Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Revitalisasi Pertanian dan Revolusi Peternakan

sapi peternakan IBPeran strategis peternakan yang utama adalah sebagai penyedia pangan berkualitas, yakni sebagai sumber protein hewani yang turut mencerdaskan bangsa, khususnya pada anak dan generasi penerus bangsa. Protein hewani merupakan faktor yang tidak bisa dihilangkan atau digantikan dalam menu makanan kita.
Peternakan bisa dijadikan ”mesin pertumbuhan” ekonomi melalui kegiatan produktif yang berdaya saing, investasi yang berkesinambungan, dan penciptaan lapangan kerja. Meskipun ada sementara pihak yang ”buruk sangka” terhadap citra peternakan, namun sejarah dan pengalaman masa lalu, termasuk pasca krisis, sebenarnya peternakan telah menunjukkan kinerjanya yang tidak terlalu buruk.

Kinerja Peternakan

Meski di masa krisis sempat mengalami kontraksi 13,5 %, namun pada tahun 1999 mampu tumbuh 6,17 %, yang berarti mendekati masa-masa kejayaan peternakan pada periode dasawarsa 80-an yang mampu tumbuh 7 %. Kontribusi peternakan terhadap PDB pertanian terus meningkat. Bahkan dalam sepuluh tahun terakhir, ketika sektor tanaman pangan hanya tumbuh 1,2 %, peternakan masih tumbuh 3,6 % per tahun dan diperkirakan tahun 2004 pertumbuhannya mencapai 5 %. Akan tetapi, peran strategis ini tidak akan terwujud secara maksimal apabila tidak didukung oleh perbaikan ekonomi secara keseluruhan, terutama meningkatnya pendapatan masyarakat. Sebab pertumbuhan peternakan sangat ditentukan oleh permintaan.

Peran strategis peternakan juga berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. Pemerintahan telah menetapkan tiga sasaran utama program penanggulangan kemiskinan, yakni; menurunnya persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan menjadi 8,2 persen pada tahun 2009, terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau, dan terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu. Data terakhir menunjukkan persentase penduduk miskin di Indonesia 16,7 %, sementara di pedesaan sendiri masih lebih tinggi yaitu 20,11 %, yang tentunya sebagian besar mereka adalah petani dan buruh tani.
Yang banyak dilakukan adalah memadukan usaha tani tanaman pangan dengan memelihara ternak, terutama ruminansia (hewan pemamah biak) kecil dan unggas. Bahkan Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat ternak memberikan kontribusi yang signifikan pada lebih dari 70 % penduduk miskin di dunia atau sekitar 700 juta orang. Semakin miskin, karena skala usaha tani yang sempit, sum-bangan peternakan terhadap pendapatan semakin besar.

Pemerintah selama ini kurang menyadari kontribusi peternakan dalam menanggulangi kemiskinan. Terbukti dari program-programnya yang lebih berorientasi peningkatan produksi. Meski tidak salah sepenuhnya karena memang ini mandat utamanya, namun sepatutnya secara sinergis bisa dikembangkan pula sebagai salah satu strategi dalam penanggulangan kemiskinan. Sudah banyak hasil kajian yang berkaitan dengan peran ternak yang sangat positif dalam penanggulangan kemiskinan. Bahkan efeknya ganda.

Revolusi Peternakan

Masyarakat peternakan selama ini harus berjuang sendiri. Kebijakan makro-ekonomi yang selama ini ditempuh juga cenderung bias ke sektor ekonomi yang dianggap lebih modern. Apalagi dukungan sektor perbankan sangat kecil.

Derasnya impor ilegal produk-produk peternakan, bencana wabah flu burung, dan selalu berulangnya penyakit antraks misalnya, menambah buruknya kesan wajah peternakan Indonesia. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku pakan, langkanya ketersediaan bibit yang bermutu, dan masih sederet masalah lainnya yang sering menghias halaman berita surat kabar, sadar atau tidak, ikut menyumbang pada pembentukan citra, betapa suramnya peternakan kita.

Pemerintahan baru tidak cukup hanya merevitalisasi peternakan, namun harus pula melakukan perubahan yang sangat mendasar.
Pertama, cara kita memandang peternakan. Kedua, mereposisi peran peternakan dalam pembangunan. Ketiga, menyusun rencana aksi yang visioner dan berjangka panjang.

FAO sejak tahun 1999 sudah memprediksi akan terjadinya perubahan signifikan pada sektor peternakan dunia. Ketika konsumsi daging dunia mening-kat 2,9 %, maka di negara-negara berkembang sudah melaju sampai 5,4 %, bahkan di Asia Tenggara mencapai 5,6 %. Sementara di negara-negara maju hanya meningkat 1 %. Sampai tahun 2020 diperkirakan pertumbuhan konsumsi daging negara-negara berkembang rata-rata 2,8 % per tahun, sementara di negara-negara maju hanya 0,6 % per tahun.
Langkah-langkah antisipatif sudah sepantasnya dilakukan pemerintah. Pengembangan peternakan dengan dua pola, yakni peternakan industri dan peternakan rakyat harus dilakukan secara proporsional, karena masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan.

About these ads

23 Januari 2008 - Posted by | A-Pertanian-Peternakan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: