. Lalu
84 Semoga Allah menyembuhkanmu secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit setelahnya.
85 Tayamum adalah bersuci dengan menggunakan debu sebagai ganti wudhu.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 133
aku shalat dengan menggunakan isyarat mata dan tubuh terlentang tiada berdaya seperti seorang balita.
Teman-teman menemani sampai jam besuk habis. Tinggal Mishbah seorang yang tetap menunggui diriku. Mishbah memberi tahu habis maghrib, insya Allah, Syaikh Utsman Abdul Fattah akan datang. Aku meneteskan air mata, diriku telah menyusahkan banyak orang. Mishbah mengusap air mata yang meleleh dipipiku dengan tissue yang dibeli Maria, baunya wangi. Sambil menghiburku bahwa semuanya akan kembali seperti sedia kala, aku akan sembuh dan sehat kembali serta bisa main bola lagi. Saiful datang membawa bantal. Ia bilang sejak sekarang ia dan Mishbah akan menjagaku berdua. Tidur dan istirahat bergantian di dalam kamar kelas satu ini. Memang di kamar yang tidak terlalu luas ini hanya aku seorang pasiennya. Aku tidak tahu bagaimana nanti membayar ongkosnya. Kepalaku terasa berat lalu nyeri dan semuanya kembali terasa gelap.
Dalam gelap aku tidak tahu berada di alam apa. Tiba-tiba aku berjumpa dengan orang yang kurus dan bercahaya wajahnya, orang yang belum pernah aku berjumpa dengannya. Dia mengenalkan dirinya sebagai Abdullah bin Mas’ud. Aku tersentak kaget. Abdullah bin Mas’ud adalah satu-satunya sahabat, yang Baginda Nabi ingin mendengar bacaan Al-Qur’an darinya. Abdullah bin Mas’ud adalah Guru Besar Tafsir dan Qiraah di kota Kufah. Imam-imam besar dari kalangan tabiin banyak yang belajar membaca Al-Qur’an darinya. Abdullah bin Mas’ud tersenyum padaku serta merta aku mencium tangannya, ia menyambutku dan memeluk diriku. Aku bisa berdiri, aku tidak lumpuh. Ibnu Mas’ud membisikkan syafakallah ke telingaku. Aku mencium bau harum dari jubah dan tubuhnya.
Beliau melepaskan pelukannya dan memintaku membaca Al Baqarah. Aku membacanya dengan hati bahagia. Beberapa kali dia membetulkan bacaanku. Aku membaca sampai akhir Al Baqarah. Abdullah bin Mas’ud memintaku berhenti. Abdullah bin Mas’ud mencium keningku dan hendak pergi. Aku menahannya. Aku katakan aku ingin menanyakan sesuatu padanya. Beliau tersenyum dan menyilakan aku bertanya.
Aku tanyakan padanya, “Apakah benar riwayat yang mengatakan Anda tidak mengakui mushaf Utsmani?”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 134
Abdullah bin Mas’ud tersenyum padaku dan berkata dengan suara yang sangat berwibawa,
“Yang tidak mengakui mushaf Utsmani dan tidak suka dengannya adalah orang-orang munafik dan orang-orang yang memusuhi agama Allah. Mereka mencatut namaku untuk membela tujuan-tujuan mereka yang jahat. Apa yang ada di dalam mushaf Utsmani dari Al Fatihah sampai An Naas adalah wahyu yang diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Baginda Nabi. Tertulis utuh dan sempurna. Tidak berkurang dan tidak bertambah meskipun cuma satu huruf. Dan apa yang ada dalam mushaf Utsmani itulah yang aku ajarkan pada para tabiin dan mereka mengajarkan pada murid-muridnya. Begitu seterusnya hingga sampai kepadamu dan kepada jutaan umat Muhammad di seluruh penjuru dunia. Al-Qur’an terjaga keasliannya. Memang akan selalu ada orang-orang jahat yang berusaha meragukan kebenaran dan merusak kesucian Al-Qur’an. Namun ketahuilah usaha mereka akan sia-sia. Sebab Allah sendiri yang akan menjaga keutuhan dan kesuciannya sampai hari akhir. Dan orang-orang pilihan Allah di dunia ini adalah mereka yang disebut Ahlul Quran. Orang-orang yang hatinya selalu terpatri pada Al-Qur’an, mengimani Al-Qur’an, dan berusaha mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an dengan penuh keikhlasan.”
Sahabat nabi, Abdullah bin Mas’ud tersenyum. Aku pun tersenyum. Aku ingin ikut dengannya, tapi beliau tidak memperbolehkannya. Aku lalu titip padanya salam sejahtera, rasa cinta dan rasa rindu tiada terkira untuk Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat nabi itu lalu meninggalkan diriku. Semakin lama semakin jauh. Mengecil. Menjadi titik. Dan hilang. Aku merasa kehilangan dan sedih. Mataku basah.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 135
12. Siapa Malaikat Itu?
Wajah itu Nurul. Ya Nurul. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran, aku melihatnya, tak jauh dari kakiku bersama teman-temannya. Kulihat sekilas wajahnya sendu. Ada juga ketua dan pengurus PPMI, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Saiful duduk di dekat kepalaku. Ia paling dekat denganku. Tangannya mengusap pipiku yang basah.
“Alhamdulillah, Mas Fahri sadar.” Aku mendengar mereka memuji Allah.
“Sabar Mas Ya? Insya Allah segera sembuh,” lirih Saiful dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sakit apa katanya Saif?”
“Dokter belum menjelaskannya Mas.”
Zaimul Abrar, Ketua PPMI, mendekat, mendoakan, dan atas nama seluruh mahasiswa ikut merasa sedih atas sakit yang menimpaku. Lalu gantian Nurul mewakili teman-temannya, ketika dekat dengan diriku ia menatapku dengan penuh iba dan sorot mata yang aku tidak tahu maknanya. Kedua matanya berkaca-kaca dan sendu. “Cepat sembuh Kak. Cepat selesaikan masternya dan cepat mengabdi di tanah air tercinta,” katanya terbata-bata. Aku mendengarnya dengan sesekali memejamkan mata.
“Mas kami pamit. Kami sudah lama di sini. Syafakallah!” ucap Zaim.
“Kami juga minta diri Kak,” ikut Nurul.
Mereka pun pulang. Aku merasa wujudku benar-benar ada dan berarti. Aku merasa diperhatikan, disayang, dan dicintai semua orang.
Dua menit setelah mereka keluar, Syaikh Ahmad datang bersama Ummu Aiman. Syaikh Ahmad berusaha tersenyum padaku. Beliau memelukku pelan sambil mendoakan kesembuhanku. Ia tahu aku sakit dari Mishbah yang ketika shalat shubuh mengabarkan padanya. Syaikh Ahmad memberikan sedikit tadzkirah yang membesarkan hatiku dan menguatkan jiwaku.
“Pintu-pintu surga terbuka lebar untuk orang yang sabar menerima ujian dari Allah!”
Syaikh Ahmad tidak lama berada di sisiku. Tak lebih dari seperempat jam. Setelah itu pamitan. Beliau membawa dua kilo anggur yang sangat segar.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 136
* * *
Menjelang maghrib Dokter Ramzi Shakir memberi tahu setelah melihat hasil foto rontgen kepalaku, aku harus dioperasi. Ada gumpalan darah beku yang harus dikeluarkan. Rencananya operasi besok pagi pukul delapan. Aku diminta untuk puasa malam ini. Aku mungkin akan tinggal di rumah sakit sekitar satu bulan lamanya. Aku menitikkan air mata. Saiful dan Mishbah menghibur, meskipun kulihat mereka berdua juga menitikkan air mata.
Menjelang Isya, Syaikh Utsman Abdul Fattah benar-benar datang bersama beberapa teman Mesir yang mengaji qiraah sab’ah pada beliau. Syaikh Utsman mengusap kepalaku, persis seperti ayahku mengusap kepalaku. Beliau tersenyum padaku. Beliau meminta kepada semuanya untuk keluar sebentar. Beliau ingin berbicara hanya berdua denganku. Saiful, Mishbah dan teman-teman Mesir keluar meninggalkan kami. Syaikh Utsman duduk di kursi dekat dadaku.
Sambil mengelus rambut kepalaku beliau berkata,
“Anakku, ceritakan padaku apa yang dilakukan sahabat nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud padamu?”
Aku kaget bukan main. Bagaimana Syaikh Utsman tahu kalau aku bertemu sahabat nabi Abdullah bin Mas’ud dalam pingsanku.
“Tadi malam jam tiga saat aku tidur setelah tahajjud aku didatangi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Aku hanya sempat bersalaman saja. Beliau bilang akan menjengukmu sebelum aku menjengukmu.” Syaikh Utsman seperti mengerti keherananku, beliau menjelaskan bagaimana beliau tahu aku kedatangan Abdullah bin Mas’ud.
“Bagaimana Syaikh bisa yakin aku benar-benar di datangi Abdullah bin Mas’ud?” tanyaku dengan suara serak untuk lebih meyakinkan diriku.
“Seperti keyakinan Rasulullah ketika bermimpi akan berhaji dan membuka kota Makkah.”
Jawaban singkat Syaikh Utsman menyadarkan diriku akan kekuatan mimpi orang-orang shaleh yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Untung aku sudah membaca dan menelaah Kitab Ar Ruuh yang ditulis oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauzi. Murid utama Imam Ahmad bin Hambal dan ulama terkemuka pada zamannya itu membahas masalah ruh dengan tuntas disertai dalil-dalil yang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 137
tidak bisa diragukan. Bahwa ruh orang yang telah wafat bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup. Semuanya atas izin dan kekuasaan Allah Swt. Kisah para sahabat dan ulama salafush shalih menjadi bukti dan kenyataan yang terang tiada keraguan seperti terangnya cahaya matahari di waktu siang.
Di antaranya, Imam Ibnu Qayyim menuliskan kisah nyata, dengan sanad yang shahih, dari Imam Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Shahr bin Hausyab:
Bahwa dua orang sahabat nabi yaitu Sha’b bin Jitsamah dan Auf bin Malik adalah bersaudara. Sha’b berkata kepada Auf,
‘Saudaraku, jika salah satu di antara kita mati dahulu maka harus berusaha datang menemui dalam mimpi.’
Auf berkata, ‘Apakah itu mungkin?’
Sha’ab menjawab, ‘Ya.’
Kemudian meninggallah Sha’b. Dan Auf melihatnya di dalam mimpi seolah Sha’b mengunjunginya. Auf menyapa, ‘Wahai Saudaraku!’
‘Ya.’ Jawab Sha’ab.
‘Apa yang terjadi denganmu?’ tanya Auf.
‘Beberapa dosaku telah diampuni.’ Jawab Sha’ab.
Auf melihat ada noda hitam di lehar Sha’ab. Ia langsung bertanya, ‘Saudaraku, ini apa?’
Sha’b menjawab, ‘Ini adalah sepuluh dinar yang aku pinjam dari lelaki Yahudi (dan belum aku kembalikan). Sepuluh dinar itu ada di dalam tanduk milikku, berikanlah padanya. Ketahuilah Saudaraku, semua kejadian yang menimpa keluargaku setelah kematianku telah kuketahui kabarnya, termasuk kucing yang meninggal beberapa hari yang lalu. Dan ketahuilah, puteriku akan meninggal enam hari lagi, maka berwasiatlah yang baik untuknya.’
Ketika bangun Auf berkata, ‘Dalam mimpi ini ada pemberitahuan.’
Auf lalu mendatangi keluarga Sha’b. Mereka menyambutnya dengan hangat dan berkata, ‘Selamat datang Auf, apakah seperti ini perlakuanmu pada keluarga yang ditinggal saudaramu? Kau tidak mendatangi kami sejak dia meninggal.’ Auf memberikan alasan seperti orang-orang memberi alasan. Lalu

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 138
melihat tanduk dan menurunkan dari tempatnya. Dan menemukan kantung berisi dinar di dalamnya. Lalu membawanya ke tempat orang Yahudi.
Auf bertanya pada orang Yahudi, ‘Apakah Sha’b punya hutang padamu?’
Orang Yahudi menjawab, ‘Semoga Allah merahmati Sha’b. Dia termasuk sahabat nabi yang utama. Hutangku kuikhlaskan untuknya.’
Auf mendesak, ‘Katakanlah padaku berapa dia berhutang padamu?’
Orang Yahudi menjawab, ‘Sepuluh dinar.’
Auf lalu menyerahkan kantong berisi sepuluh dinar itu pada orang Yahudi. Auf berkata, ‘Ini yang pertama!’
Kemudian Auf kembali menemui keluarga Sha’b dan bertanya, ‘Apakah ada suatu kejadian di rumah kalian setelah kematian Sha’b?’
Mereka menjawab, ‘Ya, kucing kami mati beberapa hari yang lalu!’
Auf berkata, ‘Ini yang kedua!’
Lantas Auf bertanya, ‘Mana anak perempuan Saudaraku?’
“Dia sedang bermain.’ Jawab mereka.
Auf lalu mendatanginya dan mengusap-usapnya, anak puteri itu ternyata sedang demam. Auf berkata pada mereka, ‘Berwasiat baiklah untuknya.’ Dan anak perempuan itu meninggal enam hari kemudian.
Kisah serupa sangat banyak terjadi di zaman sahabat nabi dan zaman tabiin. Imam Ibnu Abdul Bar yang mengarang kitab ‘Al Tamhid’ penjelas kitab Muwatta’ Imam Malik menuturkan kisah tsabit bin Qaish bin Syamas yang mati syahid dan mendatangi Abu Bakar dalam mimpinya karena punya hutang. Abu Bakar pun menjalankan wasiat Tsabit.
Syaikh Utsman masih menunggu jawabanku.
“Anakku, apa yang kau dapat dari Abdullah bin Mas’ud yang mendatangimu. Ceritakanlah pelan-pelan, aku ingin tahu?’ Syaikh Utsman kembali mengulangi pertanyaannya. Aku lalu menceritakan semuanya. Syaikh Utsman menitikkan air mata dan berkata, ‘Allah yubarik fik ya bunayya!’86 Lalu beliau berpesan agar aku tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa-siapa, kecuali orang-orang yang bisa dipercaya. Mimpi seperti ini tidak semua orang suka mendengarnya, dan tidak semua orang mempercayainya.
86 Allah memberkahimu, Anakku.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 139
Syaikh Utsman lalu mengeluarkan botol kecil dari saku jubahnya.
‘Ini aku bawakan air zamzam. Tidak banyak, namun semoga bermanfaat. Minumlah dengan terlebih dahulu membaca shalawat nabi dan berdoa minta kesembuhan dan ilmu yang manfaat.’ Ucap beliau.
Aku belum bisa menggerakkan tanganku. Syaikh Utsman agaknya tahu. Beliau sendiri yang meminumkan air zamzam itu ke mulutku. Setelah itu beliau berpesan agar aku memperbanyak istighfar dan shalawat. Agar aku mengikuti semua petunjuk dokter dan minum obat yang teratur. Aku beberkan semua kecemasanku pada beliau, terutama tentang kepalaku yang mau dioperasi. Beliau menenangkan diriku. Beliau minta kepadaku agar besok pagi minta kepada dokter untuk memfoto rontgen sekali lagi. Jika tidak ada perubahan dan memang harus dioperasi ya harus dijalani. Beliau akan berdoa semoga Allah memberikan jalan kesembuhan yang lebih mudah. Beliau mencium keningku seperti seorang kakek mencium cucunya. Setelah itu memanggil kembali teman-teman untuk masuk. Teman-teman Mesir berusaha menghibur. Si Mahmoud bercerita tentang Juha yang lucu, aku tersenyum mendengarnya. Pukul setengah sepuluh Syaikh Utsman dan teman-teman Mesir pamitan.
Menjelang tidur Himam datang. Ia bersama Hamim dan Mahmudi. Himam pernah satu bulan satu rumah denganku di Hayyul Asyir sebelum aku pindah ke Hadayek Helwan. Ia punya buku pijat refleksi dan suka mencoba-coba pada teman-teman satu rumah yang kelelahan. Itu pula yang dilakukan Himam terhadapku. Ia menyibak selimut di kakiku dan mencoba-coba mencari syaraf yang ia rasa ganjil di telapak kaki. Himam memijat dan aku menahan sakit. Begitu berulang-ulang. Lalu Himam memijit dengan santai ke seluruh kakiku, sampai aku tertidur.
* * *
Pagi hari aku merasa badanku lebih enak. Kepalaku lebih ringan. Jam enam pagi, aku minta Mishbah memberi tahukan pada dokter atau petugas bahwa aku minta dirontgen ulang. Aku tidak akan menandatangani surat kesediaan operasi sebelum dirontgen ulang dan hasilnya dilihat kembali dengan teliti.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 140
Dengan senang hati, Dokter Ramzi memenuhi permintaanku. Aku digeledek ke ruang rontgen. Dua orang perawat mengangkatku ke meja yang menyatu dengan alat foto berukuran besar itu. Seorang petugas mengepaskan titik fokus di kepalaku. Aku di foto dalam tiga posisi. Lalu dibawa kembali ke kamar.
Sampai di kamar sudah ada Maria dan keluarganya. Maria menatapku dengan wajah sedih, juga Yousef, Tuan Boutros dan Madame Nahed. Mereka tahu kalau pagi ini aku akan dioperasi maka mereka datang untuk melihatku sebelum masuk ke ruang operasi. Maria menitikkan air mata ia takut terjadi apa-apa padaku. Aku bilang pada mereka semua, insya Allah, tidak akan terjadi apa-apa dan aku akan sembuh seperti sedia kala.
Pukul setengah sembilan Dokter Ramzi datang dengan wajah cerah. Beliau menyerahkan hasil rontgen dan membawa kabar gembira, “Entah ini mukjizat atau apa, gumpalan darah beku di bawah tempurung kepalanya itu telah tiada.” Dokter Ramzi minta aku mencoba menggerakkan tanganku, meskipun sangat pelan aku bisa. “Tak perlu operasi, kau akan sembuh seperti sedia kala. Tinggal perawatan medis secara intensif untuk penyembuhan.”
Aku mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah atas anugerah ini. Kudengar Tuan Boutros memuji tuhannya; Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Kuminta kepada Saiful dan Mishbah untuk sujud syukur. Madame Nahed masih melihat foto rontgen. Dia membandingkan foto pertama dan foto kedua. Bibirnya berdesis, “Mahabesar kekuasaan Tuhan, ini mukjizat!”
Dokter Ramzi bilang aku telah melewati masa kritis, dia mengucapkan selamat kepadaku. Sejak itu keadaanku semakin membaik. Teman-teman mahasiswa Indonesia banyak yang berdatangan menjenguk. Beberapa staf KBRI yang kenal baik juga menjenguk. Teman-teman dari Malaysia, Patani dan Singapura juga.
Hari kelima aku sudah bisa bangkit dari tempat tidur. Aku sudah bisa makan sendiri dengan kedua tanganku. Dari hari ke hari perkembangan kesehatanku terus membaik. Hari ke sembilan aku sudah bisa ke toilet sendiri. Hari ke sebelas aku sudah bisa jalan-jalan keluar kamar, ke taman dan duduk-duduk di sana ditemani Saiful dan Mishbah. Hari itu juga Rudi, dan Hamdi pulang dari Luxor. Mereka sangat terkejut dan menyesal tidak berada di sisiku melewati

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 141
masa kritis. Aku minta kepada Saiful untuk bertanya kapan aku boleh pulang dan kira-kira biaya semuanya berapa? Saiful memberi tahu dua hari lagi bisa pulang dan biaya semuanya sekitar seribu dua ratus dollar. Aku mengerutkan kening. Dalam tabunganku hanya ada lima ratus dollar. Aku bertanya mereka berempat ada uang berapa. Hamdi kosong, tinggal dua puluh lima pound saja. Rudi ada cadangan seratus dollar. Saiful lima puluh dollar. Dan Mahmoud juga lima puluh dollar. Berarti semua baru ada enam ratus dollar. Masih kurang enam ratus dollar. Dan bisa jadi totalannya nanti lebih dari itu. Mau tidak mau harus mencari pinjaman. Aku minta pada Rudi untuk menemui Pak Jayid Hadiwijaya, Atase Pendidikan yang baik hatinya, agar meminjam uang secukupnya dari beliau untuk biaya perawatan rumah sakit. Siang Rudi berangkat, sore kembali dengan membawa uang seribu dollar.
Pagi hari H aku boleh pulang ke rumah sakit Saiful mengurusi semua administrasi. Ia kembali ke kamar dengan wajah heran.
“Mas, biayanya semua sudah dilunasi seseorang,” lapornya dengan wajah ceria bercampur bingung.
“Siapa yang melunasinya?” tanyaku heran.
“Pihak rumah sakit tidak mau menyebutkan namanya,” jawabnya.
Rudi yang bertugas mencari mobil kembali bersama Tuan Boutros dan keluarganya. “Tak usah repot cari mobil, kami datang untuk menjemputmu pulang,” demikian Tuan Boutros. Aku tak menjawab apa-apa. Mereka sangat baik, seperti keluarga sendiri, seperti bukan orang lain. Aku teringat biaya yang sudah dilunasi, jangan-jangan mereka.
“Sebelum pulang aku mohon kejujuran kalian. Apakah kalian yang telah melunasi seluruh biaya perawatan saya?” tanyaku sambil memandang Tuan Boutros dan Madame Nahed bergantian.
“Tidak. Bukan kami,” jawab Madame Nahed.
“Kumohon demi kasih Isa Al Masih, kalian harus berterus terang, aku tidak akan tenang,” desakku.
“Kami benar-benar tidak melunasinya. Kami memang berniat melunasinya tapi sudah terlambat. Sudah ada yang mendahului kami. Kukira kalian sendiri yang telah melunasinya. Kami berkata yang sebenarnya,” terang Madame Nahed.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 142
“Semoga Allah membalas dia dengan pahala yang tiada hentinya,” lirihku mendoakan orang yang telah membayar seluruh biaya perawatanku.
* * *
Hari itu kami pulang ke Hadayek Helwan. Selama perjalanan Madame Nahed memberi tahu sakit apa aku sebenarnya.
“Dokter Ramzi mengatakan kau terkena Heat Stroke dan Meningitis sekaligus. Tapi sekarang sudah sembuh.”
Aku sudah tahu heat stroke itu apa. Madame Nahed pernah menerangkannya. Tapi meningitis, aku belum tahu jenis penyakit apa itu. “Apa itu meningitis, Madame?”
“Meningitis, adalah penyakit radang selaput otak yang menular disebabkan oleh kuman meningokoccal. Kuman penyakit ini cepat menular pada suhu tinggi atau rendah. Cara penularan penyakit Meningitis Meningokoccal adalah melalui kontak langsung, terkena percikan air ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan cairan dari tenggorokan penderita penyakit Meningitis Meningokoccal. Tanda-tanda orang yang terkena meningitis adalah panas mendadak, sakit kepala luar biasa, kemerahan di kulit dan kaku kuduk. Tapi kau tidak usah kuatir. Kau sudah sembuh dan terbebas dari kuman meningokoccal. Dokter Ramzi mengatakan begitu. Kau sudah diterapi dengan pengobatan propilaksis memakai cyproflovacin terbaik. Yang sekarang harus kau lakukan adalah menjaga kesehatanmu. Jangan keluar rumah dulu. Jaga kondisi tubuh supaya tetap segar. Istirahat yang cukup 6-8 jam sehari semalam. Jangan menantang panas. Minum yang cukup. Jangan sekali-kali minum dari kran air minum umum di pinggir jalan seperti orang-orang, sebab kebersihannya kurang. Gelasnya cuma satu untuk minum bergantian. Sangat riskan terjadi penularan kuman. Banyak makan buah-buahan segar seperti anggur, jeruk, apel, mangga, semangka, dan lain sebagainya.” Madame Nahed memberi penjelasan yang cukup dan sangat berguna bagi diriku.
* * *
Sejak pulang dari rumah sakit, aku merubah peta hidup yang telah kurancang satu bulan ke depan. Aku lebih banyak di rumah. Kegiatan menerjemah sementara aku tinggal dulu. Waktuku kuhabiskan untuk buku-buku

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 143
yang berkaitan dengan materi penulisan tesis. Syaikh Utsman memberiku izin tidak ikut mengaji sampai musim panas benar-benar reda.
Aku masih penasaran siapa yang melunasi biaya rumah sakit itu. Aku dan teman-teman meraba-raba beberapa kemungkinan.
Saiful menduga yang membayar Syaikh Utsman, bisa murni dari saku beliau bisa juga beliau menyalurkan zakat mal para dermawan. Beliau adalah tokoh yang memiliki banyak koneksi dan akses.
Sedangkan Hamdi berpendapat yang melunasi mungkin Syaikh Ahmad. Karena beliau dan isterinya dikenal kaya, dermawan, dan suka menolong orang. Rudi lain lagi, dia menduga yang melunasi adalah pihak KBRI. Mungkin diam-diam Pak Atase Pendidikan mengucurkan dana dari anggaran kemasyarakatan.
Mishbah tidak berpendapat apa-apa, tapi dia berkomentar yang paling tidak mungkin adalah pendapat Rudi. Bagaimana mungkin Atase Pendidikan mengeluarkan dana untuk biaya seorang mahasiswa yang sakit sedangkan diminta dana untuk pelatihan ekonomi Islam saja seretnya bukan main. Itu alasan Mishbah yang sedikit kecewa dengan KBRI.
Entahlah siapa sebenarnya dia yang berhati putih itu. Mata hatiku berkata, yang membayar bukan yang disebut teman-teman itu. Tapi orang lain. Dan orang lain itu adalah orang yang berhati ikhlas, mengenalku, sangat perhatian padaku, dan aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak bisa menduga sebuah nama. Aku hanya berdoa, agar suatu saat nanti Allah membuka rahasia siapa malaikat itu sebenarnya. Aku berharap bisa membalas kebaikannya.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 144
13. Ketika Hati Berdesir-desir
Tak terasa sudah memasuki pertengahan September. Suhu musim panas mulai turun. Paling tinggi 32 derajat celcius. Bulan Oktober nanti adalah bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said, teman Mesir satu kelas di pascasarjana yang juga sedang mengajukan proposal tesis memberitahukan, bahwa dua hari lagi aku harus ke kampus untuk ujian proposal tesis yang kuajukan. Aku terfokus pada ujian yang sangat menentukan itu. Jika proposalku ditolak maka aku harus menunggu setengah tahun lagi untuk mengajukan proposal baru.
As you sow, so will you reap! Demikian pepatah Inggris mengatakan. Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik. Rasanya tidak sia-sia apa yang telah kukerjakan selama ini. Membuat jadwal ketat, bolak-balik ke National Library, ke perpustakaan IIIT di Zamalek, dan mengumpulkan bahan. Membaca literatur-literatur klasik berkaitan Ilmu Quran, berdiskusi dengan teman-teman pascasarjana. Kerja yang melelahkan. Mengantuk. Pusing. Mual. Kurang tidur. Semuanya terasa bagaikan simponi hidup yang indah setelah tim penilai yang terdiri para guru besar menerima proposal tesis yang aku ajukan. Aku jadi menulis tentang ‘Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi’. Aku memang pengagum ulama terbesar Turki abad 20 itu. Dia termasuk tokoh dunia Islam yang menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi layak disebut mujaddid umat Islam abad 20 disamping Hasan Al Banna. Pembimbingku juga telah ditentukan yaitu Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far. Aku seperti mendapat durian runtuh sebab beliau memang profesor idolaku. Terkenal paling mudah ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Aku belum dikenal oleh beliau, tapi aku akan berusaha menjadi muridnya yang baik sehingga beliau akan mengenalku dengan baik sebagaimana Syaikh Utsman mengenalku.
Dan sebagai rasa syukur aku harus kembali memeras otak dan bekerja keras untuk menyelesaikan tesis ini. Pekerjaan yang tidak ringan, sebab aku juga harus menerjemah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan akan aku dapatkan. Aku kembali menata peta hidup dua tahun ke depan. Aku teliti dan aku kalkulasi dengan seksama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu target

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 145
yang masih mengganjal. Yaitu menikah. Aku mentargetkan saat menulis tesis aku harus menikah. Umurku sudah 26 tahun menginjak 27.
Aku mengkalkulasi kemampuan mencari dana setiap bulan. Sebelum menulis tesis aku sanggup merampungkan buku setebal 200-300 halaman setiap bulan. Itu berarti aku akan mendapat masukan sekitar 250 dollar perbulan. Dan aku hanya bisa menyisakan 100 dollar dan terkadang malah cuma 50 dollar. Setiap kali masuk toko buku aku tidak bisa menahan diri untuk membeli buku atau kitab. Ketika konsentrasiku terpusat pada menulis tesis maka kemampuanku menerjemah akan berkurang. Mungkin aku hanya akan mampu menerjemah 150-200 halaman saja perbulan. Uang yang aku terima dari bayaran menerjemah hanya cukup untuk memenuhi biaya sehari-hari. Bagaimana? Apakah akan tetap nekad menikah?
Tunggu dulu! Bang Aziz yang mengais nafkah dengan membuat tempe dan mendistribusikannya ke rumah-rumah mahasiswa itu berani menikah. Bang Aziz bercerita dengan pemasukan 150 dollar perbulan sudah berani menikah. Hidup sederhana dan menyewa rumah sederhana di kawasan Hayyu Thamin, atau jauh di Zahra sana. Apalagi jika mencari isteri mahasiswi yang kebetulan dapat beasiswa. Meskipun beasiswa tak seberapa tapi sangat membantu karena datangnya tetap.
Akhirnya kupikir dengan matang, bahwa umur tidak bisa dihargai dengan materi. Jika menemukan perempuan shalihah dan mau menerima diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separo agama. Kutetapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari. Lho bagaimana? Siapa tahu ada yang menawari. Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al Azhar. Mungkin nasibku adalah menikah di Indonesia, dengan seorang akhwat berjilbab yang ghirah keislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP, atau di UNS. Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat virgin. Atau, tak tahunya anak tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai waktu kecil. Jadi tidak asing lagi, sejak kecil sudah sama-sama tahu.

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 146
Aku jadi teringat puisiku sendiri, yang kutulis jelek sekali di buku harian suatu malam di musim semi setahun yang lalu:
Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku
Seorang perempuan shalihah yang akan jadi bidadariku, yang akan aku cintai sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang akan aku harapkan jadi teman perjuangan merenda masa depan, dan menapaki jalan Ilahi, itu siapa? Aku tak tahu. Ia masih berada dalam alam ghaib yang belum dibukakan oleh Tuhan untukku. Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu akan datang.
* * *
Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang, lengkap dengan data singkat, ciri-ciri dan fotonya. Nama yang terakhir di tampilkan adalah Noura binti Bahadur Gonzouri, lengkap dengan fotonya. Saat itu pukul setengah sepuluh malam. Kami satu rumah kaget.
Si Muka Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untuk ia jual kepada serigala-serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas jika urusannya akan sampai kepada polisi dan menyeret Syaikh Ahmad. Jika Si Muka

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 147
Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di bagian intelijen keamanan negara urusannya benar-benar bisa merepotkan. Saat itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad. Beliau minta aku tenang saja dan tidak usah kuatir. Noura sedang berada di pintu gerbang kemerdekaan dan kebahagiaannya. Besok pagi setelah shalat shubuh beliau akan menjelaskan semuanya.
Usai shalat shubuh, Syaikh Ahmad menjelaskan kepadaku bahwa masalah Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya yang bertugas di bagian intelijen keamanan negara. Ridha Shahata menemukan informasi berharga bahwa Noura dilahirkan di sebuah rumah sakit elite di kawasan elite Heliopolis. Pada minggu yang sama Noura dilahirkan hanya ada lima bayi. Dan pada hari yang sama Noura lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu dia dan bayi satunya bernama Nadia. Setelah dilacak. Nadia kini tinggal di Heliopolis, ayah dan ibunya dosen di Universitas Ains Syams. Yang sedikit aneh Nadia berkulit hitam sementara ayah dan ibunya berkulit putih. Kolonel Ridha Shahata sedang menyiapkan surat pemanggilan untuk tes DNA pada Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya. Juga pada Nadia dan kedua orang tuanya. Sebab memang sangat mencurigakan dua bayi itu tertukar. Jika benar tertukar nanti akan dicari siapa saja perawat yang bertugas waktu itu. Tertukarnya sengaja atau tidak. Tes DNA itulah yang akan jadi bukti kuat kejelasan kasus Noura. Namun seandainya tidak terbukti ada pertukaran bayi, Noura akan tetap dilindungi. Kolonel Ridha Shahata juga telah menyiapkan bukti untuk menyeret Si Muka Dingin Bahadur ke penjara. Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat profesional, dia pernah menangkap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah mata-mata Mossad.
Syaikh Ahmad meminta saya tenang. Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar. Aku lega.
Begitu sampai dirumah, aku mendapat telpon dari Nurul. Ia rupanya juga melihat tayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas kalau Noura tertangkap dan urusannya melebar. Aku lalu menjelaskan apa yang dijelaskan Syaikh Ahmad kepadaku. Nurul merasa lega. Sebelum mengakhiri pembicaraannya dia bertanya apakah aku sudah ke tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang sejak sakit aku belum ke

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 148
mana-mana. Aku minta pada Nurul agar menyampaikan pada Ustadz Jalal permohonan maafku belum bisa ke sana. Dan aku titip pesan seandainya beliau ada waktu supaya menghubungi aku langsung. Biar aku tahu sebenarnya beliau mau minta tolong apa. Aku juga menjelaskan pada Nurul saat ini sudah konsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesisnya sudah diterima. Nurul menyatakan rasa gembira dan senangnya.
* * *
Aku teringat ini hari Ahad. Sudah lama aku tidak tidak mengaji pada Syaikh Utsman. Aku benar-benar rindu pada beliau. Ramalan cuaca siang ini Cairo tidak terlalu panas. Hanya 30 derajat celcius. Aku berangkat setengah sebelas. Aku ingin shalat zhuhur di Shubra. Baru keluar sampai di halaman apartemen, aku dicegah oleh Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta agar aku tidak pergi dulu, di rumah dulu. Aku heran apa haknya melarang aku. Aku jelaskan padanya aku harus belajar qiraah sab’ah. Akhirnya dia menyuruh adiknya, Si Yousef untuk mengantar aku ke tempat aku ngaji. Aku merasa heran dengan diri sendiri, keluarga Tuan Boutros begitu baik dan besar perhatiannya kepada kami. Hari itu Yousef mengantar aku sampai di depan masjid Abu Bakar Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji akan menjemputku pukul setengah lima sore. Aku mengucapkan terima kasih padanya.
Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh kehangatan. Kami mempraktekkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al Mujaadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Ash Shaf dan Al Jumu’ah. Selesai mengaji Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus disedikan oleh takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.
“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.
“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala, aku tidak berani memandang beliau. Segan.
“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”
“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima Syaikh. Sekarang sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”
“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”
“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 149
“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus dikaji kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa pembimbingmu?”
“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”
“Yang tinggal di dekat masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City itu?”
“Benar Syaikh.”
“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama. Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benar-benar menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.” Suara Syaikh Utsman bernada optimis dan bahagia. Diam-diam aku sangat kagum pada beliau yang sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau mengambil murid terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi perhatian yang luar biasa.
“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau mau menikah?”
Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar gendang telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat. Jika yang bertanya orang semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku bisa menjawabnya dengan guyon. Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka, gurunya para guru besar di Mesir.
“Maksud Syaikh bagaimana?”
“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau, kebetulan ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah yang baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannnya itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”
Keringat dinginku keluar.
“Tapi aku mahasiswa miskin Syaikh, tidak punya biaya.”
“Baginda nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam keadaan miskin. Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah, dia mencari pemuda yang

AYAT AYAT CINTA Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi 150
shalih bukan pemuda yang kaya. Sekarang pulanglah, pikirlah dengan matang. Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak secepatnya datanglah kau menemuiku. Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan kau dengan walinya dahulu, jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.” Kata-kata Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam jiwaku.
Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan sakral yang diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir. Apa yang beliau tawarkan bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah sebaik-baik rizki bagi seorang pemuda. Adakah rizki lebih agung dari seorang gadis shalihah yang jika dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda? Aku belum bisa mempercayai apa yang aku alami hari ini. Baru saja target dan peta hidup dibuat, tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat. Siap. Atau tidak. Aku harus minta penerang dari Allah Swt.

Iklan

21 Maret 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: