Yuari_Official Website

Ayo kawan, berbagi untuk negeri… ^_^

Tarbiyah; Pertarungan Politik Islam

JIHAD SIYASI

I. Muqadimah

Da’wah sekarang tengah memasuki mihwarnya yang lain, yaitu mihwar siyasi. Tanpa meninggalkan kewajiban menegakkan da’wah pada mihwar-mihwar sebelumnya, sekarang kita tengah menekuni dengan serius jihad dalam bidang siyasiah ini. Akan tetapi tidak sedikit kalangan yang justru memahami secara salah para pejuang yang tengah berjuang bersusah payah di parlemen ini.  Benarkah pendapat itu ? Dan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai anashir da’wah bersikap dan bertindak di tengah pemikiran ini ?

II. Landasan Pemikiran

Landasan Al-Qur’an :  “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb sekalian alam.” (QS.6:162)

Syaikh Musthafa Mashur telah memberikan petunjuk kepada kita bagaimana kiat memilih jama’ah yang benar, salah satunya menurut beliau adalah : ‘Jamaah itu bertujuan mengembalikan khilafah islamiah sebagai pimpinan tertinggi ummat Islam dimana kepadanya ummat Islam menyerahkan dan memutuskan segala sesuatu.’

DR. Sa’id Hawwa juga menegaskan hal serupa : ‘Kewajiban mengembalikan khilafah adalah wajib, sehingga seluruh usaha yang mengarah kepadanya adalah wajib’.

Hal ini sejalan dengan kaidah ushul fiqh : “Sesuatu yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itu adalah wajib”.

III. Prinsip-prinsip (Dawabith) mengapa politik itu perlu diperjuangkan

1. Politik adalah bagian dari kehidupan manusia. Sehingga berlaku ketentuan Allah QS 6:162.

2. Da’wah yang baik adalah da’wah yang senantiasa memperjuangkan untuk menambah jumlah mad’u baik dalam hal kualitas (naw’iyah) ataupun kuantitas (kammiyah).

Dalam hal ini sebagai jamaah yang menitikberatkan aktifitas dengan kemampuan kader (jamaah nukhbawiyah) maka mempersiapkan kenaikan kualitas dan kuantitas sama halnya dengan memeprsiapkan mutu kader itu sendiri. Selain itu memperlebar atau memperluas da’wah berarti memperluas wilayah interaksi da’wah ke berbagai unsur dan segmen masyarakat (sya’biyah), dan dalam hal ini termasuk dalam masalah politik (siyasi). Pada kaitan ini maka da’wah akan bersentuhan dengan perbedaan sosio demografis dan perbedaan keberagaman standar kualitas penerimaan da’wah.

Firman Allah SWT : “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang yang sabar.”(QS : Ali Imran ayat 146).
3. Da’wah yang baik juga adalah da’wah yang selain melihat tahapan-tahapan dalam berda’wah juga melihat kondisi realitas medan da’wah yang dihadapinya.
Dalam kata lain ketika seorang da’i itu mengetahui fiqhul ahkam (fiqh hukum) sesuatu, maka ia juga harus mengetahui fiqh waqi’ (fiqh realitas) yang pada gilirannya nanti akan melahirkan diantara keduanya suatu fiqh da’wah (pemahaman terhadap da’wah). Pemahaman da’wah yang baik itu pulalah yang akan melihat bahwa perjuangan masalah politik adalah termasuk sesuatu hal yang bersifat ‘mutaghayyirat’ (sesuatu hal yang mungkin bisa berubah) sesuai dengan situasi, kondisi, zaman, tempat dan waktu. Sepanjang kita rasakan perjuangan siyasi akan mengurangi masalah (masyaqat) dan memperbanyak kebaikan (mashlahat) maka perjuangan itu wajib kita lakukan dan dilakukan dengan cara-cara yang baik.

4. Untuk merubah sistem pemerintahan menjadi ideal sesuai dengan sunnah nabawiyah di tengah keadaan yang sudah rusak (mulkan jabbariyan) maka sikap kita adalah memanfaatkan segala sarana dan prasarana politik yang sudah “terlanjur” ada di suatu wilayah/Negara. Dan kita melihat sekarang ini, di kebanyakan Negara-negara yang berpenduduk muslim ternyata sistem pemerintahan yang ada lebih banyak menganut sistem demokrasi. Yang dalam sistem itu perjuangan merubah suatu keputusan terkait erat dengan kuantitas pilihan publik (mayoritas suara), oleh karena itu mau tidak mau da’wah harus bisa “meladeni” sistem ini dengan cara masuk ke dalam sistem pemerintahan dengan mendirikan partai politik untuk berjuang di parlemen (niyabiah).
5. Khusus untuk demokrasi itu sendiri , walaupun dia bukan berasal dari Islam, tetapi ada banyak karakter demokrasi itu sendiri yang bisa diintifa’kan untuk kepentingan da’wah antara lain : partisipasi politik yang luas (munawarah siyasiah), kompetisi politik yang sehat (istabiq siyasiah), sirkulasi kekuasaan birokrasi (wizariyah) yang terjaga, terkelola dan berkala, terutama melalui mekanisme proses pemilihan umum (intikhabiyah), pengawasan terhadap kekuasaan melalui parlemen (niyabiyah) yang efektif dan adanya tatakrama politik/fatsoen yang disepakati dalam masyarakat (urf siyasiyah).


IV. Kesimpulan dan penutup

Dengan beberapa uraian di atas maka ada beberapa kesimpulan yang bisa kita dapatkan , antara lain :

1. Jihad siyasi sebagai suatu usaha untuk menghasilkan kesadaran dan kepahaman berpolitik (wa’yu wa fahmu siyasi) adalah merupakan suatu keharusan sebagai ‘jalan antara’ terbentuknya pemerintahan yang mampu mendatangkan sebanyak-banyaknya mashlahat menuju Khilafah Islamiyah.

Ibnu Taymiah mengatakan : ‘Itu merupakan perkara yang harus dibedakan menurut niat dan tujuannya. Siapa yang menjadi pembantu penguasa zalim, lalu menjadi penengah antara penguasa dan rakyatnya, ia adalah orang yang baik. Namun, jika ia cenderung membantu penguasa yang zalim itu, ia termasuk yang berbuat buruk.’

2. Ketika di suatu wilayah yang telah tegak pemerintahan Islam, timbul kewajiban untuk mempertahankan kondisi kualitas pemerintahan tersebut (institusi dan orang) agar dapat menghasilkan kebaikan bagi masyarakat, apatah lagi pada saat kondisi yang tidak islami seperti sekarang ini.

Makmun Al-Hudhaibi mengatakan : ‘Ikhwan tidak melibatkan diri dalam parlemen untuk membuat produk hukum yang tidak Islami. Namun paling tidak, sedapat mungkin mencegah keluarnya hukum-hukum jahiliah. Ikhwan menggolongkan pekerjaan itu sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Meski demikian nahi munkar tidak akan berhasil hanya dengan slogan dan pernyataan bahwa hal ini atau hal itu haram. Namun sebuah alternative lain mesti diperkenalkan untuk menghindari kesalahan fatal.’

Dengan beberapa catatan tadi maka masihkah kita ragu bahwa berjuang denganmenggunakan parlemen adalah sesuatu hal yang tidak sesuai dengan sunnah rasul atau sebaliknya ? Maukah kita karena tidak ada satupun wakil muslim yang terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat parlemen maka jahiliah menempatkan fikrah dan eksistensinya karena didukung oleh wakil-wakilnya yang konsisten memperjuangkannya ?

Apakah kita rela jika khamar menjadi halal karena telah disahkan oleh DPR/MPR ? Apakah pelacuran mendapatkan legalitas karena telah sah menurut peraturan daerah karena omzetnya sangat besar bagi pendapatan asli daerah ? Apakah kita mau pelajaran agama dihilangkan dari sekolah hanya karena berbau SARA ? Apakah kita rela jika tabligh akbar atau majlis ta’lim dibubarkan karena dilarang UU Anti Teroris ? Apakah kita rela terbitnya UU Anti Jilbab di perancis, Italia, Jerman dan Singapura terjadi di sini ? Apakah semua itu yang kita inginkan hanya karena haram berada di dalam parlemen dan pemerintahan yang masih belum islami, sehingga tidak satupun aktivis Islam yang mencegah dan melawan semua ?

Semoga Allah menuntun kita untuk menemukan jawaban terbaik untuk
kita.

Hadanallahu wa iyyaku ajma’in

Maraji’ :
1. Al-Qur’an Digital
2. Interaksi Politik – sebuah tulisan di Waqfah Tarbawiyah Edisi 11 Vol 2 Tahun 1997
3. Ikhwan, parlemen, pemilu dan partai politik – sebuah tulisan di DSH Net 31 Maret 2005
4. Agenda Tarbiyah Di Era Jamahiriah, Majalah Saksi
5. Fiqh Da’wah, Syaikh Musthafa Masyur
6. Al-Islam, DR. Sa’id Hawwa
7. Zaman Kesempatan, Eep Saefullah Fatah, Penerbit MIZAN

About these ads

8 Januari 2008 - Posted by | Tarbiyah Islamiyah

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: