Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

SEBUAH PERJALANAN VIRUS AI

virus aiPertengahan Juli 2004 lalu berita tentang Avian Influenza atau lebih sering kita dengar dengan nama Flu Burung kembali mendominasi media massa baik cetak maupun elektronik di negeri ini. Entah sebuah upaya politisasi isu dan rekayasa opini. Yang pasti, sebuah peristiwa baru pertama kali terjadi di Indonesia itu kini sudah terjadi. Bisa jadi ini akibat dari kurang sigapnya pemerintah dalam menanggulangi penyakit yang menjadi momok perunggasan di tanah air. Ketika kasus pertama terinfeksinya salah satu warga di daerah Sulawesi Selatan itu tidak disikapi secara serius oleh pemerintah. Kini Pemerintah mendapat tamparan yang keras akibat peristiwa pertengahan Juli lalu yang menghebohkan yaitu dengan meninggalnya Iwan Siswara (Auditor BPK) dan kedua putrinya akibat terinfeksi Flu Burung. Hal tersebut patut dijadikan sebuah evaluasi dan diambil hikmahnya bagi semua pihak.

Peristiwa menularnya Flu burung pada manusia memang jarang terjadi, karena pada umumnya virus flu burung (avian influenza) tidak menyerang manusia. Tapi beberapa tipe terbukti dapat menyerang manusia atau suatu tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. Kejadian ini menimbulkan ketakutan, penderita flu burung akan meningkat jadi pandemi, seperti yang terjadi satu abad lalu.
Bila dilihat sejarahnya, flu burung sudah terjadi sejak 1960-an. Penularan virus influenza asal unggas ke manusia sudah dilaporkan sejak 1968. Flu burung pertama kali melewati “halangan spesies” dari unggas ke manusia pada tahun 1997. Sebelumnya, flu ini hanya menyerang burung, bukan manusia. Pertama kali muncul di Hongkong dengan 18 orang dirawat di rumah sakit dan enam orang diantaranya meninggal dunia. Jenis yang diketahui menjangkiti manusia adalah Virus H5N1.

Pada tahun 2002 Ratusan ribu ekor ayam dan itik dimusnahkan di Hongkong. Pemerintah setempat meminta penjualan dan impor ayam dihentikan, menyusul merebaknya wabah flu burung. Sejak saat itu pula, H5N1 mulai menyebar di luar teritorialnya.


April 2003 Penyakit flu burung mewabah di Belanda. Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, akan memeriksa secara ketat semua jenis unggas dan bahan makanan hasil olahan dari unggas yang berasal dari Belanda. Peraturan itu diberlakukan hingga negeri kincir angin itu bebas dari penyakit flu burung. Sekitar 4,7 juta ayam di Indonesia mati, 40 persen diantaranya terkena virus flu burung dan virus New Castle.
Periode awal Desember 2003 – pertengahan Januari 2004 wabah flu burung telah menyebar di berbagai negara. Virus flu burung menyerang unggas di Korea Selatan untuk pertama kalinya.
Penyakit flu burung juga menyebar sampai Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan Thailand dengan satu identifikasi mereka menyebar dari Kamboja, Hongkong dan Taiwan.
Akhir Januari 2004 Departemen Pertanian membenarkan adanya flu burung yang masuk ke Indonesia yang sebenarnya telah masuk keIndonesia pada awal tahun 2003 dan terkesan ditutupi. Virus Avian Influenza (AI) tipe A dan dinyatakan pula telah membunuh 4,7 juta ayam di Indonesia. Pemerintah menetapkan flu burung sebagai bencana darurat nasional dan meminta persetujuan DPR untuk pengucuran dana sebesar Rp. 212 milyar untuk penanggulangannya, yang kita maknai sebagai Dana Kompensasi AI yang sampai sekarang tidak jelas penggunaannya. Akhir bulan Januari 2004 beredar vaksin ilegal flu burung atau avian influenza di kalangan peternak ayam di Kota Banyumas, Jawa Tengah. Para peternak terpaksa membeli vaksin tersebut karena khawatir dengan meluasnya wabah flu burung. Sementara vaksin resmi dari pemerintah sulit diperoleh.

Sampai akhirnya pada tahun 2005 ini flu burung untuk pertama kalinya di Indonesia dapat menginfeksi manusia. Korban pertama terinfeksi virus AI bernama khairil anwar (27) warga sinjai, daerah sulawesi selatan namun tidak sampai meninggal dunia. Setelah itu virus AI beraksi di daerah tangerang menginfeksi Iwan siswara (auditor BPK) dan dua orang putrinya yang menyebabkan ketiganya meninggal dunia pada pertengahan Juli lalu. Pemerintah berencana menurunkan dana kompensasi AI kepada peternak sebesar Rp. 104 Milyar. Pemerintah segera melakukan upaya penanggulangan virus AI bekerjasama dengan Departemen Kesehatan.

Walaupun demikian, sampai saat ini belum diketahui mekanismenya. Salah satu hipotesa saat ini adalah virus avian flu tidak bisa langsung menginfeksi manusia, tetapi terlebih dahulu beradaptasi pada babi atau kuda yang berfungsi sebagai inang intermediet (intermediate host). Hal ini berdasarkan fakta bahwa baik virus yang menginfeksi manusia maupun yang menginfeksi burung, keduanya bisa menginfeksi babi dan kuda ini. Selain itu juga ada bukti bahwa transmisi virus influenza dari babi ke manusia atau sebaliknya bisa terjadi.

Upaya yang harus dilakukan oleh semua pihak untuk pengendalian dan memutus mata rantai penyebaran virus Avian Influenza adalah :

a. Peningkatan Biosecurity pada proses pemeliharaan ternak. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan proses penyebaran virus AI. Menghentikan produksi virus AI oleh unggas tertular (menghilangkan virus AI dengan disinfektan).

b. Mencegah kontak antara hewan peka dengan virus AI dan dengan melakukan penertiban pada daerah peternakan agar penularan lain spesies tidak terjadi.

c. Meningkatkan resistensi (pengebalan) dengan vaksinasi. Tentu saja vaksin yang dibuat harus cocok dengan virus yang akan mewabah. Vaksin terhadap suatu subtipe tidak akan efektif terhadap infeksi subtipe lain. Karena umumnya virus influenza sering mengalami antigenic drift dan antigenic shift , perkiraan virus yang akan mewabah merupakan hal yang sangat penting untuk pembuatan vaksin influenza. Hal yang sama juga biasa dilakukan untuk pembuatan vaksin influenza terhadap manusia.

d. Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness) akan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan kampanye gizi produk – produk peternakan.

e. Depopulasi (pemusnahan terbatas atau selektif) di daerah tertular penyakit AI. Hal ini dilakukan jika terdapat keterbatasan dana untuk mengganti modal para peternak.

f. Pengendalian lalu lintas keluar masuk unggas dan melakukan Isolasi pada daerah tempat terjadinya wabah.

g. Surveillans dan penelusuran (tracking back) hal ini dilakukan untuk menelusuri asal mula penularan penyakit AI sehingga dapat di antisipasi dikemudian hari jika terjadi wabah AI kembali.

h. Stamping out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular, stamping out , yakni membunuh semua ayam pada peternakan terserang, disertai desinfeksi kandang pada saat terjadi wabah. Tindakan ini akan menutup peluang adanya interaksi ternak yang terinfeksi dengan manusia atau hewan liar di sekitar peternakan yang dianggap sebagai sumber penular.

i. Monitoring dan evaluasi, hal ini dilakukan untuk mengamati secara berkala dan pengontrolan terhadap perkembangan virus AI, serta melakukan evaluasi terhadap segala upaya yang telah dilakukan selama ini.

j. Kerjasama yang sinegis antar bidang yang terkait dalam proses penanggulangan dan pemberantasan Avian Infulenza.

Iklan

23 Januari 2008 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: