Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Usaha Kemitraan Ayam Potong

Usaha Kemitraan Ayam Potong

Kemitraan berasal dari kata mitra, yang berarti teman, kawan atau sahabat. Kemitraan muncul karena minimal ada dua fihak yang bermitra. Keinginan untuk bermitra muncul dari masing-masing fihak, walaupun dapat pula terjadi, bahwa kemitraan muncul akibat peranan fihak ketiga.

Di bidang pertanian pada umumnya, di bidang peternakan ayam broiler khususnya, satu fihak yang bermitra adalah petani atau peternak yang melaksanakan budi daya, sedangkan fihak lainnya adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha pengadaan input dan atau usaha pengolahan dan pemasaran hasil. Apakah keinginan bermitra muncul dari masing-masing fihak, ataupun atas peranan fihak ketiga, sebenarnya munculnya kemitraan merupakan suatu keharusan atau secara alamiah harus terjadi. Hal ini terkait dengan dua hal; yang pertama, apabila kita ingat bahwa budidaya peternakan ayam broiler hanya merupakan satu sub-sistem dari sistem agribisnis peternakan ayam broiler secara menyeluruh, maka peternak budidaya tidak dapat berdiri sendiri; yang kedua, pertimbangan bahwa kekuatan dan kelemahan ada pada masing-masing fihak dan masing-masing mempunyai keinginan untuk saling mengisi.

Berkenaan dengan hal yang pertama, budidaya peternakan ayam broiler hanyalah merupakan salah satu sub-sistem saja dari sistem agribisnis peternakan ayam broiler secara menyeluruh. Kita tidak lagi mengembangkan peternakan dari segi budidaya saja, tidak lagi melakukan pendekatan bagaimana peternak memproduksi broiler. Kita harus melakukan pendekatan agribisnis secara menyeluruh, yaitu pendekatan di sub-sistem pengadaan input atau sub-sistem pra-produksi, di sub-sistem budidaya atau proses produksi dan di sub-sistem pengolahan dan pemasaran atau sub-sistem pasca-produksi; bahkan juga harus melakukan pendekatan pada komponen-komponen atau faktor-faktor lain yang terkait dengan sistem agribisnis.

Di Amerika Serikat, kemitraan sudah muncul pada tahun 1950, disebut dengan bisnis integrasi vertikal. Dengan menyimak Gambar 1, apabila gambar tersebut diputar 90 derajat dan memfokuskan pada kotak-kotak perusahaan pembibitan, pabrik pakan dan obat-obatan, budidaya, pengolahan hasil dan pemasaran, maka terlihatlah apa yang disebut dengan integrasi vertikal, yakni integrasi antar kotak-kotak tersebut.

Perubahan dari sistem independen ke sistem integrasi vertikal di Amerika Serikat sudah berlangsung dari tahun 1925 sampai tahun 1950, dan dipacu lebih lanjut dengan pertumbuhan produksi yang sangat cepat. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi pembibitan dan pakan ayam broiler yang sangat pesat, paling pesat dibanding dengan perkembangan komoditi ternak lainnya. Selama 75 tahun terakhir, berat hidup akhir broiler meningkat dari 1,0 menjadi 2,3 kg, dengan konversi pakan membaik dari 4,7 menjadi 1,8, kematian menyusut dari 18 menjadi 5%, dan umur penjualan lebih cepat dicapai dari 112 menjadi 42 hari. Demikianlah pertumbuhan produksi bahkan lebih cepat daripada pertumbuhan daya serap pasar, yang mengakibatkan banyak perusahaan pembibitan, pabrik pakan dan usaha budidaya bangkrut. Tadinya masing-masing unit usaha tersebut secara independen mencari keuntungan sendiri. Setelah terintegrasi, unit-unit itu dikelola secara terpadu dengan menyatukan biaya sehingga biaya produksi lebih efisien. Disamping itu, untuk memenuhi segmen pasar yang bervariasi berdasarkan preferensinya, maka integrasi juga mencakup sampai ke pengolahan hasil dan pemasaran; jadi lengkaplah dari hulu sampai ke hilir. Jumlah ‘pemain’nya memang menjadi sedikit, tetapi skala usahanya menjadi lebih besar.

Bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia ? Keadaannya sangat berbeda. Pada saat di Amerika Serikat terjadi perubahan dari sistem independen ke sistem integrasi vertikal (1950), Indonesia baru mengenal ayam kampung, sedangkan ayam ras dipelihara sebagai hobi, dan ayam ras yang diimpor pada tahun 1960-an bukan merupakan stok komersial. Pengenalan ayam ras stok komersial baru terjadi pada tahun 1970-an dengan diadakannya Bimbingan Masal Ayam (Bimas Ayam). Setelah itu terlihat investasi secara besar-besaran, baik di bidang pembibitan, pakan maupun budidaya pada kurun waktu dari tahun 1970 sampai tahun 1980. Pertumbuhan sangat cepat disertai dengan adanya rasa ketidak-adilan atau ada yang menyebut dengan ‘kecemburuan’, antara peternak rakyat dan perusahaan atau industri peternakan. Kebijakan Pemerintah melakukan restrukturisasi usaha (Keputusan Presiden nomor 50 tahun 1981), yang membatasi skala usaha budidaya sedemikian sehingga budidaya hanya khusus diperuntukkan bagi peternak rakyat, tidak mengurangi gejolak. Sehubungan dengan hal itu, maka dikembangkan sistem apa yang disebut sebagai sistem Perusahaan Inti-Rakyat (PIR). Perusahaan diharapkan sebagai inti, sedangkan peternak rakyat sebagai plasma, keduanya diharapkan bekerjasama saling menguntungkan. Istilah inti dan plasma meminjam istilah biologi, bahwa dalam suatu sel ada satu inti berada di lingkungan plasma; keduanya harus ada dan bersinergi sedemikian sehingga kehidupan dalam sel dapat berlangsung secara harmonis.

Apabila kita cermati gambaran fungsi produksi dari perusahaan peternakan (pembibitan, pakan, obat-obatan) dan peternakan rakyat, dapat kita lihat perbedaan yang mencolok, sebagai berikut.

Perusahaan peternakan: P = f (Modal, Teknologi, Manajemen, Tenaga kerja).

Peternakan rakyat: P = f (Tenaga kerja).

Faktor produksi unggulan perusahaan peternakan adalah modal, teknologi dan ketrampilan manajemen; sedangkan faktor produksi unggulan peternakan rakyat adalah tenaga kerja. Perusahaan peternakan mempunyai skala usaha besar, motif memaksimumkan laba, penumpukan modal, teknologi canggih, produktivitas tinggi, kultur rasional dan profesional. Peternakan rakyat mempunyai skala usaha kecil, motif rumah-tangga, teknologi sederhana, produktivitas rendah, kultur kekeluargaan. Maksud mengembangkan sistem PIR adalah antara lain transfer teknologi, aliran modal kerja dan transfer ketrampilan manajemen, dari perusahaan ke peternakan rakyat.

Di satu fihak, ada yang mengatakan bahwa peternakan rakyat yang semula tumbuh dengan pesat pada tahun 1970-an, pada tahun 1990 berhenti karena tidak dapat bersaing dengan perusahaan peternakan. Usaha Pemerintah untuk melakukan intervensi pasar tidak dapat berhasil, dan peternak rakyat tidak ada lagi. Yang ada adalah peternak yang bermitra dengan perusahaan pemilik modal. Di lain fihak, ada yang mengatakan bahwa yang terjadi adalah perkembangan peternakan rakyat kearah skala usaha yang lebih besar, dengan jumlah ‘pemain’ (peternak) menurun dengan kinerja efisiensi yang lebih tinggi.

Beberapa pertanyaan dan keluhan sering muncul sehubungan dengan pelaksanaan kemitraan: 1) sudahkah hubungan kemitraan memenuhi azas saling menguntungkan? 2) peternak mitra hanya menjadi ‘sapi perahan’ pemilik modal, 3) peternak mitra adalah penanggung risiko terbesar (menanggung risiko kenaikan harga input, terutama bibit dan pakan) dan 4) pada saat harga output baik, keuntungan masih tetap lebih besar dinikmati pemilik modal. Pertanyaan dan keluhan tersebut sering muncul, namun yang perlu dicatat adalah munculnya pertanyaan dan keluhan tersebut adalah pada saat-saat tertentu yang memang sedang merugikan peternak mitra; sebaliknya tidak muncul pada saat-saat yang menguntungkan. Hitungan-hitungan untung rugi memang harus dilakukan tidak hanya sesaat, melainkan dalam jangka panjang, karena harga-harga input dan output memang selalu berfluktuasi. Tiga grafik utama yang dibuat dari data bulanan dan tahunan sangat diperlukan, yaitu harga pakan, harga bibit ayam dan harga jual daging broiler, untuk kemudian dapatlah ditentukan kapan menguntungkan dan kapan merugikan bagi kedua fihak. Kita tidak akan membahas ini, karena kenyataannya toh banyak peternak mitra yang masih bertahan. Yang penting adalah benar, bahwa peternak mitra memang termasuk fihak yang lemah, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu lemah dalam permodalan, teknologi dan ketrampilan manajemen. Oleh karena itu, yang penting pula dikemukakan lebih lanjut adalah langkah-langkah apa yang perlu dilakukan, yaitu di satu fihak bagaimana perusahaan inti atau pemilik modal menjalankan fungsi sebenarnya dalam bermitra, di lain fihak bagaimana peternak mitra agar lebih berdaya.

Pemberdayaan kata memberi daya, atau memberi ‘energi’. Pemberdayaan adalah upaya memberi daya kepada mereka yang kurang atau yang tidak berdaya agar dapat mendayagunakan diri dan potensinya. Dalam era globalisasi, kesempatan yang muncul dari ekonomi terbuka adalah hanya dapat dimanfaatkan oleh golongan ekonomi yang lebih siap dan lebih maju. Perbedaan dalam hal pemanfaatan ini mendorong munculnya tingkat produktivitas dan kemajuan. Berikut adalah beberapa pemikiran dalam rangka usaha agar peternak lebih berdaya.

Yang pertama adalah pergeseran menuju peternak yang berkebudayaan industri dalam sistem agribisnis. Empat indikator yang menunjukkan belum terwujudnya perilaku berkebudayaan industri dalam sistem agribisnis adalah (Gambar 1 dapat lebih menjelaskan) 1) sebagian besar perilaku peternak masih didominasi oleh perilaku teknis produksi, 2) hubungan peternak dalam sistem agribisnis masih rendah, 3) pola pikirnya masih memikirkan kepentingan sendiri dan 4) kurang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pergeseran menuju peternak yang berkebudayaan industri yaitu menjadikan pengetahuan dan teknologi sebagai landasan pengambilan keputusan dan memajukan usahanya, memanfaatkan mekanisme pasar sebagai media utama dalam sebuah perdagangan, melakukan usaha dengan efisien, produktif, profesional dan berorientasi pada mutu sesuai permintaan pasar. Pergeseran ini bukan merupakan tanggung jawab sepenuhnya dari peternak, namun juga fihak lain, terutama adalah tanggung jawab perusahaan inti yang bermitra, di samping lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan, serta perguruan tinggi. Program-program lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi dalam hal ini harus berorientasi kepada kebutuhan peternak, baik dalam hal penerapan teknologi, pengembangan jaringan informasi pasar maupun analisis kebijakan bisnis peternak. Program penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan oleh dosen bersama mahasiswa mempunyai berbagai manfaat, yaitu 1) peternak mendapatkan pendampingan manajemen secara murah, 2) mahasiswa langsung mengenal dunia usaha, suatu bekal yang sangat berharga bagi mahasiswa terutama yang akan berkecimpung dalam dunia konsultan peternakan, 3) perguruan tinggi mendapatkan penilaian akuntabilitas dalam kepeduliannya pada masyarakat kecil. Dengan lain perkataan, ada tiga pengembangan yaitu pengembangan masyarakat, pengembangan kepribadian mahasiswa dan pengembangan institusi perguruan tinggi.

Pemikiran tentang pengembangan kemitraan yang kedua adalah pengembangan organisasi peternak. Walaupun sudah ada organisasi peternak misalnya PPUI, PPUN, PPAN, namun yang dimaksud di sini adalah organisasi pada tingkatan yang lebih bawah yang fungsi utamanya adalah bergerak dalam usaha bisnisnya. Salah satu contoh sederhana adalah penjualan kolektif kotoran ayam ke perkebunan sawit, simpan pinjam yang sangat mendukung pembuatan atau perbaikan kandang. Lebih jauh lagi, sangat dimungkinkan peternak membentuk kelompok sedemikian kuatnya sehingga dapat membangun pembibitan sendiri walau secara terbatas, dan pengadaan pakan di tingkat kelompok, dengan memanfaatkan dana pengembangan Usaha Kecil, Mikro dan Menengah. Dalam hubungannya dengan perusahaan besar, dengan adanya organisasi yang kuat akan lebih meningkatkan kekuatan-menawar dalam menandatangani dan melaksanakan kontrak-kontrak kerjasama.

Yang ketiga adalah pengembangan lembaga pendanaan pedesaan atau keuangan mikro, yang dikelola oleh kelompok peternak. Belajar dari pengalaman kegagalan sistem konglomerasi, maka banyak pihak kini berpaling ke penyaluran dana ke usaha kecil, mikro dan menengah, karena perekonomian rakyat pada umumnya terbukti kenyal untuk mampu bertahan dalam hempasan krisis.

Yang keempat, terkait dengan ketiga hal di atas adalah memperluas cakupan budidaya yang dilakukan oleh peternak, karena peternak yang lebih berdaya dalam organisasi yang kuat, tentu akan mampu mengambil alih peranan pedagang sapronak dan pedagang broiler hidup maupun karkas. Sementara posisi inti masih banyak yang berfungsi sebagai perantara dalam menyalurkan input dan output, keuntungan besar ada di fihak perantara ini yakni dari sisi perusahaan pakan, pembibit dan obat-obatan; demikian pula keuntungan besar ada pada proses pemasaran hasil. Walaupun demikian, kiranya tidak mungkin peternak akan mengambil alih semua fungsi dari komponen-komponen sistem agribisnis. Hanya saja, mengurangi jalur perantara yang bagi peternak dianggap tidak perlu, untuk selanjutnya berhubungan langsung dengan pabrik pakan, pembibitan dan obat-obatan serta rumah potong ayam adalah hak yang harus diperjuangkan. Kesimpulannya adalah bahwa kemitraan tetap berlangsung. Tentu saja, seleksi alam akan berlangsung, yaitu jumlah peternak mungkin berkurang namun mempunyai skala usaha yang lebih besar dan efisien.

Demikianlah empat pemikiran yang diharapkan sebagai sumbangan bagi perkembangan kemitraan peternakan ayam broiler di Indonesia. Semoga bermanfaat.

About these ads

20 April 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan

4 Komentar »

  1. pak, saya ingin bermitra sebagai plasma di perusahaan ayam, apakah resikonya besar untuk menjadi plasma? langkah2 apa yang harus diperhatikan sebelum memulai usaha ayam potong (plasma)

    Komentar oleh aziy dermawan | 13 Juni 2011

  2. pak, saya berminat bermitra dg perusahaan ayam potong. kira2 kalu di propinsi bengkulu dimana

    Komentar oleh ismawara | 19 Juli 2013

  3. kalau saya ingin bermitra dengan perusahaan ternak ayam potong gimana caranya ya, possisi saya ada dibogor…

    Komentar oleh pram permana | 18 September 2013

  4. kalau saya bermitra dengan perusahaan ayam potong gmana caranya, posisi saya di kab sumenep madura kec. lenteng

    Komentar oleh abd basith | 4 Januari 2014


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: