Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Perekat Dakwah Ahlus Sunnah

dakwah ahlus sunahAda satu buku yang menarik kita cermati. Buku itu berjudul: Nahnu Du’atun, la qudhaatun. Artinya: kita ini adalah para da’i, bukan tukang vonis.

Buku ini saya katakan menarik karena, sepanjang yang saya ketahui, da’wah itu bersifat seruan, ajakan dan tawaran-tawaran yang bersifat menyenangkan (tentunya sebatas tidak bertentangan dengan syari’at Islam). Karenanya, saat mendefinisikan makna da’wah secara bahasa (lughowi) Al Fairuz Abadi dalam Mukhtarush-Shihhah-nya mengatakan: Kad-da’wati ilath-tha’am, seperti ajakan untuk makan. Dan pada ghalib (umumnya) orang akan merasa senang, bahkan antusias bila diajak makan. Apalagi bila makanannya istimewa.

Sepanjang yang saya ketahui pula, da’wah itu mempergunakan kaidah: Memberi berita gembira, bukan menakut-nakuti. Ternyata, kaidah ini yang menetapkan adalah Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:

Dari Abu Musa RadhiyaLlahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah saw setiap kali mengutus seseorang dari sahabatnya untuk suatu urusan, beliau bersabda: “Berilah berita gembira, dan jangan membuat orang lari, permudah dan jangan mempersulit.”

Nah, kalau buku menggambarkan bahwa ada sekelompok “da’i” yang senangnya memvonis, jelas hal itu tidak sejalan dengan kaidah da’wah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw tersebut. Bahkan Al Qur’an Al kariem menjelaskan kepada kita bahwa adanya pendekatan da’wah yang baik (billati hiya ahsan) seseorang yang tadinya sangat memusuhi da’wah bisa berubah menjadi seakan-akan teman yang sangat dekat. Perhatikan dalam hal ini firman Allah swt berikut ini:

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru (da’i) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim. Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fush-shilat [41]: 33 – 34).

Seorang ‘ulama’ mengatakan: “Jadi, jurus yang dipakai oleh da’i itu, paling tinggi hanyalah daf’ (bahasa Al Qur’an-nya idfa’), yang kalau kita terjemahkan secara harfiah mungkin berarti “dorong mendorong” bukan shira’ (konflik)”. Karena konflik itu menciptakan banyak pihak yang sakit hati, sehingga, dengan semakin maraknya da’wah, orang-orang yang sakit hati kepada para da’i (dan dampaknya pula, kepada da’wah) juga semakin banyak. Dampak selanjutnya, yang memusuhi da’wah juga semakin bertambah banyak pula. Padahal, kalau pendekatan idfa’ billati hiya ahsan, yang tadinya bermusuhan saja seolah-olah bisa menjadi teman yang sangat setia.

Karenanya, dalam berda’wah Ibnu Taimiyyah RahimahuLlah merumuskan perlu adanya beberapa hal:
Pertama: Sebelum berda’wah kita harus mempunyai ilmu (pengetahuan); ilmu tentang apa yang harus kita da’wahkan, ilmu tentang orang yang akan kita da’wahi (psikologisnya, situasi dan kondisinya, dan semacamnya) dan ilmu tentang bagaimana cara yang terbaik untuk menyampaikan materi da’wah tertentu kepada orang tersebut.

Kedua: Saat kita berda’wah kita harus menyampaikannya dengan rifq (lembut, lunak, tapi tidak berarti lembek). Sebab Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya sifat dan sikap rifq itu tidak ada pada sesuatu, kecuali menjadikan sesuatu itu baik dan indah, dan tidak tercabut dari sesuatu kecuali menjadikan sesuatu itu berantakan, rusak dan jelak. (HR Muslim).

Ketiga: Setelah melakukan da’wah kita harus bersabar meneriman hasil-hasil dan dampak-dampak da’wah yang sudah kita lakukan.

Sangat layak juga kita renungkan perkataan seorang da’i yang berbunyi: “Kemenangan da’wah bukanlah dengan menghancurkan setiap batu bata dari bangunan yang ada di hadapan seorang da’i, akan tetapi, kemenangan da’wah yang spektakuler adalah apabila da’i itu mampu merubah setiap batu bata dari bangunan yang ada di hadapannya menjadi batu bata da’wah”.

Atau dengan bahasa lain: “Kemenangan da’wah bukanlah dengan menghitung banyaknya orang yang bergelimpangan di hadapan sang da’i sebagai akibat dari shira’ (konflik) yang ditimbulkannya, akan tetapi dengan menghitung banyaknya waliyyun hamiim (teman-teman setia) bagi sang da’i itu setelah tadinya adalah para musuh da’i (faidzal-ladzi bainaka wabainahu ‘adawatuni).

Kaidah da’wah seperti ini sangat sangat harus kita miliki di zaman sekarang ini, sebab, ummat yang ada di hadapan kita bukanlah ummatun kafirahi (ummat yang kafir), akan tetapi mereka adalah ummatun muslimah (kaum muslimin), atau –sesuai dengan istilah para ulama’ aqidah– mereka adalah ahlul qiblah. Bila nabi Musa dan Harun ‘Alaihimas-Salam saat mau menda’wahi Fir’aun La’natuLlahi saja diperintahkan dengan pesan: : 44)

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS Thaha: 44).

Maka saat kita menda’wahi ahlul qiblah ini tentunya harus lebih lemah lembut; jangan main vonis, jangan membuat orang lari dan membenci da’wah, apalagi kalau sampai memusuhi da’wah, na’udzu billah.

Dalam buku tarikh diceritakan bahwa ada seorang Wa’izh (pemberi mau’izhah) datang kepada khalifah Harun Al Rasyid. Orang itu berkata dengan cara yang sangat kasar. Maka Harun Al Rasyid berkata: “Ingatlah bahwa Aku tidak lebih buruk daripada Fir’aun, dan engkau tidak lebih baik daripada Musa ‘Alaihis-Salam, meskipun demikian, Allah telah memerintahkan nabi Musa untuk berkata kepada Fir’aun dengan cara yang lemah lembut”. Lalu Harun Al Rasyid membaca ayat 44 dari surat Thaha tersebut.

Pada suatu kali Hasan Al Banna diundang oleh murid-muridnya untuk menjadi penceramah di daerah yang didominasi oleh tokoh-tokoh tarekat. Karena merasa wilayahnya akan didatangi “orang baru”, maka para tokoh tarekat itu berkumpul dan berencana menggagalkan rencana ceramah Hasan Al Banna tersebut. Namun, tanpa diduga oleh mereka, pintu tempat mereka berkumpul diketuk orang. Mereka bertanya: “Siapa mengetuk pintu?” “Hasan,” jawab yang diluar. Mereka saling berpandangan, Hasan manakah ia? Tidak mendapatkan kepastian, merekapun bertanya lagi: “Hasan siapa?”. “Hasan Al Banna,” jawab yang diluar pintu. Maka Hasan Al Banna-pun dipersilahkan masuk. Singkat cerita Hasan Al Banna meminta izin dari mereka untuk berceramah di daerah itu. Merekapun secara aklamasi mempersilahkan Hasan Al Banna untuk berceramah di daerah itu, dan bahkan mereka akan mengerahkan murid-muridnya untuk menghadiri ceramah itu. SubhanaLlah. Idfa’ billati hiya ahsan, faidzal-ladzi bainaka wa bainahu ‘adawatun ka-annahu waliyyun hamiiim. ShodaqaLlahul ‘Azhiim.

Siapa menyusul?

keadilan.or.id

 

23 Januari 2008 - Posted by | Mutiara Kata, Tarbiyah Islamiyah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: