Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Majalah Tempo Terjebak Konflik Mafia Impor Daging Sapi ?

Konflik Impor Daging Sapi

Kesalahan data adalah “kebiasaan” para awak media, hal itu bisa saja terjadi ketika awak media terjebak dalam kubangan konflik kepentingan ataupun syahwat “profesi”. Majalah sekaliber Tempo pun sedang mengidap penyakit itu. Sungguh mengherankan.

Pemberitaan Majalah tempo pekan ini kebetulan membahas masalah Impor Daging Sapi. Sangat disayangkan, saya sebagai penikmat majalah Tempo disuguhkan beberapa informasi yang tidak valid. Setidaknya data-data tersebut disandingkan dengan data-data yang lain dan perkembangan impor dari tahun-tahun sebelumnya, agar data lebih akurat.   Sehingga tidak hanya terkesan mencari “sensasi”.

Berikut ini adalah data-data yang disampaikan oleh majalah Tempo tersebut.

Baru awal tahun, impor daging sapi sudah kisruh. Kuota impor sampai semester pertama hanya 25 ribu ton, tapi daging impor yang masuk sudah dua kali lipatnya. Alhasil, daging-daging impor itu terpaksa ditahan di Badan Karantina Pertanian serta Bea dan Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok.

15 Importir Pemilik Kuota Terbesar

Yayasan Pos Keadilan Peduli Umat 9.759
CV Sumber Laut Perkasa 4.800
PT Sukanda Djaya 4.308
PT Impexindo Pratama 4.250
PT Bumi Maestro Ayu 2.150
PT Anzindo GI 1.777
PT Bina Mentari Tunggal 1.380
PT Segara Banyu Perkasa 1.305
CV Prima Jaya Abadi 1.240
CV Cahaya Karya Indah 1.187
PT Indoguna Utama 1.160
PT Agroboga Utama 845
PT Mutiara Gulong Makmur 750
PT Minang Jaya Abadi 718
CV Surya Cemerlang Abadi 675

Daging impor yang sudah diizinkan masuk

Januari
Jumlah: 345 kontainer (5.931 ton)
Diizinkan keluar: 294 kontainer (5.010 ton)
Tertahan: 51 kontainer (921 ton)

Februari
Jumlah: 296 kontainer (5.718 ton)
Diizinkan keluar: 204 kontainer (3.889 ton)
Tertahan: 92 kontainer (1.829 ton)

Kisruh daging impor mencuat sejak pertengahan Januari lalu. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia Thomas Sembiring, sengkarut terjadi karena masa berlaku izin impor yang pendek, menjelang tutup tahun. Pada 15 Desember 2010, Direktur Jenderal Peternakan-saat itu dijabat Tjeppy D. Soedjana-menerbitkan surat persetujuan pemasukan daging sapi sebanyak 15 ribu ton. Surat izin tersebut kedaluwarsa pada 31 Desember 2010 (Padahal Tjeppy D. Soedjana sudah tidak menjabat lagi sebagai Dirjen Peternakan, Sertijab bulan November 2010).

Surat izin yang berlaku cuma 15 hari itu jelas tidak masuk akal. Perjalanan barang-dari Australia, misalnya-membutuhkan waktu 3-5 pekan. Toh, para importir nekat mengajukan permohonan karena biasanya Direktorat Jenderal Peternakan bersedia memperpanjang masa berlaku izin. Rupanya, kebiasaan lama ini tak berlaku lagi. Prabowo, Direktur Jenderal Peternakan yang baru, ogah memperpanjang tenggat. Saat daging-daging beku itu tiba di Tanjung Priok pertengahan Januari lalu, Badan Karantina tak memberi lampu hijau pengeluaran barang. Alasannya, surat persetujuan pemasukan sudah kedaluwarsa.

Pengusaha semakin meradang gara-gara pemerintah juga mengerem mendadak volume impor daging menjadi hanya 50 ribu ton. Padahal realisasi impor tahun lalu mencapai 120 ribu ton. Semester pertama tahun ini, volume impor daging diputuskan 25 ribu ton saja. Celakanya, importir-importir besar mendapatkan jatah jauh di bawah harapan. PT Indoguna Utama, misalnya, mengajukan permohonan izin impor 7.280 ton, tapi hanya kebagian 1.160 ton. Tahun lalu, Indoguna mengimpor lebih dari 14 ribu ton. Pemain besar lain, PT Anzindo, hanya kecipratan 1.777 ton dari 2.397 ton yang diajukan.

Importir lantas curiga dan menilai pembagian kuota ini tidak adil. Yaya-san Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) malah kebanjiran jatah impor sebesar 9.759 ton. Direktur utama yayasan ini, Agung Notowiguno, membantah yayasannya mengimpor daging sebanyak itu. “Keliru itu, bukan 9.759 ton, tapi hanya 9,7 ton. Masak iya sebesar itu? Kami kan tidak berbisnis daging impor,” ujarnya kepada Tempo pekan lalu. Jadi Awak media Tempo melipatkan 1000 kali lipat, 9,7 ton menjadi 9.759 ton….Kesalahan fatal dalam memberikan informasi kepada publik. Ada kemungkinan wartawan tersebut salah dalam berhitung, sungguh ironis. Maksudnya mungkin 9.759 Kg (nah kalo ini mungkin valid).

Saya melihat awak media/wartawan tempo tersebut telah terjebak dan terperangkap dalam lingkaran konflik mafia pengimpor daging sapi. Mungkin saat ini para mafia yang menjadi “sumber” Tempo, sedang tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan aksi tulisan majalah tempo tersebut. Bukan Media yang mempermainkan isu, tapi para mafialah yang mempermainkan majalah tempo.

Selamat kepada majalah Tempo, semoga pengalaman bermain dengan para mafia importir daging sapi dapat memberi pelajaran sesungguhnya bahwa politik itu kalah dengan pemain politik di bidang peternakan. Oleh karenanya istilah politik dagang sapi itu dikenal, karena dunia dagang sapi itu lebih kejam dari dunia politik.  :) selamat belajar dari pengalaman berpolitik daging sapi impor….

Jika Ingin bermain lebih seru lagi…silahkan selidiki bukan hanya konflik antar pemain/importir daging sapi, tapi juga konflik antara impotir daging sapi vs importir sapi bakalan. Majalah Tempo berani coba?

Sumber: sebagian kecil pendapat pribadi dan sebagian besar dari majalah.tempointeraktif.com

About these ads

14 Maret 2011 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan, Berita Media, Kisah Inspirasiku, Tulisanku, Uncategorized

6 Komentar »

  1. bikin pantun ah….

    ada sebuah pohon kelapa
    ada sekantung plastik kripik
    berita ngasal gapapa
    yang penting jadi trending topic

    *menanti berita ngasal selanjutnya :)
    =========
    ni juga jadi TT….trims atas komennya

    Komentar oleh etikush | 19 Maret 2011

  2. masa iya 9,7 ton mesti impor ??????? kan cuma setara dengan 50 ekor sapi hidup bisa diperoleh di dalam negeri…..makin bingung niy

    Komentar oleh ekram | 27 Juni 2011

  3. betul….9,7 ton itu tidAK impor….di kasih dari australia,buat lembaga sosial….

    Komentar oleh yuari | 28 Juni 2011

  4. hmm tapi masih ada aneh, kalau misalnya ini kesalahan skala atau satuan apakah data di list 15 importir terbesar itu salah semua ? sayangnya gak ada informasi dari dokumen sumber yang dijadikan rujukan oleh wartawan Tempo itu, jadi kita semua gak bisa verify angka sebenarnya berapa. Dan karena di artikel yang sama Tempo sudah memuat komentar Dir PKPU yang mengkoreksi angka Tempo, berarti Tempo sudah cukup adil dalam memfasilitasi kemungkinan tidak validnya data yang Tempo gunakan sebagai bahan. Tapi, sepertinya karena Tempo cukup yakin dengan datanya, angka tersebut tetap dikeluarkan dalam materi tulisan.

    Nah, berarti yang benar2 bicara tanpa sumber data ya penulis blog ini. Rangkaian tulisan merah yang kedua menunjukkan emosi dan kegagalan berpikir :)

    Komentar oleh aresto | 2 Februari 2013

  5. menarikkan….kegagalan berpikir ato salah pikir :)

    Komentar oleh ternakonline | 11 Februari 2013

  6. selalu ada yang disalahkan, penulis blog ini terkesan defensif untuk kontra opini mesti ada argumen, artinya kalo anggap data tempo gak valid sumber valid di tempat kerja penulis apa iya…

    Komentar oleh Bambi | 14 Februari 2013


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: